cerpen sedih tentang penyakit

Kecewa sedih, marah semua tercampur menjadi satu tak karuan. "semoga esok menjadi hari yang lebih baik" doaku sebelum tidur, harapan besar yang kunantikan. Pagi hari ini aku tak ingin terlambat karena aku percaya akan ada hari baik, jadi sekeras apapun aku akan menerimanya. Cerpenberbeda dengan prosa lainnya karena teks semacam ini dapat selesai dibaca sekali duduk. Cerpen paling panjang biasanya terdiri dari puluhan ribu kata, sementara paling sedikit sekitar 500 kata. Panjang cerpen biasanya 500-5.000 kata. Unsur intrinsik cerpen antara lain tema, amanat, penokohan, latar, alur, dan latar belakang (budaya Hepatitisatau kadang-kadang disebut dengan penyakit kuning merupakan peradangan hati (liver) yang kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus . Cerita sedih tentang Ibu ini aslinya berjudul pengorbanan seorang Ibu yang saya peroleh dari situs cerpen.web.id. Berikut adalah cerita sedih tentang ibu selengkapnya, semoga teman-teman merasa Lupamengingat rasa sakitnya. Itu mengherankan dirinya. Sudah lama ia tidak lagi bisa merasakan apakah ia sedih ataukah gembira, apakah perlu menangis ataukah tertawa. Seolah semua kelengkapan hidup, penderitaan, semua sudah lewat. Anaknya semata wayang menggoreskan tekad, bahwa ia tidak boleh menghindar dari tanggung jawab. PENGORBANANSEORANG AYAH- - (Cerpen) CERPEN 1. "Maaf ada berita sedih dari kampung. Apa"??. Terkejut selepas abang sulung memberitahu berita buruk memlaui telefon. "ayah bagaimana sekarang, siapa yang menjaganya?, Ibu yang terpakasa jaga ayah. Habis tu boleh ka ibu uruskan semuanya kalau abang tak datang sekali. mở bài bằng lí luận văn học. Di sini saya akan menguraikan beberapa judul novel Wattpad bercerita tentang tokoh utama yang sedang berjuang melawan penyakit yang mereka tokoh utama akan berada di situasi yang tidak menyenangkan antara hidup dan mati. Pada fase ini, pembaca akan merasakan kesedihan yang dialami. Bahkan tidak jarang kita akan menangis karena empati pada tokoh utama bagaimana tokoh utama menyelesaikan masalahnya adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu. Karena akan memberikan motivasi pada pembaca untuk terus melangkah ke depan. Meskipun keadaan yang terjadi juga tidak cerita Wattpad sedih tentang penyakit yang pertama adalah Akhir Sebuah Kisah. Novel ini sering menjadi rekomendasi bacaan karena isi ceritanya yang menyentuh tentang seorang gadis yang memiliki penyakit kanker otak. Dia harus bertahan dengan penyakit yang ada di selain derita penyakit yang dimiliki? Gadis dalam novel ini juga memiliki masalah lain. Dia menjadi orang yang sering dirisak oleh teman-teman satu ceritanya akan mengharukan karena tokoh utama berada dalam posisi yang menyedihkan. Tapi daripada spoiler, kamu bisa membacanya langsung di aplikasi Wattpad. Cancer by AlfaCerita Wattpad Cancer juga mengisahkan tentang penyakit kanker yang dialami tokoh utama. Penyakit yang sama seperti rekomendasi cerita Wattpad sebelumnya. Hanya saja penulisnya berbeda, begitu pula jalan Akhir Sebuah Kisah memiliki tokoh utama perempuan. Cancer menggunakan tokoh utama laki-laki. Aldy Samudra Gabriel. Salah seorang yang sangat populer di sekolah, Aldy berusaha menyembunyikan penyakit yang diderita. Dia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Termasuk menyembunyikan penyakit yang dimiliki dari kekasihnya novel ini akan membuat kita sadar apabila perjuangan seseorang dalam mencintai bisa saja lebih sulit daripada yang bisa kita lihat. Cinta seperti itulah cinta yang by VivieyoooRekomendasi cerita Wattpad sedih tentang penyakit yang mengharukan berikutnya adalah Safarez. Ditulis oleh Vivieyooo dan dibaca hampir tiga juta kali di platform ini. Tentunya ini adalah jumlah yang cukup banyak dan sudah menjadi novel tentang kehidupan perempuan bernama Xavera yang mengharukan. Karena memiliki suatu penyakit, gadis itu hidup dengan pengobatan yang harus dia jalani setiap hari. Bahkan kesempatan hidup yang dimiliki sangat hari Xavera bertemu dengan Safarez, seorang lelaki yang membuatnya memiliki harapan hidup. Karena Safarez membuat Xavera merasa dirinya layak untuk mencintai dan dicintai orang lain meskipun memiliki penyakit cukup akan menunjukkan bagaimana cinta yang dimiliki seseorang ternyata bisa merubah segalanya. Dengan cinta, orang menjadi lebih kuat. Dengan cinta, orang bisa memiliki pikiran yang lebih ketika seseorang dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Karena cinta adalah harapan dan bisa menjadi jalan untuk bangkit dari keterpurukan. Floris by PilupieRekomendasi berikutnya adalah Floris. Perpaduan antara kisah sedih karena suatu penyakit dan juga perjuangan untuk mendapatkan seorang utama novel ini adalah Floris Farensa Indira. Seorang gadis dengan penyakit kanker darah di tubuhnya. Penyakit yang dia miliki baru diketahui saat Floris menginjak pendidikan penyakit di tubuhnya sempat membuat semua orang kaget. Padahal sebelum-sebelumnya kehidupan Floris dengan keluarganya cukup itu, cerita juga menunjukkan bagaimana Floris mengejar cinta seorang lelaki bernama Devan Arsan Pradipta. Gadis itu berani jujur dengan perasaannya. Dia juga berani mengungkapkannya langsung pada saja sikapnya yang blak-blakan membuat sang lelaki risih. Meski wajah Floris terbilang cantik, dis harus berusaha lebih keras agar cintanya Don’t Leave Me by AnnisaaldaRekomendasi cerita Wattpad terakhir ini bisa dibilang sangat mengharukan. Banyak adegan sedih dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil dengan adalah perempuan yang memiliki penyakit kanker otak. Meskipun sakit yang diderita cukup parah, dia selalu memiliki pikiran positif dan juga perilaku yang baik terhadap moral yang disampaikan penulis sangatlah kuat. Novel ini akan mengajak kita untuk terus berjuang apapun kondisi yang kita miliki. Karena keinginan yang baik harus tetap Novel tadi adalah rekomendasi cerita Wattpad sedih tentang penyakit. Membacanya akan membuat kita lebih bersyukur dengan kesehatan yang kita ceritanya mengharukan dan bahkan bisa membuat kita menangis. Namun, akan memiliki efek positif dan membuat kita semakin mawas diri. Terutama membuat kita untuk memanfaatkan apa yang sudah kita miliki dengan baik. Karena orang lain belum tentu memilikinya. 1HIDDEN PAIN [END]oleh 🍃Dari sekian banyaknya rasa sakit, kenapa dari keluarga yang paling mengesankan rasa sakitnya. *** Highest Rank 3 in Brokenhome [26Sep2021] Highest Rank 1 in Anaksma [1... 2Transmigration Perubahanoleh babyzloraFiguran? Ah yang benar saja. Anandhira Azahra harus mati karena jatuh dari tangga, dan parahnya ia tidak masuk surga atau neraka gadis ini justru memasuki raga seorang F... 3TURTLE Endoleh ByKura-kura itu hidup nya dapat 100 tahun lebih lama, tidak langka dan banyak jenis nya. Alea ingin seperti kura-kura hidup lebih dari 1 abad. Panjang umur biar bisa tumbu... 5The Secret Shila [END]oleh 🦋[FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR TIDAK KETINGGALAN INFO TENTANG CERITA INI] ____ "Sebuah rahasia yang berakhir duka." ____ Ini kisah tentang Shila Nashyta Winata... 8DIO or GIOoleh Fino Idapa jadinya seseorang yang terkenal dingin dan kejam, Harus bertransmigrasi ke tubuh seorang anak yang terlahir dengan di beri penyakit yang membuat dia harus menderita... 9ANGKASA ENDoleh sisca damayantiSelamat membaca cerita Angkasa dan Raisa❤❤ Bercerita tentang. Angkasa Saputra Wiratama. Murid laki-laki paling berpengaruh di SMA Merah Putih. Selain karena seorang anak... 11Goresan ARABBELoleh buah berry"it hurts when I make a promise" Arabbel pikir ia sudah bebas, tapi ternyata tidak. Itu semakin parah. Sesak dan kesakitan sudah menjadi makanan sehari-harinya... 13FERO On Goingoleh fer. agah nugrahaFero dengan segala luka nya. Ga bisa nulis deskripsi cerita. Penasaran? Tinggal baca GRATIS. Asal VOTE *osteosarcoma *bunda *daddy *anak tengah *di abaikan 1 "KANK... 15Minggu terakhiroleh FaniraP"Karena kamu memang pengen aku menghilang, baiklah, aku akan menghilang. Tapi aku minta satu syarat." "Biarkan ini jadi Minggu terakhir aku bersamamu. Dan... 16Story Zoyaoleh njuaZiya dan Zoya adalah seorang kakak beradik yg diperlakukan berbeda oleh orangtuanya. Ziya Exelyn Alatas adalah putri pertama ayah Adnan Farris Alatas dan bunda Elmira M... 17COMPLICATED FEELINGS [ON GOING]oleh taca[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW AUTHOR TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA] Keyna Slavionna Gherson, gadis yang selalu di jadikan ratu oleh sang kekasih. Selama 2 tahun m... 18S E N J A [END]oleh Meir TsabitaFollow dulu author nya! PLAGIAT DI HARAP MENJAUH‼⚠❗❗ _________________________________ Athena Senja Maharani nama indah orang nya pun indah. Senyum yang menawan dapat me... 20Maura and Fiction Worldoleh RadinaMaura Astara, adalah gadis remaja yang gemar membaca cerita fiksi. Memiliki kehidupan normal layaknya remaja lainnya, hanya kurang beruntung di kisah percintaan saja, ka... Cerpen Karangan Nada LinaKategori Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 26 May 2017 Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera beranjak dari tempat tidur untuk segera mandi. Aku benci sekolah, mereka bilang ini menyenangkan namun bagiku ini terlihat seperti penjara, juga rumahku ini yang tak terasa seperti rumah bagiku. “Lira, sarapan udah siap” panggil mamaku dari dalam ruang makan dan tanpa menjawabnya aku langsung menuju ruang makan dan ada satu hal tak dapat kuartikan yang membuatku menitikkan air mata. Setelah semuanya telah siap kami bergegas untuk melakukan aktivitas di luar, dan seketika itu “Lira, ibu akan mengantar kak Lira dan ayah akan langsung menuju kantor karena ada meeting mendadak, kau bisa berangkat sendiri kam?” kata katanya lembut namun menyakitkan, dengan perasaan kecewa kupaksakan diriku untuk tetap tersenyum “Tidak apa apa, suatu hari nanti pasti akan ada waktu” tidak apa apa, toh hal ini setiap hari terjadi padaku. Aku meninggalkan mereka lebih dulu dengan perasaan kecewa, biasanya aku dapat berjalan cepat namu entah kenapa hari ini rasanya lambat dan nafasku tersengal mungkin terlalu banyak menahan air mata sehingga rasanya sesak sekali, “Jangan menahan air mata, lebih baik tumpahkan saja, berteriaklah jika kau mau” mungkin benar kata orang orang tak seharusnya aku menahan air mata dan kini rasanya membuat dadaku semakin sesak dan ingin berteriak. Di sekolah pun semuanya sama saja, semua orang memandangiku dengan tatapan membenci, seolah aku ini adalah hama yang harus secepatnya dibasmi. Hal hal seperti ini sudah terjadi kepadaku sejak awal tahun dan sepertinya hal ini telah merekat erat di dalam diriku, aku berusaha untuk tak menghiraukan tatapan mereka dan aku berusaha untuk tidak menangis walau sebenarnya aku ingin, aku selalu berharap semua akan berakhir. Seperti biasanya hari hari yang kujalani tak pernah berubah sedikit pun. Aku lelah, sungguh! Aku berharap waktu segera berputar dengan cepat agar aku dapat melihat hasil akhir, tapi kadang menyakitkan juga jika apa yang kita inginkan tak sesuai dengan apa yang kita dapatkan, sungguh menyakitkan. “Hey Lina! Kau tahu hari ini kau dapat surat dari penggemarmu, hebat bukan!” ucap Devina seraya bertepuk tangan kecil dan berpaling menjauh, aku tak mengerti maksudnya dan tanpa berpikir panjang aku membuka satu persatu surat dari mereka, “Hey Jelek! Apakah kau tidak bosan hidup”, “Hey! Sadar dirilah, kau bahkan tak pantas untuk tersenyum”, “kau pasti telah berharap bahwa kebahagiaan akan selalu ada bukan? Haha.. jangan terlalu banyak bermimpi!” itu semua adalah sebagian dari surat mereka, sungguh menyakitkan namun inilah takdir dan aku telah ditakdirkan seperti ini, namun ada satu hal yang membuatku bertanya tanya hingga tanpa kusadari aku mulai menitikkan air mata dan peranyaan itu adalah “Apa salahku kepada kalian? Apa aku tak pantas bahagia? Aku aku akan seperti ini? Di masa depan nanti, apakah akan sama seperti ini saja, jika tidak aku akan bersyukur dan jika ya mungkin aku tak akan sanggup hidup lebih lama. Bel pulang sekolah berbunyi dan semua siswa bergerombongan menuju pintu gerbang sekola, semua tampak memiliki pasangannya sendiri sendiri “pasti menyenangkan memiliki seorang teman” desahku dalam hati lalu meninggalkan ruang kelas. Aku berjalan dengan tak bersemangat menuju rumah, aku lelah dan segera ingin merebahkan diriku di kasur. Aku membuka pintu dan tak ada orang di sana, namun aku mendengar suara berisik dari balik dapur, keluarga kami tampaknya sedang bercanda sembari membuatkan kue ulang tahun. “Hai” sapaku singkat namun penuh harap, semua orang tampak terkejut melihatku sampai sampai tak ada yang menjawab sapaanku hingga akhirnya ayah angkat bicara “Hey, kau sudah pulang? Sejak kapan?” tanyanya, aku mengernyitkan dahi dan memiringkan kepalaku, apa maksudnya? Jadi selama ini mereka tak tahu mengenai jadwal jadwal sekolahku? Sepeti jam berapa biasanya aku pulang, jelas sekali bukan? “ya, sudah sekian lama aku berdiri di sini. Oh ya, ngomong ngomong apa yang kalian lakukan? Aku bertanya kembali kepadanya, namun kini yang menjawab adalah ibu “Kami sedang membuatkan kue ulang tahun untuk kak Lina” jawabnya singkat, aku melihatnya dengan penuh saksama dan sepertinya dia sedang bersungguh sungguh agar masakannya tetap dalam kualitas yang bagus, “uhm, ibu apa kau ingat hari ulang tahunku?” aku mendelik malu, pertanyaan konyol yang memalukan, bagaimana bisa orangtua melupakan ulang tahun anaknya “maaf, pertanyaanku bodoh, aku lelah dan ingin istirahat” aku meninggalkan mereka. Aku merebahkan tubuhku di kasur dan sesekali aku mendesah ringan. Kecewa, sedih, marah semua tercampur menjadi satu tak karuan. “semoga esok menjadi hari yang lebih baik” doaku sebelum tidur, harapan besar yang kunantikan. Pagi hari ini aku tak ingin terlambat karena aku percaya akan ada hari baik, jadi sekeras apapun aku akan menerimanya. Aku memasuki ruang kelasku dan tak lama kemudian seorang guru datang dengan seorang perempuan, “selamat pagi” sapanya dengan penuh ramah “selamat pagi” semua siswa serentak menjwab dam tak beberapa lama kemudian beliau mempersilahkan gadis itu memperkenalkan diri, aku dapat melihat pipinya yang merah merona seakan akan ini pertama kalinya dia pindah sekolah dan menatap wajah baru. “hai, namaku Ella, aku harap kita bisa jadi teman” aku mendengar ucapannya yang berat, benar benar indah. Ella duduk di sampingku karena kursi itulah yang tersisa untuk dia, dengan waktu singkat aku mulai akrab dengannya terkadang dia merengek seperti anak kecil namun terkadang dia cerewet seperti orang dewasa, namun inilah yang kusuka darinya. “Lina, hari ini aku senang sekali” dia menundukkan wajahnya membuatku tak dapat melihat ekspresi wajahnya “apa? Kenapa” tanyaku keheranan dan dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dan aku mengerti, dia tampak seperti baru menitihkan air mata, “hey, ada apa” aku takut jika aku membuatnya menangis namun kemudian ia mendongak dan berkata “terima kasih” sembari tersenyum lebar. Aku tak dapat mengartikan ucapannya dan ekspresi wajahnya itu, apa maksudnya? Tapi hari ini aku tak ingin memkirkan hal itu, aku bersyukur karena ada sedikit kebahagiaan yang datang dan sebagai rasa syukurku aku berjanji akan menjaganya dan tidak menyakiti perasaannya karena dia begitu berarti bagiku, “Hey, aku memanggilmu dari tadi tapi kau tak dengar, kenapa? Terlalu sibuk melamun? Apa sih yang kau lamunkan?” Kata kata itu, tak salah lagi dia adalah Ella, aku menoleh dan ternyata benar aku segera mengusap air mataku dengan punggung tanganku, dia melihatku dengan tatapan aneh dan kemudian tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya, “terima kasih” lirihku, terlalu lirih sehingga tak terdengar. Di ruang perpustakaan kami tak berbicara satu sama lain hingga akhirnya Ella yang memulai pembicaraan “hey terlihat sedang tidak baik baik saja, ada apa” tanyanya lirih namun tetap terdengar, aku hancur namun aku tak ingin terlihat seperti itu di depannya jadi kupaksakan diriku untuk tetap tersenyum, “tidak, aku baik baik saja” aku berusaha menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya namun tak berhasil, dia tetap dapat membaca perasaanku dengan jelas seolah sudah sangat lama mengenalku, “kau berbohong, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu, katakan saja aku akan mendengarkan semuanya” kata katanya itu benar benar menyentuh membuatku tak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya kata yang keluar dari mulutku adalah “terima kasih”. Seseorang tiba tiba saja melempariku secarik kertas, entah apa maksudnya mungkin dia ingin memberi tahu sesuatu jadi aku langsung membukanya dan isi suratnya benar benar menyakitkan tak dapat kuterima, aku mulai menitikkan air mati menangis tersedu sedu hingga Ella datang menenangkanku. Aku berlari menuju cermin, “apakah aku sejelek itu” lirihku, namun tiba tiba seseorang menjawabku dengan suara lembutnya “tidak, kau adalah gadis baik”. Itulah yang diucapkannya. Aku menoleh ke belakang memastikan siapa yang mengatakan itu dan ternyata Ella, aku mulai menangis dan dia memelukku erat. “Ayo” Ella tersenyum sambil mengulurkan tangannya, aku membalas senyumnya dan menjabat uluran tangannya. Saat berada di perpustakaan tiba tiba Devina dengan teman temannya mendatangi kami, aku tidak tau apa yang diinginkannya karena dia tiba tiba saja menarik tangan Ella dan mengatakan sesuatu, aku tidak bisa mendengarnya tapi aku sedikit khawatir. Semenjak saat itu Ella semakin menjauhiku, entah apa masalahnya tapi aku yakin bahwa dia tidak sebenarnya menjauhiku, hanya saja ia dipaksa. Meskipun begitu aku tetap saja merasa aneh dengan dirinya, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet, Ella menjadi sedikit aneh dan aku jadi sedikit khawatir. Hari ini aku mencoba mendekatinya, namun dia menjauhiku “maafkan aku” ucapnya, aku tak mengerti jadi aku ingin bertanya padanya “ada apa?”, dia tidak menjawab sebentar dan kemudian menghela nafas “tidak apa apa” kemudian pergi meninggalkanku. Aku tidak mengerti apa maksud dari kata katanya, tapi aku yakin ia tidak baik baik saja, “Ella aku sungguh merindukan persahabatan kita” lirihku. Pagi hari ini kepalaku terasa berat dan dadaku terasa sesak dan sepertinya hanya sedikit oksigen yang masuk ke dalam paru paruku, mungkin karena terlalu berfikir. “Lina, kau tidak apa apa?” tanya ibuku, sepertinya ia khawatir dan ini pertama kalinya aku dikhawatirkan, “aku baik baik saja” ucapku, namun dia tetap saja merasa khawatir, apa sakitku separah itu sampai sampai ibuku yang selalu tak memperhatikanku kini menjadi sangat khawatir padaku, “aku tidak apa apa bu” aku mencoba meyakinkan ibuku dan diriku sendiri. Di saat pelajaran olahraga aku terpaksa harus ikut padahal badanku sedang tidak sehat, hari ini akan ada semacam tes dan aku berharap semoga aku dapat menjalani tes ini dengan baik walaupun kondisiku sedang tidak memungkinkan. Sebelum olahraga dimulai kami akan melakukan pemanasan dengan berlari mengitari lapangan sebanyak lima kali, biasanya aku dapat mengatur nafasku agar tidak terengah engah saat berlari namun kali ini aku tidak dapat melakukannya, berlari dua kali saja rasanya sudah hampir kehabisan nafas dan dadaku semakin sesak, aku tidak ingin semua orang mengetahuinya jadi aku hanya menahannya hingga tes berakhir. Saat pelajaran Matematika aku tak bisa berhenti merintih, ini benar benar menyakitkan. Aku berusaha agar rintihanku tidak terdengar dan aku akan menahannya hingga jam pelajaran berakhir, Ella semenjak tadi selalu melirik ke arahku dan wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Bel berbunyi empat kali pertanda akan pulang, saat hampir berdiri tiba tiba saja kakiku sulit digerakkan dan ini membuatku semakin takut, Ella menuju ke arahku “kau baik baik saja?” ucapnya sambil menepuk bahuku, aku tidak bisa melihat wajahnya karena aku sedang menunduk, namun aku dapat mendengar suaranya yang penuh kekhawatiran. Aku menangis ketakutan, “Ella, kakiku tidak dapat bergerak dan dadaku semakin sakit. Apa ada yang salah denganku? Dengan kesehatanku? Apakah ini parah? Separah apa?” aku terus menerus melontarkan pertanyaan pertanyaan padanya dan tangisanku semakin menjadi jadi, dia mencoba menenangkanku dan disaat itu aku terjatuh di pelukannya. Saat terbangun tiba tiba saja aku berada di sebuah Rumah Sakit, “apa separah itu?” batinku. Tiba tiba saja orangtuaku datang dan memelukku erat, ini pertama kalinya mereka memelukku jadi aku senang saat mendapat pelukann mereka yang begitu hangat, saat sedang berbicara tentang apa yang terjadi padaku tiba tiba saja dokter datang memanggil orang tuaku “semoga bukan berita yang buruk” doaku, kemudian ibu dan ayahku pun mengikuti dokter itu. Tak beberaa lama kemudian mereka kembali dan berkata bahwa aku diperbolehkan untuk pulang, “Lira kau diperbolehkan pulang namun akan lebih baik jika kau tidak berolahraga dan jangan biarkan dirimu terlalu kecapekan” pesan dokter padaku, aku hanya tersenyum dan menangguk mengerti. Kemudian kami bersiap siap meninggalkan Rumah Sakit, syukurlah bukan masalah serius dan semoga saja memang benar. Di rumah ayah ibuku menjadi sering memperhatikanku dan ini membuatku benar benar senang namun juga sedikit khawatir, aku khawatir terhadap kak Lina. Di saat makan malam kak Lina tidak ikut bersama kami, aku menjadi sedikit khawatir jadi aku ingin menemuinya sekaligus meminta maaf padanya, namun ibuku melarangku dan aku tidak ingin membantah, meskipun niatku baik namun ibuku melarangku aku tidak akan melakukannya. Hari demi hari keadaanku semakin memburuk dan disaat itulah orangtuaku baru saja memberitahuku tentang penyakit yang kuderita, “Lira, maafkan ibu karena telah merahasiakan ini darimu” ucap ibuku semari menahan tangis, aku tidak mengerti apa maksudnya “dokter mengatakan kau sebenarnya tidak baik baik saja, sakit yang kau derita selama ini bukan sakit biasa” perkataan ayahku itu semakin membuatku tidak mengerti dan aku sedikit ketakutan, ibuku menghela nafas dan berkata “kau menderita kanker paru paru dan karena sudah lumayan parah sampai sampai menyerang otak”, aku terkejut dan kecewa dengan mereka semua yang merahasiakannya dariku, disaat keadaanku sudah seperti ini semuanya baru mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, benar benar menyakitkan. Di malam hari aku tidak dapat berhenti menangis, bukan karena kecewa melainkan karena aku sedang menahan sakit, kepalaku benar benar berat dan lagi lagi oksigen yang kuhirup rasanya seperti hanya sedikit. Aku tidak dapat tidur dengan nyaman dan ibuku menjadi sangat mengkhawatirkanku. Pagi hari ini aku tidak langsung menuju sekolah, melainkan menuju rumah sakit. Dokter berkata keadanku memang sudah semakin parah sehingga dokter terpaksa memasang alat pembantu nafas untuk berjaga jaga jika aku paru paruku tidak dapat menerima oksigen. Aku benci ini, namun aku terpaksa menggunakannya untuk hidup, terkadang aku berfikir bahwa hidup tak adil namun inilah kenyataan. Keesokan hari lebih parah dari hari sebelumnya, mereka menertawakanku atas apa yang ada di wajahku. Aku membenci benda ini, rasanya benda ini membuatku terlihat lemah dan semua temanku menjadi semakin membenciku. “Lira ada apa denganmu?” Ella bertanya padaku dengan wajahnya yang khas, “aku tidak apa apa” jawabku semari dengan senyum khasku, ia memiringkan kepalanya seperti tak percaya “bagaimana kau bisa bilang kau baik baik saja? Sudah jelas Devina dan teman temannya telah menertawaimu dan benda yang ada di wajahmu itu pasti bahan tawaan mereka bukan?” ucapnya panjang lebar dan disaat aku angkat bicara ia memutusnya “pasti kau sedang menderita, namun aku tidak peduli karena kita akan selalu bersama dan jangan sungkan untuk mencurahkan semua isi hatimu” ia tersenyum dan pergi meninggalkanku yang masih mematung. Hari demi hari keadaanku semakin memburuk dan aku terpaksa harus dirawat di rumah sakit, hari hari yang kujalani hanyalah berbaring dan minum obat terkadang juga suster menyuntikkan sesuatu ke tubuhku, sungguh membosankan namun harun tetap dijalani, aku hanya ingin sembuh dan aku belum siap meninggalkan mereka semua. Aku berusaha untuk bertahan dan semoga aku dapat melewati semua ini, sudah seminggu aku berbaring di atas kasur dan keadaanku tidak semakin membaik melainkan semakin memburuk, namun meskipun begitu aku tetap berusaha dan mengharapkan keajaiban datang. Teman temanku datang menjengukku, bahkan Devina juga ada datang menjengukku, aku sungguh bahagia disaat saat terakhir dalam hidupku mereka mau menjengukku, “Lira, kami harap kau cepat sembuh, dan kemudian kita bermain bersama, maafkan kami atas yang telah kami lakukan selama ini, kami harap kau mau memaafkan kami dan menganggap kami teman dan kami sudah menganggapmu teman kami” ucap devina panjang lebar, semua orang menangis. Disaat yang seperti ini aku merasa bahagia karena mereka telah menganggapku teman, namun sepertinya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, aku pergi meninggalkan mereka dan tidak akan kembali lagi untuk selamanya. Untuk Ella Saat kita pertama kali bertemu dan kau mau menjadi sahabatku aku sangat berterimakasih terhadap Tuhan atas apa yang diberikannya padaku, yaitu seorang sahabat yang sungguh baik. Aku merasa takut bahwa aku akan kehilanganmu disaat kau tiba tiba saja menjauhiku. Kau tahu? Aku sangat bahagia saat kau begitu mengkhawatirkanku, wajahmu benar benar lucu hingga rasa sakitnya hilang dan berubah menjadi tawa. Aku menulis surat ini karena aku tahu aku tidak akan bertahan lama lagi, ku harap kau masih tetap menganggapku teman, meskipun aku telah tiada. Maaf karena aku tidak dapat membalas semua yang telah kau berikan padaku dan terimakasih atas segalanya, terimakasih karena telah menganggapku sebagai temanmu, sekali lagi terimakasih. Cerpen Karangan Nada Lina Facebook nadalina ini pengalaman pertama saya, mohon bantuannya Cerpen Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan merupakan cerita pendek karangan Nada Lina, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Karena Kita Adalah Sahabat Oleh Sellanisa Salsabilla Namaku Ragatha abraham. Remaja perempuan kelas 3 SMP di salah satu sekolah negeri yang ada di Jakarta. Kata teman-temanku aku mempunyai sifat seperti laki-laki, pemberani, jahil, namun emosian. Aku Malaikat Kecil Tak Bersayap Oleh Fuji Paujia Pahmawati Jia adalah seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia merupaakan buah hati dari keluarga Wijaya dan Maria. Jia lahir di Puncak Situ yang sampai sekarang menjadi tempat Menunggu Waktu Yang Tak Kian Pasti Oleh Ika Trisnan Desederia Namaku ranty. Aku mempunyai banyak sahabat yaitu novi, ida, yumi, devi, nabilah, yahla dan dina. Disini aku tidak akan bercerita tentang persahabatanku, melainkan tentang rasa suka ku kepada ali. Hujan di Medan Senja Oleh Dwimas Anggoro Hujan di Medan Senja, Satu persatu air dari awan kelabu yang menggantung di atas langit mulai menjatuhkan diri, terhempas kedalam peluk bumi. Membuat jalanan becek, genangan air beriak-riak teriak. Sepatu Berdebu Oleh Muhammad Irsyad Aku perlahan berdiri, menyingkir sejenak dari kursi dan meja yang dingin, kemudian beranjak pergi menuju jendela di sudut kantor, tempat di mana aku berada. Terlihat dalam bayang-bayang kaca, wajahku “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Cerpen Karangan AnitaAlfaKategori Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 3 March 2021 Sebaik apapun caramu berpamitan, perpisahan akan tetap menyakitkan’. Ingat satu kalimat itu sampai kamu benar-benar tahu definisi sakit yang sesungguhnya. Hidup ini ini penuh kejutan, kamu tidak akan bisa menebak sesuatu yang akan terjadi pada detik selanjutnya. “Resha kok nangis, kenapa?” Pria yang masih mengenakan setelan jas kantornya itu datang lalu berjongkok di depan gadis kecil yang sedang menangis sembari terduduk di lantai ruang tamu. “Echa jatuh, Pa.” adu anak berusia sekitar tujuh tahunan itu sembari terisak tangis. Pria yang disebut papa tersebut lantas tersenyum sembari mengusap air mata putrinya. “Masa gini aja kamu nangis sih?” “Tapi kan sakit, Pa. Echa nggak kuat.” Resha menunjukkan siku kanannya yang lecet. “Tuh, Pa. Siku Echa ada darahnya.” Pria berumur tiga puluhan itu meraih lengan anaknya kemudian membersihkan bercak darah yang ada pada lukanya. Resha merasa lebih membaik setelah papanya meniup lukanya berkali-kali. Seolah sihir, entah bagaimana bisa sakitnya langsung hilang begitu saja. “Tangan Resha masih sakit, nggak?” tanya pria itu. “Enggak sakit lagi, Pa.” “Tadi katanya sakit?” Resha bungkam menatap wajah lembut papanya. Dia bingung. Tadi sebelum papanya datang luka itu terasa sangat sakit sekali, karena itulah dia menangis. Tapi setelah papanya datang sakitnya benar-benar lenyap entah bagaimana bisa. Pria itu membantu Resha berdiri setelah itu membawanya duduk ke sofa. “Resha mau papa kasih tau nggak?” Resha mengangguk polos. “Mau,” “Luka itu sebenarnya nggak sakit. Saat kamu jatuh dan terluka maka otak kamu yang akan lebih dulu merespon. Jadi kalo Resha berpikir Resha kuat saat terjatuh, rasa sakit itu nggak akan pernah ada, Nak.” Resha tidak mengerti sama sekali dengan penjelasan papanya. Dia memiringkan kepalanya karena tidak paham. “Resha ngerti maksud papa?” Dengan polosnya Resha menggeleng pada papanya. “Echa nggak ngerti, Pa.” Pria itu terkekeh geli. Merasa gemas dengan putrinya lalu mencubit pipinya. “Maksud papa, kamu harus berpikir bahwa kamu itu orang yang kuat. Jadi saat kamu terjatuh, kamu tidak akan menangis karena luka apapun.” “Echa kan masih kecil, Pa.” “Iya, Resha memang masih kecil sekarang. Tapi Resha harus berlatih untuk tidak menangis saat terjatuh dan terluka. Resha nggak boleh nangis lagi ya kalau jatuh, masa luka kecil gitu aja nangis sih?” “Tapi Pa… rasanya emang beneran sakit. Papa kalau jadi Echa pasti nangis juga.” Lagi-lagi tingkah menggemaskan Resha mampu membuatnya terkekeh geli. Pria itu lalu meraih tubuh putrinya dan membawa dalam pangkuannya. “Resha tahu nggak, nanti saat kamu sudah dewasa, akan ada banyak luka yang lebih sakit dari ini. Tapi sebelum kamu merasakannya, papa mau Resha jadi anak yang kuat.” “Kenapa Echa harus kuat? Kan ada papa yang akan nolongin Echa kalo Echa jatuh lagi terus nangis.” kata Resha. “Kamu nggak bisa berharap lebih pada siapapun Resha, termasuk papa. Bagaimanapun juga nanti akan ada saatnya papa tidak bersama kamu lagi.” Resha mendongak memandang mata papanya yang tanpa sadar mengeluarkan sedikit air mata. Menyiratkan akan luka yang bahkan belum terjadi namun dapat dirasakan. Gadis kecil itu tampak bingung pada papanya. Kenapa? “Kok papa nangis sih? Papa kan nggak jatuh kayak Echa tadi, jadi papa nggak ngerasain sakit.” Pria itu mengusap wajahnya dengan punggung tangan, baru menyadari akan sesuatu yang seharusnya tidak ia tunjukkan di depan putrinya. Lalu sebisa mungkin dia kembali menunjukkan senyum lebar pada putrinya, menyembunyikan rapuh dalam dirinya. “Sakit nggak hanya disebabkan oleh jatuh. Resha harus tahu satu hal lagi, sakit paling dalam adalah kehilangan.” “Kemarin mainan Echa hilang, Pa. Tapi Echa nggak nangis kok, karena nggak ngerasain sakit.” cerita Resha dengan polosnya. “Resha belum paham. Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu pasti paham, Nak. Mungkin hari ini papa masih bisa nolongin kamu saat kamu jatuh. Tapi untuk kedepannya papa nggak bisa janji.” “Kenapa?” “Karena ada saatnya nanti papa harus pergi. Dan kamu nggak boleh nangis ya saat waktu itu tiba.” “Papa pergi kemana? Echa mau ikut, Pa.” “Nggak bisa sayang.” “Kenapa? Echa kan pengin sama papa terus.” gadis itu menatap papanya dengan kecewa. “Kalau gitu Echa ingat pesan-pesan papa ya. Biar nanti kalo papa udah pergi, Echa bisa inget terus sama papa.” “Echa inget papa terus kok. Echa kan sayang sama papa.” “Kalau begitu janji sama papa, Echa nggak boleh nangis lagi karena alasan papaun. Pokoknya anak papa harus jadi orang yang kuat.” Pria itu menunjukkan jari kelingkingnya. “Echa janji nggak akan nangis lagi, Pa. Echa kan kuat.” gadis kecil itu menautkan jari kelingking mungilnya dengan jari papanya. Menunjukkan sebuah janji yang harus ia tepati sampai nanti. “Masa kuat? Tadi aja abis nangis.” gurau Pria itu membuat Resha kesal. “Ah, Papa! Echa tadi kan nggak sengaja nangisnya.” alasan Resha yang membuat pria itu lagi-lagi tersenyum gemas lalu mengangguk percaya. “Iyadeh papa percaya, anak papa emang kuat.” Resha tersenyum bangga pada papanya. Pria itu mengusap lembut rambut Resha sembari berkata “Inget pesen-pesen papa ya, Nak.” Resha hanya mengangguk polos. Dia tidak pernah mengira bahwa apa yang dikatakan papanya itu akan menyakitinya suatu hari nanti. Semenjak saat itu Resha benar-benar menepati janjinya untuk tidak menangis karena alasan apapun. Resha bahkan tak menangis sedikitpun meskipun dia terjatuh dari sepeda hingga kepalanya berdarah. 10 tahun kemudian… Hari ini, setelah sepuluh tahun lamanya, Resha baru sadar semua yang pernah dikatakan oleh papanya waktu itu. Resha mengerti bagaimana sakit yang sesungguhnya. Lebih sakit dari jatuh yang membuat sikunya berdarah kala itu. Lebih sakit dari semua sakit yang pernah dia rasakan. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia mengingkari janjinya pada papa. Resha tak akan bisa berhenti menangis setelah ini. Kehilangan papa adalah mimpi terburuk yang selalu terasa nyata. Papa telah pergi meninggalkan Resha untuk selamanya. “Kenapa papa pergi ninggalin Resha? Resha udah nepatin janji, Pa. Tapi sekarang papa sendiri yang buat Resha ingkar janji. Papa yang buat Resha nangis.” perlahan suara isak tangisnya semakin jelas. Resha tak mungkin bisa tersenyum lagi setelah ini. “Resha ayo pulang. Mama tahu kamu belum bisa menerima ini. Tapi kamu harus belajar mengikhlaskan, Nak. Papa kamu akan sedih jika melihat kamu seperti ini.” Resha menatap mamanya sekilas, lalu beralih menatap kembali batu nisan yang terukir nama papanya disana. Dadanya sesak, tidak mudah menerima kenyataan yang bahkan dia sendiri tidak menginginkannya. “Papa nggak boleh pergi Ma! PAPA NGGAK BOLEH NINGGALIN RESHA! PAPA NGGAK BOLEH PERGI! Hiks! PAPAA!! Hiks!” Hari ini, di tempat terakhir papa. Resha menangis bukan karena luka, tapi rasa kehilangan yang sakitnya tak akan pernah bisa dipulihkan. Cerpen Karangan AnitaAlfa Blog / Facebook Tidak punya Anita Alfa, lahir pada 14 Desember 2004 di Tulungagung, Jawa Timur. Pelajar putih abu-abu yang hobby membaca dan menghayal. Akun ig anitaalfaa14, Wattpad AnitaAlfa. Buat kalian yang baca ini, cuma mau bilang AYO MENYERAH, NGAPAIN SEMANGAT’ haha. Cerpen Definisi Sakit merupakan cerita pendek karangan AnitaAlfa, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Pengalamanku Tentang Covid 19 Oleh Cintya Vidya Sasikirana Assalammualaikum semuanya. Namaku Cintya. Aku akan menceritakan pengalamanku tentang Covid 19. Suatu hari romo dalam bhs jawa artinya bapak sakit. Gejalanya adalah batuk berdahak, demam. Waktu itu bude Nanik, Pertemuan Terindah Oleh Alya Firdaus Kita bertemu melalui akun sosial media yang sedang booming pada saat itu. Dia menyapaku di pesan obrolan dengan kata-kata yang sering orang lain ucapkan ketika ingin berkenalan dengan lawan Mawar dan Vas Porselen Oleh Agata CW 1 Januari 2008 Aku mengayuh sepedaku dengan kencang tak peduli walau jalan ini curam. Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi menonton film dengan Carissa, gadis yang aku sukai. Angel Oleh Selda Arifani Di sebuah sekolah SMA terdapat seorang cewek cantik yang menjadi primadona sekolah. Dia adalah Angel, yang kini duduk di bangku kelas XI. Dia adalah anak yang pintar, dan multitalent. Program Penurunan Berat Manja Oleh Ana Rifqi Jamil Melihat aksi tanteku yang lagi sibuk kejar-kejaran dengan Ifha, putrinya yang kelas dua SD, karena susah sekali disuruh mengerjakan PR, diriku teringat pada tulisanku yang akan Anda baca ini. “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Cerpen Karangan Sifa Nur FauziahKategori Cerpen Anak, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 26 May 2014 “Mah, Pah kenapa aku sering mimisan, pusing dan pingsan.” Tanyaku kepada orangtuaku. “mah, pah cerita sama aku, apakah aku mempunyai penyakit kanker?!” tanyaku lagi kepada orangtuaku. Mamaku dan papaku tersontak kaget mendengar ucapan ku. “Kamu hanya kecapean sayang”. ucap mamaku sambil menahan air matanya. “Kata mamah kamu benar sayang, kamu hanya kecapean”. sambung papaku sambil menahan air matanya. Mama dan papaku mencoba menenangkan aku yang tiba tiba menangis histeris. “Hiks… hiks… Ya sudah kalau mamah dan papah enggak mau cerita sama aku”. Ucapku, sambil melepaskan pelukan mereka dengan pelan, dan beranjak pergi ke kamar. “Maafkan mamah sayang, mamah enggak mau cerita sama kamu karena mamah khawatir sama kamu, mamah takut sampai kamu kepikiran terus”. Batin mamahku. Di kamar aku hanya diam merenung, tiba tiba pikiran ku punya ide, segera aku ambil ipad ku yang ada di meja belajar ku, dan aku mencari di Google “penyebab penyakit kanker” aku memilih salah satu dari pilihan Google. “HAH!!!, ternyata aku berpenyakit kanker”, TES… Air mata ku jatuh satu per satu dan menjadi deras. “kenapa mamah dan papah enggak mau cerita sama aku tentang penyakit ini Aaaa!!!”. aku menjerit sekeras kerasnya, dan aku menyimpan ipad ku, dan aku mencoba menenagkan pikiranku dan akhirnya tertidur pulas. Keesokan harinya, aku seperti biasa beranjak ke kamar mandi dan segera berangkat ke sekolah, tak lupa aku meminta izin kepada orangtua ku ya… meskipun mereka membuat aku kecewa. Sampai di sekolah, dan masuk kelas, aku bertemu sahabat ku yang bernama, Claudia, cindy, angel dan Catty. “Hello Pagi Guys”. Sapaku kepada sahabatku, dan tak lupa aku memberi senyuman kepada mereka. “Pagi juga Fayna”. Sapa mereka kepadaku. “Oh iya fay, entar anterin aku ke perpustakaan yuk!” Ucap claudia. “iya aku pasti anterin kamu ke perpustakaan”. Ucapku sambil tersenyum. “jadi fayna saja yang di ajak”. Ucap cindy, angel dan catty. “hahhaha enggak kok kalian juga aku ajak ke perpustakaan ya enggak fay”. “iya dong” Ucapku Kepada Sahabatku. TIBA TIBA!! TES!… Jatuhlah darah segar yang mengalir di hidungku, cepat cepat aku membuka tas dan mengambil sapu tangan, untung aku membawanya. “Kambuh lagi”. Ucapku. “hmmm… aku.. aku ke toilet dulu ya”. Ucapku dengan nada gugup. “Perlu aku antar?”.ucap cindy dan sahabatku yang lainnya. “hmm terima kasih aku buru buru bye” ucapku sambil pergi. Sahabatku hanya heran melihatku, dan sebenarnya, sahabat aku ini tidak tahu aku mempunyai penyakit mematikan ini, hanya Allah, aku dan kedua orangtuaku. Sampai di toilet aku segera membersihkan hidungku terlebih dahulu, setelah itu aku membersihkan sapu tanganku yang penuh dengan darah. “nah udah selesai”. Ucapku sambil bercermin sebentar, dan berlalu keluar toilet, aku berjalan santai di koridor sekolah, TET! TET! TET! bel pun berbunyi, itu tandanya jam ke 1 sudah dimulai. Di depan kelas “Aduh!! fayna kemana lama banget ke toiletnya, malah jam pelajaran ke 1 sudah di mulai lagi” ucap claudia yang begitu cemas keadaanku. “iya nih! lama banget!” sambung cindy, angel dan catty. Oh TIDAK! pelajaran jam ke 1 sudah dimulai, aku berlari secepatnya, sampai di pintu kelas. “Haduh mampus nih!, udah ada ibu yetinya lagi”. Ucapku dengan nafas tak beraturan, aku hanya pasrah dan mengetok pintu kelasku. “Permisi…” Ucapku. Semua teman dan sahabatku menengok ke arahku terutama ibu yeti. “fayna kamu kemana saja, kamu sudah terlambat 15 menit yang lalu!” Ucap ibu yeti agak sedikit membentak. “maaf bu saya tadi dari toilet” ucapku sambil menundukan kepalaku, dan tiba tiba aku merasa pusing sekali, aku hanya menhan rasa sakit ini. “huft… Ya sudah ibu maafkan lain kali kamu jangan mengulangi nya lagi ya”. Ucap ibu yeti kepadaku. “iya bu terima kasih” ucapku sambil masuk ke dalam. TIBA-TIBA!… “BRUK”, aku terjatuh di lantai dan segera sahabatku dan bu yeti menghampiriku. “ASTAGFIRULLAH… Fayna!!”. Ucap Sahabatku bersamaan, dan langsung menghampriku. “Ada apa in..”. Ucap ibu yeti sambil menengok ke arahku. “Ya Allah!…”. Sambung ibu yeti kaget dan menghampiriku. “cepat kalian bawa fayna ke UKS, ibu akan Telpon Orangtuanya” ucap ibu yeti panik! menyuruh sahabatku membawa aku ke ruang UKS. Sampai di Ruang UKS disana sudah ada dokter, sahabatku, ibu yeti, dan kedua Orangtuaku. “engh…” aku meringis dan berusaha untuk melihat dengan jelas. “Aku ada dimana?”. Sambungku. “Kamu ada di Ruang UKS sayang”. Ucap mamahku dan papahku. “Iya benar fay kamu ada di Ruang UKS”. Sambung sahabatku. “kalau gitu saya permisi dulu”. ucap ibu yeti. “Iya Fay aku, cindy, angel dan catty ke kelas dulu ya, semoga cepat sembuh dah”. Ucap Sahabatku, sambil melambaikan tangan. “iya makasih, Dah..”. Ucapku. “Sayang mamah, papah, dan dokter rizky mau keluar sebentar ya, kamu istirahat saja di sini”. Ucap mamah ku sambil mencium keningku, dan berlalu pergi keluar dan diikuti oleh dokter rizky dan papa. “Iya mah”. Ucapku sambil tersenyum Sedangkan di luar ruangan UKS “Dokter gimana keadaan anak saya?” ucap mamah. “Iya dok keadaan anak saya gimana?”. Sambung papaku. “mmhh…. kankernya semakin parah, dan kira kira beberapa bulan lagi akan mamasuki stadium 2.” Ucap dokter. “Dokter boleh tahu anak saya mengalami penyakit kanker apa?.” Ucap Papaku. “Hiks… hiks.. iya dok anak saya mengalami penyakit kanker apa!”. Ucap mamahku yang sudah menangis deras. “Kanker Otak”. Ucap dokter rizky. “APA!!” ucap mama dan papaku. “Pah…. hiks… hiks..” ucap mamaku memeluk papahku. “yang sabar ya mah, kita terus berdoa kepada tuhan yang maha esa”. Ucap papaku sambil membalas pelukan mamah. “Iya benar kita hanya bisa berdoa kepada tuhan yang maha esa, oh iya anak bapak dan ibu, segera melakukan kemotrapi selama 2 bulan sekali, kalau begitu saya permisi banyak pasien yang harus saya periksa, permisi”. Ucap dokter rizky pamit kepada orangtuaku. “iya dok terima kasih, mari silahkan”. tanpa sengaja aku mendengar percakapan dokter rizky dan ke dua orangtuaku. “Ternyata… aku berpenyakit kanker otak, dan beberapa bulan lagi aku bakal memasuki stadium 2” ucapku sambil meneteskan air mata. Beberapa bulan kemudian penyakit kankerku ini memasuki stadium 2 aku selalu berobat jalan, dan selalu kemotrapi karena hari hari ini aku sering pingsan, dan mimisan. Mamaku menawarkanku untuk Home Schooling karena, mamaku khawatir dengan keaadaanku sekarang, tetapi aku menolak tawaran itu karena bagiku sekolah di luar lebih asik dibandingkan dengan di rumah, dan sahabat aku yang selalu support aku di sekolah maupun di luar sekolah. Keesokan paginya aku berangkat ke sekolah, mata yang sangat pucat di tambah dengan rasa sakit, padahal aku selalu minum obat tepat waktu, tapi, aku sampai di ruang makan mama bertanya padaku. “sayang kamu kenapa, kamu sudah makan, apa kamu belum makan obat?”. Ucap mamaku dengan sangat khawatir kepadaku. “mamah aku enggak apa-apa, aku sudah makan, aku sudah makan obat mamah”. Ucapku dengan penuh penekanan. “tapi kamu pucat sekali fay”. Ucap mamaku. “udah aku enggak apa-apa, oh iya papah kemana?” Ucapku tersenyum lalu bertanya kepada mamaku. “papah sudah berangkat, kamu diantar sama pak budi ya”. Ucap mamaku. “iya mah, ya sudah aku berangkat Assalamualaikum…”. Ucapku Sambil mencium tangan mamaku. “Waalaikumsalam… Hati-hati ya di jalan”. “iya mah”. Ucapku. Sampai di depan pintu TES… jatuhlah darah segar di hidungku, dan ada saat itu aku merasa pusing sekali. DAN… BRUK..!! aku terjatuh di lantai, mama ku segera membopongku masuk ke mobil, dan dibawa ke Rumah Sakit. Sampai di Rumah sakit aku ditangani oleh dokter rizky dan suster, dan mamaku hanya menunggu di ruang tunggu, dan meminta pak budi supir pribadi untuk ke sekolah aku, karena hari ini aku dikarenakan sakit. sampai pak budi di sekolahku dan memberi tahu kepada ibu yeti. “Permisi…” Ucap Pak budi sambil mengetok pintu kelas. “iya ada apa ya pak?.” Ucap ibu yeti. “begini bu non fayna sekarang tidak bisa mengikuti pelajaran dikarenakan sakit” Ucap pak budi. “oh iya pak”. Ucap ibu yeti. “HAH! fayna sakit!” Ucap sahabatku bersamaan. “sekarang dia ada dimana pak budi”. Ucap cindy, angel, catty dan Claudia. “di Rumah sakit kasih Bunda, ya sudah kalau gitu saya permisi… Mari”. Ucap pak budi berpamitan. “iya iya mari silahkan”. Ucap ibu yeti, “ya sudah anak anak kita lanjutkan lagi pelajaran. “iya bu…”. Ucap semua murid. Di sisi lain dokter pun keluar dengan wajah gelisah. “Dokter gimana keadaan anak saya?!”. Ucap mamaku khawatir. “ya sudah mari kita bicara di ruangan saya, di sini tidak enak untuk dibicarakan tentang privasi, mari bu…”. ucap dokter. “iya mari”. Ucap mamaku. Sampai di ruangan dokter rizky, dokter rizky pun memulai bicara. “begini bu anak ibu ini sangat cepat sekali memasuki kankernya”. Ucap dokter rizky. “memang sudah memasuki kanker stadium berapa?”. Ucap mamaku. “Stadium 3” singkat dokter rizky. “Ya Allah Seberat itu kah cobaan buat anak hamba-mu ini yang satu satu nya”. Ucap mamaku dalam hati. “Dokter tolong berikan yang terbaik buat anak saya dok saya mohon”. Ucap mamaku. “iya saya akan berusaha semaksimal mungkin”. Ucap dokter rizky. “Anak saya sudah sadar kan dok”. Ucap mamaku. “iya dia sudah sadar”. Ucap dokter rizky. “ya sudah saya, mau nengok anak saya permisi…”. ucap mamaku. “ya mari.. mari silahkan..” Ucap dokter rizky. Sampai itu mamahku memasuki ruanganku, mamaku tersenyum, aku pun membalasnya. “Sudah sadar sayang”. Ucap mamaku. “sudah mah, mah penyakitku tambah parah ya.. mamah bilang yang jujur sama fayna…”. Ucapku. “Kamu yang sabar ya nak, iya kamu memasuki stadium 3”. Ucap mamaku, dan meneteskan air mata. “DEGH Ya Allah ini cobaan berat bagiku, sahabatku, terutama kedua orangtuaku”. Ucapku dalam hati. Tiba tiba sahabatku datang “fayna kamu baik baik saja kan, aku khawatir dengan kondisimu”. Ucap claudia. “aku semua khawatir makannya kita datang kesini, untuk memastikan kondisimu baik atau tidak”. Ucap Sahabatku. “Iya aku enggak apa apa kok, kalian tenang saja”. Ucapku. “Aaaa… Aku salut sama kamu fayna”. Ucap sahabatku sambil memelukku, mamaku hanya tersenyum melihat aku dengan sahabatku. Beberapa hari kemudian rambutku sudah menipis dan itu artinya penyakitku ini akan lebih parah dari sebelumnya, aku hanya berbaring lemah di rumah sakit. Aku meminta kepada mamaku. “Mah.. tolong bawakan pulpen, kertas dan amplop ya… aku mohon”. Ucapku, nafasku mulai tak beraturan. Aku menulis di suratku Assalamualaikum….. hallo mamah, papah, dan sahabatku yang unyu unyu, pasti kalian membaca surat ini aku sudah tidak ada, makasih buat mamah dan papah sudah merawatku dari kecil hingga sekarang, makasih juga buat sahabatku yang unyu unyu sudah support aku, tanpa kalian aku ini bukan siapa siapa, makasih atas semuanya… 🙂 Wassalamualaikum… semua membaca surat itu… Nafasku sekarang tidak beraturan jantungku mulai sakit “hah.. hah… ha.. laila…” aku sudah menghembuskan nafas terakhirku.. mama, papa, dan sahabatku nangis histeris. jenazahku dikuburkan di dekat rumahku, aku hanya bisa melihat orangtuaku dan sahabatku dari kejauhan… TAMAT Cerpen Karangan Sifa Nur Fauziah Facebook Sifa Nur Fauziah Assalamualaikum…. Teman , hay perkenalkan nama aku sifa nur fauziah akrab di panggil sifa , aku bersekolah di smp negeri 1 ciranjang , hobby aku , menyanyi dan menulis cerpen , ini adalah cerpen pertama ku semoga kalian tertarik untuk membacanya. Follow Twitter sifanu18 Add Sifa Nur Fauziah Follow Sound Cloud Sifa Nur Fauziah -Salam Manis Sifa Nur Fauziah Cerpen Aku Berpenyakit Kanker merupakan cerita pendek karangan Sifa Nur Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Di Tengah Debu Dunia Oleh Agung Gunawan “Ah. tanggal 30 September” ujar Andi dalam hati sembari melirik kalender yang berada tepat di samping ibunya, ini berarti ia telah berada di tempat itu selama satu minggu tepat. Cinta Pertama Oleh Gian Lediny Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama Dia Tidak Mau Difoto Oleh Maulida Hariati Di Fakultas aku punya seorang teman bernama Diana. Kami berteman sudah cukup lama. Dari awal masuk kuliah hingga semester 5 saat ini. Kami berteman sangat akrab, saking akrabnya kami Sahabat Lama Part 2 Oleh Abdil Arif Sambil menunggu pesanan datang, kami menyoroti cewek-cewek yang tengah asyik dengan dunia ngerumpinya masing-masing. Dan tak lama kemudian kopi hangat telah menuju kami, yang dibawah oleh pelayan bermata indah Produser Bom Oleh Muhammad Ananda Kautsar Tsar, merupakan seorang remaja laki-laki berumur 14 Tahun yang luar biasa. Apa Keluarbiasaannya? Yang paling hebat adalah ia mampu Menciptakan Bom Bulat dengan menjentikkan jari-jarinya, dan bom pun akan “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"

cerpen sedih tentang penyakit