cerita seks bulan madu
ceritaseks cerita seks: isteriku iza cerita seks: percutian seks Cerita seks : seks dengan cikgu yang gersang Kisah sebenar kepuasan seks Milah curang dengan suami adik adik iparku aku dan adik aku awek cina berkongsi isteri bini datuk cerita seks : seks dengan adik sendiri cerita seks : seks dengan ipar cerita seks bersama cikgu faridah .
CeritaSex: Aku Pemuas Ayah Mertuaku -. Cerita Sex: Aku Pemuas Ayah Mertuaku - Aku berkenalan dengan Ridho suamiku pada saat kami kuliah di Institut Tekstil, aku mau dinikahi oleh dia bukan karena dia anak pengusaha akan tetapi memang didasari oleh cinta kami yang tumbuh sejak pertama kali kita bertemu, bahkan sayapun tidak tahu kalau latar
04Cerita Seks Ngentot Syahrini, Syahrini mempunyai paras yang cantik, rambut panjang, buah dada besar walau tidak montok, tinggi tubuhnya tidak tinggi 29 Mei 2015 10 Januari 2018 amburadul776 cerita budak seks, cerita dewasa hot, cerita gadis seks, cerita seks tidur Kisah Cerita Dewasa Keperawanan ku hilang Di Tengah Malam Setelah ku minum
Tetapipernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Erkam sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.
Minggu 01 Mei 2016. Cerita Seks : Kisah Bulan Madu Anak Kost
mở bài bằng lí luận văn học. Cerita Dewasa Bulan Madu - Pengalaman menarik ini kami alami sewaktu kami berbulan madu di Pulau Bali dan Lombok. Waktu itu sedang low session jadi keadaan tidak seramai kalau sedang hari libur, di mana kami melakukan hubungan seks di tepi pantai yang sepi sambil membuat film dokumentasi adegan kami tersebut, juga sewaktu kami di hotel kegiatan kami sempat diintip oleh seorang pegawai hotel. Saya dan Vonny senang sekali bereksperimen dalam melakukan hubungan seks, dari segala macam gaya, alat-alat bantu seks sampai membuat foto dan film hubungan seks kami Vonny istriku itu kukenal sejak masih SMA, ia adik kelasku, hingga setelah selesai kuliah ia akhirnya kunikahi. Sejak SMA kami sudah sering melakukan hubungan seks, apalagi sewaktu kuliah, karena kami berada di kota Malang meskipun tidak sekampus tetapi karena tempat kostku yang bebas jadi kami sering melakukan hubungan seks di tempat kost. Sebenarnya kami juga mempunyai cerita yang menarik sewaktu masih kuliah dulu, tetapi saya ingin menceritakan pengalaman yang satu ini dahulu. Siang hari sekitar pukul akhirnya kami berdua sampai di Pulau Bali, dari airport kami di antar taksi untuk mencari hotel di daerah Kuta, sejenak kami melepas lelah, setelah itu kami jalan-jalan di sepanjang jalan di Kuta, Vonny rupanya tertarik untuk membeli beberapa potong bikini untuk dipakai nanti di pantai. Model yang ia beli sangat menggairahkan, kainnya tipis berwarna terang hingga kalau dipakai lalu kena air, dipastikan apa yang dilapisinya akan terlihat dengan jelas, sengaja ia beli itu untuk membuat aku terangsang, lalu ada celana yang hanya ada secungkup kain kecil untuk menutupi rambut kemaluannya, modelnya hanya bertali satu bagian belakangnya hingga belahan pantatnya jelas bebas terlihat, begitu juga penutup dadanya hanya sekedar untuk menutupi puting buah dadanya, selain itu banyak juga yang lain yang ia beli, pokoknya modelnya yang merangsang. Semalam kami di Bali, keesokan harinya kami menyeberang ke Pulau Lombok yang pastinya lebih alami dibanding Bali. Sesampainya di Lombok kami masih harus menyeberang ke Pulau kecil di sebelah Pulau lombok yaitu di Gili Meno. Tempatnya sangat cocok untuk berbulan madu, kami menempati sebuah cottage yang asri, setelah berkemas kami segera menuju ke pantai untuk berenang, mula-mula Vonny masih mengenakan kaos rangkap untuk menutupi bikininya, sesampai di pantai yang berjarak sangat dekat dengan hotel, kami mencari tempat yang nikmat untuk berenang, kami melihat sepasang bule yang sedang asyik bercumbu ria di pinggir pantai yang landai dan berpasir putih itu sehingga kami bisa melihat kalau mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat. "Von, kamu berani nggak seperti mereka itu", tanyaku. "Berani aja, pokok ada kamu aku mau aja", sahut menemukan tempat yang tepat segera kami berdua berenang di air laut yang jernih itu. Kulihat Vonny mengenakan bikini yang transparan hingga menampakkan bayang rambut kemaluannya di pangkal pahanya, sewaktu ia masuk ke air aku tidak dapat menahan nafsuku yang timbul melihat tubuh Vonny yang memakai bikini transparan itu. Payudaranya yang kencang menantang jelas terlihat di balik bikininya, ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan membayang jelas terlihat. Segera saja penisku kerediri tegak melihat pemandangan yang indah itu, segera kuabadikan dengan handycamku tubuh Vonny dari segala sudut dan segala lekuk tubuhnya. "Von, kamu lepasin aja bikinimu itu, kan sama aja kamu seperti nggak make apa-apa kalau kamu pake bikini itu", sahutku. "Enggak ah, malu aku", jawab Vonny. "Malu ama siapa, kan nggak ada orang yang tahu di sini, kan sepi", sahutku. Ia melihat sekelilingnya nggak ada orang kecuali sepasang bule yang sedang asyik main kuda-kudaan. "Iya deh aku lepas ya", jawab Vonny. Tak kusia-siakan sewaktu ia melepas bikininya kurekam terus dengan handycam-ku hingga ia telanjang bulat di tepi pantai, kulepas sekalian celana renangku hingga penisku yang sudah berdiri tegak tadi meloncat keluar seolah merasa bebas dari kurungannya. Tampak olehku tubuh telanjang Vonny. Rambut kemaluannya tampak kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih mulus, serta dua gumpalan buah dadanya yang tegak mengacung membuat nafsu ini menjadi berkobar. Ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu tampak mengencang karena basah oleh air laut, ingin sekali kuremas-remas dan kuhisap ujung payudaranya itu. Kuabadikan semua tingkah laku Vonny yang telah telanjang bulat itu, ia bermain di air yang jernih sambil sekali-kali ia menoleh ke kiri dan kanan melihat kalau kalau ada yang melihat tubuhnya yang telanjang bulat itu. Ia berbaring telentang di pasir pantai dengan posisi kakinya mengangkang hingga tampak belahan lubang vaginanya yang berwarna merah kehitaman itu, kurekam terus adegan ini sambil arah kamera kuarahkan ke bagian vaginanya yang terbuka lebar itu. Tanganku yang satu sambil mengurut penisku yang sudah berdiri tegak sambil sesekali meraba dan meremasi payudara Vonny yang sudah mengencang itu. Rupanya Vonny juga sudah mulai terangsang ketika kuraba vaginanya dan kumainkan clitorisnya, ia lalu meraih penisku dan mengocoknya perlahan sambil mendesah keenakkan, "Ughh..., Ninoo..., gelii, enakk...", sambil tangannya semakin kencang mengocok penisku, akhirnya kutaruh handycamnya di suatu tempat yang tepat agar segala adegan kami dapat direkam dengan jelas, selintas terpikir olehku andai ada seseorang yang mau membantu untuk mengambil gambar dengan handycamku pasti akan lebih bagus lagi hasilnya. Kulihat ke arah pasangan bule itu, ternyata mereka juga sedang melakukan hubungan seks di pasir pantai, kulihat Vonny juga asyik menyaksikan adegan itu dan tangannya yang satu meremasi payudaranya sedang tangannya yang lain dengan dua jarinya tampak sudah berada di dalam vaginanya yang tampak licin mengkilat karena cairan nafsunya tampaknya sudah membasahi liang vaginanya. Kuhampiri Vonny yang telentang di atas pasir pantai itu segera ia meraih penisku dan mengarahkannya ke mulutnya yang mungil dan selanjutnya bagai anak kecil yang sedang makan ice cream, dijilatinya seluruh batang penisku dari ujung kepala sampai ke buah penisku tak lupa dikulumnya sambil sesekali di sedot dengan kuat. "Ufffffff nikmat sekali Von..., terusin isapnya..., isap yang kenceng", karena sudah bangkit nafsunya, Vonny dengan kuat menyedot ujung kepala penisku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingku, rasa yang ditimbulkan sangat nikmat sampai ke ubun-ubun. Segera kubuat posisi yang memungkinkan aku bisa menjilati dan menghisap vagina Vonny yang sudah terbuka itu, ketika kujilati clitorisnya ia menggelinjang kenikmatan sambil kepalaku di jepit dengan kedua belah pahanya, ia rupanya ingin agar aku lebih lama menjilati vaginanya. Dengan dua jariku, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam vaginanya dan mengocok dengan lembut hingga ia tampak mengerang-erang keenakkan, penisku di genggamnya erat sambil terus menghisap-isap ujung penisku. Cukup lama kami saling isap dan jilat hingga aku melihat ke arah pasangan bule itu dan ternyata mereka sedang menyaksikan adegan kami. Kukatakan pada Vonny kalau kita sedang diperhatikan oleh pasangan bule itu. "Biarin aja, biar mereka terangsang melihat permainan seks kita". Bukannya malu tapi Vonny malah lebih ganas dan agresif dalam permainan ini. Kini posisiku telentang di pasir dan Vonny berada di antara ke dua pahaku yang telentang, ia tampak begitu menikmati penisku yang kini sudah basah terkena air liurnya, tak henti-hentinya ia mengisap dan menggigit kecil ujung penisku sehingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa, kurasakan desakan yang akan keluar dari penisku, segera aja kutarik kepala Vonny agar ia melepaskan penisku dari mulutnya, dan kini kurebahkan ia lalu kuhisap ujung payudaranya sebelah kanan sambil ujung yang satunya kumainkan dengan jariku, Vonny tampak menikmati permainan ini sambil tangannya sendiri memainkan ujung clitorisnya, kedua belah pahanya di buka lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah dirinya memasukkan jarinya sendiri. "Ninoo..., ayo masukin penismu di vaginaku dong..., aku udah kepengen nihh", pinta Vonny sambil mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya. Sambil dituntun tangannya kumasukkan ujung penisku ke lubang vaginanya. Vonny yang tampaknya memang sudah kepingin dengan mengangkat pantatnya ia sengaja membuat agar seluruh batang penisku masuk ke dalam vaginanya. "Acchh..., uufffffhh", desah Vonny ketika seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar penisku tetap menancap di vaginanya, kutarik sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat Vonny mengerang-erang keenakkan. Kini dengan ritme yang lebih cepat kutekan-tekan sekuat tenaga hingga mulut Vonny menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun karena nikmat yang dia rasakan membuat ia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan. Kulihat payudaranya bergerak naik turun seirama dengan kocokan penisku di vaginanya. "Niinnoo..., egghh..., aacchh..., aakuu pengen puass dulu ya", pinta Vonny. Tanpa kujawab ia lalu kini berada di atas tubuhku, penisku yang berdiri tegak itu dituntunnya ke liang vaginanya, lalu dengan jeritan kecil Vonny, "Aauu...". Seluruh batang penisku kini amblas masuk ke dalam vagina Vonny yang semakin licin itu, kini ia sepenuhnya bebas menguasai penisku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tanganku meremas-remas kedua bukit payudaranya yang indah itu, ia ingin kedua payudaranya itu kuremas-remas dengan kuat hanya dengan begitu ia merasakan nikmat yang sebenarnya, kini ia tidak lagi bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini ia menggesek-gesekkan vaginanya maju mundur sambil ia meremasi sendiri payudaranya hingga akhirnya ia tampak mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibirnya dan matanya terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya ia terkulai di atas tubuhku beberapa saat. Lalu ia kembali mengocok penisku dengan vaginanya, kurasakan kini vaginanya lebih seret dari yang tadi sehingga menambah kenikmatanku, segera kuminta agar ia berjongkok aja, posisi doggie style adalah posisi kegemaranku, segera Vonny berjongkok sambil membuka lebar pahanya hingga kulihat dengan jelas lubang kenikmatan itu terbuka di hadapanku, vaginanya sangat merangsang sekali, rambutnya tidak terlalu lebat hingga seluruh bagian dalam vaginanya dapat terlihat dengan jelas. Kini kepala penisku kuarahkan ke dalam lubang itu, dengan sekali dorongan, masuklah sebagian penisku ke dalam vagina Vonny. Vonny menjerit kecil ketika sebagian penisku masuk ke vaginanya, kini ia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh batang penisku ke dalam vagina Vonny. Dengan kuat kudesak-desak seluruh batang penisku dengan irama yang beraturan hingga Vonny merasa kegelian lagi. Sambil mendesis ia memintaku agar jariku di masukkan ke dalam anusnya, kubasahi jari telunjukku dengan ludah dan sebagian lagi kubasahi pula lubang anusnya dengan air ludahku. Sambil terus menggoyang kumasukkan jari telunjukku ke anusnya hingga seluruh jariku masuk ke dalam anusnya, sambil kutekan ke bawah hingga kurasakan geseran penisku di dalam vagina Vonny, ia tampak menikmati sekali permainan ini, berulangkali ia memintaku agar lebih keras lagi goyangannya sambil ia membuat gerakan maju mundur pantatnya. "Uufffgghh..., Enak Vonn, vaginamu nikmat banget, orang lain pasti pengen ngrasain vaginamu ini, soalnya nikmat banget sih", Kataku. "Iya dong, lain kali kita coba ya, mungkin orang lain pasti udah keluar duluan sebelum aku puas", sahut Vonny. "Bener..., kamu pengen coba penis orang lain?", tanyaku. "Iya..., itu kalau kamu kasih ijin lho, tapi kamu harus ada juga di situ melihat aku main ama orang lain", jawaban itu semakin membuatku terangsang hingga kupercepat kocokan penisku sambil menekan kuat kuat jariku yang ada di dalam anusnya, hingga akhirnya kurasakan ada desakan yang kuat yang akan menyembur keluar dari penisku, rupanya Vonny juga mengerti kalau aku mau keluar, kucabut keluar dan segera oleh Vonny diraihnya penisku dan segera ia menghisap kuat penisku sampai akhirnya aku tak kuat lagi menahan rasa nikmat ini hingga akhirnya, "Cett..., crett.., crett", keluarlah cairan kenikmatanku, dengan lahap Vonny menghisap setiap tetes cairanku itu, lalu dengan lidahnya ia membersihkan ujung penisku hingga seluruh batang penisku mengkilat oleh air liurnya. Apa yang kami lakukan itu ternyata di saksikan oleh sepasang bule tadi, bule cowoknya mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kami kini tergeletak kelelahan di pasir pantai, kubalas dengan acungan jempol pula lalu ia tertawa. Kuingat tadi handycam yang sejak tadi merekam adegan kami itu, lalu segera kuambil dan kusimpan film tadi sebagai kenang-kenangan yang indah. Dengan tetap telanjang bulat kami bermain di air sambil membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh tubuh kami, kami tetap di pantai itu sampai menunggu matahari terbenam, karena dari pantai itu kami dapat menyaksikan indahnya peristiwa alam itu, terlebih peristiwa yang baru kami alami tadi. Tamat
Cerita panas Dimana saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA di salah satu sekolah swasta di kota kecilku, aku sangat senang untuk pertama kalinya masuk sekolah, dulunya aku mempunyai badan yang gemuk mungkin karena penyakit liverku aku menjadi kurus dan langsing, aku semakin pede saat mengenakan baju putih abu abu, dan pipiki tidak setembem kayak dulu sekarang wajahku masuk, aku sudah mengenal hampir setengah kelas karena memang berasal dari SMP yang sama. Di belakang tempat dudukku ada segerombolan cowok. Diantaranya ada seorang cowok Yang lumayan tampan, putih dan menarik. Sering kali aku merasa dia sering memperhatikanku secara hari aku berangkat dan pulang sekolah naik angkutan umum. Sampai suatu hari, seusai pelajaran tiba-tiba Tom mendekatiku. Dia menawarkan untuk mengantarku pulang. Kupikir dari pada naik kendaraan umum akhirnya aku setuju saja dia mengantarku. Ternyata dia juga sudah membawakanku itu sehabis mengantarku pulang tiba-tiba cuaca berubah jadi mendung dan hujan. Aku pun menyuruh dia masuk ke rumah sambil menunggu hujan reda. Sejak hari itu kamipun jadi dekat. Setiap hari dia mengantar jemput aku walaupun sebenarnya rumahnya sangat jauh dari tempat hari Valentine karena kami sama-sama tidak mempunyai pasangan, dia menawariku untuk keluar nanti malam. Aku pun setuju. Pulang sekolah aku siap-siap, aku cuci rambut dan blow layaknya orang yang mau pergi berkencan, kupilih baju yang kuanggap paling oke. Kira-kira jam 1600 dia datang menjemputku. Lalu kita berangkat ke aku benar-benar tidak menduga ternyata di dalam bioskop dia menyatakan perasaannya kepadaku. Bagaikan di sambar geledek, aku pun mengangguk. Karena memang selama ini diam-diam aku telah merasa sayang padanya. Hubungan kami berlanjut terus sampai 2 bulan kemudian kita bertengkar hebat sekali. Lalu keesokan harinya dia meminta maaf padaku. Karena sekolah kami libur selama semingu, kami pun merencanakan untuk menginap di luar aku minta ijin kepada orang rumah karena yang ada di rumah hanya nenekku, aku pun bilang padanya akan ke luar kota selama 4 hari dengan teman-teman. Tentunya itu hanya alasan supaya aku bisa pergi. Sesuai waktu yang di janjikan aku menunggu Tom di rumah sahabatku. Kemudian kami pun berangkat ke luar kota di daerah di sana kami mencari penginapan yang sesuai lalu check in. Ruangan yang kami tempati tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Disana ada sebuah ranjang berukuran king size yang di sisi kanan kirinya terdapat meja kecil dan ada satu set sofa dan meja. Disisi yang lain ada televisi lengkap dengan VCD playernya. Sementara di kamar mandinya dilengkapi dengan bathtub dan shower. Walaupun tidak begitu bagus namun lumayan enak tempat kurasa seluruh tubuhku tidak fresh aku pun pergi mandi. Sementara Tom masih keluar untuk membelikan majalah dan cemilan. Aku Mandi dengan air hangat dan berendam sesaat. Setelah selesai aku mengenakan lingerie warna merah menyala yang sengaja kubeli yang merah sangat kontras dengan kulitku yang kuning pasti akan membuat siapa saja yang melihatku terangsang. Kemudian kupakai Kimono kamar mandi dari hotel tempat kami menginap. Dan aku berbaring di ranjang sambil nonton lama kemudian Tom kembali. Setelah meletakkan belanjaan dia pun pergi mandi. Sengaja kumatikan lampu kamar kemudian lampu baca di meja kunyalakan remang-remang. Suasana ini benar-benar romantis, kimono pun kubuka dan kulempar begitu saja. Kemudian kutata bantal dan guling di ranjang sedemikian rupa sehingga aku bisa bersandar dengan enak. Kuusap-usap tubuhku sambil memperhatikan lingerie yang baru pertama kali lama kemudian Tom keluar dari kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya. Dia pun tercengang melihatku, kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Kamu benar benar sexy sayang..” Diapun mendekatiku sampai di bibir ranjang, aku pun berdiri dengan bertumpu pada kedua rambut Tom yang baru setengah kering, kuciumi wangi rambutnya. Kemudian ciumanku pun turun, hidungnya kukecup, bibirnya kukecup dan kulumat dengan mesra. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku sambil sesekali mengusap ciuman Tom makin hebat, lidah kami saling berpagutan, kurasakan bibirnya perlahan namun pasti turun menjelajahi leherku yang membuat jantungku makin keras berdetak. Sementara tangannya yang lain mengusap-usap buah dadaku yang kelihatan hampir tidak muat di dalam lingerie yang kupakai karena ukurannya memang besar, lidah Tom turun dari leher menyusuri dadaku kemudian tangannya menurunkan lingerie-ku di bagian dada yang menyebabkan tersembullah dua bukit indahku. Matanya tak pernah lepas dari dadaku sambil dia berkata, “Oh buah dadamu memang indah sayang.. aku tak pernah sanggup menahan diriku bila melihatnya..” Aku pun hanya tersenyum sambil mataku mengerling nakal, yang membuatnya makin tidak meremas-remas dengan mesra buah dadaku sambil dipilin-pilin putingnya. Kemudian dia jilati bergantian sambil dikulumnya. Kulihat benar-benar tidak muat buah dadaku dalam genggamannya. Ya inilah salah satu kebanggaan diriku, keindahan yang pun mengerang, “Aaacchh.. Tom.. kau pandai sekali menghisapnya.. aacchh..” tanpa kusadari tanganku sudah membuka handuk yang dipakai Tom yang kubiarkan jatuh begitu saja. Dan dapat kulihat jelas kejantanannya yang panjang dan besar telah berdiri dengan tegak seolah-olah menantangku. Memang kuakui batang kejantanan Tom sangat besar, panjangnya mungkin hampir 15 cm, dan hal inilah yang mungkin membuatku selalu ketagihan untuk bermain seks kepala kemaluannya, kurasakan ada lendir kenikmatan telah membasahi kepala kejantanannya yang membuatku makin terangsang. Kutundukkan kepalaku lalu kujilat-jilat kepala kemaluannya lalu seluruh batangnya kujilat sambil kudorong tubuh Tom sampai dia terduduk di sofa, lalu aku berjongkok di depannya, kujilati terus batang kejantanannya kemudian kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sambil lidahku berputar-putar di dalamnya. Kontan saja Tom mengerang, “Aahcchh.. sayaangg.. nikmatt sekalii..” Aku merasakan batang kejantanannya semakin tegang, urat-uratnya mulai menonjol keluar tentu saja aku semakin bergairah mulai mengeluar-masukkan batang kejantanan Tom, makin lama gerakanku makin cepat sambil kugenggam dan kuputar-putar. Dia mengerang lagi, “Sayaang.. kamuu benar-benar hebat.. aacchh..” Aku tak menghiraukannya, kukocok batang kejantanannya makin lama makin cepat kemudian kuhisap-hisap, kurasakan tubuh Tom menegang,“Aku mau keluaarr saayy.. akuu nggaak tahann..” Makin kupercepat kocokan tanganku, kemudian kuhisap kuat-kuat batang kejantanannya dan.., “Creett.. ccrereett..” Kurasakan air mani Tom memenuhi mulutku, langsung kutelan sambil tetap kujilat batang kejantanannya kemudian kujilati seluruh permukaan bibirku sambil kuremas-remas buah dadaku, kulihat Tom lemas sesaat.. Saat aku sedang asyik meremas-remas buah dadaku sendiri, sambil kulirik dia dengan pandangn sayu dan sexy. Tiba-tiba Tom mengangkat tubuhku dan membaringkannya di mengulum buah dadaku sambil dihisapnya kemudian perlahan ciumannya turun mencium lingerie di bagian perutku sambil tangannya merambat ke bagian kemaluanku dan mengusap-usap klitorisku yang rasanya sudah membesar. Aku menggeliat sambil engerang, “Aacchh.. Tom.. nikmat..”Kemudian dia berdiri dengan berlutut di ranjang, dia lepaskan celana dalam merahku yang sangat sexy itu. Dia usap-usap klitorisku yang memang bersih dari rambut-rambut. Kemudian pelan namun pasti dia jilat klitorisku sambil jari tengahnya dia masukkan ke liang kewanitaanku. Benar-benar nikmat kurasakan, kugigit bibirku sambil tanganku tak henti-hentinya memilin putingku sambil sesekali kujilati buah dadaku buah dadaku besar, aku tidak kesulitan untuk menjilatinya. Sementara Tom sedang sibuk di bawah sana, membuatku menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Aku pun tak sabar lagi, aku berkata pada Tom, “Ayo.. Tomm.. masukkan pelermu.. aku.. akuu..” rupanya Tom telah paham maksudku, sebelum aku menyelesaikan kalimatku.. tiba-tiba.., “Slepp..” aku memekik,“Aaacchh.. yeeahh..” sambil menahan nikmat yang luar biasa sampai selesai kurasakan nikmat bulan madu ini, Tom sudah menggoyangkan batang kejantanannya keluar masuk dari liang senggamaku dengan sangat cepat, rupanya dia masih ingat seperti itulah favoritku. Aku memang suka digoyang sangat cepat dari pertama sehingga rasanya luar biasa nikmatnya. Goyangan Tom pun makin cepat. Kurasakan batang kejantanannya sa ngat keras menghujam di dalam liang kewanitaanku. Aku pun hanya bisa memekik,“Tomm.. aachh.. nikmat sekali sayangg.. pelermu emang nikmat..” Tom pun tak bereaksi mengurangi goyangannya, makin lama makin cepat dia bergoyang sampai aku berkata, “Tomm.. aku mau keluarr sayaangg.. akuu nggak tahann..” dia pun berkata, “Kita sama-sama sayaang..” batang kejantanan Tom makin cepat ritmenya. Kemudian kurasakan nikmat yang luar biasa, tubuhku menegang, melengkung hingga bagian dadaku terbusungkan, “Aaacchh.. Tomm.. aku keluarr..” Kurasakan liang kewanitaanku sangat hangat. Tiba-tiba Tom menghentikan goyangannya dan tubuhnya menegang juga, “Aachh.. akuu juga sayang..” dan,“Creett.. crett..” Air mani Tom kurasakan menyemprot dinding rahimku, terasa sangat hangat, mengalir perlahan di dalam liang kewanitaanku. Kemudian kami berdua tergeletak sambil dia terus menciumiku dan membisikkan kata-kata cinta bulan madu, diusap-usapnya rambutku yang membuatku ketiduran aku terbangun, aku langsung menuju kamar mandi untuk berbilas. Kuisi bed tub dengan air panas sampai penuh kemudian kumasukkan aroma parfume kesukaanku dengan sedikit minyak lalu aku berendam di dalamnya, benar-benar nikmat setelah tadi ber-bulan hampir ketiduran ketika kurasakan ada jari-jari halus membelai dan mengusap rambutku. Kubuka mataku, kulihat Tom sedang berjongkok di sana, masih dalam keadaan telanjang bulat. Kulihat senyumannya yang mesra. Kemudian dia mencium keningku, terus menyusur hidungku hingga akhirnya kami berciuman mengusap-usap buah dadaku, membuat birahiku bangkit kembali. Kemudian kuusap-usap batang kejantanannya yang memang sejak dia berjongkok telah tegak berdiri. Dia masuk ke bed tub, aku pun menggeser badanku hingga aku terduduk di tepi bed dia naikkan pahaku sampai posisiku mengangkang, kutarik batang kejantanannya sampai menyentuh kemaluanku lalu kuusap-usapkan di klitorisku. Aku menggelinjang kenikmatan. Perlahan aku masukkan kepala kejantanannya di depan liang senggamaku dan Tom mendorong pantatnya yang otomatis menyodokkan batang kejantanannya ke liang kewanitaanku.“Aaachh.. kamu nakal Tomm..” erangku. Kemudian bibir kami saling berciuman dengan ganasnya, saling lumat dan saling memagut. Sementara itu kurasakan gerakan Tom sudah makin cepat dan cepat, dia naikkan kaki kiriku ke bahunya sambil setengah melingkar ke lehernya. Dia gerakkan memutar pantatnya, kuremas-remas buah dada ku sambil kami terus dia melepas ciumannya dan.., “Aaacchh.. sayaang..” dia memekik sambil memeluk erat tubuhku. Kurasakan kebali air maninya membasahi dinding rahimku. Kemudian kucium dia dengan mesra sambil kubelai-belai. Setelah istirahat sebentar, kami mandi bersama. Aku menyabuni dia dan dia menyabuniku bergantian. Kemudian kami memesan sate yang biasa mangkal di depan hotel makan kami nonton VCD yang memang sudah disediakan di sana. Waktu kami nonton blue film, kembali nafsu kami bangkit dan kami pun melakukan seperti yang ada di film. Seharian kami bisa bermain sampai Tom mencapai 7 kali orgasme dan aku sudah tak terkira lagi berapa kali orgasme. Ini kami lakukan selama 4 hari 3 malam. Benar-benar seperti orang yang sedang ber-bulan madu. Sampai pada akhirnya kami harus kembali ke kota dan Tom begitu bahagia saat bulan madu itu. Meskipun kami sekarang sudah tidak bersama lagi. END
Salah satu dari dua sahabat wanita telah menikah dan berbulan madu ke Bali. Salah satu gadis karena penasaran bertanya kepada temannya, "Tempat wisata apa yang kamu kunjungi di Bali dan apa yang kamu lihat?" Wanita yang sedang berbulan madu itu menjelaskan, "Selama tujuh hari, aku hanya melihat kipas angin di langit-langit kamar dan sesekali ketika berbalik, aku juga melihat sprei."
Cerita Ngewe – Bulan Madu Penuh Asmara Pengalaman menarik ini kami alami sewaktu kami berbulan madu di Pulau Bali dan Lombok. Waktu itu sedang low session jadi keadaan tidak seramai kalau sedang hari libur, di mana kami melakukan hubungan seks di tepi pantai yang sepi sambil membuat film dokumentasi adegan kami tersebut, juga sewaktu kami di hotel kegiatan kami sempat diintip oleh seorang pegawai hotel. Cerita Dewasa Bulan Madu Saya dan Vonny senang sekali bereksperimen dalam melakukan hubungan seks, dari segala macam gaya, alat-alat bantu seks sampai membuat foto dan film hubungan seks kami. Vonny istriku itu kukenal sejak masih duduk dibangku SMA, ia adik kelasku, hingga setelah selesai kuliah ia akhirnya kunikahi. Sejak SMA kami sudah sering melakukan hubungan seks, apalagi semasa kuliah, karena kami berada di kota Malang meskipun tidak sekampus tetapi karena tempat kostku yang bebas jadi kami sering melakukan hubungan seks di tempat kost. Sebenarnya kami juga mempunyai cerita yang menarik sewaktu masih kuliah dulu, tetapi saya ingin menceritakan pengalaman yang satu ini dahulu. Cerita Dewasa Bulan Madu Singkat cerita, Siang hari sekitar pukul akhirnya kami berdua sampai di Pulau Bali, dari airport kami di antar taksi untuk mencari hotel di daerah Kuta, sejenak kami melepas lelah, setelah itu kami jalan-jalan di sepanjang jalan di Kuta, Vonny rupanya tertarik untuk membeli beberapa potong bikini untuk dipakai nanti di pantai. Model yang ia beli sangat menggairahkan, kainnya tipis berwarna cerah hingga kalau dipakai lalu kena air, dipastikan apa yang dilapisinya akan terlihat dengan jelas, sengaja ia beli itu untuk membuat aku terangsang, lalu ada celana dalam yang hanya ada secungkup kain kecil untuk menutupi rambut kemaluannya, modelnya hanya bertali satu bagian belakangnya hingga belahan pantatnya jelas bebas terlihat, begitu juga penutup dadanya hanya sekedar untuk menutupi puting buah dadanya, selain itu banyak juga yang lain yang ia beli, pokoknya modelnya yang merangsang. Semalam kami di Bali, keesokan harinya kami menyeberang ke Pulau Lombok yang pastinya lebih alami dibanding Bali. Sesampainya di Lombok kami masih harus menyeberang ke Pulau kecil di sebelah Pulau lombok yaitu di Gili Meno. Tempatnya sangat cocok untuk berbulan madu, kami menempati sebuah cottage yang asri, setelah berkemas kami segera menuju ke pantai untuk berenang, mula-mula Vonny masih mengenakan kaos rangkap untuk menutupi bikininya, sesampai di pantai yang berjarak sangat dekat dengan hotel, kami mencari tempat yang nikmat untuk berenang, kami melihat sepasang bule yang sedang asyik bercumbu ria di pinggir pantai yang landai dan berpasir putih itu sehingga kami bisa melihat kalau mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat. “Vonny, kamu berani nggak seperti mereka itu”, tanyaku. “Berani aja, pokoknya ada kamu aku mau aja”, sahut Vonny. Setelah menemukan tempat yang tepat segera kami berdua berenang di air laut yang jernih itu. Kulihat Vonny mengenakan bikini yang transparan hingga menampakkan bayang rambut kemaluannya di pangkal pahanya, Cerita Dewasa Bulan Madu sewaktu ia masuk ke air aku tidak dapat menahan nafsuku yang timbul melihat tubuh Vonny yang memakai bikini transparan itu. Payudaranya yang kencang menantang jelas terlihat di balik bikininya, ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan membayang jelas terlihat. Segera saja penisku kerediri tegak melihat pemandangan yang indah itu, segera kuabadikan dengan handycamku tubuh Vonny dari segala sudut dan segala lekuk tubuhnya. “Von, kamu lepasin aja bikinimu itu, kan sama aja kamu seperti nggak make apa-apa kalau kamu pake bikini itu”, sahutku. “Enggak ah, malu aku”, jawab Vonny. “Malu sama siapa, kan nggak ada orang yang tahu di sini, kan sepi”, sahutku. Ia melihat sekelilingnya nggak ada orang kecuali sepasang bule yang sedang asyik main kuda-kudaan. “Iya deh aku lepas ya”, jawab Vonny. Tak kusia-siakan sewaktu ia melepas bikininya kurekam terus dengan handycam-ku hingga ia telanjang bulat di tepi pantai, kulepas sekalian celana renangku hingga penisku yang sudah berdiri tegak tadi meloncat keluar seolah merasa bebas dari kurungannya. Tampak olehku tubuh telanjang Vonny. Rambut kemaluannya tampak kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih mulus, serta dua gumpalan buah dadanya yang tegak mengacung membuat nafsu ini menjadi berkobar. Ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu tampak mengencang karena basah oleh air laut, ingin sekali kuremas-remas dan kuhisap ujung payudaranya itu. Kuabadikan semua tingkah laku Vonny yang telah telanjang bulat itu, Cerita Dewasa Bulan Madu ia bermain di air yang jernih sambil sekali-kali ia menoleh ke kiri dan kanan melihat kalau kalau ada yang melihat tubuhnya yang telanjang bulat itu. Ia berbaring telentang di pasir pantai dengan posisi kakinya mengangkang hingga tampak belahan lubang vaginanya yang berwarna merah kehitaman itu, kurekam terus adegan ini sambil arah kamera kuarahkan ke bagian vaginanya yang terbuka lebar itu. Tanganku yang satu sambil mengurut penisku yang sudah berdiri tegak sambil sesekali meraba dan meremasi payudara Vonny yang sudah mengencang itu. Rupanya Vonny juga sudah mulai terangsang ketika kuraba vaginanya dan kumainkan clitorisnya, ia lalu meraih penisku dan mengocoknya perlahan sambil mendesah keenakkan, “Ughh…, Ninoo…, gelii, enakk…”, sambil tangannya semakin kencang mengocok penisku, akhirnya kutaruh handycamnya di suatu tempat yang tepat agar segala adegan kami dapat direkam dengan jelas, selintas terpikir olehku andai ada seseorang yang mau membantu untuk mengambil gambar dengan handycamku pasti akan lebih bagus lagi hasilnya. Kulihat ke arah pasangan bule itu, ternyata mereka juga sedang melakukan hubungan seks di pasir pantai, kulihat Vonny juga asyik menyaksikan adegan itu dan tangannya yang satu meremasi payudaranya sedang tangannya yang lain dengan dua jarinya tampak sudah berada di dalam vaginanya yang tampak licin mengkilat karena cairan nafsunya tampaknya sudah membasahi liang vaginanya. Kuhampiri Vonny yang telentang di atas pasir pantai itu segera ia meraih penisku dan mengarahkannya ke mulutnya yang mungil dan selanjutnya bagai anak kecil yang sedang makan ice cream, Cerita Dewasa Bulan Madu dijilatinya seluruh batang penisku dari ujung kepala sampai ke buah penisku tak lupa dikulumnya sambil sesekali di sedot dengan kuat. “Ufffffff nikmat sekali Von…, terusin isapnya…, isap yang kenceng”, karena sudah bangkit nafsunya, Vonny dengan kuat menyedot ujung kepala penisku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingku, rasa yang ditimbulkan sangat nikmat sampai ke ubun-ubun. Segera kubuat posisi yang memungkinkan aku bisa menjilati dan menghisap vagina Vonny yang sudah terbuka itu, ketika kujilati clitorisnya ia menggelinjang kenikmatan sambil kepalaku di jepit dengan kedua belah pahanya, ia rupanya ingin agar aku lebih lama menjilati vaginanya. Dengan dua jariku, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam vaginanya dan mengocok dengan lembut hingga ia tampak mengerang-erang keenakkan, penisku di genggamnya erat sambil terus menghisap-isap ujung penisku. Cukup lama kami saling isap dan jilat hingga aku melihat ke arah pasangan bule itu dan ternyata mereka sedang menyaksikan adegan kami. Kukatakan pada Vonny kalau kita sedang diperhatikan oleh pasangan bule itu. “Biarin aja, biar mereka terangsang melihat permainan seks kita”. Bukannya malu tapi Vonny malah lebih ganas dan agresif dalam permainan ini. Kini posisiku telentang di pasir dan Vonny berada di antara ke dua pahaku yang telentang, Cerita Dewasa Bulan Madu ia tampak begitu menikmati penisku yang kini sudah basah terkena air liurnya, tak henti-hentinya ia mengisap dan menggigit kecil ujung penisku sehingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa, kurasakan desakan yang akan keluar dari penisku, segera aja kutarik kepala Vonny agar ia melepaskan penisku dari mulutnya, dan kini kurebahkan ia lalu kuhisap ujung payudaranya sebelah kanan sambil ujung yang satunya kumainkan dengan jariku, Vonny tampak menikmati permainan ini sambil tangannya sendiri memainkan ujung clitorisnya, kedua belah pahanya di buka lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah dirinya memasukkan jarinya sendiri. “Ninoo…, ayo masukin penismu di vaginaku dong…, aku udah kepengen nihh”, pinta Vonny sambil mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya. Sambil dituntun tangannya kumasukkan ujung penisku ke lubang vaginanya. Vonny yang tampaknya memang sudah kepingin dengan mengangkat pantatnya ia sengaja membuat agar seluruh batang penisku masuk ke dalam vaginanya. “Acchh…, uufffffhh”, desah Vonny ketika seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar penisku tetap menancap di vaginanya, kutarik sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat Vonny mengerang-erang keenakkan. Kini dengan ritme yang lebih cepat kutekan-tekan sekuat tenaga hingga mulut Vonny menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun karena nikmat yang dia rasakan membuat ia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan. Kulihat payudaranya bergerak naik turun seirama dengan kocokan penisku di vaginanya. “Niinnoo…, egghh…, aacchh…, aakuu pengen puass dulu ya”, pinta Vonny. Tanpa kujawab ia lalu kini berada di atas tubuhku, penisku yang berdiri tegak itu dituntunnya ke liang vaginanya, lalu dengan jeritan kecil Vonny, “Aauu…”. Cerita Dewasa Bulan Madu Seluruh batang penisku kini amblas masuk ke dalam vagina Vonny yang semakin licin itu, kini ia sepenuhnya bebas menguasai penisku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tanganku meremas-remas kedua bukit payudaranya yang indah itu,ia ingin kedua payudaranya itu kuremas-remas dengan kuat hanya dengan begitu ia merasakan nikmat yang sebenarnya, kini ia tidak lagi bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini ia menggesek-gesekkan vaginanya maju mundur sambil ia meremasi sendiri payudaranya hingga akhirnya ia tampak mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibirnya dan matanya terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya ia terkulai di atas tubuhku beberapa saat. Lalu ia kembali mengocok penisku dengan vaginanya, kurasakan kini vaginanya lebih seret dari yang tadi sehingga menambah kenikmatanku, segera kuminta agar ia berjongkok aja, posisi doggie style adalah posisi kegemaranku, segera Vonny berjongkok sambil membuka lebar pahanya hingga kulihat dengan jelas lubang kenikmatan itu terbuka di hadapanku, vaginanya sangat merangsang sekali, rambutnya tidak terlalu lebat hingga seluruh bagian dalam vaginanya dapat terlihat dengan jelas. Kini kepala penisku kuarahkan ke dalam lubang itu, dengan sekali dorongan, masuklah sebagian penisku ke dalam vagina Vonny. Vonny menjerit kecil ketika sebagian penisku masuk ke vaginanya, kini ia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh batang penisku ke dalam vagina Vonny. Dengan kuat kudesak-desak seluruh batang penisku dengan irama yang beraturan hingga Vonny merasa kegelian lagi. Sambil mendesis ia memintaku agar jariku di masukkan ke dalam anusnya, kubasahi jari telunjukku dengan ludah dan sebagian lagi kubasahi pula lubang anusnya dengan air ludahku. Cerita Dewasa Bulan Madu Sambil terus menggoyang kumasukkan jari telunjukku ke anusnya hingga seluruh jariku masuk ke dalam anusnya, sambil kutekan ke bawah hingga kurasakan geseran penisku di dalam vagina Vonny, ia tampak menikmati sekali permainan ini, berulangkali ia memintaku agar lebih keras lagi goyangannya sambil ia membuat gerakan maju mundur pantatnya. “Uufffgghh…, Enak Vonn, vaginamu nikmat banget, orang lain pasti pengen ngrasain vaginamu ini, soalnya nikmat banget sih”, Kataku. “Iya dong, lain kali kita coba ya, mungkin orang lain pasti udah keluar duluan sebelum aku puas”, sahut Vonny. “Bener…, kamu pengen coba penis orang lain?”, tanyaku. “Iya…, itu kalau kamu kasih ijin lho, tapi kamu harus ada juga di situ melihat aku main ama orang lain”, jawaban itu semakin membuatku terangsang hingga kupercepat kocokan penisku sambil menekan kuat kuat jariku yang ada di dalam anusnya, hingga akhirnya kurasakan ada desakan yang kuat yang akan menyembur keluar dari penisku, rupanya Vonny juga mengerti kalau aku mau keluar, kucabut keluar dan segera oleh Vonny diraihnya penisku dan segera ia menghisap kuat penisku sampai akhirnya aku tak kuat lagi menahan rasa nikmat ini hingga akhirnya, “Cett…, crett.., crett”, keluarlah cairan kenikmatanku, dengan lahap Vonny menghisap setiap tetes cairanku itu, lalu dengan lidahnya ia membersihkan ujung penisku hingga seluruh batang penisku mengkilat oleh air liurnya. Apa yang kami lakukan itu ternyata di saksikan oleh sepasang bule tadi, bule cowoknya mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kami kini tergeletak kelelahan di pasir pantai, kubalas dengan acungan jempol pula lalu ia tertawa. Kuingat tadi handycam yang sejak tadi merekam adegan kami itu, lalu segera kuambil dan kusimpan film tadi sebagai kenang-kenangan yang indah. Cerita Dewasa Bulan Madu Dengan tetap telanjang bulat kami bermain di air sambil membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh tubuh kami, kami tetap di pantai itu sampai menunggu matahari terbenam, karena dari pantai itu kami dapat menyaksikan indahnya peristiwa alam itu, terlebih peristiwa yang baru kami alami tadi.,,,,,,,,,,,,,,,,
Indahnya Bulan Madu Dengan ANITA BERBEDA DENGAN tante Nora. Begitu djuga wadjahnja Anita Jebih lintjah. Kadang-kadang da berlaku sebagai kanak- kanak. Tetapi ada masanja dia djadi pendiam, kalau sudah begini Anita lebih berpaham dari tante ku. Dalam hubungan sex, Anita tidak seperti tante Nora. Anita bukan tipe ”seniman-sex”, tetapi dia seoramg perempuan gesit dan cepat membakar gelora djiwa pria. Dan usia Anita berselisih satu tahun denganku. anita berwadjah manis. Kulitnja seperti buah manggis jang matang Tubuhnja ramping. Bila dia berdjalan pinggulnja bergojang-gojang mengiurkan. Buah dadanja besar menondjol kedepan. Bolamatanya bundar dan bila dia sedang berbicara bola mata nja itu semakin besar penuh gairah. Dan sekali la gi kukatakan yang membikin aku djatuh hati, sebu ah lesung pipit di pipi kanannja. Ach, manis seka li dia bila sedang tertawa. Ditambah pula dengan giginja putih bersih tersusun rapi’ jang menjerupat gading yang terukir. Minggu pertama dari perkawinan, kami pergi berbulan madu kedaerah pegunungan cipanas. Ka mi mengambil sebuah bungalow. Bungalow itu be sar. Kami mengambil tempat bagian depan. Se dangkan dua kamar dibelakang diambil dua suami isteri orang Amerika jang masih muda Mungkin, juga mereka baru kawin. Kami tidak, berbicara tetapi kenal mengenal sambil menganggukkan kepa la Istrinja ’menjala’ tipe wadjahnja tidak beda dengan bintang Hollywood ’Marilyn Monroe’. Bulan terang Kami duduk-duduk diberrnda bungalow. Dibawah tampak djalan mobil arah ke Bandung. Angin berhembus tadjam. Badan teraca dingin Keinginanku disini tidur saja. Anita pun begitu. Memang demikian maksud kami. Kami ingin membuang pikiran2 jang bukan-bukan karena arus hidup di Djakarta jang memusingkan. Disini di cipanas hawa segar dan bila kita menghirup sambil membusungkan dada terasa kesulitan-kesulit an hidup sehari-hari lepas dari diri. Aku duduk disisi Anita. Tangan kanannja di tindih diatas tangan kiriku. Kemudian betis Anita penuh berisi menjilang dibetis kiriku. Ia bersandar dikursi rotan. Mulutnya terbuka. Rambutnja ter girai lepas kebel kang kursi. Angin jahil dang meniup rok mininja sehingga terbuka tetapi Anita cepat menutupnja sambil terpingkel. Ia jarang sekali berbicara. Kini djari telundjuk Anitr di tunjuk-tutjukkan ke celah celah jariku. Perbuatan ini dilakukan berkali kali. Aku mengerti maksudnja. Kau nakal Nita „Hawa dingin ” udjar Anita lesu. Aku tersenjum mendengar kata katanja. Dan aku merasa senang Ucapan itu dalam maknanja ditelingaku. Ia tetap bersandar dikursi rotan. Djari telundjuknya terus di gosok maju mundur ketjelah- tjelah djariku. Aku terpengaruh dengan permainan Anita Kugojarg kakiku mengelus betis Anita. Ke- mudian udjung djari kakiku menghantuk hantuk s udjung djari kaki Anita. Sekali kutoleh wadjah Anita Mulutnja masih djuga terbuka Dan bibir- nja merah terbakar dengan lips-tick. Ia tersenjum ; merasa getekan kakiku. Gaja permainan seperti ini Anita sangat senang. Dulu, ketika bergaul dengan tante, tidak pernah dan mengalaminja. Karena itu aku djuga merasa senang djadinja. Telundjuk djari Anita jang madju mundur di- tjelah2 djariku kini kudjepit diantara dua djari. Telundjuk itu terdiam tidak bisa keluar. Lalu kepitan kukeraskan. Tiba2 Anita mendjerit ketjil Oouuuuu ” Ia terlompat dari kursi Aku turut juga terkedjut. Anita menatapku lalu bertjanda ; „Main2 djangan terlalu keras. ” Aku mencari-cari djawaban jang tepat tetapi tidak dapat. Dan ahirnja kukatakan djuga „Kau yang mengundang main djari”. Anita tersenjum. Dan dengan mandja direbah* kannja kepala kepahaku Ia menatap largit. Kutatap wadjahnja. Bidji mata Anita berkilauan seperti manik-manik. Rambutnja jang kusut seperti perak wamanja kena sinar bulan. Kubelai rambut nja Anita memejamkan mata. Dengan telundjuk djari kuputar-putar rambutnja yang kusut. Pekerjaan begini tidak kusadari ahirnja rambut Anita sudah bergumpal-gumpal berbelit di jariku. Ketika hendak kcabut sudah tidak bisa. Kusentak. dengan keras, kembali Anita mendjerit. Lebih melengking dari yang tadi. Sambil membenamkan kepala ke pahaku Anita berkata „Aku senang dibelai Hen. Djangan disentakan” ,.Ja, aku tahu tapi djariku ini yang nakal” udjarku. Pahaku sebenarnja sudah terasa pegal Tetapi kepegalan itu tidak mendjadi soal, djustru kepala Anita jang berada diatas pahaku. Sungguhpun kepala Anita berat djuga tetapi terasa seperti karet busa Dan terasa empuk. Kini Anita main2 lagi dengan telundjuknja. Ia mentjutjuk-tjutjuk pangkal pahaku. Udjung kukunja kadang menusuk hampir menembus daging paha. Tapi aku sadar Anita memang senang bertjanda. Lalu kugelitiki pangkal telinganya jang berdaging lembut. Permainan begini djarang kulakukan. Tetapi seorang teman mengata kan djika ingin m e naikan berahi wanita gelitik pangkal telinganja. Pelajaran ini kuperaktekkan. Kubuat reaksi Anita. Mula-mula matanya terpejam. Kemudian dibukanja kembali. Tampak semakin berair Dan terdengar keluhan Kucoba sekali lagi. Disaat yang sama kukunya yang tajam menghundjam kedalam daging pahaku. Aku terperanjat seperti kena api rokok Anita hampir sadja terdjatuh. Ia ter tawa2. Anita kembali bercanda ,.Kau main di telinga, aku main di paha.” Main-main begini lama-lama terasa djuga tem psratur badan semakin hangat. Ditambah pula angin berhembus sepoi-sepoi basah. Tiupan angin jang pelan dan temperatur badan jang hangat mcm bikin aku dan Anita melandjutkan permainan di beranda bungalow ini. Suasana semakin sepi. Hanya sekali-kali terdengar di beranda sebelah kiri pasangan orang Amerika jang seperti bintang Hollywood itu ketawa penuh napsu. Kugelitik telinga Anita tambah bersemangat. Ia mengeluh nikmat. Dan pelan tangannja meraih leherku. Aku seperti kerbau jang merunduk Terasa napas Anita semakin hangat. Bibirku dikecupnya Lama sekali. Tubuh kami seperti sesosok tubuh di laut jang kelam dan dipermainkan ombak kekiri dan kekanan ciuman dilepaskannja. Dalam ke heniagan malam suara cjiuman merupakan keindahan jang tersendiri. Anita mulai ”hot” Dirangkulnja lagi leherku. Seluruh wadjahku ditaburi dengan ciuman. Berjap-detjap persis seperti suara orang mengaduk lem-kandji. Suhu badanku bertambah hangat. Kali ini aku mengambil inisiatip. Kuangkat kepala kekasihku itu dan kucium leherja. Leher itu bersih dan djendjang. Anita melentik Melentik lebih tegang. Leherku dipagutnja. ciuman kali ini terasa memanaskan seluruh tubuh. „Hen, Hen, achhh.” Hanja itu jang suara keluar dari kerongkongan Anita. Aku diam sadja. Tidak sempat aku mengeluarkan sepatah kata. Tetapi deru napasku memburu. Pagut-pagutan semakin cepat. Irama permainan semakin cepat. Banjak adegan jang di luar perhitungan terdjadi Anita menarik lenganku tanpa sadar. Aku tahu kami kini sudah bergumul dia tas ubin. Tetapi kehangatan badan istriku membikin aku lupa kami sudah berada diatas lantai. Sekali berguling kekiri dan sekali ke kanan. Djari djemari Anita sudah mulai bermain ditubuhku. Kantjing badjuku terasa terbuka. Bidang dadaku jang terbuka itu, tiba2 dihembus angin. Terasa dingin sekali seperti dilakukan sebatang es Aku sadar. Kubisikkan pada Anita ,.Enak didalam kamar Nita,” la tidak mendjawab tetapi menurut saja. Ku pegang lengannja pelan2 dia berdiri. Ia tidak berkata-kata. Sinar matanja mulai tadjam. Ia seperti marah. Mungkin dia merasa kecewa permainan kuputus ditengah djalan. Rambut jang kusut di betulkannja dengan jarinja.. Nampak dia seperti wanita yang baru bargun tidur. Anita menunggu ketika aku menutup pintu. Begitu aku selesai, diciumi leherku. Dansed’kit berdjingkat diciumnja bibirku. Kuberi perlawanan jang setimpal. Tidak kubiarkan setiap saat dia jang mengambil inisiatif Ia rebah kedada lalu memelukku erat-erat. Kami masih berdiri tegak Ada tanda-tanda Anita membiarkan sadja dirinja dalam pelukanku Aku tahu roman berdiri kurang menjenangkan. Dengan kedua belah tangan kupapah Anita keatas randjang. Randjang itu bersih Putih, cjocok sekali untuk sepasang muda-mudi Seperti malas Anita tidur menelentang. Mata dipedjamkannja Kemudian mata dibukanja. Ia melirik ke wadjahku. Aku tersenjum. Dibalasny dengan senjum. Segera kedua tangan dikembangkannja seperti seorang baji minta netek. Aku madju pelan pelan Dan merebahkan diri diatas dadanja. Kubuka kancing badjunja, dada itu kini terbuka Kuelus elus. Ia seperti merengek. Dalam keadaan begitu sempat djuga Anita bertjand „Kau porno „Kau yang porno !’’’ djawabku. Pertengkaran main2 itu tidak kami lahdjutkan Aku merasa, bila orang seperti kami berdua sedang dimabuk cinta. malas sekali Pelan ku lekatkan bibir pda bibir Anita- Bibirnja basah dan hangat. Anita menghisap. Lalu liiahnja bermain main dalam mulutku. Kemudian di tariknya kembali. Ahli benar dia dalam mem- bermainkan lidah. Kukecup sekali bibir atasnja Ia menangkap Kugigit sedikit Ia menggeliat. Lalu udjung kakunja membenam ketanganku. Ia semakin gesit. Tidak menentu tangannja mendjela- djah diseluruh tubukku. Aku melawan. Sekali kali terdengar suaranja memanggil manggil namaku Aku sadar dia dalam keadaan ..spaning” Kembali dia kucumbu, ku ciumi dari atas sampai ke bawah. Saat lidahku bermain di pahanya lalu bergerak ke tengah, tubuh Anita menggelinjang kegelian. Saat aku mulai meciumi bibir kemaluannya, tubuhnya tersentak dan tiba-tiba tangannya menjambak rambutku ketika lidahku mulai menjilati kelentitnya. “Hennnnnnn ….. oooohhhh …..” desisnya. Ku mainkan terus lidahku disana hingga ketika aku menemukan lubangnya aku merasakan cairan yang kecut tapi nikmat. Ku mainkan lidahku disitu agak lama kemudian ganti jariku yang membelainya sementara lidahku terus menari nari di pahanya, dengkulnya, betisnya hingga jari-jari kakinya ku kulum satu demi satu. Saat jarinya ada dalam mulutku, Anita sudah bergerak tidak menentu, Kepalanya menoleh kekiri ke kanan, tangannya meremas apa saja yang bisa dijangkau ….. sehingga akhirnya aku hentikan aksiku. Kubuka pahanya perlahan, ku tahan dengan lututku, ku kecup bibirnya lalu aku berbisik “Sayang, masukkan sekarang …..” Perlahan dia pegang kemaluanku yang sudah sekeras kayu, dia arahkan ke lubangnya dan ketika aku merasa sudah pas, ku dorong perlahan. Ku tatap wajahnya, matanya terpejam dan dia gigit bibirnya sendiri …. mungkin keenakan …. Hangat … hangat sekalian lubang kemaluannya ….. “Henn …. ddduuuhhhh ….” Anita merintih Ku dorong terus … terus dan akhirnya kuhentakan perlahan kemaluanku memasuki lubangnya. “Aku bahagia Hen, Gerakanku semula perlahan dan Anita pun hanya bergerak perlahan menyambut ayunan pinggulku namun lama kelamaan gerakan kami jadi semakin panas …. Bibirku bergerak liar di mulutnya, lehernya, dadanya sementara tangannya Anita kadang menjambak rambutku, mencengkram punggungku atau meremas dan menekan pantatku. Dari mulutnya keluar desis desah lenguhan dan ku balas dengan lumatan bibirku. Waktu berlalu, kamarku terasa panas karena tubuh kami sudah bermandi peluh dan ketika aku mulai merasa ada sesuatu yang akan keluar dari kemaluanku, Anita tiba-tiba memelukku dengan sangat kencang. Dia gigit bahuku dan tangannya mencakar punggungku …. beberapa detik dari situ aku juga merasakan sesuatu yang mau keluar. Tubuhku mengejang, kulesakkan sedalam-dalamnya ke lubang kemaluan Anita dan dari kemaluanku berhamburanlah cairan kentalku menyirami ke dalaman lubang kemaluan Anita. Beberapa detik tubuh kami meregang lalu akhirnya setelah ketegangan itu berlalu ku cabut kemaluanku dan ku hempaskan tubuhku di sebelahnya. Ku kecup bibirnya dan ku peluk Anita yang sama basahnya denganku …. Angin gunung senantiasa beihembus lembut. Dari katja djendela kulihat sinar bulan. Awan menipis bergerak. menutup sinar bulan. Sudah itu awan berlalu, bulan bundar bertjahaja menembus kedalam kamar. Derum mobil terdengar sekali kali memetjah keheningan. Tubuhku kini diraih Anita lebih dekat Ia senang tecermin dari rasa geramnja.. Tiba-tiba Anita rrunarik selimut. Kedua tubuh kami jadi tertutup. Hanja bulan dan angin jaag menjaksikan. dua machluk manusia sedang menikmati kenikmat an dunia jang tiada taranya. Suasana menjadi reda. Tidak terdengar apa- apa kecuali suara napas jang menurun. Kutoleh Anita kekiri, buah dadanya yang montok masih turun naik. Wadjah nja menundjukkan rasa puas. Dalam hembusan angin gunung jang dingin kami tertidur ……………. Sekira djam 4 pagi aku terbangun. Aku ingin buang air. Aku segera melompat dari tempat tidur. Lalu mengambil rokok sebatang, kuselipkan disudut bibir Lalu kuambil korek a p i dan menjalakan. Aku berdjalan menudju kamar mandi Kamar mandi terletak dibahagian belakang Ketika aku berdjalan aku mendengar suara dengus napas dari kamar sebelah. Sambil mengendap ngendap ku dekati dinding. Suara itu semakin djelas. Aku mencari lu bang untuk mengintip. Lama lama kudapati sebuah lobang, Lobang itu terletak disisi sebuah tiang. Kupegang rokok lalu mengintip pada lobang itu Bidji mata kubuka lebar lebar. Aku terkedjut tanpa kusacar keluar suara dari tenggorokan „Astaga !” Dua laki-istri orang Amerika ! ya, mereka rupanja. Suara dengus napas itu dari mereka jang sedang “bergumul”. Rokok kulemparkan ke ubin. Dengan sandal kumatikan. Aku mengintip lebih sungguh sungguh Kedua tangan kulekatkan kedinding. Kepala kurapatkan ke lobang dinding; Permainan dua laki istri kulit putih itu semakm dasjat. Perempuan kulit putih. itu memejamkan maatanya. Terdengar lagi dengus napasnya Si pria lebihasjik Ia memutar mutar lagi seperti orang me mutar knop sender radio. Lututku gemetar Tidak pernah aku men dapatkan kesempatan ”film hidup” seperti ini. Aku asjik sekali, Hingga aku tidak jadi kekamar mandi. Sedikitpun tidak kubiarkan waktu berlalu. Wadjahku seolah olah sudah menempel dinding. Lalu terdengar percakapan pendek2 „Oh darling. …” „Yes, my sweet heartt” .,More, more, mmmoooreeee ” Tubuhku turut-turut meregang. A degan dima taku betul-betul mengasjikkan, Si-blonde berbalik badan lagi. Tjepat sekali dia menangkap mulut su aminya. Mereka berciuman Jang kulihat hanyalah payudar si-blonde. Besar dan montok. Belahan punggungnja seperti djurang menjempit diantara dua bukit. Lalu dia berbisik kepada suaminja. Su aminja mengangguk-angguk Lalu menelentang. „Astaga”. Ingin rasanja kuterdjang dinding jang memisah kami. Aku bukan marah, tetapi ingin menjaksikan lebih dekrit. Mataku jang telah terbelalak, ingin rasanja ku buka lebih lebar lagi. Rambut jang berwarna blon de lepas antara kedua bahunja Sehingga menutup wadjah si-blonde, Aku makin geram Kepingin sa ja hatiku menjabak rambut itu supaja melihat lebih njata Ia masih djuga seperti burung pelatuk. Sang suami memegang batok kepala si blonde. Se makin kencang Semakin kuat Kulihat bidji mata sang suami setengah mendjadi putih. Ia mendengus dengan keras. Dan si-blonde berdiri. Disudut din ding ia meludah Lalu melirik kepada suaminja jang sudah lemas Si-blonde tersenjum. Suaminja dengan malas membalas djuga senjuman itu. Aku terpaku Tidak kuduga sama sekali per mainan ini demikian dahsjatnja. Diluar kesadaran ku aku terpengaruh. Peluh mengalir keseluruh tu buh Napasku senantiasa turun naik. Sama seka li kuusahakan agar setenang mungkin, akan tetapi tetap tidak bisa djuga. Tiba-tiba lampu dipadamkan. Aku menyumpah nyumpah. Dengan perasaan ketjewa aku pergi kekamar mandi. Ketika aku kembali ke kamar kulihat Anita sudah terbangun ,Darimana kau ?” tanja Anita „Kamar mandi.” sahutku tegas. „Mengapa lama ? tanyanja kembali. „Aku duduk-duduk di beranda depan ambil angin.” Anita diam. Ia tidak bertanyi lagi. Lalu aku mengambil tempat disisinja. Gairahku meninggi se telah melihat „Filrn hidup” Aku membalik badan Anita kutatap. Ia mengerti. Lalu tersenjum. Senjum yang mengundang. Dingin pagi membikin tubuh kami seperti ulat jang saling merapat. Hawa kamar mendjadi hangat kembali. Aku mencium Anita, kupagut bibirnya, ku lumat bibirnya dan tanganku mengerayangi payudara Anita. Aku menyusupkan tanganku kedalaman baju , ke bawah bra Anita dan menemukan apa yang menciumi Anita, melumat bibirnya, menyedot dan menghisap bibir bawahnya. Lidah ku dan lidah Anita berpadu dan bertaut, beradu dan bertukar liur.”arghhhhh….” desah Anita Aku melepaskan pelukan ku dan melepas kan pakaianku. Anita juga melepaskan pakaiannya, dan kami pun berdiri telanjang saling sungguh terangsang dan sangat menyukai pemandangan di depanku. Penis ku tegang tegak berdiri, Apalagi Anita sekarang berdiri telanjang dengan payudara indah dan vagina seksi menggoda. Aku serasa di Kahyangan. kemudian aku memeluknya, mencium dan melumat bibirnya. Bibir kami bertaut dan lidah kami berkait dan saling beradu. Liur saling berpindah. Aku melumat bibir Anita dan lidah kami terus beradu. “hmmmm…..” desah Anita Aku kemudian menciumi leher Anita, menjilati tengkuk, telinga dan menjelajahi dada Anita. kemudian aku menjilati kedua payudara Anita, meremas payudaranya, mengisap puting payudaranya. Aku memainkan puting nya dengan lidah ku, aku menyedot dan mengisap puting ya dan menjilati daerah areola payudaranya. “arghhhh…..” erang Anita kenikmatan. Sebelah tanganku aku gunakan untuk menjelajahi perut dan kemudian turun ke bawahnya. Jariku menemukan apa kucari. Jari ku kemudian menyibakkan bibir vagina Anita. Dengan jari tengahku, aku mengelus dan mulai menstimulasi klitoris Anita. Mulutku masih memainkan payudara Anita, lidah ku memainkan puting Anita, menghisap dan menyedot nya.”arghhhh …..sayang…..” erang Anita. Jariku terus menggosok dan menstimulasi klitoris Anita. Kemudian aku memasukkan jari tengahku ke dalam liang vagina Anita yang sudah basah itu. Jariku terus menstimulasi di dalam vagina Anita, masuk keluar cepat lambat, jari ku terus mengobok obok vagina Anita.”terus henn…..arhhhh….” desah Anita oleh ku, vagina Anita sudah sangat basah, puting payudaranya juga sudah sangat tegang dan membesar. Mulutku kemudian turun ke bawah, aku kemudian mulai menjilati vagina Anita, menjilati klitoris Anita, sambil menghisap klitorisnya. Jariku masih di dalam liang vagina Anita, mengaduk didalamnya, menggosok dinding atas dan samping vaginanya. “arghhhh……terus henn….” desah Anita sambil menjepit kepalaku. Aku mempercepat hisapanku dan mempercepat kocokan jariku. Tubuh Anita menegang, pinggulnya terangkat ke atas, pahanya menjepit kepalaku erat. “arghhhh…….Heeennn…..” jerit Anita. Anita mengalami klimaks, Anita sudah mendapatkan orgasmenya. Aku merasakan cairan vaginanya muncrat, basah sekali, aku menjilati dan menghisapnya, asin gurih nikmat. Tubuh Anita sudah melemah, jepitan pahanya sudah tidak sekencang tadi, akupun menyelesaikan jilatan ku. Akupun berdiri, mengarahkan penisku yang sudah basah oleh cairan ke arah vagina Anita. Aku memasukkan penisku ke dalam vaginaya. Aku memompakan penisku dengan irama pelan dan cepat. Aku mengambil posisi misionaris. Anita melingkar kan kedua kakinya ke pinggang ku. Bibir kami saling bertautan, lidah kami saling beradu. Penisku menghunjam ke dalam vagina Anita dengan irama cepat dan makin cepat. “ahhhh….sayang….” aku mendesah kenikmatan saat penisku terasa dijepit oleh vagina Anita. Penisku terasa dijepit dan diremas di dalam vagina Anita. Inilah salah satu keahlian Anita, vaginanya sangat kesat dan berasa diremas. “ahhhh….” aku kembali mendesah. “Henn…..enakk…..” erang Anita. Aku mempercepat kocokan penisku. Aku merasa ujung kepala penisku sudah mau mengeluarkan sperma. “Anita…..aku sudah mau keluarrrrr….” aku mendesah kenikmatan. “aku juga Hennn….bentar sama sama hennnn…..” erang menegang, pinggul ku menegang. Jepitan Anita di pinggang ku juga mengeras menegang. Pinggul Anita kembali terangkat ke atas, pinggul ku menegang.”arghhhhh…..” aku mendesah.”Hennnnnn…..” jerit Anita kenikmatan. Aku menembakkan dan mengeluarkan sperma ku ke dalam liang vagina Anita Terasa hangat penisku di dalam liang kenikmatan mengeluarkan sperma ku, aku merasa penisku kemudian mengecil, dan sambil berpelukan, aku menciumi Anita. “makasih ya Anita…” kataku sambil mengecup bibir Anita. “Hen kamu sangat hebat….” ucap Anita sambil tersenyum kecil. “Anita puas ga?” tanyaku pada Anita. “iya Henn, kamu hebat….aku puas banget…” ujar Anita sambil memeluk ku. BERSAMBUNG Cerita Seks, Cerita Dewasa Terbaru
cerita seks bulan madu