cerita sex dengan teman kantor

CeritaDewasa Main Serong dengan teman kantor.Perkenalkan namaku Adri aku kerja di perusahaan swasta di suatu tempat di indonesia timur. Semuanya bermulai dari seringnya saya bekerja sama dengan Mirna yang sama-sama satu kantor tapi dia di bagian pemasaran. CeritaSeks, Cerita Selingkuh, Cerita Bokep, Selingkuh Dengan Teman Kantor, Cerita ML, Kisah Seks, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru 2017. Diposting oleh Unknown di 20.06. Kirimkan Ini lewat Email Cerita Seks Selingkuh Dengan Teman Kantor; Cerita Sex ABG Muda Menjadi Pemuas Janda Kesepian; Cerita Dewasa Berbagi Kenikmatan Dengan CeritaSex Ngentot Teman Kantor Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberijawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan Fikri saling menghisap lidah dan ciuman CeritaSex denagan Teman Satu kantor Saya punya pengalaman menarik bersama seorang ibu rumah tangga yang sepertinya baru pertama kali nonton blue film. Awalnya ketika saya sehabis pulang menyewa laser disk, saya disapa oleh dia, dan dia bertanya apa yang saya bawa. Senin, 30 Oktober 2017. Amoy Yang Memiliki Payudara Besar Dan Indah (GaleriQQ) Agen BandarQ. Kehidupan seksual aku sebenarnya sangat normal. Hingga pada suatu saat, perusahaan yang bersebelahan dengan aku, sebut saja PT xxx, mempekerjakan seorang karyawati baru dibidang administrasi. Dirinya bernama Clara. mở bài bằng lí luận văn học. Cerita sex terbaru – setelah sebelumnya ada pengalaman Kisah Siswi SMP Yang Malang Di Perkosa, kini ada cerita seks bergambar Ngentot di Kantor Dengan Pegawai Bank. selamat membaca dan menikmati sajian seru khusus dewasa 18 tahun keatas. Kenalkan nama saya Harry dan biasa dipanggil Ry. Saya seorang pegawai kantoran biasa. Pengalaman ini terjadi saat saya masih di kantor dengan teman sekolahku dulu yaitu Selly. Kejadian itu terjadi di hari Jumat kira-kira jam 8 malam, Saat itu di kantor ada pendaftaran akun bank untuk penggajian karyawan kami semua diwajibkan memiliki rekening bank X. Tak disangka petugas bank yang datang adalah teman sekolahku dulu. “Eh?? Harry kan??”, Selly menunjuk ke arahku dengan wajah bingung. “Nah loh, ketemu disini kita Ly”, kataku sambil tersenyum. Tapi kami tak sempat ngobrol banyak karena masih jam kerja. Saat dia sudah selesai mendata karyawan kantor kami, dia berpamitan denganku. “Ry, aku balik dulu ya. Sudah kelar nih.”, katanya. “Tunggu Ly, nanti kita ketemuan bisa kagak?”, tanyaku. “Boleh boleh…kebetulan aku kangen nih..hehe..” jawabnya dengan senang. Akhirnya kami bertukar pin BB untuk mengatur jadwal bertemu nanti sore. Apa mau dikata rupanya aku disuruh lembur, aku pun mengabarinya. Tapi Selly sepertinya ingin ngobrol denganku dan bertanya apa boleh dia datang ke kantorku saja. Tentu saja boleh jawabku. Jam 5 lewat dia datang dan kusuruh menunggu sebentar sambil dia menonton televisi yang ada di kantor. Tak terasa sudah jam 6 lewat dan diluar hujan deras. “Ly, ngobrol disini aja sampai hujan reda ya?? Kagak bawa payung nih” jelasku. Dia pun mengiyakan kondisiku. Kami mengobrol panjang lebar mengingat masa sekolah dulu dan juga membahas masalah pekerjaan. “Ry, kok jadi agak panas ya disini? AC kantormu rusak?” tanyanya. “Ah iya, freonnya belum diganti” jawabku. “Akunya jadi kepanasan karena pakai seragam, aku buka blazerku yah” katanya sembari melepaskan blazer. Kami lanjut mengobrol sampai akhirnya aku hilang fokus karena terlintas pikiran bentuk tubuh Selly yang seksi setelah dia membuka blazernya tadi. Dia bukanlah perempuan yang terlalu kurus atau gemuk, tapi semok dan pas menurutku. Dan tentunya dia memiliki dada yang lumayan besar. “Ah, jadi gerah yaaa” aku mengalihkan pikiranku. “Ha? Telat amat lu Ry. Aku sudah dari tadi kepanasan, kamu baru ngerasain. Eh, tapi cowok enak loh. Kepanasan bisa buka baju telanjang dada dengan santai, kalau cewek susah.”, katanya. “Kamu mau aku telanjang dada nih?” candaku. “Ihh, bukan gitu. Aku cuman jelasin pemikiranku. Lagian aku ga masalah kalau teman sekolahku telanjang dada depanku, habisnya aku masih ingat kalian waktu dulu sih..hehe..” jelasnya sambil tertawa. “Yaaah, tapi emang gerah sih.”, kataku sambil membuka kemejaku. “Gimana Ly?? Sudah gak kurus kayak dulu kan?? Hehe..”, lanjutku sambil berpose ala binaragawan. “Dih, baru juga gemukan dikit. Udah bangga. Weeee…”, ejeknya sambil melihatku. “Jangan salah, aku juga tambah kuat loh…Nih lihat…”, jawabku dengan refleks menggendongnya. “Gimanaaa heee??? Masih mau ngejek??” gangguku. Bukannya menjawab, Selly malah terdiam. Dan saat aku melihatnya, wajahnya memerah. Ternyata dia malu, Wajahnya yang sedikit oriental dengan kulit putihnya, rambut hitam sepundaknya dan sekarang ditambah wajahnya memerah. Sangat manis menurutku, dan akal sehatku pun hilang, aku merebahkannya di sofa dan menciumnya. “mmmhhhh..mmmhhhhh…”, desahnya tertahan dengan ciumanku. Aku sempat mengintip dan melihat dia memejamkan mata dan tidak menolak ciumanku. Sempat terlintas ini tidak benar karena kami baru saja bertemu tapi nafsuku lebih menguasaiku. Kulanjutkan menciumnya dan kali ini dengan permainan lidah. Dia pun membalasnya dan aku semakin bernafsu dan meremas susunya dengan kuat. “mmmhhhhhhhhh…”, desahnya lagi. Hanya sebentar saja kontolku pun sudah menegang. Selly melepaskan ciumannya dan menatapku. “Kenapa kamu mau Ly?”, tanyaku yang sebenarnya penasaran. “Aku sebenarnya suka kamu dari dulu Ry, tapi aku malu untuk bilang itu. Karenanya aku tidak menolak”, jawabnya tertunduk. Aku hanya diam dan tersenyum menatapnya. Lalu kulanjutkan lagi permainan lidahku. Dan sekarang aku sambil membuka celanaku. Ya, nafsuku sudah menguasaiku. “Ly, hisap kontolku” kataku. Tanpa menjawab, Selly turun dari sofa dan dengan posisi berlutut dia pun mulai menjilati kontolku dari bawah ke atas lalu menghisapnya. “uuuggghhh…”, desahku sambil melihat bibir mungilnya menghisap kontolku. “terus Ly..hisap yang kuat… uuugghhh”, aku sudah tidak tahan lagi. Selly melanjutkan menghisap kontolku, dia menghisap dengan kuat dan kuiringi dengan menggerakkan kontolku seperti sedang bercinta. kami berdua semakin diselimuti nafsu dan membuka baju kami masing2. Astagaa..baru ini aku melihat tubuhnya. Payudaranya yang besar, ditambah lagi aku bisa melihat memeknya yang ternyata indah. Aku yang sudah tidak tahan, langsung duduk di sofa. Dengan posisi Selly yang masih berdiri, aku langsung meremas susunya, dan kulanjutkan dengan menghisap putingnya yang sudah keras. “aahhh…aaaaahhh…”,desahnya menikmati. Aku melanjutkan aksiku, kuhisap putingnya lebih keras, sambil ku mainkan puting yang satunya lagi. “aaaaahhhhh….enak Ry..”, teriaknya. “aahhh…aahhhh…terus Ry…hisap yang kuat… aaaahhh..lebih kuat lagi….ahhhh”, teriak Selly yang sudah semakin bernafsu. Aku pun mengikuti permintaannya, tapi sekarang aku menggigit putingnya, lalu kutarik, dan kuhisap lagi. “aaaaaahhhhhhhhhhhhh…..”, teriaknya semakin keras. Aku tidak tahan. Aku melepaskan hisapanku dan menyuruhnya duduk di sofa. Lalu kubuka lebar kakinya sehingga dia mengangkang dan memeknya terlihat jelas. Lalu kujilati memeknya perlahan. “mmmhhhh…”, desahnya perlahan. Aku meresponnya, aku membuka memeknya dan mencari klitorisnya. Kujilati klitorisnya, kumainkan dengan lidahku. “aaaahhhhh… disitu Ry… enaaakk….uugghhh…uugghhh….”, teriaknya menikmati jilatanku sambil menekan kepalaku ke memeknya. Aku pun semakin liar, kujilati klitorisnya dengan cepat lalu kukenyot-kenyot menikmatinya. “Ryyyyyy…..enak banget dikenyot-kenyot…..kenyot terus Ry…..aaaaaaahhhhhhhhh”, responnya. Kulanjutkan lagi, mengenyot klitorisnya dengan kuat dan sedikit kugigit lalu kukenyot lagi dengan kuat. Selly semakin liar, dia menekan kepalaku ke memeknya dengan kedua tangannya dan menggerakkan pinggulnya sehingga memeknya tergesek-gesek dimulutku. “aaaaaahhh…kenyot memekku Ryy…kenyot yang kuat…kenyoooot Ryyy….” teriaknya yang ternyata sudah mencapai klimaks pertamanya. Kontolku sudah tidak tahan lagi ingin merasakan memeknya. Sekarang kami gantian, aku duduk di sofa lalu aku menarik tangannya. “Ly, ayo naik kesini”, kataku sambil menuntunnya ke pangkuanku. Selly pun naik, lalu aku mengarahkan kontolku ke memeknya. Perlahan kontolku mulai masuk ke memeknya. Aku yang tidak sabar, langsung menekan tubuhnya kebawah dan akhirnya kontolku masuk semua ke memeknya. “uuuuugggghhhhhh….”, desah Selly. Seperti sudah mengerti yang harus dilakukan. Dia mulai bergerak naik turun. “ahhh..aahhh…”, desahnya pelan. “Ly, lebih cepat lagi geraknya”, perintahku. Selly pun menurut, dan mulai mempercepat gerakannya. “ugghhh… uugghhhh….Ryy…aaahhh…kontolmu enak banget…ugghh”, teriaknya bernafsu. “iya Ly…memekmu juga enak..lebih cepat lagi..”, pintaku. Selly pun lebih mempercepat gerakannya, susunya yang bergoyang membuatku tidak tahan. Aku meremas susunya, lalu kugigit putingnya dan kutarik lagi dengan gigiku. Gerakan Selly yang cepat dan gigitanku di putingnya, membuatnya semakin tidak tahan. Gerakannya semakin tidak beraturan karena nafsu… ”Ryyy…aku ga kuaaaaattt…dikit lagii……..uuuggggggghhhhhhhh”, teriaknya saat mencapai klimaksnya yang kedua. “Wah Ly, sudah 2 kali kamu orgasme. Suka banget ya aku entotin?”, bisikku. Dia tertunduk lagi dan berbisik kembali padaku “Ry, entotin aku terus yah? Aku mau sama kamu Ry. Aku mau hamil anakmu. Hamilin aku Ry.” “Iya Ly..aku juga sudah siap tanggung jawab kok.”, jawabku sambil mengecup keningnya. “Sekarang kamu ngangkang lagi, biar aku entotin sampai kamu puas sayang”, bisikku padanya. Dan dia pun mengangkang lagi, dan aku kembali memasukkan kontollku ke memek sempitnya. “Ryyy….enak banget di entot kamu… entotin terus Ry..teruuss..” pintanya sambil memainkan klitorisnya. AKu semakin liar, aku mengentotinya sambil mengenyot-ngenyot puting susunya dengan kuat. “aaahh…..aaaaaahhhhh…..gigit putingku Ry” teriak Selly. Dan aku pun meresponnya, ku gigit putingnya dan kutarik-tarik sambil melanjutkan permainan kontolku di memeknya. Aku merasakan kontolku juga sudah tidak tahan, sedikit lagi pikirku. Aku menyuruhnya turun, lalu kusuruh dia menungging di sofa. Cermin yang ada di samping sofa membuatku bisa melihat posisi kami berdua yang menghadap cermin. Perlahan kumasukkan kontolku ke memeknya dari belakang. “uugghhhh…”, desahku yang merasa enak. Aku mulai menggerakkan pinggulku perlahan, dan Selly pun menyesuaikan dengan irama permainanku. “uuhhhh….enak banget…. I love you Ry” desahnya. Mendengar itu aku merasa satu-satunya pria yang bisa memuaskannya. “iya Ly… I love you too…”, jawabku. Aku memegang pundaknya dan mulai mempercepat gerakanku sampai terdengar suaranya karena memek Selly yang sudah basah daritadi. Doronganku yang semakin cepat dan kuat, membuat teriakannya semakin kuat. “Ryyyyyy..kontolmuu enaaakk….aahhhhh”, teriakanya yang semakin bernafsu. Aku pun ikut bernafsu mendengar itu. Kurendahkan tubuhku, lalu kuremas susunya yang menggantung. Kutarik putingnya dengan kuat, sambil mempercepat permainanku. “uugghhh..…memekmu nikmat Ly… ughhh..uuuugghhh”, desahku. Kami berdua semakin bernafsu dan tidak terkontrol. Permainanku semakin kasar, kucubit kuat putingnya dan kutarik dengan kuat juga, kulihat wajahnya sedikit kesakitan tapi menikmatinya. Membuatku semakin nafsu. “aahhhh..lebih cepat lagii Ry..aahhh..aahhhh”, teriaknya. “…iya Ly..aku entot yang cepat…uuuuuugghhh”, aku mempercepat doronganku. Selang beberapa detik, aku sudah tidak tahan lagi. “Ly, aku mau keluar….”, kataku. “iya Ry, aku jugaa mau keluaarr…entotin yang kuat Ryyy….cubit putingku lebih kuat juga…lebih kasar lagi Ryyy..” mohonnya padaku. “iya sayang..” kataku. Sambil mencubit kuat putingnya, semakin cepat dan semakin kasar aku mengentotinya, justru membuat Selly semakin suka dan memuncak. “keluarin di memekku Ryyy… entot yang kuaaat.. lagiii…kuat lagii Ryy….aku ngga tahaaann….entotin akuuuu…. aaaahhh…AAAAHHHHHHHHHHHHH”, teriaknya mencapai klimaks yang ketiga. “Ly..aku juga keluaarr….aahhhhhhh..”, desahku saat spermaku keluar memenuhi memek Selly. Kami yang kelelahan langsung terduduk di sofa. Masih tidak percaya aku mengentoti Selly. “Ry, nanti entotin aku lagi yaa? aku suka banget”, pintanya. “iya Ly, aku juga ngga nyangka bakal seenak ini ngentotin kamu. Memek kamu bikin aku ketagihan. Kalau mau nanti kita cari waktu aja”, jawabku kelelahan. Setelah hari itu, kami membuat jadwal seks kami secara rutin. Dan semakin hari kami pun semakin ketagihan satu sama lain. Dan kami melakukannya dengan eksperimen di tempat lain selain kantor. Ya, dan Selly pun tetap suka permainan kasarku. Tamat by – Cerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita Panas Indonesia, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep Seru cerita seks ml dikantor dikantor bank cerita ngentot pegawai bank cerita mesum di kantor dengan pegawai nikmat memek cewek pegawai bank Navigasi pos Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup bebas’ untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan resmi’ hingga sekarang, tapi…, peduli amat? aku toh enjoy aja dengan ini semua. Waktu itu akhir bulan Juni 99. Karena akhir bulan, seperti biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit, mereka mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat pukul enam sore. Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus yang memang disediakan gedung itu untuk orang-orang yang ingin lembur. Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3×3 meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam. Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang mengambil air di dispenser itu. Nah, aku lega bahwa ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku. Pria yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah tamah basa-basi. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di usia pertengahan duapuluhan. “Sedang lembur juga, Mbak?”, Tanyanya mencoba mencairkan suasana sepi. “Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi.” “Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah? “Iya, untung udah selesai barusan.” “Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai berapa?”. “Di lantai sebelas, di PT perusahanku. Kalau Mas?”. “Saya di lantai delapan, di PT perusahaannya.””Oh, wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu”. “Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa saling kenal.” Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah, matanya sedari tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua kancing atasnya terbuka, sehingga nampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar. “Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Ditto.” Katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan. “Aku Sari.” Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa. “Sari pulang nanti naik apa?”. “Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?”. “Aku naik mobil juga…, Eh, Sari keberatan nggak kalau kita makan malam bareng setelah ini?”. Wah, orang ini direct’ juga yah? pikirku kegirangan. “Boleh aja, apa Ditto nggak ada yang nungguin di rumah?”. “Ah, belum kok.” Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan tersenyum manis. “OK, aku akan beres-beres dulu yah!”, Kataku sambil melangkah balik ke bilikku. Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Ditto. Padahal orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti pria lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm… Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu denganku atau tidak yaa? Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu. “Masuk!” Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto. Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya terbuka yang di atasnya, sehingga nampak rambut-rambut halus di situ. “Gimana, udah selesai?”, Tanyanya. “Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!” Aku mencoba mengajak bercanda. “Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?”. “Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang”. “Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat”. “Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?”. “Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton atau basket”. “Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin teman-temannya?”. “Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali boleh kan ganti suasana?”Kami kembali tertawa-tawa. Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang tadi. “Wah, panas sekali di sini…, AC-nya kurang bagus yah?” Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi kancing baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di dadanya. “Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?” Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal. “Well, sebenarnya iya sih…, boleh nggak aku copot blazernya?” “Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku Papa mertua kamu?”. Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat-buat agar nampak seksi. Aku menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya. “Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah blazer”. Candanya mengomentari. “Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!”, Jawabku menggoda. “Hah? wah, kalau itu sih…, apa kamu masih kurang yakin? sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?” “Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!”, Kataku sambil mengerdipkan mata. Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku. Tiba-tiba dia berkata lagi, “Kamu nggak minta dipijitin sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?”. Ya ampun…, caranya begitu jantan sekali dan sama sekali nggak kurang ajar…, Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku padanya…, meski sebenarnya akulah yang menginginkannya. Aku segera menjawab, “Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga nggak apa-apa kok”. “OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan nanti?”Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit bahuku. Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya. “Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!” Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu seksi, ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh. “mm…, nikmat sekali Ditt…”, Kataku sambil menikmati pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit. Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang saja…, terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang keenakan. “mm…, mm…, aduuh, enaknyaa…, boleh juga tangan kamu, Dit!” “Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin mijit bagian yang lain!”. Ia membuatku jadi makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku. “Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit bagian yang lain yah?” “OK! Setuju!” Candanya dengan nada seperti orang sedang rapat kampung. “Aahh… mmhh…, Ohh..” Rintihku aku buat-buat sambil bercanda. Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang, “Tuh kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang lain!” Katanya sambil bercanda…, padahal aku sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku. “Udahlah Dit…, sekarang kita mulai aja deh”, Kataku dengan nada serius. “Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau kamu yang minta oke lah!”, Katanya. Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia menghalanginya. “Nggak apa-apa, Sar…, Aku senang melihat kamu dengan kaca mata itu…, seksi sekali!” Katanya sambil mengedipkan mata kiri. Bersambung ke bagian 02 cerita bokep indonesiaCerita Dewasacerita hotcerita sekscERITA SELINGKUHcerita sex Cerita Sex – Cerita dewasa kali ini tentang Cerita selingkuh dengan teman kantor, yang bercerita dalam cerita kali ini adalah sang wanita. Erwin , 34 th, adalah teman sekantorku, sedangkan aku sendiri berumur 39 th. Sejujurnya aku meraskan sesuatu dalam dirinya. Sapaannya yang khas dan sorot matanya yang dalam bila memandangku membuatku merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku. Suatu hari aku minta tolong sama dia buat beliin komputer buat anakku dengan spek yang sesuai dengan budgetku. Setetlah dapat, komputernya di kirim ke kantor. Aku disuruhnya bawa pulang dan dia janji hari Minggu besok mau masangkan lengkap dan siap pakai. Kebetulan hari Minggu anak-anakku ada acara keluar, trus kutelpon dia, ”Win, jadi kesini engga, nih aku mo nganter anak-anak dulu keluar, kalo kamu datang duluan tungguin aja yah bentar. Masuk aja ke teras, pagarnya engga aku kunci kok”. ”Beres mbak, pergi aja dulu nganter anak-anak”, begitu kata si Erwin. Setelah aku ngenter anak-anak dan nyempe rumah, ternyata si Erwin blom datang juga. Kusempatkan mandi dulu trus ganti baju biar kelihatan fresh. Aku pake celana pendek selutut dan atasan tank top hitam. Rambutku yang lebat aku kuncir ke belakang, sehingga leherku terbuka lebar. Tapi sewaktu mandi tadi, entah kenapa gairahku memuncak, sehingga rasanya seperti cacing kepanasan. Kubasahi seluruh tubuhku dengan sabun cair, trus aku mainin sendiri susuku, aku pilin-pilin kedua putingku sampai terangsang benar, sampai vaginaku basah dan klitorisku menegang. Aku gosok-gosok klitorisku yang sudah licin ini terus menerus bersamaan dengan putingku, hingga tubuhku menggelinjang kenikmatan, sampai akhirnya aku bergumam menhan klimaks yang mengasyikkan. Ah, rupanya dia sudah datang dan ketika kubuka pintu untuknya ia terpana melihat diriku yang memakai pakaian yang cukup minim itu. ada perasaan bangga dan gairah setiap matanya mencuri pandang menatap belahan dadaku ini. Kusuruh dia masuk dan langsung kusiapkan peralatan untuk mengeset meja komputer dan komputernya juga. Memang cekatan kerjanya, hanya dalam waktu yang tidak beberapa lama selesai sudah. Tinggal menginstal program-program yang aku butuhkan. Karena mneginstal itu cukup lama, sambil menunggu kuajak dia istirahat di sofa ruang tengah. Saat aku menyuguhkan minuman kepadanya, aku kan agak membungkuk sehingga belahan dadaku terlihat, tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangannya, memang “gentleman” pria ini. penampilannya agak slengekan tapi sikapnya lembut dan menjaga diri. Tetapi setelah itu terlihat nafasnya agak berat, menahan sesuatu yang bergolak. Aku yang sejak mandi tadi sudah ingin merasakan kehangatnnya menjadi tidak sabar. Aku menggeser posisiku mendekatinya, lalu kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Dia tersipu malu, ”Ah jangan mbak, ntar aku minta lagi lho. ”Emangnya kamu mo minta apa Win ?”, katanya. ”Minta pulang mbak, gak tahan soalnya, mo mandi aja biar bisa kluar”, kata si Erwin sambil tersenyum. Aku yang sudah gak sabar langsung aja kulumat bibirnya dengan bibirku. Kewanitaanku bangkit walaupun aku tahu ini salah tetapi tanpa kusadari bibir kami sudah berpagutan dan lidah kami saling menyerang. Kami saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya aku yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami. “Erwin….” kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberijawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan Erwin saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Erwin mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini bisa menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Erwin yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. Erwin mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yang paling sensitif yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun pasti. “Mmhh.. Erwin u..sudah terlalu jauh..” desahku di sela-sela ciuman panas kami. Aku agak lega saat tangannya meninggalkan selangkanganku, namun ia mulai menarik tanktopku hingga terlepas dari jepitan celana pendekkuku, lalu ia loloskan dari kepalaku. Buah dadaku yang padat dan puting susuku membayang menggoda dari BH-ku yang tipis dan seksi, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku. Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang saat itu sudah tegak mengacung. Tanpa kusadari aku mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat ada bulu-bulu tipis di dadanya. Tak lama ia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan bibirnya ke buah dadaku yang masih terbalut BHku. Diciumi buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-ku. Sama sekali tidak ada protes dariku iapun melempar BH-ku ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi. “Ooohh.. sshh.. aachh.. Erwin u..” desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka. Erwin menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, “..Oooh Erwin suuddhaah.. Eerr.. stoop..!!” tetapi Erwin terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini ia benar-benar telanjang bulat. Penisnya yang kesras dan berotot mengacung tegang, karuan aku terbelalak melihatnya, vaginaku tiba tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan akibat dari keisenganku tadi yang hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh. Erwin melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik celanaku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku, semili lagi menyentuh bibir vaginaku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tapi akal sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah. Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Erwin mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yang telah begitu basah penuh lendir birahi. “ggaahh.. Erwin..stoop..ohh..” bagaikan terkena setrum rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan saat lidah Erwin melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku. Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh sedang Erwin berlutut di depanku. Lobang vaginaku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat batang penisnya yang tegang kekar berotot Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa aku begitu terangsang melihat batang kemaluannya. Kupasrahkan diriku ketika Erwin membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu Erwin menurunkan pantatnya dan menuntun penisnya ke bibir vaginaku. Kerongkonganku tercekat saat kepala penis Erwin menembus vaginaku.”Hngk!..” Walau telah basah berlendir, tak urung penisnya agak seret memasuki liang vaginaku yang belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit. Tanpa terburu-buru, Erwin kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah penisnya bergerak perlahan dan lembut menembus vaginaku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di vaginaku, melicinkan jalan masuk penis berotot ini ke dalam liang kenikmatanku tahap demi tahap. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan yang semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yang menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yang timbul adalah rangsangan dahsyat yang membuatku ingin mengarungi permainan seks dengan sahabat suamiku ini lebih dalam. “Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. heeruu.. masukin penismu yang dalaam..!! oouch.. niikmaat.. heerr..!! aku merasakan suatu rangsangan yang hebat didalam diriku. Seluruh rongga vaginaku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding vaginaku digesek batang penisnya yang keras dan berotot..! Akhirnya seluruh batang kemaluannya yang kekar besar itu tertelan kedalam lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir vaginaku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Erwin mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, “..oouch.. niikmaat.. heeruu..!!” aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan. “hh.. sshh.. hh.. Heerruu.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahyangghh..” Erwin membalas dengan pertanyaan “Ohh.. mbak Win enak banget mbak !” Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Erwin kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari vagina dan putingku, keseluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayang. Penisnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot vaginaku dan menggesek-gesek dinding vaginaku yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dengan erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar. “Ahh.. Ouchh.. terus sayaang.. genjoott.. habis memekku..!! Ooohh.. Erwin.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. main sama kamu..!!” mendengar celotehanku, Erwin yang kalem berubah menjadi semakin beringas seperti banteng ketaton dan yang membuat aku benar benar takluk adalah staminanya yang bukan maiin perkasaa.., tidak pernah kurasakan selama ini. Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yang begitu dahsyatnya menggulung diriku “Ngghh.. nghh .. nghh.. Erwin u.. Akku mau keluaar..!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, Erwin mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dalam dalam dengan memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. “..aacchh.. Erwin u.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!” Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa seperti forever’ menyemburkan lendir orgasme dalam vaginaku, kupeluk tubuh Erwin erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Erwin terus menggerakkan sambil menekan penisnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili penisnya menggesek dinding vaginaku menghasilkan suatu kenikmatan yang luar biasa yang kurasakan dalam tubuhku yang tidak bisa kulontarkan dengan kata kata. Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti forever’ itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan penis Erwin masih di dalam vaginaku yang masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Erwin mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tidak menggerakkan penisnya yang masih besar dan keras di dalam vaginaku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah. Setelah aku kembali “sadar” dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, aku pun mulai membalas ciumannya, memancing Erwin untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Gairahku yang sempat menurun tampak semakin terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan penisnya pada dinding vaginaku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan aku semakin berani melayani gairahnya yang memang tampaknya makin liar saja. Genjotan penisnya pada vaginaku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar-benar tidak menyangka bisa terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dengan suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tapi kali ini Erwin memberiku pengalaman baru walau sudah mengalami klimax yang maha dahsyat tadi tapi aku bisa menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan penisnya yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dalam vaginaku. Lalu Erwin memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yang paling kusenangi “doggy style” dengan gaya nungging aku bisa merasakan seluruh alur alur batang kemaluan suamiku dan sekarang aku akan merasakan batang yang lebih besar lebih perkasa oohh..! dengan cepat aku berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas “..Yeess..Err..masukin penismu dari belakang kelobang memekku..” Erwin pun menatap liar dan yang ditatap adalah bokongku yang sungguh seksi dimatanya, bongkahan pantatku yang bulat keras membelah ditengah dimana bibir vaginaku sudah begitu merekah basah dibagian labia dalamku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yang sudah tidak sabar ingin melahap batang kemaluannya yang sungguh luar biasa itu. Sambil memegang batang penisnya disodokannya ketempat yang dituju ”Bleess..” ..Ooohh.. Erwin u.. teruss.. Err.. yang.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa batang penisnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga vaginaku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Tetapi Erwin sudah lebih dari 5 menit menggarapku dengan gaya doggy style’ ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan aku menggeleng gelengkan kepalaku, aku benar benar dalamkeadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang penis yang besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang vaginaku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap “menanjak” tapi sudah berada di awang-awang di puncak gunung kenikmatan yang tertinggi. “Hngk.. ngghh..Erwin u..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!” aku melenguh panjang menyertai klimaksku yang kedua yang kubuat semakin nikmat dengan mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan penisnya yang besar sedalam-dalamnya di dalam vaginaku, sambil kukempot kempotkan vaginaku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Erwin yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Erwin menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan yang maha nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan suamiku. Erwin memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. “Winda aku belum keluar sayang..! tolongin aku isepin kontolku sayaang..!” Aku benar benar terkejut aku sudah dua kali klimaks tapi Erwin belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari aku klimaksnya kadang kadang aku malah tidak bisa klimaks dengan suamiku karena suamiku suka terburu buru. Merasa aku telah diberi kepuasan yang luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Erwin menggeliat geliat kenikmatan, “..Ohh yess Hes.. nikmat sekalii.. teruss hes.. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh.. heestyy.. saayaangg..!!” Erwin mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yang besar, untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Erwin makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tidak kuperkirakan yang tadinya aku hanya ingin merangsang Erwin untuk bisa cepat ejakulasinya malah aku merasakan birahiku bangkit lagi vaginaku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi. Ohh.. beginikah multiple orgasme yang banyak dibicarakan teman temanku? Selomotanku makin beringas, batang yang besar itu yang menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Erwin menggelinjang hebat, akhirnya kurasakan vaginaku ingin melahap kembali batang kemaluannya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas penisnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih batang kemaluannya lalu kududuki sembari ku tuju ke vaginaku yang masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang di langit kembali bermunculan. “..Ooohh..mbak Win..kau sungguuh seksxyy.. ..!!” Erwin memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya aku meladeninya bahkan bisa kukatakan baru pertama kali inilah aku begitu antusias, begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yang sangat perkasa ini. “..Yess.. Erwin u.. yeess….!” kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan derass sehingga batang penis yang besar itu melesak dalaam sekali.. Giliran Erwin merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya, tidak bisa kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing di dalam lautan kenikmatan yang maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dengan memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini aku yang berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar aku putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat. Batang kemaluannya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot-otot vaginaku sehingga penis itu terasa bagai dalam vacum cleaner terhisap dan terkenyot didalam liang vaginaku. Dan yang terjadi adalah benar benar membuatku bangga sekali, Erwin bagai Layang-layang putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali-kali ingin melepaskan tubuhku darinya tapi tidak kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang penisnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dengan rambut kemaluanku, clitorisku yang lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan kuremas-remas, “..Ooohh.. aachh.. yeess.. Heess.. yeess..!!” Erwin membelalakan matanya sama sekali tidak menyangka aku menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, lalu Erwin bangkit, dengan posisi duduk ia menylomot buah dadaku… aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buah dadaku. “..selomot.. pentilku.. dua. duanya.. Errr..yeess..!! …sshh.. …oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang, “..Ooohh.. mbak Wi.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang penisku melesak dalam sekali menembus memekmu..!” Erwin mendengus-dengus kurasakan batang penisnya mengembung pertanda spermanya setiap saat akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. Erwin u ..keluaar.. bareeng..sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! “..yess..Hess..aku… keluarkan diluar apa didalam..?”. “..Ohh.. Erwin kontoolmu.. jaangaahhn..dicabuut..keluarin .. didalaam..!! Tiba tiba bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar hebat sekalii..! dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dalam rahimku, “..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh.. oohh.. nikmaatnya.. memekmu mbak…!!” Erwin memuncratkan air maninya di dalam rongga vaginaku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun mengelinjang hebat sampai lupa daratan “..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. teekeen penismu.. sampe mentookkhh.. sayaahng.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering klimaks makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dalam lautan kenikmatan yang maha luas. Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang penisnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali. Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yang sedang terjepit menyatu di dalam liang vaginaku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa!! Oohh Erwin aku kuatir akan ketagihan dengan batang penismu yang maha dahsyat ini!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, klimaks yang ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Erwin sadar akan keterbatasan tenagaku, akhirnya ia membaringkan tubuhku di dadanya yang kekar, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya. Tiga kali klimaks bukanlah hal yang mudah bagiku untuk mendapatkannya didalam satu kali permainan seks. Erwin telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! akan kukenang kejadian ini selama hidupku. Tiba tiba Erwin melihat jam lalu dengan muka sedih ia mengatakan kepadaku bahwa ia harus menemui seseorang 10 menit lagi, akupun tak kuasa menahannya, aku hanya mengangguk tak berdaya. Sepeninggal Erwin dari rumah, aku termenung sendirian di ranjang. Suatu kejadian yang sama sekali tak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. Aku telah menikmati perbuatan seks dengan temankantorku bahkan harus kuakui, aku betul betul menikmati kedahsyatannya. Dan aku sangat menikmatinya dan sangat mengharapkan Erwin melakukannya lagi terhadapku. Demikian Ceritaku yang benar benar nyata tanpa aku rekayasa apalagi aku karang. semoga bermanfaat. lihat juga Cerita Memperkosa Istri Binal Bos Besar Cerita Dewasa – dengan teman kantor ku saat jauh dari Istri , Saya adalah seorang laki laki biasa yang baru saja ditinggalkan oleh istri memiliki masalah rumah tangga dan kami pun memang memiliki sifat yang keras untuk tidak mau saling mengalah Di tempat kerja, sayapun sudah tidak banyak bercanda seperti biasanya. Dan itu yang membuat salah satu wanita teman kerja saya merasa simpati pada saya. Sehingga setelah selesai jam kerja, kami pulang bareng. Selama di dalam tram saya banyak menjawab pertanyaannya tentang kepergian istri saya. Sehingga kami tidak banyak menaruh perhatian pada macetnya kota Melbourne pada jam-jam selesai kerja seperti ini. Tanpa terasa kami sudah berada di dalam tempat tinggal saya, setelah saya persilakan dia untuk mengambil apa yang dia mau di kulkas, saya langsung ke kamar mandi untuk menumpahkan air pipis yang sejak dari tadi sudah di ujung kemaluanku. Sekembalinya saya keruang tamu, teman saya sudah duduk sambil baca baca majalah dengan satu kaleng Coca-Cola. Sayapun duduk di sampingnya. Tapi tidak terlalu rapat. Saya hidupkan TV kebetulan acara berita nasional negara ini. Kamipun bercerita panjang lebar tentang teman saya itu, seperti sudah berapa lama dia telah meninggalkan Hongkong tempat asalnya. Tapi setiap kali dia menjawab pertanyaanku dia selalu tersenyum sambil matanya memandang ke arah selangkanganku. Aku langsung melirik selangkanganku, rupanya aku lupa men-zip-nya. Langsung kutarik zip-nya, sambil bercanda padanya. “Maklumlah Nov, soalnya udah lama sarangnya pergi!”, Kataku pada Novi. “Memangnya sudah berapa lama burungmu tidak masuk kandang?”, Novi membalas candaku sambil meneguk Coca Cola dengan sedikit senyum di bibirnya. “Kira kira 5 minggulah, emangnya kenapa nanya nanya?”, Aku meneruskan sambil mencoba membetulkan posisi dudukku. “Akh, aku nggak percaya. Mana ada sich laki laki yang sudah pernah begituan akan tahan selama itu untuk tidak melakukannya?”, Bantahnya sambil senyum. “Memang sich, aku nggak tahan. Jadi selama ini aku pakai tangan aja”, Jawabku. Sambil tertawa lebar, Novi menghampiriku. Dan Novi duduk di sebelahku, rapat sekali.”Perlu dibantu?”, Tanyanya sambil tangan kanannya meraba-raba penisku. Novi memang gadis Hongkong yang menawan, diusianya yang dua puluhan dia sangat menarik setiap mata laki-laki yang memandangnya. Karena dengan buah dada dan bongkahan pantatnya yang lebih besar dari ukuran rata-rata orang tempat asalnya. Aku jadi berani, kurangkul pundaknya sambil kulumat bibir yang berlipstick merah muda menawan itu. Novipun membalas dengan nafasnya yang semakin membuatku untuk mempererat rangkulanku. Aku merasa sedikit sakit pada penisku yang sudah sangat keras karena rabaan Novi. Dengan tak sabar kulepas rangkulanku dari pundak Novi dan dengan kedua tanganku kubuka celanaku sambil tetap duduk. Agak susah memang. Tapi berhasil juga. Kudengar Novi mendesah bersamaan dengan tangannya yang menggenggam langsung penisku yang hanya pas-pasan dengan lingkaran tangannya itu. Kamipun kembali berpagutan, hanya kali ini tangan kiriku telah meremas-remas buah dadanya yang kenyal dan semakin kenyal itu. Sedangkan tangan kananku membelai-belai tengkuknya. Novi semakin memperdengarkan desahnya. “Ed, kita ke kamarmu saja.., ayo Ed, aku sudah tak tahan nich?”, Novi memohon mesra. Aku pun berdiri, tapi ketika aku ingin membuka pakaianku, aku tersentak kaget karena Novi sudah menarik penisku sambil menanyakan di mana kamarku. “Pelan pelan Nov, sakit nich!”, protesku atas tangan Novi yang menggenggam penisku dengan sangat ketat itu. Aku berjalan sambil membuka bajuku ke arah kamarku yang telah kutunjukan pada Novi. Sebenarnya aku tak mau menggunakan kamar dimana aku dan istriku tidur sebelum istriku itu pergi. Tapi bagaimana lagi. Sudah nafsu sekali saat itu. Sesampai di kamar Novi dengan tergesa membuka seluruh pakaiannya. BH-nya, CD-nya. Semua dibuka dengan tergesa. Lalu Novi langsung menghampiriku yang sudah lebih dulu berbaring telentang di atas kasur sambil mengocok perlahan penisku agar semakin tegang, sambil melihat Novi membuka Seks Novi berbaring miring di sebelahku, bibirnya mencari bibirku sedangkan tangan kanannya menggantikan tanganku untuk mengocok-ngocok penisku. Aku mendesah. Novipun semakin beringas menciumi seluruh wajahku. Telingakupun tak lepas dari sapuan lidahnya. Aku merasakan nikmat bercampur geli yang tak terkira. Jilatan Novi semakin turun ke arah leherku, dadaku dan kedua puting payudaraku juga dililitnya dengan lidah. Sambil tangannya semakin cepat mengocok penisku yang sedikit terasa sakit karena genggamannya terlalu keras. Cerita Seks CERITA MESUM KU DENGAN TEMAN KANTOR KU , NIKMAT SEKALI Jilatan Novi telah berada di atas pusarku, lidahnya dicoba untuk masuk dalam lubang pusarku, dapat kudengar desahnya. Walau desahku lebih besar darinya. Kini lidah Novi menyisir bulu-bulu penisku. Aku semakin tak tahan. Tapi aku menunggu, karena aku tahu kemana tujuan sebenarnya jilatan lidah Novi itu. Ternyata aku salah, kukira Novi akan melahap penisku. Ternyata Novi malah menjilat jilat kedua bijiku bergantian. Tangannya tak lepas mengocok penisku. Sambil sesekali jari jempolnya menyapu ujung penisku yang telah basah karena air nikmatku telah membasahi bibir ujung kemaluanku. Geli dan nikmat sekali waktu Novi melakukan itu. Aku tersentak karena memek nya. Karena waktu Novi melakukan itu badannya agak nungging di sampingku, maka kucoba meraih bongkahan pantatnya. Kuusap-usap, Novi mendesah nikmat rupanya. Jariku tak mau berhenti sampai disitu, jariku mencari-cari lubang kemaluannya. Setelah jariku menemukannya ternyata sudah basah sekali. Semua itu membuat jariku semakin mudah untuk mencari lubangnya. Kusapu lubangnya dengan jariku sambil sekali-kali kumasukan jari telunjukku ke dalam lubangnya. Novi mendesah hebat sambil melepas jilatan lidahnya dari kedua bijiku. Kuraih pantat Novi agar tepat berada di atas wajahku. Kini kedua tanganku beraksi atas bagian belakang tubuh sex abg Jari telunjuk tanganku yang kanan kumasukan ke dalam lubang vagina Novi sambil memaju mundurkan. Sedangkan jari telunjuk tangan kiriku menggosok gosok clitorisnya. Dapat kulihat dari bawah selangkangannya, Novi membuka mulutnya lebar tanpa bersuara merasakan nikmat. Ketika niatku hendak menggunakan lidahku untuk menjilat vaginanya, aku merasakan nikmat dan sedikit ngilu yang tak terkira. Rupanya Novi telah melahap bagian kepala penisku. Lidahnya melilit-lilit di atas permukaan kepala penisku. Akupun ingin menandinginya dengan mejilat-jilat permukaan lubang vagina Novi. Sambil sekali-kali kucoba untuk memasukan lidahku kedalam vaginanya. Agak asin memang, tapi yang lebih terasa adalah nikmatnya. Semakin nikmat lagi saat kudengar Novi mengeluh karena jilatan lidahku. Novi telah memasukan penisku setengahnya dalam mulutnya sebentar sebentar dinaikan kepalanya, kemudian diturunkan lagi. Yang membuat aku merasa nikmat adalah saat Novi menurunkan wajahnya untuk melahap penisku, karena Novi telah mengecilkan lingkaran mulutnya. Sehingga hanya pas sedikit ketat ketika bibirnya menelusuri penisku dari atas ke bawah. Oh nikmat sekali. Aku hampir saja muncrat kalau aku tidak segera minta Novi membalikan badannya hingga wajahnya berhadapan denganku. Aku membalas senyumnya yang kelelahan menahan nikmat yang baru saja kami alami. Kucium lagi mulutnya yang sangat becek oleh air liurnya. Lalu kubalikan Novi agar berada dibawahku. Kulebarkan selangkangannya kugenggam penisku dengan tangan kananku, lalu kugosok-gosok kepala penisku pada permukaan kemaluannya. “Oh.., Ed.., terus Ed.., aahh.., nikmat sekali.., sshh”, erang Novi. Akupun mempercepat gesekannya, Novi menggeleng gelengkan kepalanya. Lalu dengan tiba tiba kutancapkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah banjir itu dengan satu hentakan keras, masuklah 3/4 nya penisku dengan leluasa. Bersamaan dengan itu Novi berteriak sambil badannya sebatas bahu terangkat seperti hendak berdiri matanya membelalak menghadapi tikamanku yang tiba-tiba itu. “oohh Edwiinn.., enaak.., terus.., Ed.., terus.., lebih cepat Ed.., ayo Ed.., terus.., aahh”, erang Novi sambil menghempaskan kembali bahunya ke kasur. Kedua tangan Novi membelai wajahku sambil menggigit bibirnya yang bawah matanyapun menunjukan bahwa saat ini Novi sedang merasakan nikmat persetubuhan yang tiada tara. Akupun semakin cepat memaju-mundurkan penisku. Nikmat yang kurasakan tiada bandingnya. Vagina Novi masih boleh dibilang sempit. “Enak Nov?”, tanyaku padanya sambil memaju-mundurkan penisku. Novi tidak menjawab, hanya desahannya saja yang semakin jelas terdengar. “Enak nggak Nov?”, tanyaku lagi. Novi menjawab dengan anggukan kecil sambil menggigit kembali bibir bawahnya. “Jawab dong Nov, nikmat nggak?”, paksaku walaupun ini adalah pertanyaan bodoh. “Luar biasa Ed.., sshh.., aku hampir keluar nich oohh”, katanya terputus putus. “Aku masukin semuanya yach Nov?”, tanyaku padanya yang sedang melayang. “sshh.., em.., emangnya belum semuanya dimasukin?”, Novi balik bertanya heran sambil menatapku dengan sayu. “Belum!”, Jawabku singkat sambil terus maju mundur. Tangannyapun bergerak ke bawah untuk memastikan belum semua penisku masuk ke dalam lubang vaginanya. Ketika tangannya berhasil menyentuh sisa penisku yang masih di luar, aku merasa tambah nikmat. “Oohh.., Ed masukin Ed.., masukin semuanya Ed.., aahh”, pintanya sambil menarik pinggangku dengan kedua tangannya dan matanyapun terpejam menantikan. Kucoba menahan tarikan tangan Novi pada pinggangku, agar masuknya sisa penisku tidak terlalu cepat. Aku ingin memberikan kenikmatan persetubuhan tak terlupakan padanya. Benar saja, ketika sedikit demi sedikit sisa penisku masuk, Novi mendesis seperti ular yang berhadapan dengan musuhnya. “Sshh.. sshh”, sambil matanya terpejam ketat sekali menahan nikmat telusuran penisku ke dalam vaginanya. Cerita Mesum – Kedua tangannyapun menjambak-jambak rambutnya sendiri. Tanpa diduga kucabut penisku, hanya tinggal kepalanya saja yang masih tenggelam. Novi seperti ingin protes, tapi terlambat. Karena aku telah menekannya lagi dengan sekali tancap masuklah semua penisku. “Edwiinn!”, teriak Novi keras sekali sambil tangannya memukul-mukul tempat tidur. Aku semakin percepat gerakanku, walaupun aku sudah merasa sedikit lelah dengan pinggangku yang sejak tadi maju mundur terus. “Terus Ed.., oohh.., terus.., teruss.., oohh.., oohh.., aahh”. Novi mengerang bersamaan dengan tercapainya Novi pada puncaknya, sambil tangannya meremas-remas sprei tempat tidur di kanan dan kirinya, badannya tersentak-sentak hanya putih yang kulihat di matanya. Tapi aku masih terus memacu untuk menyusulnya, makin cepat, makin cepat lagi nafasku memburu. Bunyi nikmat terdengar dari dalam vagina Novi karena air nikmatnya itu. “Oh Nov.., oohh.., aahh..”, cepat kucabut penisku agar tak muncrat di dalam, kugenggam penisku, kuarahkan penisku ke perut Novi, di sanalah air nikmatku mendarat. Novi cepat bangkit dan mendorongku agar telentang, kemudian Novi melahap separuh penisku ke dalam mulutnya. Lidahnya menjilat-jilat mulut kecil di ujung penisku. Aku merasa ngilu sekali dan tangan Novi yang mengocok-ngocok penisku seperti hendak memastikan agar keluar semua air nikmatku. “Sudah Nov.., sudah.., ngilu nich.., uuhh.., sudah”, pintaku padanya. Tapi Novi masih saja memaju-mundurkan mulutnya terhadap penisku yang semakin ngilu sekali. Setelah yakin tidak ada lagi air nikmat yang akan keluar dari penisku Novipun merebahkan kepalanya di atas perutku sambil memandangku dengan penuh kepuasan. Kemudian keadaan membisu, hanya detak jam dinding yang mengingatkan akan kenikmatan persetubuhan yang baru saja kami alami. Kami memang mencoba untuk mengingat kembali persetubuhan yang sempat membawa kami ke awang-awang. “Nov, sudah jam 8 nich. Kamu nggak pulang?”, tanyaku memecahkan kesunyian. Novi seakan tak mendengar ucapanku. Kemudian dengan lembut kuangkat kepalanya dan keletakan di atas kasur. Akupun coba bangkit, tapi sebelum aku turun dari tempat tidur kurasakan tangan Novi memegang perutku. “Mau kemana Ed?”, tanyanya sambil melepas nafar panjang. “Mau mandi dulu nich, lengket semua rasanya badanku”, Jawabku sambil menoleh ke arahnya. “Tunggu dikit lagi, kita mandi sama-sama” Novi memohon sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. memek novi sungguh nikmat BACA JUGA Cerita Dewasa Cewe Malam Pemandu Karaoke Lalu kamipun pergi ke kamar mandi dan mandi berdua serta mengulanginya permainan seks yang sempat terputus tadi di kamar. Setelah merasa puas melakukan persetubuhan, kamipun istirahat sambil berpelukan hingga esok pagi. Sejak kejadian itui saya dan Novi semakin akrab dan selalu mengulangi persetubuhan yang telah kami lakukan. Sampai akhirnya istrikupun pulang kembali ke apartemenku, tapi itu tidak membuatku lupa akan persetubuhan dengan Novi. Kami sering melakukan persetubuhan di apartemenku tatkala istriku tidak ada atau di kantor, hotel serta apartemen Novi bila istriku sedang di rumah.

cerita sex dengan teman kantor