cerita seks dengan bibi

CeritaDewasa - Goyangan Pembantu. Cerita Dewasa - Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. CERITANGENTOT DENGAN BIBI SENDIRI SAAT LIBURAN. EBOBET. Juli 21, 2020. 2 comments. Namaku Nina. aku selalu "haus seks". Entah itu karena keperawananku yg diambil oleh mantan cowokku ato itu karena libidoku yg besar. Sej CONTINUE READING By EBOBET di Juli 20, 2020 5 komentar: CeritaSex Bibi ku yang Nakal dan Senang Mengajakku Mesum - Pernah suatu kali, aku tidak naik kelas. Ketika semua mencemooh, pamanlah yang berusaha menenangkan hatiku. Kata paman, tidak semua orang pintar di pelajaran. Mungkin unggul di hal lain, seperti aku, kata paman. Sifatku lebih baik dibanding keponakan lain. BibiKu Yang Cantik Dan Kedua Pembantu Ketagihan Ngentot Dengan Ku - Kisah panas ML dengan wanita cantik dan pembantu yang bahenol dengan judul " Bibi ku Yang Cantik dan Kedua Pembantu Ketagihan Ngentot Denganku " yang tidak kalah serunya dan dijamin dapat meningkatkan libido seks, selamat menikmati. Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di Ayobude kocok tongkol saya jangan cuma di liatin kaya gitu." kata ku. Tangan bude narti pun akhirnya dengan agak ragu memegang tongkol saya. "ahhhh" desahku ketika tanganya mulai meremas dan mengocok pelan tongkol saya. "bude, isepin dong tongkolku ini." kata saya. "ihh jijik ahh,, udah kaya gini aja." katanya. mở bài bằng lí luận văn học. Cerita seks – Ngentot dengan Bibiku, Yang di Tinggal Selingkuh. Bermula dari 5 tahun silam, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta saat itu umurku baru 18 tahun dan baru lulus SMA. Sebagai seorang pemuda perantau yang masih lugu, saya ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi dan mengadu nasib. Paman dan Bibi yang tinggal di sebuah kota kecil B sebelah timur Jakarta. Dengan berbekal alamat rumah Paman, saya memutuskan untuk langsung berangkat ke kota B dengan menggunakan bis. Tiba di kota B sudah menjelang sore hari, kedatanganku disambut dengan baik oleh Paman dan bibiku, sudah sebulan aku tinggal dirumah mereka dan aku diperlakukan sangat baik oleh mereka maklum mereka tidak memiliki anak, sehari-hari kusibukan diriku dengan membantu bibik berbelanja kebutuhan warung di agen sambil menunggu panggilan kerja, selama aku tinggal dirumah mereka ku perhtikan Pamanku sangat jarang berada di rumah tekadang dalam seminggu hanya sekali pamanku berada di rumah, saat itu tidak ada dalam pikiranku kalau paman memiliki dua isteri karena yang kutahu hanya Bibik lah isteri Paman satu-satunya dan aku pikir mungkin karena kesibukan Paman sebagai sopir Ekspedisi lah yang membuat Paman jarang pulang, menginjak bulan kedua aku mulai merasakan ada perubahan di rumah paman dan bibiku, pada suatu malam ketika Pamanku pulang kerumah setelah seminggu tidak pulang, ku dengar keributan antara Paman dan Bibiku saat itu kudengar Poker terbaik dan terpercaya Bibi menuduh Paman telah membohongi dirinya dan telah kawin lagi dengan wanita lain, hanya itu yang aku dengar dari keributan antara bibi dan pamanku selebihnya aku tutup kuping dan ngeloyor masuk kamar untuk tidur. Hari-hari berikutnya kulihat Bibiku tampak murung dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya sedangkan Pamanku sebagaimana kebiasaannya tidak pernah ada dirumah otomatis kegiatan toko kelontong dirumah aku yang ngurus, Pada Suatu malam setelah menutup pintu toko kulihat bibiku keluar dari kamarnya menggunakan daster tipis dengan wajah sendu memanggilku mengajak aku ngobrol sambil nonton TV, pada saat ngobrol tersebut ku coba menghibur Bibiku sambil melaporkan keuangan toko, namun kulihat sepertinya Bibiku kurang respon terhadap obrolanku dan lebih banyak melamun, kemudian kuberanikan diriku untuk bertanya kepada Bibiku apa yang sebenarnya terjadi dengan harapan aku dapat membantunya, tiba-tiba Bibiku menangis kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa ternyata Pamanku telah kawin lagi dengan wanita lain dan sudah memiliki anak umur 2 tahun dari wanita tersebut, sambil mendekatinya kucoba menghibur bibiku untuk bersabar, Baca Juga Cerita seks – Berpesta Seks sepanjang Perjalanan tiba-tiba bibiku memeluku da tangisnya makin menjadi-jadi dalam tangisnya ia berkata lebih baik mati daripada dimadu dengan Jablay, kuusap-usap punggungnya sambil ku menasehatinya agar bersabar, bibiku makin memelukku dengan kencang, aku yang selama ini gak pernah dipeluk perempuan, pelukan erat bibiku tersebut membuat nafsuku berdiri, aku yang selama ini sering membayangkan bibiku dan mengintip bibiku ketika mandi, di usianya yang ke 37 bibiku masih terlihat gempal dan cantik mungkin karena bibi belum pernah hamil dan melahirkan, hilang ras ibaku terhadap bibi dan aku mulai berani untuk mengalihkan usapanku dari pungung dan kerambutnya dan daerah leher, dari cerita teman-temanku sewaktu SMA bahwa wanita apabila dibelai didaerah leher dan daerah sekitar kuping maka akan terangsang dan trik tersebut aku coba pada bibi, dibelai seperti itu bibi hanya diam namun tidak berapa lama tiba-tiba bibiku mendorongku sehingga tertidur disopa kemudian menarik celana pendekku berikut kolornya sehingga kontolku yang sudah berdiri tegak keluar dan tanpa basa-basi lagi kemudian memegang dan mengulum kontolku, aku sempat kaget dengan ulah bibiku tersebut, aku gak mengerti apa sebab bibiku berbuat seperti itu apakah karena belianku atau sebab lain, karena kuluman bibi dikontolku sangat nikmat akhirnya kuputuskan untuk mnikmati saja toh selama ini hal ini yang aku inginkan, setelah puas mengulum kontolku kira-kira 5 lima menit lamanya kemudian bibiku melepaskan kulumannya dan berdiri melepaskan daster berikut celana dalam dan BH yang dikenakannya, aku hanya tertegun menikmati pemandangan indah tubuh bibiku, kulihat memeknya yang dihiasi bulu yang agak tebal dan buah dadanya yang masih tegak berdiri maklum gak pernah dipake untuk nyusui bayi, kemudian bibiku meminta aku untuk berdiri dari sopa setelah aku berdiri bibiku gentian rebahn di sopa sambil mengangkangkn pahanya terlihat lubng memeknya yang merah merekah dan telihat sudah basah, kemudian bibiku meminta aku untuk segera memasukkan kontolku kelubang memeknya, karena aku sebelumnya gak pernah punya pengalaman dalam hal ngentot tanpa ba.. bi ..bu lagi aku masukkan kontoku kedalam memek bibiku sesuai dengan perintahnya, Tempat Bermain poker online ketika kontolku masuk terasa memek bibi enak sekali, hangat dan sempit, sambil mendesah nikmat bibiku meminta aku untuk memompa kontolku didalam memeknya setelah menggenjotnya kurang lebih 10 menit tiba-tiba kurasakan ada desakan dari dalam kontolku yang ingin keluar setengah tersengal-sengal menahan nikmat kukatakan pada bibiku akua mau keluar, shut bibiku keluarkan didalam saja Wan ….aaah bibi juga ah…ahh mau keluar, bebarengan dengan semprotan air maniku yang menyembur didalam memeknya, bibi mergang dan mendesah ahh…ahh bibi keluar saying, setelah itu kami berpakaian dan duduk di sopa seperti semula dengan perasaan tak karuan kucoba memint maaf kepada bibi karena aku telah berani berbuat lancang menyetubuhinya, namun dijawab Bibi …gak perlu minta maaf Wan, Bibi juga menikmati kok, toh selama ini bibi juga kesepian karena sering ditinggal Pamanmu, selain itu Bibi juga ingin balas dendam sama Pamanmu dan ingin membuktikan bahwa Bibi juga bias Hamil dan tidak mandul, mendengar hal tersebut aku hanya tertegun, tiba-tiba bibiku menepuk pundakku kamu menyesal ya Wan keperjakaanmu bibi renggut, enggak kok Bik selama ini aku sering menghayal dapat meniduri bibik bahkan kalau onani juga yang Iwan hayalkan adalah Bibi, habis bibi cantik dan montok sih jawbaku, dengan manja bibiku mencubit pahaku ih… kamu nakal masak bibik sendiri kamu hayalin, … ya udah mulai sekarng kamu gak usah ngayal lagi kamu bias langsung ngajak Bibi begituan kata bibiku, yang benar bik aku boleh gitu lagi dengan bibik kataku,…. Iya jawab bibiku mulai malam ini kamu tidur sama bibik, selanjutnya bibiku mengajakku ke kamar mandi untuk buang air kecil, sampai dikmr mandi tanpa menutup pintu dan tanpa segan segan lagi bibiku langsung jongkok dan pipis didepanku kulihat memeknya yang tadi aku sogok-sogok pake kontolku merekah indah mengeluarkan air kencing membuat kontolku bangun kembali, ih..ih pengen lagi yah kok bangun udah nanti di kamar aja tolong ambilkan air untuk cebok Bibik Wan kata bibiku mengagetkan aku yang lagi horni melihat memeknya, selesesai buag air kecil sambil berpelukan kami masuk kedalam kamar tidur ku yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi didalam kamar kami masing-masing langsung membuka pakaian yang dikenakan kemudian bibi rebahan di atas ranjang dengan posisi kaki mengangkang kemudian diikuti aku dengan posisi diatas seperti akan menindihnya tidak seperti sebelumnya yang langsung memasukan kontolku kedalam memeknya kali ini aku mulai dengan mencium bibirnya dan dibalas oleh bibik sedangkan tnganku meremas buah dadanya dan tangan bibi membelai mesra kontolku, setelah puas berciuman kemudian aku turun menghisap putting susu bibik, bibik hanya bias meracau Huh… hah… hah enak saying terus hisap saying setelah puas menghisap dan meremas kedua putting susunya perhatianku mulai tertuju kepada memeknya yang sudah banjir dengan cairan yang keluar dari memeknya kemudian kudekatkan Game poker online uang asli hidungku tercium bau memek yang sangat merangsang aku selanjutnya kujilat memeknya dan terasa asin putting susu kemudian sambil ku rojok-rojok memeknya menggunakan dujari tangan kanan ku kuhisap itil Bibik , akibat perbuatan ku terhadap memeknya, gerakan Bibik tubuh makin gak karuan sambil menggelinjal kekanan dn kekiri bibik meracau Aduh… Wan enak sekli Bibik Gak tahan sayng Bibik gak pernah diginiin sama Pamanmu sayang cepat sayang masukkan kontomu Bibik udah gak tahan ahh…ahh…ahh, setelah puas menghisap itil dan merojok-rojok lubang memek Bibik kemudian kuarahkan kontolku yang berdiri tegak ke memek Bibik dan menekannya pelan, pada saat ****** ku masuk kedalam memeknya, Bibik meracau dengan mengatakan “Teruss.. Wan..! Tekan..! Huh.. hah.. huh.. hahh.. ditekan.. enakk sekali.. Bibik rasanya.. nikmatt.. teruss.., Bibik udah mau nyampen nih.. peluk Bibik yang erat Wan..!” desahnya mengiringi gerakan kami. Sementara itu saya merasakan makin kencang jepitan vagina Bibik. “Saya udahh.. mauu.. jugaa.. Bik..! Goyang.. Bik.., goyang..!” Dan akhir.., pembaca dapat merasakannya sendiri. Akhirnya kami terkulai lemas sambil tidur berpelukan. Jam 7 Pagi kami bangun, dan kemudian mandi bersama. Saya meminta Bibik menungging, dan saya mengusap pantat dan vaginanya dengan baby oil. Rupanya usapan saya tersebut membuat Bibik kembali horny, dan meminta saya untuk memasukkan kembali ****** saya dengan posisi menungging. Tangan saya mempermainkan kedua putingnya. “Teruss.. ohh.. teruss.. yang dalam Wan..! Kok begini Bibik rasa lebih enak..!” katanya. “Bibik goyang dong..!” pinta saya. Sambil pantatnya digoyangkan ke kiri dan ke kanan, saya melakukan gerakan tarik dan masuk. “Oohh.. ahh.. uhh.. nikmat Wan.. terus..!” desahnya. Akhirnya Bibik minta ke kamar, dan mengganti posisi saya telentang. Bibik duduk sambil menghisap putingnya. “Ohh.. uhh.. nikmat Wan..!” katanya. Kadang dia menunduk untuk dapat mencium bibir saya. “Bibik.. udahh.. mau nyampe lagi Wan.. uhh.. ahh..!” katanya menjelang puncak kenikmatannya. Dan akhirnya saya memuntahkan sperma saya, dan kami nikmati orgasme bersama. Hari itu kami lakukan sampai 3 kali, dan Bibik benar-benar menikmatinya seangkan toko hari itu sengaja tidak buka Tak terasa sudah tiga bulan perselingkuhan aku dengan Bibik tersebut sudah berjalan tanpa diketahui oleh Pamanku atau orang lain karena sejak kejadian rebut dengan Pamanku, Paman hanya sekali datang kerumh untuk meminta maaf sama Bibik namun Bibik tidak mau memaafkannya dan mengusir Pamanku untuk pergi, sejak kepergian Pamanku, aku dan Bibik semakin bebas, hamper setiap ada kesempatan kami melakukannya hinga akhirnya Bibik hamil karena aku, aku meminta bibiku untuk menggugurkan kandungannya namun bibik menolaknya dengan alasan sudah lama dia mendambakan seorang anak dan dia senang dapat membuktikan ke pada Pamanku bahwa yang mandul sebenarnya bukan Bibik tapi Paman dan anak yang lahir dari isteri kedua Paman tersebut bukan anak Paman melainkan anak orang lain tetapi hingga anak aku dan bibiku tersebut lahir dan sekarang sudah berumur 2 tahun Paman tidak pernah kembali kerumah, sampai sekarang aku masih setia menemani Bibikku dan sesuai dengan permintaan Bibikku, aku tidak kerja melainkan mengurus toko yang sekarang sudah menjadi Toko besar atau Agen, dari penghasilan toko tersebut aku dapat membiayai kehidupan ku dengan bibik dan anakku bahkan sekarang aku sudah hidup mapan. Bersambung.. Jangan lewatkan Cerita seks penuh gairah dan sensual hanya di Ceritaseks21 Cerita Seks Bercinta Dengan Bibi di KampungCerita Asik - Ini adalah kisahku pada waktu aku masih SMP kelas tiga di kota kembang, waktu itu aku ada liburan di rumah kakekku di daerah lembang, disana tinggal kakek dan keluarga bibi ku. Bibiku adalah kasir sebuah bank karena menikah dengan pamanku yang satu kantor dia mengundurkan diri dan hanya sebagai ibu rumah tangga, orangnya ayu, putih berlesung pipit dengan usia sekitar 27 tahunan. Dia tinggal dirumah kakekku karena rumahnya sedang dibangun di daerah bogor sedang suaminya adik ayahku tinggal di kost dan pulang seminggu dan bibiku sangat akrab karena dia memang sering main kerumahku sewaktu belum berkeluarga dan waktu kecil sering tidur di kamarku bahkan waktu kuliah dia lebih banyak tidur dirumahku dari pada ditempat kostnya. Anaknya masih kecil berumur sekitar 1 pagi aku kaget ketika seseorang membangunkanku dengan membawa segelas teh hangat, “Bangun…. Males amat kamu disini biasanya kan sudah nyiramin taneman sama nyuci mobil”“Males ah, liburan masak suruh kerja juga….”“Lha masak kakekmu yang sudah tua itu suruh nyiramin bunga sendiri dan mobilku siapa yang nyuci…”“Bi ijah lagi sakit dia gak sempet…, bangun bangun ah males ya” dicubitnya pinggangku“Udah udah geli ampun….” Kataku bangun sambil mendorong pulang dari jalan paginya dan asik berbincang dengan temannya diruang tamu. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi baru membuka baju bibiku mengetuk pintu ”Rik mandinya di sungai sekalian temenin aku nyuci, lagi mati lampu nih….. andi biar di jaga kakek”“Ya siap boss…” ku buka pintu dan membawa cucian seember besar ke belakang rumah, bibiku mengikutiku sambil membawa handuk, pakaian ganti dan sabun cuci. Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke sungai di pinggir kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk yang mandi atau mencuci tapi sekarang sudah jarang yang memakai, hanya sesekali mereka mandi disungai.“Sana di belakang batu itu aja, tempatnya adem enak…” dibelakang batu itu terdapat aliran kecil dan batu batu pipih disekelilingnya tumbuh-tumbuhan lebat itu kami bermaksud mencuci..ternyata sudah ada seorang wanita muda yang sedang mandi mengenakan kain batik ternyata wulan tetangga sebelah rumahku“eh rik tumben mau ke sungai….” Katanya ramah“Wah kalah duluan nih, nyuci juga kamu wul ““Aku dah dari tadi.. kalo listrik mati gini baru pada ke kali, kalo gak pakaian bayiku siapa kapan keringnya” katanya sambil keluar dari sungai dan mengambil handuk di tepi batik itu membentuk lekuk tubuhnya dibagian depan terlihat dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah leher putihya terdapat sebuah kalung tipis yang membuat dirinya terlihat ramping, ia kemudian membelakangi kami dan melepas selendang itu kemudian mengusapkan handuk ke sekujur saja aku kaget melihat pemandangan itu, walaupun membelakangiku tapi aku dengan jelas dapat melihat seluruh tubuh putihnya itu tanpa sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas setelah dia mengusap tubuhnya kini ia mulai membasuh rambutnya yang panjang sehingga seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian kemudian duduk.”Kapan kamu kesini rik..”sambil memiringkan tubuhnya karuan saja tetek gedhenya terlihat, aku kaget dengan pertanyaannya.“Apa wul aku lagi gak konsen..” ia memalingkan badan kearahku“Ati-ati disungai jangan ngelamun, kamu kapan datang..”“Oh aku baru kemarin..” kataku sambil mencelupkan baju-baju ke air sedang mataku tentu saja mengarah ke kedua teteknya yang tanpa sengaja diperlihatkan,.Bibiku bergerak menjauhi kami, mencari tempat untuk buang air karena dari tadi dia kebelet beol.“Anakmu umur berapa teh.. kok gak diajak “ kataku“Masih 1 tahun setengah, tadi sama adikku jadi aku tinggal nyuci” setelah rambutnya agak kering ia kemudian memasang handuknya dipinggangnya dan membalikkan tubuhnya tangan kanannya menutupi mencoba menutupi teteknya yang berukuran wah itu walaupun akhirnya yang tertutupi cuma kedua putingnya sedang tangan kirinya mencari celana dalam di atas batu itu setelah menemukannya, dia kemudian membalikkan badannya dan menaikkan handuknya, celana dalam berwarna putih itu terlihat cukup tipis dan seksi di pinggir-pinggirnya ada bordir kecil bermotif bunga.“Intan.. cantikkan “ ia berbalik, pakaian dalam tipis sudah menutupi memek dan pinggangnya itu sejenak dia melihatku dan kemudian melepaskan tangan kanannya dari teteknya sepertinya dia nyaman memperlihatkan teteknya padaku karena dari tadi aku pura-pura cuek dan pura-pura membasuhi baju kotor padahal adikku sedari tadi kemudian duduk dan membilas selendang batiknya“Cantik sih namanya.. tapi belum lihat wajahnya secantik emaknya gak ya..”“Ya pasti.. emaknya aja cantik anaknya ikut donk “katanya sombong, kusiramkan air ke arahnya segera ia berdiri dan membalas siramanku.“Maaf salah cetak harusnya, maknya aja jelek apalagi anaknya…” kami pun akhirnya saling menyiramkan air setelah beberapa saat dia kewalahan menahan seranganku.“Ampun ampun…” katanya sambil ketawa cengengesan, akupun menghentikan seranganku tapi kemudian dia malah berdiri mengambil ember dan menghampiriku menyiramku sehingga seluruh bajuku basah kuyup, aku kaget dan reflek mengambil ember ditangannya dia kemudian membalikkan badan untuk menjauhkan darinya, tanpa sadar tubuhku memeluknya dan satu tanganku ada pada dadanya yang terbuka. Akhirnya aku bisa meraih ember itu, ia berusaha melepaskan dari dekapanku tapi sia sia aku sudah siap, ku ambil air dan meletakkanya diatas kepalanyaa” Ampun ri,, aku dah mandi.. awas lo ntar tak bilangin kakekmu “ aku tetap saja memegang badannya dan mengancam, akhirnya ia berbalik dan dengan leluasa aku menyiram ke sekujurtubuhnya kemudian tanganku mengelus elus tubuhnya”nih aku mandiin lagi hehehhe,……” sekujur tubuhnya basah termasuk celana dalamnya sehingga isi didalamnya samar samar terlihat, kami tertawa geli dicubitnya pinggangku hingga agak lama ”aduh ampun sakit “kataku sambil menarik tangannya, untuk beberapa saat kami saling memandang sambil tertawa geli, kami kemudian ke tepi sungai untuk mengambil handuk, ia kemudian kembali menyeka air ditubuhnya sementara aku sambil duduk disampingnya sembari menyeka air di tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka dan rambutnya kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dia merunduk dan menyeka kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku, aku kemudian menggunakan handuknya itu untuk mengusap muka lumayan aroma tubuhnya masih nempel nih aku kemudian mengembalikan ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk tepat di depanku dan di turunkannya celana dalamnya, karena ikatannya kurang kuat setelah celana dalamnya berhasil melewati kaki indahnya handuk itupun ikut terbuka sehingga isi selangkanganya terpampang di depanku.“Eit…” katanya sambil tangan kanannya menutupi memeknya, aku tersenyum“Kelihatan nih ye…” kataku sambil memalingkan muka, kakinya menendang tubuhku, kemudian di usapkannya handuk itu ke tengah selakangannya yang masih lumayan basah karena mengenakan celana dalam kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya dia merasa nyaman saja mengetahui memeknya dilihat aku, diusapkannya ke arah rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir coklatnya bawahnya yang masih kencang sambil tersenyum sendiri.“Awas bisa gila lho tersenyum sendiri…” ia menghentikan usapannya sambil membetulkan posisinya“Ia kalo lama-lama deket sama kamu bisa gila …” katanya sambil berdiri“Eh, bau …” sambil kututup hidungku yang tepat berada didepan memeknya“Seger lagi coba cium, katanya sambil menarik mukaku dan menempelkannya pada memeknya yang telah ditutupi salah satu tangannya. Tanganku mengambil tangan yang menutupinya“Rambutnya kok gak rapi gak pernah dicukur ya,,,,” kubelai rambut bawahnya kemudian bergerak membuka kedua bibir bawahnya ”Dah punya anak masih kenceng aja nih kulit..” kataku sambil megelus elus memeknya dengan handuk sementara dia membalut tubuhnya dengan handuk sehingga kepalaku berada kaget dan membuka handuk sambil mencari bibiku takut ketahuan, kepala bibiku tampak masih ada dibelakang batu besar disamping sungai itu lagi asik membuang hajat..“Berani cium gak 5 Ribu deh… “ dibukanya kembali handuknya sambil tersenyum menantang, memeknya tampak begitu menggairkan.“Gak ah bau tuh.. tambah deh 10 “ kataku cengengesan“Deal…” Katanya sambil duduk jongok Mukaku kumajukan untuk dapat mencium memeknya, pelan-pelan kubuka bibirnya dan ku elus elus seluruh memeknya sambil pura-pura menutup hidung seperti mau minum jamu. Kemudian ku buka mulut dan mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak melihat kesekeliling kemudian aku mulai menjilat dengan pelan ke paha kanan kemudian kiri dan akhirnya menjilati memeknya ia tampak mengerang geli,“Ih…” katanya pelan, lidahku yang masih menempel kemudian kumasukkan kedalam memeknya dan menggerak gerakkan memutar sehingga ia tambah geli. Setelah kurang lebih 5 detik ku tarik mukaku.“Memek lo bau juga ya… mana 10 ribunya..?” ia menutupi kembali memeknya dengan handuk dan berdiri.“Ntar ya dirumah, mang aku bawa dompet apa? daa…” sumpret belum puas ngotak-atik mesin bmw bulu memek wanita ia sudah pergi, yah akhirnya aku hanya bisa kembali swalayan sambil melihat ia berlalu,bibiku akhirnya menyelesaikan BAB nya aku masih berendam bermain main di sungai sambil mengembalikan tenaga setelah kemudian asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci sedang aku membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air sehingga baju kami basah semua akhirnya baju yang kami selesai semua aku mulai membuka semua bajuku sehingga hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara bibiku yang dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya menyamping, kemudian menaikkan dasternya kemudian celana dalam putih pelan pelan turun dari pahanya mulus bibiku kemudian dia menghadap kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat, tidak seperti tadi dimana kadang aku bisa melihat celana dalamnya.“Ih celana dalamnya dah pada bolong nih…” kuangkat celana dalamnya, bibiku segera menyambarnya“Mana? Masih baru nih..” katanya sambil melemparkannya kepadaku. Dia kemudian menurunkan dasternya dan mencopot kutang dari tempatnya dan kemudian menaikkan kembali dasternya, tanpa segaja dia membuka kakinya sehingga bulu bulu tipis samar-samar terlihat diantara pahanya terlihat jelas didepanku, dia menunduk mencuci bhnya sehingga teteknya menyembul diantara belahan dasternya,“Sini kolormu dicuci sekalian…” aku bengong mendengarnya,“Copot sekalian gih kolormu.. ““Wah gak bawa celana dalam bi….” Bibiku tidak menjawab dan memegang kolorku, akhirnya aku berdiri dan membuka pelan-pelan kolorku sehingga adikku menampakkan diri.“Lho dah sunat to kamu ?” dilihatnya burungku yang masih imut-imut plus rambut yang baru pada keluar, ku pegang burungku sambil melirik kaki bibi yang sedikit terbuka.“Dah lama ya kita gak mandi bareng…” ia tersenyum“Ia dulu waktu masih SD kamu hanya mau mandi bareng aku mang kenapa sih ?”“Ya milih yang cantik donk, masak sama mak ijah kan dah pada keriput semua,…” ia kemudian membuka dasternya sehingga seluruh tubuhnya terbuka dan menggeser duduknya kemudian meletakkan cucian kemudian kembali ke tempatnya. Teteknya yang bersih dan putih walaupun tak sebesar punya wulan terlihat masih sama seperti dulu, tubuhnya yang putih sintal dan rambut yang tergerai membuat semua orang pasti mengakui dia wanita ayu.“Ssst lihat memeknya donk bi…” ia melengos dan menutupi pangkal pahanya dengan tangan, aku menarik tangannya terlihat rambut-rambut tipis berada di tengah“Hiii… bulunya habis dicukur ya…” ia tersenyum geli, ia kemudian menggeser duduknya sehinga tepat didepanku“Kok tahu…. bagus kan” dibelai nya rambut pubis itu bangga“Ya tahu lah… dulu kan lebih tebal dari ini….mang napa dicukur”“Nggak lagi pingin aja … kalo mau dateng bulan aku biasa potong, kalo gak tak cabut pake lilin, kalo rapi kan sehat….”Kakinya yang rapat membuat aku hanya kebagian melihat rambutnya saja.“Lihatin donk….” Kataku sambil mengelus elus pahanya tangannya menghela tanganku dari pahanya tapi kemudian aku kembali mengelusnya setelah itu dia melihat tajam kepadaku, pelan-pelan tanganku berhasil menggeser satu kakinya sehingga memeknya sedikit terlihat.“Wah masih sama kaya dulu ya.. walaupun dah punya anak masih terlihat kenceng punyamu” ia tersenyum mendengar bualanku dan membiarkan aku melihat seluruh isi memeknya, tanganku mulai membelai memeknya pelan kemudian mengusap-usapnya.“Jangan nakal ah.. geli..” aku tetap saja mengelus elusnya“Mandi sana.” Tangannya mendorong mukaku sehingga aku terjatuh, dia kemudian berjalan kearah air yang lebih dalam kemudian berenang renang kecil“Ri ambilin sabun donk…” aku duduk mendekatinya dan mengacungkan sabun, ditariknya tanganku sehingga aku jatuh dia tersenyum aku kemudian membalas dengan menyiramkan air kemukanya setelah beberapa saat bercanda di dalam air ia kemudian naik ke sebuah batu untuk membersihkan diri dengan sabun. Dengan menghadap kepadaku ia mulai meletakkan sabunnya dileher jenjangnya, pelan pelan turun ke teteknya, kemudian ke tangan dan kakinya dan berahir pada memeknya setelah itu dia kemudian menggosok badannya untuk memperbanyak busa. Aku keluar dari air dan duduk di sampingnya dia langsung menggosokkan sabun keseluruh tubuhku dari muka sampai ke kaki, dengan santai ia menggosokkan sabun pada penisku.“Dah gede kamu ri, burungmu dah ada rambutnya..”“Ya donk masak mau kecil terus…” ia kemudian membalikkan badannya dan berdiri sambil memintaku menggosok punggung dan bokongnya yang belum kena sabun, waktu mengosok bokongnya pelan-pelan tanganku ku senggolkan ke memeknya nampaknya dia cuek saja dengan terus asik menggosok tubuhnya dengan sabun, aku mulai memberanikan diri mengelus dari belakang kedua payudaranya. Ia membalikkan badan, membiarkan aku mengelus elus payudaranya danseluruh tubuhnya sementara dia mengelus kakiku dan sesekali mengelus kemudian terduduk, seperti biasanya kalo mandi dia selalu terdiam beberapa saat membiarkan sabun meresap ditubuhnya. Aku yang masih berdiri didepannya dengan penis tepat di mukanya, ia kemudian memain-mainkan penis itu,”Di bersihin donk ri burungnya, nih masih ada kotorannya” katanya sambil mengelus penisku mesra aku hanya diam keenakan. Kemudian dia berbaring di atas batu, aku duduk disamping kakinya sambil mengelus memeknya dan menyiramkan air sehingga seluruh memeknya kelihatan.“Dah jangan main itu terus ah geli …” ia tersenyum menutupkan kakinya aku kemudian menarik kakinya sehingga kini tubuhku berada diantara kakinya. tanganku mulai menggosok-gosok lagi kali ini jariku mulai masuk ke memeknya, dia bangun“Geli ah li.. “tanganku kali ini berhasil diusirnya, tanpa sadar dia mulai melihat burungku yang mulai berkembang dan menggantung.“Burungmu dah mulai bisa berdiri ri…” dielusnya burungku pelan mesra, semakin lama burungku makin besar karena tak tahan akan elusannya.“Kamu dah pernah ngimpi basah ya.. “ aku mengangguk kemudian“ Bi.. kamu gak lagi mens kan?” ia tersenyum kemudian membimbing tanganku pada dadanya“Sini bibi ajarin ngelonin cewek…” aku mengikuti saja bimbingan tangannya mengelus pelan teteknya kemudian melintir putingnya.“yang mesra donk ri anggep aja aku cewekmu “ dia kemudian mencium pipiku dan mendorong mukaku ke teteknya, aku ciumi semua bagian teteknya kemudian menghisap pelan putingnya, ada air keluar dari susunya aku makin keras menyedotnya sementara bibi mengusap kepalaku sambil merem menikmatinya. Kemudian aku menjilati perut dan turun ke rambut memeknya, ke paha kemudian menengelamkan mukaku ke memeknya, namun tangan bibiku mencegahnya.“Kamu gak papa ri?” katanya pelan “Gak papa bi, sekalian buat pengalaman“ia kemudian menyiramkan air ke memeknya setelah itu kucium dan kujilati memeknya beberapa saat, sementara tanganku dibimbing untuk tetap mengelus dadanya. dia rupanya terangsang dengan jilatanku, erangan-erangan kecil dan tekanan tangannya pada rambutku mengisyaratkan dia sudah mulai terangsang. Merasa cukup ku hentikan jilatanku kemudian duduk di depannya dia kemudian melek sambil mengelus dan memutar mutan burungku.“Enak kan…?” ucapnya manja, aku kemudian berdiri, penisku tepat berada di mukanya, beberapa saat dia diam kemudian ia menutup mata dan mencium penisku“Kalo jijik gak usah di emut …” ia melepaskan mukanya dan kembali mengocok dengan kemudian duduk diatas batu sambil mengangkan meminta aku memasukkan penis ke memeknya“ Di gesek aja ya, jangan dimasukkan.. punya pamanmu nih..” aku kemudian menggesekkan penis ke memeknya sementara tanganku menggoda teteknya.“Bi sekalian masukkin ya.. biar ngajarinnya komplit..” ku masukkan tanganku ke memeknya,“Jangan sama pacarmu saja, kasihan perjakamu…” aku kemudian mencoba memasukkannya pada memeknya dua kali mencoba ternyata penisku belum bisa tembus juga, bibiku tersenyum geli“Tuh kan gak bisa, sini…” ditariknya penisku, di elus kemudian dimasukkan dalam memeknya, rasanya sempit sekali memeknya, baru setengah penis masuk bibiku mengeluarkan kembali“Susah kan… makanya pelan pelan” ia kembali memasukkan, kali ini lebih dalam, ia kembali menarik tubuhnya sehingga penisku lepas. Tanganya lepas dari penisku, tanganku yang mau mengarahkan penisku di tariknya menandakan dia pingin aku memasukkan tanpa kali mencoba tidak berhasil lagi akhirnya bibiku yang memajukan memeknya, sekali maju langsung masuk,“uh…. Enak bi …” ia kemudian menggoyang pinggulnya memberikan tekanan keluar masuk pada penisku, aku merem melek menahan enak sambil membantunya mengelus tubuhnya,“Ayo bagianmu…” ia kemudian pasif membiarkan aku melakukan keinginanku ku. Aku masukkan sampai semua penisku masuk kemudian bergerak pelan semakin lama semakin cepat menggoyang maju mundur.“Bagus ri.. ayo.. ah…. ah… terus sayang….” aku menurutinya beberapa saat dia meminta aku mengganti posisi kini dia menungging di depanku dengan sigap kumasukkan penisku berulang ulangoh yes … enak bi… enak….” Lima menit kemudian ia memintaku duduk dia berdiri dihadapanku memeknya kuciumi sebentar kemudian dia menduduki kakiku,“ayo aku dah mau nyampe… kamu mau nemenin kan…” dia kemudian memasukkan memeknya dan bergerak turun naik sementara muka dan tanganku memegang teteknya“bii…. Jangan cepet-cepet aku gak kuat nanti…”“Ayo sayang … bibi juga gak lama lagi ..” aku melepas tangan dari susunya dan berkonsentrasi menahan goyangan maut memek bibiku..“uh.. ah… “ bergantian kami mengucapkannya“Stop bi… aku mau keluar …” aliran-aliran listrik seakan menjalar ditubuhku.. bibi melepaskan memeknya, kemudian mengocok penisku dalam hitungan ke lima air maniku benar benar keluar“crot,,,,” mengarah pada tubuhnya.. Aku lemas sambil menyedot tetek bibiku aku mengatur nafas setelah berhasil mencapai puncak“Wiih enak banget bi…. Yes……” kataku pelan, ia tersenyum dan mencium pipiku sambil mengelus-elus teteknya, setelah beberapa istirahat bibiku menuangkan air ke mukaku“udah mandi yuk…” aku menarik tangannya“Makasih ya bi… maaf kebablasan” ia tersenyum“Ayo tak bantu nyampe puncak..” kataku sambil mengelus memeknya, aku kemudian mencium tetek kemudian memeknya, aku kemudian memasukkan jariku pada memeknya ia merem melek kemudian aku memasukkan berkali-kali dan menggelitik memeknya, ia benar-benar terangsang. Tangannya memegang penisku yang sudah tidak kencang lagi kemudian mengarahkan mukanya pada penisku, semakin lama goyangan tangan ku makin kencang, sampai akhirnya bibiku mengerang ngerang kemudian memasukkan penis pada mulutnya.. ia menggelinjang dan ahirnya dia berteriah “uhhhhhhh,,,,,,” dilepaskannya penisku dan berguling di batu itu, ku belai rambutnya menemani menuruni puncak kami berdua masuk kembali ke air membersihkan sisa sabun“ Jangan diulang ya… sekali aja “ katanya sambil mencubit paha depanku“Ya deh bi,, kalo kuat ya.. tapi kalo lihat tubuh bahenol ini kayaknya aku gak tahan” kucium tengkuk bibi sambil mengelusnya, dia membalas“Janji ya, jangan goda aku lagi…” aku diam sambil memeluknya.. ? NOVELBASAH ? Namaku Geri, usiaku saat ini 16 tahun, baru saja naik kelas 2 SMU. Aku adalah anak semata wayang orangtuaku. Papaku, Gito, 40 tahun, seorang pegawai swasta, dengan posisi sudah mapan, mamaku, Santi, 36 tahun, juga bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan swasta. Secara ekonomi keluarga boleh dibilang mapan menengah ke atas. Kami sekeluarga tinggal di kota Jakarta. Papaku sendiri berasal dari kota Semarang, sementara mamaku berasal dari sebuah desa di dekat kota Tasikmalaya. Kalau aku, ya karena lahir dan besar di kota Jakarta, lebih merasa sebagai orang Jakarta saja tuh. Sebenarnya papa dan mamaku tentu saja berharap bisa mendapatkan anak lagi, usaha membuat anak jalan terus, tapi ya mau gimana lagi, dapatnya cuma aku saja. Akhirnya mereka tak pernah lagi memimpikan untuk mendapatkan anak lagi. Mamaku pernah cerita kepadaku, saat usia ibu memasuki usia ke 35, papa dan mama sepakat, impian buat punya anak lagi sudah tak akan diteruskan. Kenapa ? Pertama, kalau punya anak lagi, kasihan, usia ayah mama saat ini sudah lumayan, nanti ngejomplang jaraknya sama anak itu, semisal dapat anak lagi, saat anak itu usia 20an, papa mama sudah memasuki usia 60an. Kedua, jarak antara aku dan adikku itu juga bakal terlalu jauh, sulit buat dekat. Karena pemikiran itu akhirnya sudah bisa dipastikan aku tak akan pernah punya adik. Sebagai antisipasi, ibu memasang alat KB. Aku sendiri seperti kebanyakan tipikal remaja seusiaku di Jakarta ini, adalah remaja yang gaul, trendi dan dinamis. Papa dan mama tidak mengekang pergaulanku, namun tetap mengawasi dan memberi masukkan yang positif. Buat urusan pelajaran, aku termasuk encer, nilaiku selalu bagus, walau tidak peringkat utama, tapi biasanya masuk 10 besar, pokoknya orang tuaku tidak khawatir dengan masalah pelajaran. Buat masalah gaya, gaul dan trendi, aku juga cukup oke, ikut kegiatan olahraga sepak bola dan basket, sering ke mall atau nongkrong sama teman &8211; teman, kadang kalau iseng main band, aku bagian kecrekan saja hehehe, nggak bakat, cuma buat kompakkan saja. Walau sering bergaul sama teman &8211; teman namun aku bisa mengontrol diri, di samping juga pengawasan dari orang tuaku, aku nggak mau sama yang namanya alkohol, narkoba dan sejenisnya, no way, bodoh kalau mau terjerumus begituan, kita hancur, melarat, yang kaya bandarnya doang. Paling aku cuma merokok, itu juga sesekali, solider sama teman, Cuma merokok yang aku solider, kalau yang lain nggak deh . Aku pernah ketahuan sama orang tuaku, dan aku jujur saja bahwa aku memang suka merokok, tapi tidak terlalu banyak, secukupnya, kadang kalau lagi pusing belajar, aku merasa terbantu dengan merokok. Papaku juga perokok, dan karena aku sudah jujur maka papa hanya memperingatkan agar jangan terlalu banyak atau kecanduan, dan untuk membeli rokok, ya pakai uang jatah jajanku, nggak bisa minta jatah khusus. Ya, lumayan deh sehari paling banyak aku hisap 3 batang, itu juga kadang nggak rutin tiap hari, kalau lagi mau saja. Kalau pulang sekolah aku jarang langsung pulang, soalnya pasti nggak ada orang di rumah, orang tua belum pulang kerja, di rumah kagak pakai pembantu, paling bayar jasa cuci setrika saja sama tetangga. Jadi kalau pulang sekolah pasti aku keluyuran dulu, nongkrong, ke mall, rumah teman, atau ke Warnet dekat rumah. Warnet sering jadi lokasi favourite, yang jaga juga sudah akrab, jadi bisa agak bebas, kalau lagi malas, bolos dari pagi banyak juga lho yang sering begini, makanya di warnet dipasang tanda pelajar berseragam sekolah dilarang masuk; tetap saja kagak efek tuh . Aku nggak gitu hobi main game online, lebih banyak chatting, facebook-an, browsing, dan melakukan aktivitas favourite, buka situs jorok dan download. Hasil berkelana di dunia maya, taruh di USB, simpan dan nikmati di Laptop di rumah…hehehe. Usiaku saat ini memang sedang hot &8211; hotnya ingin tahu tentang perempuan dan seks, sayangnya aku belum punya pacar atau pengalaman dalam bidang ini. Sejauh ini pengalamanku hanya dunia fantasi saja, kadang nyetel bokep, baca majalah porno, ngayal lalu ngocok deh…belum ada yang nyata. Secara selera aku suka wanita yang tinggi, cantik, kulitnya putih atau agak hitam itu relatif, rambut juga relatiflah nggak spesifik, bertetek besar itu keharusan, dan aku senang yang berbulu lebat. Jujurnya aku paling merasa senang dengan wanita yang usianya sekitar 30 tahunan ke atas. Aku paling cepat ON kalau lagi nonton bokep dan pemain wanitanya ada yang kayak aku sebutkan tadi. Kalau buat bahan khayalan, paling teman sekolahku si Hana, Rini, Mitha, juga bu Tina yang bahenol. Baru berani ngayal, belum berani lebih dari itu, buat pacaran juga masih belum mau ah, aku masih mau bebas merdeka tuh. Selain itu aku paling sering mengkhayalkan ibuku, ibuku memang tipe wanita paruh baya yang seksi, tinggi, cantik dan juga masih montok. Teteknya juga besar. Ibuku biasanya pulang kerja lebih dulu dari ayah, ayah pulangnya agak malam. Aku paling hobi ngintipin ibuku mandi. Kebetulan kamarku bersebelahan dengan kamar mandi, karena aku banyak waktu luang, jadinya aku akali saja, sehingga aku bisa mengintip melalui celah eternit. Kalau ibu masuk kamar mandi, aku segera masuk kamar, kunci pintu, naik meja, peloroti celana, lalu menikmati tubuh mulus ibuku yang sedang mandi, membusahi tetek dan pentilnya dengan sabun, mengusap m3meknya yang dihiasi jembut yang rimbun, kont01ku pasti langsung keras dan siap minta dikocok &8211; kocok…cok. Aku selalu berhati &8211; hati, posisi lobang mengintipnya pun tak akan menimbulkan kecurigaan dan tak ketara dari kamar mandi, lobang satu laginya di kamarku, kalau aku selesai ngintip, aku langsung tutup dengan tripleks, pokoknya aman terkendali. Kadang memang timbul niat lebih pada ibuku, namun aku belum punya nyali, ya jadi cukup memuaskan dan bahagia dengan kondisi ini dulu saja. Aku memang merasa amat sangat ingin mencoba melakukan dan merasakan hubungan badan, namun belum ketemu lawan yang pas kayak ngadu ayam saja, pake istilah lawan hehehe . Tapi aku selalu percaya akan ada kesempatan dan waktunya bagi mereka yang berhasrat ini. Sekarang hari pertama liburan, aku lagi uring &8211; uringan, karena ayah ibuku janji setelah ambil raport, besoknyaakan mengajakku berlibur ke bali, mereka akan cuti besar, namun mendadak atasan ayah membatalkan cuti ayah, nggak ditentukan kapan bisa ambil lagi, karena ada proyek besar yang mendadak didapat dan harus ayah urus. Gede banget nilainya seru ayah berapi &8211; api samapi muncrat ludahnya saking semangatnya menjelaskan. Ayah sebenarnya menyuruh ibu dan aku berangkat saja, namun ibu nggak mau, katanya kalau mau liburan harus sekeluarga. Jadilah akhirnya ibu juga memutuskan mempersingkat cutinya, ibu tetap cuti namun hanya satu minggu saja, bukan 3 minggu seperti direncanakan. Ayah bilang kepadaku dia tahu aku kecewa namun urusan kantor juga penting, duit komisinya buat ayah lebih dari lumayan kata ayah. Nanti saja akan ayah atur waktu, mungkin libur akhir tahun kalau perlu ke Singapore saja, ongkosnya juga nggak beda dengan ke Bali. Jadilah hari pertama libur mukaku sudah bete…bete…bete…ah. “Den, sudah dong, jangan marah begitu, muka ditekuk terus kayak gitu apa nggak pegal, ibu saja pegal ngelihat muka kamu kayak gitu.” “Ah ibu, Deni lagi sebel nih, nggak mau diajak becanda..” “Sudah deh, kamu kan juga tahu urusan kantor ayah, lagian ayah kan kerja nyari duit buat kita juga.” “Iya sih, tapi Deni kan sudah senang dari kapan tahu tuh bu karena kita mau ke Bali, tahunya batal mendadak gini, siapa yang nggak kesal….huh.” “Ya sudah…, ibu juga sudah terlanjur cuti nih, jadi tadi ibu bilang ayah, ibu mau ke kampung, nengok bibi &8211; bibi kamu. Mungkin 3 atau 4 harian, kamu mau ikut…???” “Hah….jauh amat kenyataan sama impian…Bali sama kampung dekat Tasik…ogah ah.” “Ya sudah kalau begitu, kamu di rumah saja sendiri sama ayah.” Ah, malas sih pergi ke kampung ibu saat ini, tapi kalau di rumah juga, paling seminggu saja aku semangat keluyuran selebihnya bakal bosan, lagian sendirian, ayah cuma ada kalau pulang kerja, hari sabtu-minggu kalau lagi ada proyek juga biasanya ayah masuk…., ya mending ikut ibu saja deh. “Nggg…ikut deh bu, daripada bete sendirian.” “Huh dasar kamu ini, bawa saja baju banyakan, siapa tahu nanti ibu pulang duluan, kamu masih betah di sana.” “Alaaah….nggak perlulah, seadanya saja. Siapa juga yang mau menghabiskan seluruh liburan di kampung….emang kita cowok apaan, nggak janji deh.” Ibuku sendiri mempunyai 3 orang saudara, kakak tertua Bi Lasmi, 40 tahun, suaminya pelaut, Bi Lasmi tinggal di kampung juga, anaknya si Joko, kuliah di Yogyakarta. Ibu anak nomor 2. Anak nomor 3, Mang Nurdin, 34 tahun, sudah berkeluarga, anaknya 3 orang, tinggal di Surabaya, kerja di sana. Anak nomor 4, Bi Ratna, 33 tahun, janda, sudah menikah 2 kali, suami pertama meninggal karena sakit, suami yang kedua dengar &8211; dengar sih meninggal kecelakaan, anaknya si Jaka, 4 tahun, anak dari hasil pernikahan dengan suami kedua. Si Jaka ini biasanya dipanggil si Ucil. Bi Ratna sudah menjadi 2 tahun terakhir ini, untuk ukuran di kampung sudah lumayan lama. Ibuku paling dekat dan sayang sama bi Ratna ini. Kakek dan nenekku dari pihak ibu sudah meninggal, jadi di kampung memang hanya tinggal bibi &8211; bibiku ini dan beberapa family lainnya. Ibu tetap sering berkunjung ke sana kalau ibu sempat. Ibu sendiri memang beda dengan kedua bibiku, ibuku dulu lebih memilih bekerja di Jakarta sewaktu tamat sekolah, dan akhirnya ketemu jodoh yaitu ayahku di sana. Kedua bibiku ini juga cantik seperti ibuku, namun aku tidak terlalu banyak memperhatikan, karena memang jarang ke sana dan dulu kan belum masa puber, jadi kagak terlalu paham soal itu. Akhirnya esok harinya, pagi – pagi aku dan ibu berangkat, ibu nggak mau bawa mobil, lebih memilih naik bis yang bagus kelasnya, biar nyaman. Ibu bilang ke Ayah mungkin nanti hari Sabtu kami pulang. Perjalanan ke sana tidak terlalu memakan waktu, jadi belum siang kami sudah tiba di kota Tasikmalaya, lalu menyambung dengan angkot, kurang lebih satu jam, dan akhirnya tiba di kampung X, kampungnya memang agak ke dalam, tapi sudah bagus, jalannya sudah diaspal kabarnya sih belum lama, dari caleg yang menang pilkada, penuhi janji , listrik, sekolah, sinyal HP, siaran TV juga lengkap. Banyak sawah dan kebun di sini, memang mata pencarian utama dan juga hasil yang utama di sini adalah hasil bumi beserta olahannya. Ada yang menggarap tanah sendiri, kerja di tanah orang, berdagang hasil bumi. Bibi &8211; bibiku mengelola tanah milik keluarga yang jadi bagian warisan mereka. Punya ibu juga ada, ibu memepercayakan dikelola kedua saudarinya ini, hasilnya terima bersih saja, toh ibu sudah punya penghailan tetap yang lumayan besar dari pekerjaannya. Mereka memperkerjakan beberapa orang untuk menggarap, sistem bagi hasil dan juga upah saat panen. Bi Lasmi juga mengelola tanah miliknya yang dibeli suaminya. Pemandangan di sini sebenarnya indah, ada pemandangan gunung di kejauhan, kalinya tidak terlalu deras dan tidak banyak bebatuan besar, lokasi buat berenang di kali banyak. Buat mancing juga ada tempat yang enak di saluran irigasi. Udaranya segar dan masih asri. Lokasi satu rumah dengan rumah lainnya tidak sama, ada yang dekat ada yang jauh. Penduduknya masih banyak, yang kerja di kota tidak banyak, karena di kampung juga banyak kegiatan dan penghasilan. Makanya kalau mau kampungnya tidak kosong ditinggal warga merantau, perangkat desa harus siap harus ada tanah yang digarap dan juga lapangan pekerjaan lain yang mendukung. Banyak kegiatan dan peluang kerja di kampung, orangnya juga tak bakalan merantau…betul nggak…? Sotoy loe Den…hehehehe. Bibi &8211; bibiku senang sekali dengan kedatangan kami, soal tempat tinggal bisa di mana saja, tapi kali ini ibu bilang mau nginap di rumah Bi Ratna saja, bi Lasmi tidak masalah, toh rumahnya juga dekat, mungkin juga paham dengan niat ibu yang mau membujuk bi Ratna biar kawin lagi. Mereka sibuk melepas kangen, dan ibu membagikan oleh &8211; oleh. Sedang aku mulai sibuk ditarik &8211; tarik si Ucil, ngajak main. Tentu saja percakapan dilakukan dalam bahasa Sunda, namun demi memudahkan yang nggak ngerti, di tulis bahasa Indonesia saja ya…kalau yang paham, silahkan baca dan mentranslatenya dalam hati ke bahasa sunda, biar lebih menghayati ceritanya…hehehe “Ucil, nanti duluh atuh…kang Deninya juga masih capek, biar istirahat dulu,” kata Bi Ratna. “Nggak apa &8211; apa bi, lagian sudah lama kagak ketemu si Ucil, sekarang sudah gede dan pintar ngomong.” “Ya sudah, tapi mainnya dekat sini saja ya, nanti sebentar lagi kita makan, bibi mau siapkan dulu, kamu sudah lapar kan…?” Akhirnya aku menemani si Ucil, memang si Ucil ini paling senang kalau aku datang. Aku juga senang &8211; senang saja, habis anaknya lucu dan polos. Tak berapa lama akhirnya kami dipanggil dan mulai makan siang. Mantap menunya, ikan gurame goreng garing, pepes tahu, pete bakar sama lalapan dan cabe cobek, kayak wisata kuliner saja. Kenyang banget perutku memakannya. Setelah beristirahat, ibu mengajak bi Lasmi menemaninya berkunjung ke rumah family dan temannya. Ibu menanyakan aku mau ikut atau tidak, tapi aku bilang malas, masih capek, akhirnya ibu mnyuruhku menemani Bi Ratna, si Ucil sedang asik dengan ngoroknya, tertidur pulas dengan iler menetes, dasar si Ucil. Selepas ibu dan bi Lasmi pergi, aku bermaksud membantu bi Ratna membereskan rumah, namun katanya aku istirahat saja dan menemaninya ngobrol, sudah lama nggak ketemu. Memang sudah lama nggak ketemu, dan juga karena saat ini aku sudah puber, aku baru sadar ternyata bibiku ini memang cantik, kulitnya putih bersih, bodinya juga aduhai dengan fokusku ke arah teteknya yang memang besar menantang. Sepertinya ibu dan kedua bibiku memang memiliki garis keturunan yang bertetek besar dan aduhai. Nggak lama bibi masuk ke kamarnya, aku hanya melamun saja, nggak sadar bibiku sudah keluar lagi, terdengar panggilannya, dari arah samping rumah. Aku segera ke sana, dan kulihat bibi sedang mengangkat jemuran, tapi bukan itu yang membuatku terkejut dan senang, bibiku kini hanya mengenakan kain dan kutang model kampung, hampir kayak kembem gitu, agak panjang sampai batas perut, dengan kedua talinya di bahu. Gila, seksi banget, apa memang yang kayak gini sudah biasa dan busana sehari – hari, waktu suaminya masih ada, dulu aku jarang nginap di sini, biasanya di rumah bi Lasmi, dan mungkin karena aku masih anak kecil, jadi masih culun bin lugu, belum paham. Kutangnya nampak ketat sekali membungkus teteknya yang besar, belahan teteknya nampak jelas, saat ia mengambil jemuran, kulihat di lengannya nampak bulu ketek yang seksi makin menambah nafsuku. Jadi keras nih kont01ku. Akhirnya aku pura &8211; pura membantu, biar lebih dekat dan bisa lebih fokus melihat belahan teteknya. “Sudah besar ya kamu sekarang, Den, sudah perjaka.” “Kan dikasih makan sama ibu,Bi.” “Ah kamu bisa saja…ponakan bibi ini sudah punya pacar belum…?” “Ah…belum kok bi.” kataku lagi. Posisiku agak di belakangnya, mataku sekan mau melotot keluar melihat pemandangan belahan teteknya. “Dicari atuh Den, enak lho punya pacar, kamu bisa ngerasain gituan lho…enak lagi, umur kayak kamu mah di sini juga sudah banyak yang kawin.” “Ah…bibi, malu atuh ngomong kayak gitu…” “Alaahh…sama bibi mah kagak usah malu gitu, santai saja….kayak bibi kagak pernah muda saja. Bibi mah ngerti anak muda kayak gimana. Lagian kamu kan lelaki jadi bibi paham.” “Iya juga sih…tapi tetap sajalah malu.” “Ya sudahlah, kata ibumu kamu lagi libur sekolah, kamu mau pulang kapan..?? kalau agak ada kegiatan mah, di sini saja, temani si Ucil.” Ternyata bibiku ini ngomongnya bak &8211; blakan dan vulgar juga, belum lagi tubuhnya memang bahenol banget, kont01ku sudah sesak rasanya di balik celanaku. Sebenarnya sih aku tidak rencana menghabiskan liburan di sini, nanti ikut ibu balik, namun melihat “rejeki” yang bakalan aku terima kalau aku di sini, juga melihat gaya bibiku, hatiku jadi bimbang, mungkin saja aku bisa mengalami hal yang menjadi keinginanku di sini. Aku hanya menjawab… “Deni belum tahu bi, lihat saja nanti.” “Ya sudah, tapi sebaiknya kamu berlibur saja di sini, daripada di Jakarta terus. Toh di rumah bibi kosong. Lagian juga banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan. Bisa nambah ilmu sama pengalaman kamu juga. Sok atuh..udah beres ngangkat jemurannya, masuk ke dalam saja.” Akhirnya bibi selesai mengangkat jemuran, dan kami pun masuk ke rumah. Aku permisi ke kamar mandi, bilangnya mules, padahal mah ada sesuatu yang harus kulepas nih, gila…keras banget kont01ku…., sesampainya di kamar mandi, langsung saja kukocok kont01ku sambil membayangkan tubuh bibiku tadi, ah lega rasanya saat akhirnya hiburan tangan ini selesai. Sorenya ibu balik, bi Lasmi pulang dulu, nanti janji mau nginap juga. Malamnya, karena kamar di rumah bibi hanya ada 2 maka, aku tidur di kamar dengan Ucil, sedang ibu dan bibi &8211; bibiku di kamar bibi, mereka tampak seru ngobrol dan tertawa, maklumlah nostalgia dan melepas kangen. Keesokan harinya akhirnya kuketahui, memang kalau di rumah, pakai busana kayak yang kulihat waktu itu, memang wajar saja, bibiku cuek saja, ibu juga nggak melihat itu sesuatu yang aneh dan menggangguku, bahkan ibu juga memakai busana yang sama, saat kutanya, jawabnya santai sekali, katanya…nyaman pakai baju kayak gini, juga sudah lama nggak memakai pakaian kayak begini dan toh ibu dan bibi nggak perlu canggung di depan kamu…..memangnya kamu ada masalah ? Ya sudah, nggak masalah kok bu kataku dalam hati, maka selama itu aku mendapatkan pemandangan bagus terus, tubuh montok ibu dan bibi, makin sering saja aku ke kamar mandi, gimana lagi kalau setiap saat melihat belahan tetek besar dari 2 orang wanita yang seksi. Untung saja tanganku bisa kutahan untuk tidak menjamah. Singkatnya ibu banyak menghabiskan waktu berkunjung ke rumah saudara dan temannya, sesekali ke sawah dan kebun, kadang aku ikut. Suatu malam kami semua pergi jalan menyewa angkot milik tetangga, ke kota Tasikmalaya, ibu mau membelikan baju buat bibi &8211; bibiku, si Ucil dan saudaraku sekalian traktir makan, makin asik karena pas ada pasar malam dekat situ, lumayan ngerasain wahana Dunia Fantasi dadakan dan seadanya, ya senang &8211; senanglah, sedikit banyak aku mulai melupakan rasa kesalku batal liburan ke Bali. Ada suasana hangat kekeluargaan yang juga mampu mengobati kekecewaanku. Di rumah bibi, ada motor, aku nggak tanya milik siapa, mungkin milik almarhum suaminya, bibi memberi kuncinya, katanya kalau aku mau jalan &8211; jalan, bawa saja, asal jangan ngebut. Biasanya aku ajak Ucil keliling, si Ucil senang sekali, katanya ibunya jarang bawa motor, hanya kalau ada perlu saja, jadi dia jarang naik motor. Karena pom bensin jauh, orang sini biasanya beli eceran, agak mahal dikit. Akhirnya tibalah saat malam terakhir, besok pagi ibu akan pulang, ayah tidak bisa menjemput jadi ibu pulang sendiri bersamaku. Malam itu aku bilang aku mau tetap di sini saja, habis udaranya enak, suasananya tenang, juga senang main sama si Ucil, dan tentu saja karena ada pemandangan indah di rumah bibi bibiku sendiri.. Lagian bosan di Jakarta nggak ada agak heran, katanya dasar aku plin plan, tapi memperbolehkan. Masalahnya bajuku terbatas, ibu jadi agak kesal, katanya kan sudah dibilang bawa baju lebih. Akhirnya esok ibu mengajakku sekalian mengantarnya ke kota Tasikmalaya, untuk membeli baju kaos dan celana pendek serta CD. Aku bilang naik motor saja, karena aku mau beli bensin di derigen, mulanya ibu keberatan, tapi akhirnya mau. Aku segera ke belakang, mencari derigen, memang ada, dan dari baunya saat aku mencium dalamnya waktu membersihkan, sepertinya memang dipakai untuk menyetok bensin, 2 buah ukuran 10 liter, tidak segera ikatkan di bagian depan. Esok paginya ibu sudah siap, setelah berpamitan dengan bi Lasmi, bi Ratna, beberapa family dan temannya, berangkatlah kami. Bawaan ibu tidak terlalu banyak, oleh &8211; oleh juga muat di tas dan plastik. Enak juga naik motor lebih cepat, juga dapat bonus, punggungku sesekali merasakan tetek empuk nempel…nyamannya hehehe. Karena naik motor,, maka tak berapa lama kami sudah samapai. Ibu mengajakku ke pasar terdekat di kota, membeli kaos murah meriah, 10 potong, 3 celana pendek dan ½ lusin celana dalam, kagak sampai 300 ribu belanja. Sekalian juga mengajakku ke toko makanan, membeli makanan ringan dan kopi juga susu sachet. Kutitip dulu di tokonya, karena bawaan sudah penuh, nanti kuambil lagi. Lalu ibu minta diantar ke ATM, mengambil uang, memberiku uang buat jajan kunanti dan beli bensin. Sekalian uang untuk ongkos pulang, takutnya nanti ayah nggak bisa menjemput, kubilang aku bisa pulang sendiri. Setelah itu aku antar ibu ke teminal, parkir motor, belikan karcis dan menunggu bisnya berangkat, ketika bis sudah mau jalan ibu mengecup pipiku, sambil berpesan agar jangan merepotkan bibi &8211; bibiku. Akhirnya ibu pulang, aku lalu segera membeli bensin, mengambil belanjaanku dan kembali ke rumah bibi. Sesampainya di sana hari masih belum terlalu siang, kulihat si Ucil yang agak merengut karena tidak kuajak. Aku godain saja dia, akhirnya aku bilang ke bibi mau ajak si Ucil pelesir ke tempat wisata dekat kampung sini, tanpa diduga bibiku mau ikut juga, katanya iseng nggak ada kegiatan, toh sawah dan kebun sudah ada yang ngurus. Akhirnya kami berangkat, karena jalan di kampung, nggak perlu helm. Sempat berpapasan dengan bi Lasmi, katanya sayang naik motor jadi nggak bisa ikut, berpesan agar aku tidak ngebut dan hati &8211; hati. Akhirnya kami tiba di sana, tempat wisata alam dengan permainan anak, karena hari Sabtu dan masa liburan jadi mulai agak ramai. Si Ucil mulai heboh menunjuk mau main ini &8211; itu, bibiku hanya tertawa dan memberiku uang untuk membeli karcis. Kami bertiga bersenang &8211; senang di sana, si Ucil sudah kayak dinamo mobil &8211; mobilan Tamiya saja, muter terus ke sana ke mari. Agak sore kami makan bakso di tempat makan di situ. Si Ucil masih sibuk bermain, aku dan bibi hanya mengawasi. “Bibi senang, kamu memutuskan tetap berlibur, jadi si Ucil ada temannya. Kamu pakai saja motor itu kalau mau pergi. Kalau memang sempat bibi ikut, tapi kalau nggak, sama si Ucil atau ajak saja bi Lasmi, pasti dia senang juga.” “Oh ya, itu motor siapa bi, punya almarhum mang Wawan ya…?” “Iya…bibi juga kagak gitu paham, si Wawan geblek itu kan mati kecelakaan. Bibi juga kurang paham prosedurnya, nggak ngerti urusannya, setelah peristiwa itu, bapaknya yang juga kakek si Ucil kirim tuh motor, katanya ganti asuransi, dia bilang buat bibi saja, di rumahnya banyak, ini buat ajak jalan si Ucil, tapi itu pun bibi juga jarang pakai.” “Oh…” Aku hanya ber-Oh saja, tapi aku sempat menangkap sepertinya bibiku rada jengkel dan juga agak kasar membicarakan almarhum suaminya. Mungkin bibi menangkap kebingunganku, dia hanya tersenyum, sambil bilang nanti di rumah akan dia kasih tahu. Kami lalu kembali ngobrol, mataku sempat memandang beberapa sejoli yang sedang kasmaran, aku hanya nyengir saja, bibiku sempat melihat dan kembali meledekku, rupanya kemarin kalau ada ibu, bibi nggak berani terlalu vulgar. Kuperhatikan wajahnya sekilas, memang cantik dan terus terang wajahnya memang agak mengundang, setahuku sudah hampir 3 tahun, bibi menjanda, rasanya wanita secantik bibi agak aneh kalau sulit mencari pasangan lagi, aku hanya diam saja berpikir, akhirnya karena hari sudah sore, bibi mengajakku pulang. Si Ucil tertawa terus sepanjang perjalanan pulang. Akhirnya kami tiba di rumah. Bibiku lalu memandikan si Ucil, nggak lama bibi juga mandi, dan mulai menyiapkan makan malam. Aku juga segera mandi dan memasukkan motor. Kini bibi sudah kembali memakai busana favouriteku, kini mataku bisa bebas jelajatan, nggak ada ibu sih, bibi sendiri sih cuek saja. Selesai makan si Ucil, nonton TV bersamaku, nggak lama ketiduran, si Ucil ini kalau sudah tidur, parah, nggak bakalan bangun kalau dia belum puas, dicolek atau digoyang &8211; goyang juga kagak bakal bangun, tahu kalau disiram air seember hehehehe. Aku gendong si Ucil, karena ibu sudah pulang, si Ucil tidur kembali di kamar bibi, aku yang menggendong, nyelonong masuk saja, bibi rupanya lagi berbaring, istirahat, kainnya nampak agak tersingkap, segera dirapikan, aku kaget dan segera minta maaf, bibi bilang tidak apa, dan merapikan tidur si Ucil. Aku sendiri langsung keluar dan menonton TV. Tak berapa lama nonton, kurasakan kepalaku agak pusing dan badanku agak tidak enak, perut terasa mual, makin lama makin kuat, jangan &8211; jangan hamil…hush….sembarangan, kayaknya masuk angin, segera kuberlari ke kamar mandi dan muntah, setelah puas mengeluarkan rasa mualku, kusiram dan kubersihkan mulutku. Keluar dari kamar mandi kulihat bibi sudah menunggu, menanyakan kenapa, aku bilang nggak tahu, tiba &8211; tiba mual, dia bilang pasti masuk angin, karena dari pagi aku naik motor, dan telat makan. Dia menyuruhku tidur saja, nanti dia buatkan teh manis dan obat, juga akan mengerokiku, aku hanya bisa mengangguk lemas dan berjalan ke kamarku. Tak berapa lama bibi masuk dan membawa teh, obat dan minyak gosok. Bibi menyuruhku membuka baju dan telentang, lalu mulai mengerokiku, walau lagi sakit, tapi aku merasakan tangannya halus di punggungku, apalagi dekat denganku. Biar nggak enak badan, tapi yang namanya kont01, terkadang kagak mau ngerti, diam &8211; diam membesar. Bibi masih terus mengeroki punggungku, lalu mulai mengolesi minyak gosok dan memijatku, duh enak banget, mana tangannya lembut. Sampai sini kagak ada masalah, lalu bibi menyuruhku berbalik, katanya depanku juga harus dikerok, biar anginnya cepat keluar……gawat…aku cuma bercelana pendek, mana celanya nggak terlalu besar, bisa tengsin dong aku, kelihatan ada yang bejendol besar di balik celana, aku bilang nggak usah…bibi terus memaksa, bahkan agak mendorong membalikkan tubuhku. “Iya deh bi, tapi jangan marah ya…” “Marah kenapa Den…” “Anu….Deni kan lelaki, terus juga bibi itu cantik banget sih, jadi Deni kebablasan…maaf ya Bi,” aku berterus terang, rada takut dia marah. “Oalah….cuma begitu aja, ya namanya juga baru gede sih, ada &8211; ada saja kamu ini, bibi ini kan jelek, sudah tua….sudah balik saja, nggak usah malu dan minta maaf, memangnya bibi belum pernah lihat kont01, ayo. Kirain kenapa.” Dengan agak malu aku membalikkan badan, nampak dari celanaku ada tonjolan yang besar, bibiku melihatnya sekilas, nyengir dan mulai mengeroki dadaku. Sedang aku makin ngaceng saja, karena bisa melihat dengan jelas belahan dadanya, bulu keteknya saat mengerokiku dari depan. Sesak banget rasa celanaku. “Den..Den, kamu ini, sama bibi yang sudah tua kok masih bisa ngaceng….sudah kagak perlu malu gitu, wajar kok, namanya juga baru remaja, sedang masa pertumbuhan.” “Iya…Bi, tapi sumpah kok, bibi cantik juga belum tua. Kalau di sini memangnya seumur bibi sudah masuk kategori tua ya…nggak lah. Mana masih montok lagi.” “Ah…kamu ini, jangan ngeledek ah” “Benar kok bi, maaf ya, apalagi dengan pakaian kayak gini, aduh bi, maaf deh, jangan marah dan salahkan Deni, benar &8211; benar membuat nafas berdetak cepat.” “Lha…apa toh yang salah dengan pakaian kayak gini, biasa atuh di kampung sini.” “Iya…tapi di Jakarta kan kagak ada bi. Apalagi bibi yang memakainya, terus terang saja, Deni nggak mau bohong nih, waktu melihatnya rasanya jantung Deni mau copot. Namanya juga anak laki bi, bukannya mau kurang ajar, tapi melihat bibi seperti itu duh….” “Ah..kamu ini, memangnya kenapa dengan begini..? Memangnya kamu mau apa..? Paling juga kont01 kamu ngaceng, terus kamu kocok…iya kan. Bibi mah nggak yakin kamu sudah pernah begituan. Sudah paham kalau anak seumuran Deni lagi sedang panas &8211; panasnya.” “Iya sih….maaf deh bi.” “Sudah…dari tadi minta maaf melulu, bukan salah kamu, habis mau gimana lagi, bibi biasanya memang berpakaian begini kalau di rumah, toh hanya ada kamu keponakan bibi, sudah seperti anak juga. Ya, memang sih usia kamu lagi tanggung, jadi bibi maklum dan paham deh dengan keadaan kont01 kamu. Nah sudah selesai, sekarang, minum obatnya.” “Terimakasih ya Bi, sekarang Deni, tidur dulu istirahat.” “Eh…tunggu dulu, masih ada lagi, kondisi kayak gini kagak bagus dibiarkan, sebenarnya bibi mau saja membantu, tapi tangan bibi masih panas dengan minyak gosok.” “Apaan lagi Bi…?” “Sekarang kamu buka celana kamu…!” “APA…??? Maksud bibi apaan, dan apa hubungannya sampai harus buka celana.” “Huh dasar kamu ini, otaknya pasti sudah ngeres…hehehe. Dengar ya Den, kalau kont01 yang lagi ngaceng itu kamu dibiarkan, akibatnya jelek ke badan kamu yang lagi masuk angin ini, bisa jadi panas, karena nggak dikeluarkan, efeknya menambah panas badan, tapi kalau kamu keluarkan rasanya jadi adem ke badan. Percaya deh, bibi serius kok, dari pengalaman dengan suami bibi yang pertama..” “Ah becanda saja deh bibi ini.” “Benar kok, bibi serius, sebenarnya bibi mau bantu kamu, toh kamu masuk angin juga karena ngajak Ucil sama bibi, sudah nyenangi kami, jadi bibi nggak sungkan, toh biar kamu cepat baik. Namun nggak bisa, takut nanti kont01 kamu kepanasan. Sudah kamu sendiri saja ya. Bibi mau beresin bekas ngerokin kamu.” Aku masih ragu, masih nggak percaya dengan kecuekan bibiku mengatakan hal tadi dengan sangat ringan tanpa beban kepadaku, secara logika yang dikatakannya memang masuk akal, tapi tetap saja aku jadi agak jengah mendengarnya. Duh…gimana nih enaknya..??? Bibi sudah bersiap mengangkat gelas dan piring kecil minyak gosok. “Nggg….baiklah, tapi bibi temani ya…,” aku nekat saja deh. “Den..Den…ada &8211; ada saja kamu ini, tinggal kocok bereskan, sudah sering kan..? Ngapain juga bibi temani.” “Kan bibi yang menyarankan, jadi bibi tungguin dong, biar jelas…sudah deh temani saja, katanya mau Deni cepat sembuh. Bibi nggak malu kan…?” Kayaknya ucapan terakhirku pas menembak sasaran. Akhirnya Bibi kembali duduk di pinggir tempat tidur. Agak kikuk dan nyengir. Aku juga sama, nyengir saja buat menghilngkan aura canggung yang ada, aku lalu mulai menurunkan celanaku perlahan, ketika akhirnya celanaku sudah lepas, kulihat wajah bibi agak terkejut, dan menatap kont01ku. Aku sih tidak merasa ada yang beda dengan kont01ku, biasa saja, dibanding dengan pemain film bokep yang kutonton, kalah jauh. Punyaku maksudnya. “Ngg…nggg..ge..gede juga kont01 kamu ya Den.” “Masa sih bi ? Deni mah kagak paham, menurut Deni biasa saja.” “Den, percaya kata bibi deh, sudah pengalaman, barang kamu itu gede, si Wawan mah kagak ada kayak kamu. Lagipula kamu masih masa pertumbuhan, masih bisa bertambah. Perempuan pasti senang ngelihat kont01 kayak punya kamu.” Aku pun mulai mengocok kont01ku, sambil melihat kutang bibiku, bibiku terus menatap kont01ku, kulihat sesekali dia meneguk ludahnya, duduknya agak gelisah, aku sendiri sudah cukup puas dengan kondisi ini, nggak berniat lebih, cukup melihat bibiku dengan kutangnya sudah bisa menyenangkan kont01ku saat ini, terlebih melakukan onani disaksikan bibiku menimbulkan sensasi tersendiri. Aku kocok kont01ku dengan cepat, mataku terus melihat tetek bibiku, bibiku makin gelisah melihat kont01ku yang sudah agak memerah karena cukup lama kukocok. Akhirnya aku merasakan mau keluar, bibi paham dan segera mengambil kain, lalu aku segera memuncratkan pejuku ke kain tersebut. Memang rasanya badan dan pantatku jadi agak ringan, juga tidak terasa terlalu panas lagi. Bibi masih diam melihat kont01ku, aku segera melipat kain dan berbicara, bibiku tersentak kaget… “Benar juga bi, rasanya jadi lebih enak…bi….bi…bibiii…” “Ha…apa Den…???” “Deden bilang, badan rasanya jadi lebih enak..” “Oh ya…syukurlah…benar kan kata bibi. Nah sekarang kamu tidur, istirahat. Terus pesan bibi, kalau memang lagi ngaceng, jangan suka sering ditahan, lebih baik dikeluarkan biar lebih baik buat kesehatan. Ditahan &8211; tahan malah jadi sengsara, kalau dikeluarkan jadi lega dan meringankan pikiran, Sudah, kamu istirahat, bibi mau tidur juga, kamu kalau ada perlu apa &8211; apa panggil saja atau datang ke kamar bibi.” Di kamarnya Ratna berbaring agak gelisah, dilihatnya anaknya, si Ucil sudah tidur pulas sekali, ia tersenyum sesaat. Lalu kembali hanyut dalam lamunannya. Memang dia merasa malas untuk berumah tangga lagi, tidak setelah pengalaman buruknya bersama suaminya yang terakhir. Saudaranya juga sampai bosan menyuruhnya agar berumah tangga lagi. Bukan maunya mengalami hal ini, tak ada wanita yang mau rumah tangganya hancur, tak ada, semuanya pasti mau bahagia. Perkawinan pertamanay sebenarnya tak ada masalah, hanya nasib menentukan suaminya harus meninggal karena sakit. Ia mencoba bangkit, membina rumah tangga lagi, ternyata lebih parah, suaminya yang kedua sangat bejad. Ratna mencoba bertahan, tapi itu juga ada batasnya. Minta cerai juga tak bisa, akhirnya nasiblah yang membebaskannya. Tapi setelah kejadian itu, hatinya terluka, merasa takut berumah tangga. Memang ia tak menunjukkan sikap canggung pada lelaki, juga tak sungkan berbicara dengan vulgar, sebenarnya kalau mau jujur itu juga untuk menutupi rasa kurang percaya dirinya. Buat urusan berumah tangga, Ratna sudah mantap untuk tak mau berumah tangga lagi, ia masih mampu mebiayai Ucil tanpa perlu sosok seorang suami. Toh kakeknya Ucil juga masih membantu mengirimkan uang buat cucunya ini. Ketika akhirnya ia menjanda….lagi, memang tak sedikit lelaki yang mencoba peruntungan untuk memperistrinya, mulai dari yang bujang samapi yang sudah beristri. Mulai dari yang seumuran dengannya, lebih muda dan perjaka, sampai yang sudah uzur, tapi tetap tak mengubah keputusannya. Tapi walau begitu untuk urusan hasrat, dia agak keteteran. Di usianya sekarang ini masih butuh kenikmatan hubungan seks. Dia coba meredam dan memadamkannya, walau sulit dan menyiksa batinnya, toh ia mampu. Bekerja di sawah dan kebun, mengurus rumah juga si Ucil mampu mengalihkan gairahnya. Walau ingin, namun ia memilih memadamkannya secara sadar. Tapi tadi saat melihat kont01 keponakannya, Deni, dia merasa api gairah dalam dirinya mulai menyala dan tersulut. Ratna menghela nafas….gelisah, lalu ia memejamkan matanya. Tidur…daripada berpikiran yang tidak &8211; tidak. Deni masih memikirkan hal yang barusan, rasanya masih belum percaya, otaknya mulai nakal, kayaknya sih bakalan hilang keperjakaanku di tempat ini, dan kalau dengan bibiku, aku rela dan tidak akan menyesal, rasanya sih tidak akan sulit memikirkan caranya, apalagi kayaknya bibiku terpesona dengan barangku. Kont01nya kembali ngaceng….tak berapa lama akhirnya Deni mengantuk, mungkin pengaruh obat dan kerokan tadi, akhirnya ia tertidur. Tengah malam Deni terbangun, melihat jam di HP nya, jam 1 malam, sudah lama juga ia tertidur, badannya sudah enak rasanya, nggak meriang lagi, pusingnya juga sudah hilang, kebelet pipis, ia segera menuju kamar mandi, pipis, lalu minum, ngantuknya sudah hilang, akhirnya ia seduh kopi, sudah…nonton bola saja, kan jam segini kalau minggu dinihari banyak siaran langsung. Ia kembali ke kamar, membuka tas, mengambil rokok. Ia nyalakan TV pelan saja, bahkan sangat pelan, tidak terdengar dari kamar bibi, takut mengganggu, mencari siaran bola, menyalakan rokok dan meminum kopi..otaknya kembali membayangkan kejadian tadi, juga tubuh bibinya, siaran bola jadi tak menarik. Deni mulai berpikir mencari cara, nggak mau main tubruk saja, yang pasti bibinya sudah lama nggak merasakan berhubungan seks, entah bagaimana namun nalurinya sangat pasti akan hal itu, ia mesti memanfaatkan ini, lagipula ia masih pemula jadi nggak bisa seenaknya. Kalem saja mengikuti alur. Tak perlu tergesa, masih banyak waktuku, masih ada hampir 5 minggu sisa liburanku. Setelah rokok dan kopi habis, dia matikan TV, membereskan gelas dan asbak, lalu Deni melangkah….ke arah kamar bibinya. Kamar bibi memang tidak pernah dikunci, bahkan pintunya jarang ditutup, hanya ditutup gorden kalau malam. Deni belagak saja, kalau tengsin, tinggal bilang dari WC, karena masih ngantuk dan agak kurang enak badan jadi salah kamar. Dilihatnya si Ucil masih pulas, ngorok lagi…dasar si Ucil, bibi juga tertidur, tanganya terangkat memperlihatkan barisan bulu keteknya yang aduhai, kutangnya agak kendor, sehingga tetek besarnya seperti mau tumpah saja, ia segera naik ke atas tempat tidur, sengaja menyenggol tubuh bibinya agak keras saat merebahkan tubuh. Lalu Deni pura &8211; pura sudah tertidur, kurasakan bibi kaget karena tersenggol tadi, sempat bingung sejenak, lalu melihat Deni yang tertidur, posisinya memunggunginya, deni merasakan tangan bibinya menggoyang tubuhnya… “Den…Den…hei ngapain kamu tidur di sini…Den…” “Wah…ngelindur nih bocah, habis pipis kali, ya sudahlah biarin saja, kasihan, mungkin masih meriang.” Deni mendengar suara bibinya yang masih agak mengantuk. Kembali melanjutkan tidurnya. Ia kini hanya diam saja, memunggunginya, belum berani bergerak atau membalikkan badan. Kulihat jam dinding di tembok, jam Suasana masih hening, hanya terdengar suara ngorok si Ucil yang seru sekali tidurnya. Kulihat jam…jam setelah yakin ia balikkan tubuhnya, bibinya nampak tertidur pulas, kulihat satu kakinya agak menekuk, kainnya agak tersingkap…..astaga, bibiku tidak memakai celana dalam pikirr Deni. Ia hanya meneguk ludah menyaksikan m3meknya yang indah, bulu jembutnya sangat rimbun dan hitam. Posisi badannya agak miring, teteknya nampak menonjol mau keluar dari balik kutangnya. Deni masih berdiam diri menikmati pemandangan indah ini, mataku terus menatap bergantian ke arah kutang dan m3meknya. Perlahan Deni menurunkan tubuhnya, Ia dekatkan wajahku ke m3meknya, nampak mempesona dengan belahannya yang panjang. Ia puaskan menyaksikan pemandangan yang baru pernah disaksikan secara nyata dan sedekat ini selama hidupnya. Kont01nya berdenyut keras meronta &8211; ronta di balik celanannya. Ia beranikan tangannya secara perlahan menyentuh jembut bibinya, tebal dan rimbun. Lama Deni memelototi m3mek bibinya, hanya ini saja yang bisa ia lakukan, belum berani lebih. Puas, Deni kembali naikkan tubuhnya perlahan, kini menyaksikan bulu ketek dan teteknya, kalau saja….ya… ia menjulurkan pelan tangannya, perlahan menarik pelan ujung kutang bibinya yang sudah melonggar, pelan &8211; pelan…….yessss, seakan meloncat bebas satu tetek besarnya saat akhirnya bagian sebelah kutangnya berhasil ditarik…..Ampyunnnn…..besar dan putih bersih sekali teteknya, besar, bulat dan masih kencang. Pentilnya seperti tombol volume suara radio, berwarna coklat agak gelap, dihiasi lingkaran aerola yang besar dan lebar di sekelilingnya. Deni menelan ludahnya menikmati keindahan tetek bibi Ratna ini. Tangannya mengelus bulu keteknya, lalu setelah mempertimbangkan ia sentuh perlahan pentilnya….Oooohh nikmatnya, jadi inilah rasanya memegang pentil tetek besar bibi ratna. Lama Deni memegangnya, memilinnya lembut, nggak berani menciumnya, masih takut bibinya terbangun dan marah. Deni merasakan pentil bibinya mulai membesar dan mengeras saat dimainkan, teteknya terasa kenyal saat tersenggol tangannya. Tangan Deni yang satu lagi sibuk mengelus kont01nya sendiri. Bibinya mulai menggeliat, Deni jadi makin senang memainkannya, lama &8211; lama bibinya makin sering geliatnya, nampaknya akan segera terbangun nih, segera Deni menghentikan kegiatan tangannya, dengan cepat dan tanpa suara ia membalikkan tubuhnya, pura &8211; pura tidur pulas. “Ugh…Wah…mimpi apaan aku tadi…kok enak rasanya.” “Lho…kenapa tetekku bisa keluar begini….Nggg…mungkin kendor talinya…memang mesti dijahit lagi, untung si Deni masih tidur.” Lalu kudengar bibinya merapikan baju dan kainnya, merasakan tubuh bibinya melangkah dirinya, nampaknya bibi mau turun, ketika bibi keluar, kulirik jam dinding, sudah jam 5 lewat, terdengar suara di kamar mandi, lalu kesibukan di dapur, nampaknya bibiku memutuskan untuk bangun. Deni rada kecewa tapi ya sudahlah cukuplah rejekiku saat ini pikirnya. Deni lalu melanjutkan tidurku….masih dengan kont01 yang ngaceng. Paginya Deni terbangun jam 8 lewat, kulihat si Ucil sudah tak ada di tempat tidur, ia lalu keluar kamar, melihat bibinya sedang menyuapi si Ucil, dia menanyakan kondisi Deni, bibi bilang semalam aku ngelindur, habis pipis, salah masuk kamar, tapi bibi tak tega membangunkan, Deni pura &8211; pura kaget dan minta maaf, nampaknya bibi tidak lalu menanyakan aku mau sarapan apa, aku bilang apa saja. Deni mengambil handuk lalu mandi. Di kamar mandi Deni ngocok lagi melepas beban tadi subuh, lega rasanya. Saat sarapan, bibi bilang mau ke kebun, Deni bilang mau ikut. Jadilah kami bertiga ke sana, jalan kaki. Di sana ketemu bi Lasmi. Kubantu bibi di sana sambil bermain dengan Ucil. Pekerja yang di sana sudah tahu siapa Deni. Tengah hari kami pulang untuk makan, lalu Deni mengajak Ucil berenang dan memancing. Saat mancing pikiran ngeresku kambuh…..duh kayaknya kagak bisa tahan lagi nih, apalagi setelah melihat aset bibiku….gimana juga caranya nanti malamharus…harus…tekadku membara, nggak sadar umpan kailku sedang dimakan ikan, ketika sadar sudah habis umpannya, Ucil tertawa geli….dasar Ucil…habis ibumu terlalu membuat nafsu sih. Sorenya kami pulang, setelah mandi lalu makan. Setelahnya kuajak Ucil nauk motor sebentar, biar dia senang dan cepat tidur. Pulangnya Ucil nonton TV sebentar, bibi juga ikut nonton, tak sampai satu jam Ucil sudah tertidur, bibi mau memindahkan, tapi Deni melarang, biar Deni saja, bibi tersenyum berterimakasih. Setelah itu Deni membawa Ucil ke tempat tidur, tidur yang pulas ya Cil…Aa…ada perlu sama ibumu. Deni keluar, menanyakan apa bibinya mau kopi susu, lalu menyeduh 2 gelas, kembali duduk dan menyaksikan TV sambil mengobrol ringan, matanya bergantian dari TV dan kutangnya. Deni memulai percakapan “Bi…katanya mau cerita tentang Mang Wawan, itu kalau bibi mau lho…” “Ah…nggak ada yang perlu diceritakan dari si Wawan brengsek itu..” “Lho kok gitu….ceritakan dong bi. Kan bibi sudah janji…hayo…jangan ingkar janji.” “Baiklah karena kamu memaksa, ibu dan bibi kamu juga sudah tahu, bibi nggak merasa malu cerita ke kamu, karena bibi sebel banget sama dia.” “Lho dia kan suami bibi, bapaknya Ucil.” “Iya, tapi kelakuannya itu memuakkan. Kamu tahu Den, dia itu memang anak satu &8211; satunya, bapaknya pedagang hasil bumi yang sukses di daerah sini. Terlalu memanjakannya. Waktu kenal bibi, bibi pikir dia lelaki baik dan rajin, ternyata bibi salah. Dia cuma berpura &8211; pura saja waktu itu, untuk menarik simpati bibi. Orang tuanya senang saat dia memutuskan menikah dengan bibi. Apalagi saat mendapatkan cucu.” “Terus apa yang salah bi….???” Bibi mengambil nafas sejenak, mereguk gelas kopinya, lalu kembali menerangkan… “Dengar dulu, bibi belum selesai, seperti kata bibi tadi, orang tuanya memang kaya, terlalu memanjakannya yang hanya anak tunggal, bibi nggak mau punya laki yang kerjanya hanya foya &8211; foya dan mabuk &8211; mabukkan. Sudah tebal kuping bibi mendengar omongan orang tentang kelakuannya yang suka main perempuan. Bibi nggak mau punya laki yang hanya menerima dari orang tuanya, bibi punya kebun dan sawah, dia bisa bantu mengelola, atau dia bisa kerja sama bapaknya, sebagai suami dan bapak si Ucil memang sudah kewajibannya untuk bekerja, tapi ya itu tadi memang selalu dimanja orang tuanya,apalagi setelah memberikan cucu.” “Iya juga sih….Deni bisa mengerti…” “Sifatnya kalau lagi mabuk itu amat menjengkelkan, belum lagi suka marah &8211; marah, mau enaknya saja, juga ringan tangan, rasanya bukan ini perkawinan yang bibi impikan.” “Wah nggak boleh begitu dong, masa jadi suami main pukul sih…gemes banget nih Deni dengarnya.” “Setahun sebelum ia mati, sifatnya makin menjadi &8211; jadi, saking kesalnya bibi sampai nggak sudi lagi punya anak darinya, cukup Ucil saja. Tanpa sepengetahuannya bibi memasang alat kontrasepsi. Rasanya malas dan tak rela buat hamil anak lelaki bejad itu.” Deni mengangguk sok tahu, mencoba meyakini bibinya bahwa ia sependapat. “Terus kenapa mang Wawan meninggal..?” “Bibi masih ingat jelas, waktu itu hujan, si bejad itu pulang mabok, bawa cewek nggak benar lagi, kagak peduli istri sama anaknya, kalau cuma itu saja biarlah, bibi masih tahan, tapi ini dia panggil bibi, suruh menyaksikan dia ngewek sama itu perempuan sundal itu. Mending kalau cakep, kayak ondel &8211;ondel menor begitu. Kalau menolak, bibi dia tampar dan tendang, akhirnya bibi diam saja melihatnya, edannya lagi dia suruh bibi melayani tingkah bejatnya, waktu bibi menolak dia marah, ditamparnya bibi, diancam akan dia hajar habis &8211; habisan, akhirnya bibi turuti, hampir seperti pemerkosaan saja, karena bibi nggak rela. Perempuan sundal itu malah ketawa &8211; tawa, sakit hati bibi.” “Gilaaaa…Keterlaluan banget, sudah punya istri secantik bibi masih main perempuan juga, pake acara bawa ke rumah lagi, pantas saja bibi benci sama dia. Bego banget tuh orang.” “Bibi teruskan ya, selesai dengan nafsu bejadnya, dia melanjutkan minum &8211; minuman yang sudah dibawa bersama dengan perempuan itu, untung si Ucil sudah tidur saat peristiwa itu. Akhirnya setelah puas mabok dan memaki bibi, kedua laknat itu pergi, dan terjadilah kecelakaan itu.” “Oh ya…gimana tuh ceritanya bi…??” “Kamu tahu kan, tikungan yang curam dan tajam di dekat kali situ…? Nah waktu itu jalannya belum bagus dan terang kayak sekarang, dulu masih jelek dan gelap, belum ada tembok sama besi pembatas, apalagi hujan saat itu, mungkin karena mabok, motornya tak terkontrol, saat berpapasan sama mobil angkot yang baru mau pulang, kedua laknat itu jatuh ke bawah, ke dasar yang dalam, langsung tewas seketika. Anehnya bibi tidak merasa sedih tuh. Malah senang, sakit hati bibi terbalas dengan cepat. Lalu bapaknya, abahnya si Ucil, nampak menyesal karena terlalu memanjakannya, dan nampaknya tahu kelakuan anaknya, dia meminta maaf sama bibi. Untuk si Ucil dia akan menanggung dan membiayainya, sebenarnya dia meminta Ucil tinggal bersamanya, tapi bibi masih keberatan dan Ucil juga belum mau.” Suasana jadi agak canggung setelahnya, gila…ngaco banget tuh si Wawan, bini cakep kayak gini masih doyan saja main perek, dasar, pantas saja umurnya pendek, pantas bibi benci sama manusia itu. Untuk mencairkan suasana Deni mulai mengalihkan pembicaraan ke hal lain, akhirnya suasana menjadi santai kembali, setelah beberapa lama, Deni mulai menggiring arah percakapan….. “Bi, mulai besok selama Deni nginap, jangan pakai pakaian begini lagi ya, ganti deh, pokoknya selama sisa liburan Deni, tolong ya….” “Lha kenapa si Den..??? Bibi sudah biasa, nggak mau ah…” “Aduh bi, Deni kan lelaki, ribet jadinya, kasihan dong sama Deni, anunya tegang terus.” “Kan bibi sudah bilang, kalau memang begitu ya keluarin saja, kan beres.” “Oh gitu ya bi,….ya sudah…” Memang ucapan ini yang Deni tunggu, tanpa basa &8211; basi lagi, Deni berdiri dan menurunkan celananya, lalu duduk kembali dan dengan santai mengocok kont01nya yang sudah tegang. Bibinya nampak kaget melihatnya. Bersambung Ibu, dan Kedua Bibiku Chapter 2 perkenalkan gw Ranis Widyaningrum, umur gw 18 tahun dan tinggal bersama kakek gw . gw seorang baby sitter. Cerita Dewasa Pemerkosaan ini terjadi pada gw setahun yang lalu ketika selesai sekolah, ketika itu umur gw masih 17 tahun. pada suatu hari teman gw menawarkan pekerjaan dan akan membayar gw dengan mahal dan gwpun menerimanya tawaran pekerjaan itu. Tugas pertama gw berada di tempat yang tidak terlalu baik, gw terkejut bahwa seseorang dari daerah yang berbahaya, namun tetap ingin menjadi baby sistter karena gw butuh duit saat itu. Hanya saja hari aku harus pergi dengan rok yang sangat pendek dan tidak mengenakan BH, gw turun kejalan dan semua orang menatapku dengan penuh nafsu, gw mempercepat kecepatan dan akhirnya pulang. dan tiba disebuah rumah yang indah dengan halaman penuh bunga dan seekor anjing pitbull diikat di samping pohon, sangat kontras dengan rumah-rumah lainnya. Majikan gw mengatakan kepada gw bahwa akan ada acara reuni dan istrinya sedang mandi. akupun diajak pergi ke ruangan dan melihat sekitar 14 atau 15 orang, tampak seperti reuni, aku tidak mempertanyakan dan aku duduk di kursi di depan mereka. Semua menyaksikan kaki dan leher tapi aku tidak peduli karena aku lelah, melihat ke sekeliling, gambar, foto, namun tidak ada tanda-tanda anak-anak, hanya lukisan wanita telanjang dan lukisan pemandangan alam yang bagus. pemilik rumah mengajak gw minum, Orang-orang mengikuti gw dan menonton dan aku khawatir dan mengatakan bahwa dia harus pergi ke kamar mandi, gw jadi pergi dan melihat semua kamar dan tidak ada anak atau suara, hanya kamar kosong dengan kasur. Ketika gw meninggalkan orang itu mengatakan datang untuk mengetahui kamar anak-anak dan ada bahkan mulai, gw mengatakan kepadanya di mana mereka dan dia bilang sini pintu depan dan membuka semua orang keluar ruangan tertawa dan mengatakan bahwa? Dimana? dan dia bilang kami akan mengurus yang jalang dan mulai turun celana mereka dan gw bilang maaf ini adalah lelucon yang lewat aku pergi dari sini,? ok? dan kemudian menutup pintu dan melemparkan gw ke tempat tidur dan mengancam akan berteriak dan mulai melecehkan gw dalam empat atau lima aku tertangkap aku tidak menjerit dan membuka kaki gw dan memegang tangan dan leher. Ia akan diperkosa. Orang yang adalah pemimpin, atau pemilik rumah, tidak membuang waktu, aku menarik celana dan merambah gw keras, aku hanya bisa menangis dan berkabung karena aku telah menutup mulutnya lalu lain datang dan merambah dari belakang dan akhirnya yang terbuat aku menghisapnya sampai mati 5 lainnya atau 7 yang telah membelai dan melakukan masturbasi gw menunggu giliran. Aku tidak bisa mengikuti, orang-orang ini memiliki anggota tampak anjing besar dan fanatik sakit dan alami. Dalam serangan ini setelah begitu banyak ejakulasi setuju untuk melakukannya pada waktu yang sama dan lebih dari mereka dan melakukannya lagi. Jadi mereka bergantian di kalangan sementara mereka meraih lima orang lainnya 3 aku diperkosa. Pada satu titik mereka membebaskan gw tanpa khawatir karena sudah mati dan shock, jadi kita akan pernah sekitar 4 atau 5 jam lurus karena aku bisa melihat melalui jendela saat sudah sore hari dan orang-orang ini tidak berhenti penetrasi gw , dibuat gw yang mengisap dan ejakulasi dalam diri gw , memukul gw , mereka tertawa, meludahi gw , menghina gw , menjilati kaki gw bahkan dengan sepatu sandal-jenis yang gw biaya begitu banyak dan yang pecah, aku menggigit tangan gw , payudara gw menggaruk punggungnya, membuat gw melihat diriku di cermin dan hantu muncul bernoda dan dipermalukan oleh kuda hitam dengan penis dan Anda bisa melihat bahwa dia tidak punya hubungan dalam waktu yang lama. Apakah ejakulasi dari kepala hingga kaki, punya orgasme spontan bahkan mengerang seolah-olah dia menikmatinya dan hanya mendorong lebih, mereka menempatkan perangkat, aku merobek gaunku yang gw biaya banyak. Pada malam itu dan 7 akan datang sekaligus, adalah polisi, tetangga rupanya mendengar dari sisi lain dinding di bagian rumah yang terlampir dan menelepon polisi. Mereka ditangkap. Polisi masuk dan salah satu dari mereka bergumam fuck, modal, lihat ini dan gw terlempar dan tali shock emosional tapi masih sadar. Aku pingsan ketika gw melihat mereka. Mereka sekarang dipenjarakan selama sepuluh tahun dan perusahaan memberi gw beasiswa untuk studi gw . tidak ada kasus terhadap mereka dan gw pergi ke psikolog. Kakek dan nenek gw yang baik dan membantu gw begitulah cerita pemerkosaan dewasa yang gw alami sendiri sunguh tragis memang tapi nasi sudah jadi bubur semua telah terjadi gw pasrah saja menjalani idup ini! Cerita Dewasa Pemerkosaan ngentot baby sistter ini akan berlanjut ke cerita dewasa ngentot selanjutnya Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi. Cerita Sex Ngentot Dengan CERITA JAMIN SANGE - SEKS DENGAN BIBI ADIK AYAH.Saat itu sy masih duduk dibangku kelas 3 SMU. Saya jg belum mengenal tentang sex lebih... Selingkuh Dengan Bibi Yang Sudah Lama Jablay Cerita Sex Cerita Sex Bibi Kandung Ia tinggal sendirian bersama kedua anaknya, semenjak suaminya meninggal ketika aku masih SMP ia mendirikan usaha sendiri di kota ini. Yaitu berupa rumah makan yang lumayan laris, dengan bekal itu ia bisa menghidupi kedua anaknya yang masih duduk di SD.

cerita seks dengan bibi