cerita ngentot di rumah sakit
IndoSkandal Istri Di Paksa Ngentot | Nonton dan download bokep indo hot terbaru, bokepseks yang sangat menantang, dimana istrinya di paksa ngentot sambil buat rekaman pribadi. Lihat apa yang terjadi. Simak juga Bokep Istri Pejabat Sange Dengan Penjual Rumah. video bokep, ngentot memek, memek genit, memek mulus, memek tembem, memek genit, memek sempit, memek mulus, memek hot, bokepseks, bokep
HomeCerita Dewasa cerita ngentot Cerita Sex Anak Tetangga Hot Banget Selasa, 30 Juni 2015 Anak Tetangga Hot Banget sehingga setiap hari sabtu aku selalu berada di rumah yang merupakan salah satu kompleks elit di kota aku itu. Setiap hari sabtu aku selalu mengisi waktu dengan melihat situs porno, majalah porno, dan menonton film pornoh yang
Kecintaansuami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar, dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan tugas dinas ke luar kota.
sekitarjam sepuluh malam semua pasien sudah tidur sedangkan nani serta ibunya sudah membaringkan diri di bawah tempat tidur pasien, tinggal aku dengan minah yang masih ngobrol dengan volume suara kecil, sambil ngobrol tidak lupa aku selingi dengan rayuan gombal dan kupegang-pegang tangannya, rupanya rayuanku mengena juga karena waktu kupegang
DinasSosial semarang juga menangkap dua orang yang mengalami gangguan jiwa di kawasan Simpang Kandis, Kecamatan Kampung Melayu karena merusak tanaman di taman di simpang menuju Pelabuhan Pulau Baai. Keduanya tercatat atas nama nurdin dan Perkedel.Mereka sempat dirawat di rumah sakit jiwa, tetapi kemudian dilepas karena menunjukkan tanda-tanda
mở bài bằng lí luận văn học. Sudah pernah nonton film Bad Moms? Bad Moms adalah sebuah film Komedi tahun 2016 yang dibintangi Mila Kunis. Berkisah tentang 3 mama yang bosan jadi mama baik, yang ternyata melelahkan fisik dan mental. Ada satu adegan kocak yang saya ingat ketika salah satu Mama bernama Kiki yang diperankan oleh Kirsten Bell mengimpikan bisa masuk rumah sakit sekedar untuk bisa istirahat dari mengasuh 4 buah hatinya. Ide masuk rumah sakit untuk istirahat langsung dipandang aneh oleh teman-temannya. That’s stupid idea! Saya sendiri sejak 11 tahun berumah tangga, Alhamdulillah tidak pernah menginap di rumah sakit. Kecuali melahirkan untuk waktu sekitar 3 hari saja. Selama 11 tahun, saya bisa dibilang tidak pernah meninggalkan anak-anak saya seharipun. Pernah memang ditinggal salah satu anak selama beberapa hari, tapi saya tetap di rumah dengan suami dan anak yang lain. Intinya selama 11 tahun, rasanya saya belum pernah sendirian lebih dari 24 jam. Rasanya belum ada alasan saya untuk bisa benar-benar sendirian. Walau kadang menginginkannya. Mimpi Kiki untuk masuk rumah sakit dalam film Bad Moms itu lumayan ada dalam pikiran saya. Apa jadinya kalau seorang Mama harus masuk rumah sakit? Siapa yang mengurus anak-anaknya yang selama ini selalu bergantung pada ibunya? Saya benar-benar nggak kebayang. Pada Jumat, bertepatan dengan hari ke-2 Ramadhan lalu, saya merasa badan saya tiba-tiba lemas dan sangat tidak enak. Ditambah malamnya demam. Walau kurus kering kerontang, saya sangat jarang sakit. Tidak panas, tidak pusing, tidak flu. Masalah penyakit saya sebatas tidak nafsu makan saja dari dahulu kala. Makanya ketika tiba-tiba lemas dan demam, saya lumayan ketakutan. Khawatir terkena penyakit parah. Tapi saya tidak berani membayangkan kalau harus masuk rumah sakit. Selama 3 hari panas dan lemas saya berlanjut. Baru pada hari Senin, kami ke dokter untuk tes darah. Saya merasa sangat lemas saat ke dokter, bahkan sempat hampir pingsan dalam tuntunan suami. Ternyata hasil tes darah menunjukkan saya positif kena typus dan DBD dengan trombosit berada di angka 125 ribu. Vonisnya harus masuk dirawat di rumah sakit. Sempat sih meminta dokter untuk kemungkinan rawat jalan saja. Tapi kata dokter khawatir trombositnya menurun terus dan repot kalau harus tes darah ke rumah sakit setiap hari. Jadi baiklah, saya pun setuju dirawat di rumah sakit saja. Kejadian juga! Bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan menyiapkan makan saur dan berbuka mereka? Siapa yang akan menjaga mereka? Mana ini masa ujian anak-anak dan pulangnya pukul 11 siang kalau hari sekolah biasa pulang pukul 2 siang. Terus siapa yang akan menemani saya rumah sakit? Bagaimana dengan setrikaan? Saya dan suami pun berpikir cepat. Keputusannya suami akan menemani anak-anak di rumah dan saya sendirian di rumah sakit. Suami akan datang setiap pagi sebelum ke kantor dan sore sepulang kantor untuk membantu saya mandi dan beberes hal tertentu. Saya sendiri memang rasanya tidak terlalu memerlukan teman di rumah sakit. Kalau sekedar ke kamar mandi, saya bisa melakukannya sendiri. Lagipula saya benar-benar memerlukan waktu untuk sendiri. Saya merasa sangat semangat dengan ini semua. Itu yang bikin saya merasa langsung baikan begitu diputuskan harus dirawat di rumah sakit. Saya bisa istirahat total di sini! Tidak ada anak-anak, tidak urus masakan, tidak urus rumah. Its just me lying on my bed with a book. Oh my God! Dream come true. Mimpinya Kiki yang ditertawai teman-temannya tepatnya. Jadi bagaimana rasanya istirahat di rumah sakit sendirian? Hari pertama saya masih senang. Malam pertama saya tidak bisa tidur. Rasanya tidak nyaman tidur di rumah sakit itu. Makannya tidak enak, lampu yang terang, suara dari penghuni sebelah yang menggelegar, benar-benar nggak asyik. Bagaimana dengan kondisi badan saya? Rasanya baik-baik saja sih. Walau pusing dan demam, saya bisa berbaring seharian. Tidak perlu masuk dapur atau beberes rumah. Hanya baca dan baca saja. Kalau ngantuk tinggal tidur. Sayangnya saya kesulitan untuk tidur di 2 malam pertama. Baru di malam ke-3 saya bisa tidur pulas. Setelah bisa tidur pulas ini, demam saya pun reda dan badan langsung terasa baikan. Ternyata hasil cek darah menunjukkan hasil yang membaik juga. Trombosit saya tidak turun lagi. Mentok di angka 95 ribu. Salah satu yang paling tidak enak dari rumah sakit adalah makanannya. Saya tidak habis pikir mengapa rumah sakit memberikan makanan separah itu jika berharap pasiennya cepat sembuh. Mbok ya kasih makan yang rada enak dan menggugah selera gitu. Seperti bakso atau masakan Padang gitu loh. Lah ini dikasih bubur dingin tanpa rasa dalam piring kaleng. Saya itu begitu dengar troli makan masuk ruangan aja langsung eneg. Akhirnya saya makan sekedarnya dan mengandalkan roti yang dibawa suami. Kalau dipaksakan makan makanan itu, rasanya mau muntah. Baru pada hari ke-4 ada makanan yang rada layak diberikan. Semangkuk bubur ayam dalam piring kaca seperti yang biasa saya makan di rumah. Bubur itu sebenarnya enak. Saya biasa makan bubur ayam. Cuma kok ya yang di rumah sakit ini tampak sangat parah. Kecuali bubur yang disajikan di hari ke-4 itu. Hanya makanan yang ini yang bisa saya habiskan licin tandas. Sempat ada kuisioner tentang makanan rumah sakit yang harus saya isi. Di situ ditanyakan mengenai kualitas setiap makanan yang disajikan. Langsung saya kasih angka 1 dari 5, alias sangat parah. Cuma nggak tahu juga sih, saya nggak suka makanan rumah sakit ini karena saya lagi sakit saja, atau memang makanannya yang parah. Akibat nggak makan ini, saya sukses turun berat badan 2 kg selama 5 hari di rumah sakit. Begitu pulang, yang saya lakukan adalah masak nasi dan makan normal. Bagaimana dengan makan anak-anak? Alhamdulillah makan anak-anak sempat dibuatkan dari Eninnya. Eninnya menemani 1 malam di rumah untuk memasakkan makanan kesukaan anak-anak. Selanjutnya mereka beli makanan jadi, masak mie, telur atau sayur rebus dengan bakso. Pokoknya mereka bisa bertahan 5 hari makan saur dan berbuka dengan layak. Tidak ada yang bolong puasanya. Di rumah sakit tidak perlu ditemani Sebelum masuk rumah sakit, saya sempat bertanya ke dokternya, “Apakah boleh saya sendirian tanpa ditemani kalau di rawat? Karena saya punya anak kecil yang tidak bisa ditinggal.” Ternyata kata dokternya bisa dan boleh saja. Sebelumnya saya tahunya kalau orang sakit itu harus selalu ditemani di rumah sakit. Walau saya juga bingung gunanya untuk apa? Saya nggak kebayang suami saya bengong seharian menemani saya. Nggak tega rasanya membayangkan suami harus tidur di lantai atau sambil duduk di kursi. Wah bisa ikutan sakit dia nanti. Mending tidur nyaman di rumah sama anak-anak. Saya pun bisa tidur sendiri dengan tenang di sini. Emangnya nggak perlu dibantu ke kamar mandi? Kalau saya sih tidak merasa selemas itu. Saya masih bisa jalan biasa sambil membawa infus. Sebelumnya infusnya dimatikan dulu. Baru setelah selesai dari kamar mandi, saya tinggal memanggil perawat untuk mengatur lagi infusnya. Saya sih nggak repot. Yang repot perawatnya yang bolak-balik saya panggil karena saya bolak-balik ke kamar mandi. Sempat karena malas memanggil perawat, sengaja infusnya tidak saya matikan. Biarkan saja berjalan, hanya lebih hati-hati menjaga agar infus selalu berada di atas posisi tangan. Tapi kadang karena banyak gerak, ada saatnya darah naik. Jadi sebenarnya lebih aman, infusnya dimatikan saja kalau ke kamar mandi. Sabar aja kalau perawatnya rada kesel dipanggil bolak-balik. Soal perawat ini, sempat bikin saya agak marah juga. Ada perawat yang menyuruh untuk selalu mematikan infus kalau ke toilet dan tidak masalah kalau dipanggil bolak-balik jika dibutuhkan. Tapi ada perawat yang kesal karena dipanggil bolak-balik untuk mengatur infus. Repotnya, saya nggak bisa hapal mana perawat yang rajin dan mana yang tidak. Kalau saya bisa ingat, kan saya atur saja kalau hanya mematikan infus saat ketemu perawat yang rajin. Kalau dapat yang pemalas, infusnya tidak perlu dimatikan saat ke kamar mandi. Apakah benar-benar tidak perlu bantuan selama di rumah sakit? Ada juga sih perlunya. Saya perlu suami setiap pagi untuk tolong membawakan air seka ke kamar mandi dan membantu melepas infus dari tangan baju yang agak kecil. Juga memegangkan infus saat akan mencuci muka dan menggosok gigi di wastafel. Selain itu saya juga perlu suami untuk mengambilkan air minum untuk minum seharian. Cukup itu saja sih. Sisanya bisa sendiri. Ketika diputuskan masuk rumah sakit, saya tidak membawa baju satu pun. Jadi suami sempat pulang dulu dan mengambil beberapa baju saja. Setelah di infus di rumah sakit, saya baru sadar, bahwa saya tidak punya baju bukaan depan dan tangannya terlalu sempit. Jadi sulit untuk mengganti baju dengan infus di tangan. Akhirnya minta sumbangan baju kancing depan dari Mama dan Mama mertua. Untung ada. Selama di rumah sakit, baju-baju saya dibawa pulang setiap hari oleh suami dan dicucikan. Hore, akhirnya suamiku belajar mencuci dan menjemur juga. Di rumah sakit ditemani Al Hikam Selama di rumah sakit, saya agak kesulitan untuk menulis dalam kondisi berbaring. Jadi saya memilih membaca saja. Buku yang saya bawa untuk menemani sakit ini adalah Al Hikamnya Ibnu Athahillah. Sebenarnya selama minggu terakhir saya sedang baca buku ini, tapi susah sekali pahamnya. Hanya dibolak-balik sambil tidak mengerti juga. Saat diputuskan dirawat, saya minta suami membawakan buku Al Hikam ini. Kepikir juga sih untuk membawa buku lain yang lebih ringan, tapi akhirnya saya putuskan untuk membaca Al Hikam saja. Masih penasaran mengapa saya tidak paham juga buku ini. Siapa tahu dalam keheningan rumah sakit, saya bisa lebih konsentrasi dalam membacanya. Ternyata benar loh. Ini buku yang sangat tepat untuk orang sakit. Satu demi satu hikmah dari Al Hikam ini membantu saya relaks dan lebih mendekatkan diri pada Allah dalam kondisi sakit. Nanti ya saya review buku ini secara khusus di blog sebelah. Pokoknya kalau sakit, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Al Hikam membantu untuk membuat kita relax dan pasrah pada Allah. Menerima kondisi sakit sebagai bentuk kedekatan kepada Allah. Bahkan kita diminta untuk tidak meminta cepat sembuh, karena itu seperti mendikte Tuhan yang maha tahu dengan kebutuhan tubuh kita. Saya ingat sekali, saya berhenti baca Al Hikam di bagian yang menyebutkan sebaiknya tidak meminta cepat sembuh ini. Duh, gimana ceritanya saya bisa tidak berdoa untuk minta cepat sembuh. Baru saya lanjutkan lagi baca Al Hikam setelah di rumah dan sudah sembuh. Benar-benar sebuah buku yang luar biasa. Kunjungan ke rumah sakit Di hari pertama saya di rumah sakit, saya merasa sangat terganggu dengan kunjungan rekan-rekan pasien sebelah saya. Mereka ribut luar biasa. Saya yang lagi sakit-sakitnya rasanya kesal sekali mendengar keributan itu. Kok ya nggak ada etikanya mengunjungi orang di rumah sakit tapi dengan suara sekencang itu. Serasa itu rumah mereka sendiri. Hello, di sini ada banyak orang yang terkapar dan perlu istirahat loh. Sampai tiba di hari kedua. Saya pun mulai dikunjungi teman-teman. Ada ibu-ibu dari sekolah, guru anak-anak, tetangga, hingga saudara. Ada yang ngomongnya pelan-pelan, ada yang lupa diri dan ketawa keras-keras. Persis seperti rekan-rekan pasien sebelah yang mengganggu saya kemarin. Duh! Ternyata sekarang giliran saya yang mengganggu orang lain. Saya sendiri sebenarnya jarang sekali punya kesempatan mengunjungi teman yang sakit. Seringnya karena tidak sempat. Sebenarnya dikunjungi saat sakit itu menyenangkan. Lumayan untuk mengatasi kebosanan sendirian. Yang tidak enak itu jika kita mengganggu pasien lain yang tengah berusaha istirahat. Mungkin itu perlunya untuk menjaga jumlah kunjungan pasien. Kalau bisa yang masuk ke ruang pasien itu tidak terlalu banyak. Terutama jika mendapat kelas yang ditempati bersama pasien lain. Kalau dapat kelas yang sendirian, mungkin tidak ada masalah kalau dikunjungi sekompi orang sekaligus. Karena tidak akan mengganggu orang lain. Saya sendiri sempat terpikir apa perlu pindah ke ruang yang sendirian atau berdua. Kalau sendirian kayanya saya takut. Tapi kalau berdua, saya tetap punya resiko bertemu orang yang super ribut. Akhirnya saya pasrah menikmati ruang kelas 3 yang tersedia. Salah satu yang saya rindukan tentunya anak-anak. Aduh kangennya untuk mencium wajah halus Sasya atau memegang rambut lembut Raka. Saya terakhir ketemua anak-anak di hari Senin pagi sebelum mereka sekolah. Anak-anak tidak boleh masuk ke ruang perawatan. Akhirnya saya hanya bisa video call saja dengan anak-anak. Baru pada hari ke-4 saya dapat kesempatan ketemu anak-anak di depan ruang perawatan. Kebetulan saat itu Sasya perlu kontrol ke dokter gigi. Saya minta ijin ke perawat untuk keluar sebentar menemui anak-anak. Untung diijinkan, walau sambil duduk di kursi roda. Kebetulan ruang perawatan saya letaknya cukup dekat dengan batas gerbang dimana anak-anak boleh masuk. Senang sekali rasanya bisa memeluk mereka lagi setelah 4 hari tidak bertemu. Dan mereka baik-baik saja tuh tanpa Mamanya. Bagaimana dengan biaya? Kalau urusan biaya kami menggunakan asuransi kesehatan. Kami sekeluarga punya 2 asuransi kesehatan. Yang pertama asuransi swasta FWD dan BPJS. Saya biasanya menggunakan asuransi FWD untuk rawat jalan karena tidak perlu repot ke puskesmas sebelumnya dan bisa langsung berobat tanpa biaya. Sedangkan BPJS rencananya akan kami gunakan untuk rawat inap atau penyakit yang lebih serius. Terakhir saya menggunakan BPJS untuk operasi gigi. Ketika ke rumah sakit pada hari Senin itu, kami menggunakan asuransi FWD. Setelah diputuskan harus rawat inap, kami sempat berpikir ingin menggunakan asuransi BPJS saja. Tapi pihak rumah sakit menyarankan pakai FWD saja biar tidak perlu meminta rujukan ke puskesmas lagi. Ternyata kalau pakai FWD, jatah kami dapatnya kelas 3. Kalau pakai BPJS kelas 1. Tapi ya sudahlah, yang penting masuk ruangan dan dirawat saja dulu. Tidak masalah di kelas berapa pun. Biaya perawatan selama 5 hari itu sekitar 3 juta rupiah. Alhamdulillah full ditanggung asuransi. Eh ada selisih sekitar 100 ribuan lah yang harus ditanggung sendiri. Di sini terasa sekali gunanya punya asuransi kala sakit. Kita jadi bisa fokus hanya ke masalah kesehatan dan tidak dipusingkan oleh beban biaya kesehatan. Selama 5 hari di rumah sakit membuktikan kalau suami dan anak-anak ternyata bisa mandiri juga. Saya pun bisa istirahat total dari pekerjaan rumah. Tapi sebenarnya, kalau seorang Mama memang ingin istirahat dari pekerjaan rumah, mending bilang saja baik-baik. Tidak perlu menunggu sakit. Istirahat 2-3 hari dari pekerjaan rumah tangga dan melatih keluarga untuk mandiri itu menurut saya cukup baik untuk kesehatan mental keluarga. Tidak perlu menunggu Mama sakit dan harus masuk rumah sakit jika sekedar ingin istirahat.
Cerita Mesum Perawat Rumah SakitCerita Sex Terbaru, Cerita Dewasa, Cerita Mesum – Setelah sebelumnya ada , kini ada cerita ML terbaru Cerita Mesum Perawat Rumah Sakit. selamat Dengan Perawat Rumah Sakit – Pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda. Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi Mesum Perawat Rumah Sakit Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi.“Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi”, ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, “Hmm… Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?”, suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya. Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi.“Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini.” Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku, dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu.“Ayo dong, mainin juga punyaku”, tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat.“Eest… nikmatnya mmh.. uuh..!” Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. “Aaah… huuh..!” Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, “Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huuu.. esst..” Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya, dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan.“Hhhm… boleh juga kejantananmu”, terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku. by Cerita Seks Bergambar – Cerita Sex Mesum, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Hot Ngentot.
Ngentot Dengan Perawat Rumah Sakit – Pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda. Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi selimutku. Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi. “Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi”, ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di bukanya. Setelah perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh terhadapnya. Paginya aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai perawat. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan kirinya. Dan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, “Hmm… Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?”, suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya. Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan menggantung. Perawat itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi. “Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini.” Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus itu. Perawat tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku, dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu. “Ayo dong, mainin juga punyaku”, tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat. “Eest… nikmatnya mmh.. uuh..!” Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. “Aaah… huuh..!” Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, “Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huuu.. esst..” Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan membengkak. Kemudian sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya, dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan jari-jariku. Desahan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan. “Hhhm… boleh juga kejantananmu”, terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku. Tagged with bercinta, bugil, cantik, cerita, cinta, dewasa, fiksi, film, indonesia, kumpulan, ml, nakal, ngentot, seks Posted in cerita seks
Cerita Dewasa - Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali. Film Bokep - Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname. Selasa Jam 545 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 630, seorang suster masuk. “Selamat pagi Pak Robert, saya mandikan ya supaya segar” kata suster. Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama mimi bukan nama asli. Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya. “Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?” suster mimi bertanya. “Ya boleh aja” jawab saya malas-malasan. Celana dalam saya dibuka dan kembali suster mimi mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster mimi membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur. Rabu Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya udah kayak drakula minta darah dan kembali suster mimi datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster mimi. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster mimi menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri. Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur. Kamis Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster mimi. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster mimi datang. “Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Robert” kata mimi dengan tersenyum. “Panggil Robert saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik” kata saya dengan tersenyum. “Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri” goda mimi. “Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster” jawab saya sambil tertawa. “Hahaha, bisa saja Robert” kata mimi. mimi membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! mimi menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir mimi yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu mimi melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! mimi tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya. “Mau dibersihkan selangkangannya?” tanya mimi. “Boleh, silakan” kata saya sok cuek. Video Ngentot - Tangan mimi meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. mimi lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras. “Maaf ya kalau ereksi” jawa saya sedikit malu. “Tidak apa-apa kok, normal kok” jawab mimi sambil tersenyum. Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. mimi kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, mimi membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang. Jum’at Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster mimi. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan mimi melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik. “Aarggh, shit, who the hell are you?, I want mimi” jerit saya dalam hati. Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu mimi, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor. Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 2130, pintu terbuka dan suster mimi muncul. “Selamat malam Robert, sudah sehat?” mimi bertanya dengan tersenyum. “Halo mimi, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?” tanya saya. “Biasa, rotasi jam kerja” kata mimi. “Senang melihat mimi lagi” kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan mimi. mimi tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya. “Gimana kabarnya? Masih lemas?” tanya mimi. “Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab” kata saya sedikit bingung. “Bukan kamu, tapi adik kamu” kata mimi dengan pandangan menggoda. “Coba saja kamu tanya sendiri” kata saya sambil tersenyum. Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, mimi mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut. “Besar ya, Robert” kata mimi. “Buka aja celananya” kata saya. mimi membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. mimi membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramimi cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir mimi sambil meremas dan memelintir puting mimi. mimi membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, mimi melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya. Saya mengangkat rok putih mimi dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. mimi menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan mimi disekitar vaginanya. Vagina mimi sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya mimi sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas mimi mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras. Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan di gang. mimi langsung tersentak dan membetulkan bajunya. Ia berjalan ke pintu dan mengintip keluar, rupanya hanya orang yang keluar dari kamar selesai membesuk. mimi tersenyum dan berkata “Robert, saya enggak berani melakukannya disini, takut supervisor saya lewat” “Sebentar saja, enggak ketahuan kok asalkan kita tidak berisik” ujar saya. “Hari Senin saja ya ditempat saya” kata mimi dengan wajah yang memelas. “Sebentar saja sayang, 10 menit deh” ujar saya dengan nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun. Saya turun dari tempat tidur saya dan menghampiri mimi. Saya cium bibirnya dan mimi membuka baju, saya praktis telanjang bulat. mimi lalu membuka baju seragamnya dan menurunkan BHnya lalu mengangkat roknya dan celana dalamnya ditarik kebawah kakinya. Kami berciuman dengan penuh gairah. Saya menuntun mimi ke sofa, saya duduk disofa dan mimi duduk dipangkuanku menghadap saya. Saya mencium buah dadanya yang besar. mimi mendesah dengan nikmat. Ia mengangkat pantatnya dan menuntun kontol saya kearah vaginanya. Vaginanya yang sudah basah membuat kontol saya masuk dengan mudah. mimi mendongak sambil memejamkan matanya menikmati kontol saya. Ia menggoyangkan pinggulnya naik turun dan memutar-mutarnya. Kontol saya terasa seperti ditarik dan diremas bersamaan. Nikmat sekali. Payudara mimi bergoyang-goyang dimuka saya dan langsung saya sambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya. Foto Bokep - Dengan penuh gairah mimi memainkan kontolku dalam vaginanya. Bibirnya ia gigit agar tidak sampai berteriak. Saya sendiri berusaha menutup mulut saya dengan membenamkan kepala saya di buah dada mimi. “Sshh.. Enak Robert, enak sekali” ujar mimi mendesis. Bagaikan kuda liar, mimi terus mengayun-ayunkan pantatnya. Keringat menetes dengan di kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik meluapkan gairah didalam dirinya. Saya melirik ke bagian bawah perutnya, terlihat bulu kemaluannya yang agak lebat. Biasanya saya sedikit turn-off melihat wanita yang bulu kemaluannya lebat tapi kali ini gairah saya tidak padam malah semakin membara. Tanpa mengeluarkan kontol saya atau mengubah posisi ML, saya mengangkat mimi. mimi memeluk saya dan kakinya melingkar di pinggang saya. Saya baringkan mimi di sofa, mimi menekuk kakinya lalu merapatkannya sehingga kontol saya terasa semakin rapat di vaginanya. Saya mulai menggenjot vagina mimi. Saya condongkan dada saya sehingga menyentuh dengkul mimi. Mata mimi tidak lepas dari mata saya. Tangan kanan saya meremas payudara mimi sedangkan tangan kiri saya meraih ke anus mimi dan memainkannya. mimi mendelik saat saya memasukkan jari tengah saya ke anusnya, perlahan tangan kanannya meraih jari saya danmenariknya keluar “Jangan sayang, sakit” ujar mimi. Saya terus menggenjot mimi dengan penuh gairah. mimi meremas-remas payudaranya sendiri sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian saya merasakan akan ejakulasi. “Mau keluar mimi” mimi langsung menurunkan kakinya sehingga kontol saya tercabut dari vaginanya, ia duduk lalu meraih kontol saya. Kontol saya langsung diremas dengan gemas dan dimasukkan ke mulutnya. Tangan kanannya meremas-remas biji sedangkan tangan kirinya memegang batang kontolku. Saya memegang kepala mimi dan menekan-nekan kepalanya sehingga kontol saya terasa masuk lebih dalam kedalam mulut Sex 2015 Kontol saya langsung memuntahkan peju kedalam mulut mimi yang mungil. Peju saya terlihat memenuhi mulut mimi sehingga ia terpaksa mengeluarkan kontol saya dari mulutnya dan menelan peju saya kemudian menjilat sisa peju yang turun di batang kontol. Kontol saya langsung bersih dijilat. Saya sebenarnya masih penasaran belum menjilat vagina mimi, tetapi mimi cepat-cepat memakai bajunya dan membereskan rambutnya. Keringat di dahinya ia lap dengan tissue. Kemudian ia mengambil bolpen dan menulis alamat dan nomor handphonenya. “Saya off-duty hari Senin. Kamu pasti boleh pulang besok. Tapi nanti dokter akan minta kamu istirahat beberapa hari. Datang aja ya ke kost saya hari Senin” kata mimi. Saya cium bibir mimi dan mimi bergegas keluar. Sabtu Hari Sabtu saya akhirnya boleh pulang dan persis seperti yang dibilang mimi, saya diminta untuk istirahat dirumah sampai hari Rabu. Senin Jam 9 pagi saya sudah tiba di tempat kost mimi, sebelumnya saya sudah menelepon mimi untuk datang kesana. mimi telah menunggu diruang tamu tempat kostnya. Ia mengenakan celana pendek warna coklat dengan kaos lengan buntung yang ketat. “Hai, akhirnya datang” seru mimi dengan senang. mimi langsung mengajak saya ke kamarnya. “Kangen dengan mimi” kata saya sambil mencium bibirnya. “Iya, saya kangen juga, masih penasaran dengan kontol kamu” jawab mimi sambil ciuman. Saya membuka kaos dan celana pendek mimi. Tampak celana dalam model g-string berwarna hitam dikenakan mimi. mimi lalu gantian membuka baju dan celana panjang serta celana dalam. Kemudian mimi jongkok didepan saya lalu mulai menghisap kontolku. Selang beberapa menit menghisap kontol, saya meminta mimi berdiri lalu saya baringkan ditempat tidur. Saya cium payudaranya sambil tangan kanan saya mengelus vaginanya dari balik celana dalam. mimi memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang saya berikan. Putingnya secara gantian saya hisap dan gigit lalu saya turun ke perut mimi. mimi menjerit geli saat saya gigit perutnya. Dengan tak sabar saya mulai mencium vaginanya dari balik celana dalamnya, kemudian saya tarik celana dalamnya sampai ke dengkulnya. Wah ternyata mimi telah mencukur bulu kemaluannya sehingga terlihat tipis dan rapih, beda dengan malam sebelumnya yang bulu kemaluannya terlihat lebat. Saya jilat vaginanya yang berwarna merah, klitorisnya yang besar tidak luput dari gigitan saya. mimi menjerit-jerit kecil menerima gigitan-gigitan di klitorisnya. Saya membalikkan tubuh mimi lalu membuat posisi doggy style. mimi nungging didepan saya, pantatnya yang mungil saya remas dengan keras lalu saya minta mimi membungkuk lebih dalam sehingga anusnya terlihat. Saya jilat anusnya, mimi menggelinjang kegelian. Kemudian saya mulai mengarahkan kontol kedalam vagina mimi. “Aahh, enak Robert, enak sekali. Terus sayang. Lebih keras” pinta mimi. Vagina mimi terasa hangat dan basah. Saya memegang pantatnya dan menggenjot vagina mimi dengan penuh nafsu. mimi mendesis-desis sambil memutar-mutar pantatnya. Setiap kali mimi memutar pantatnya, kontol saya terasa seperti ditarik lebih dalam divaginanya. Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan itu. Saya memejamkan mata menikmati pijitan kontol saya dalam vagina mimi. mimi kemudian meluruskan kakinya sehingga tubuhnya rata dengan kasur, saya terpaksa harus menurunkan badan saya dan menindih tubuh mimi dari belakang. Tapi dengan gaya ini, kontol saya terasa semakin sempit memasuki vagina mimi karena dihimpit oleh paha Sex 2015 Tidak lama kemudian saya ejakulasi. Saya melenguh dengan keras dan tubuh mimi ikut mengejang pertanda ia juga orgasme. Saya lalu menindih tubuh mimi tanpa mengeluarkan kontol saya. mimi kemudian memutar tubuhnya lalu gantian menindih dada saya. Kami saling berciuman dan istirahat. “Robert, mau nggak kalau ada variasi?” tanya mimi. “Variasi seperti apa?” tanya saya balik. “Ada orang ketiga” sahut mimi. “Siapa?” “Namanya Desi, dia suster juga tapi kerjanya di lantai 2 dirumah sakit yang sama” “Boleh aja, sekarang?” “Bisa, tinggal telepon dan nanti dia datang dari kamar sebelah” “Hah? Dia disebelah? Cantik nggak?” tanya saya bertubi-tubi. Kalau nanti yang datang suster yang mau mandiin saya waktu hari Jum’at pagi kan repot, pikir saya dalam hati. “Cantik, jangan takut deh. Dia satu kost dengan saya” jawab mimi sambil meraih handphonenya. Rupanya mimi telah bercerita kepada temannya mengenai persetubuhan kita di rumah sakit. Dan lebih mengejutkan lagi, Desi ini juga sering bersetubuh atau setidaknya oral sex dengan pasien. Hmm, nakal juga suster-suster ini, pikir saya dalam hati. Dalam waktu kurang dari semenit, Desi mengetuk kamar mimi dan dibukakan oleh mimi. Wajah Desi boleh juga walaupun tidak secantik mimi. Desi memakai daster bercorak bunga-bunga dengan warna mencolok khas dari Bali. Dari balik dasternya tampak buah dadanya yang tidak disangga BH. Saya masih berbaring di tempat tidur dengan telanjang dan mata Desi langsung tertuju ke kontol saya. “Halo Desi” kata saya untuk menghilangkan kecanggungan. “Halo Robert” sahutnya dengan sedikit malu. mimi berdiri dibelakang Desi lalu membuka daster Desi. Desi langsung telanjang bulat. Desi tersenyum malu lalu mendekat kepada saya. Saya meremas payudaranya yang tidak sebesar mimi tapi bulat dan kencang. Pantat Desi sedikit lebih besar dari mimi, bulu kemaluannya terlihat tercukur tipis dan rapih. Desi meraih kontol saya dan mengelusnya. Kemudian ia membungkukkaan tubuhnya dan mulai menghisap kontol saya, saya raih pantatnya dan menariknya kearah muka saya sehingga kita dalam posisi 69. mimi tampak mengambil handycam dan mulai merekam adegan saya dan Desi. Dengan gemas saya jilat vagina Desi, tercium bau sabun yang wangi. Desi membalas dengan menghisap kontol saya sambil meremas bijiku. Puas ber-69, saya minta Desi tetap nungging lalu saya masukkan kontol saya ke vaginanya. Vaginanya tidak sesempit mimi tetapi begitu kontolku masuk langsung terasa vaginanya berdenyut-denyut di kepala kontolku. Desi saya genjot dengan penuh gairah. mimi merekam setiap adegan sambil tangan kirinya mengelus vaginanya sendiri. Desi mengikuti irama goyangan saya dengan menekan pinggulnya dengan keras kepinggul saya sehingga kontol saya masuk lebih dalam ke vaginanya. mimi kemudian meletakkan handycamnya di meja dengan posisi lensa mengarah kami, kemudian ia berlutut dibelakang saya lalu memelukku. Tangan kanannya meremas-remas biji saya. Rangsangan yang diperoleh dari mimi membuat saya menggenjot Desi semakin keras. “Oohh.. Terus Robert, terus Robert.. Saya mau keluar” jerit Desi dengan keras. Tubuh Desi mengejang dan terasa vaginanya Desi menjadi sangat becek. Desi langsung tengkurap dengan lemas dikasur. Wah belum apa-apa udah lemas, saya berkata dalam Sex 2015 Langsung saya tarik si mimi dan masukkan kontolku ke vaginanya. mimi membuka kedua kaki dengan lebar dan menerima kontol saya dalam vaginanya. Saya meremas-remas buah dadanya dengan nafsu sambil menggenjot kontolku yang belum tuntas tugasnya. Saya melirik ke Desi dan ia kelihatannya kembali bergairah. Ia jongkok diatas muka mimi dan mimi langsung melahap vagina Desi. Desi melenguh setiap kali lidah mimi menyapu vaginanya. Saya mencium bibir Desi dan kita saling berpagutan. Setelah menyetubuhi mimi selama 10 menit, peju saya terasa mau keluar. Langsung saya cabut kontol saya dan menyodorkannya ke mulut Desi. Desi menerima dengan senang dan menghisap dan menelan peju saya. mimi sendiri masih asyik menjilat vagina dan anus Desi. Saya terkulai ditempat tidur, Desi rebahan disebelah kiri dan mimi disebelah kanan. mimi memutar video adegan seks tadi. Sepanjang hari, kami bertiga terus bersetubuh dengan posisi yang berbeda. Kadang-kadang gantian saya yang meng-handycam Desi dan mimi yang ber-69 dan berciuman. Three-some yang sangat eksotis. Tubuh saya langsung terasa sehat dan segar
Bonus Kenikmatan Merawat Tante Dirumah Sakit – setelah sebelumnya ada kisah , kini ada cerita . selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan terbaru ceritaBonus Kenikmatan Merawat Tante Dirumah SakitCerita ini berawal saat saya sedang menunggu tante saya yang dirawat di rumah sakit. Tangannya harus digips, akibat kecelakaan yang menimpanya. Tante saya terlibat kecelakaan saat dia mengendarai mobilnya. Tangannya yang kiri luka robek akibat terkena pecahan saya rasakan ketika menunggu tante saya ini ada enaknya juga ada tidak enaknya. Saya ambil contoh saja yang enaknya dulu, saat tante mau pipis, saya pasti disuruh mengantar ke WC. Karena tangan tante sakit, dia menyuruh saya untuk membukakan CD-nya dan saya bisa lihat dengan jelas kemaluannya yang tertutup bulunya yang agak lebat. Dan yang tidak enaknya ketika dia mau buang air besar, sudah deh jangan diteruskan, anda semua pasti tahu apa yang saya itu, saya sendirian menjaga tante di rumah sakit. Tiba-tiba tante memanggil saya, “Sony.., cepet kemari..! Tolong tante ya..?” katanya. “Ada apa tante..?” kata saya. “Perut tante sakit nich.., tolong gosokin perut tante pake minyak gosok, ya..?” katanya sambil membuka selimutnya. Dan terlihatlah tubuh tante yang molek itu, meskipun dia masih memakai BH dan CD. Tapi samar-samar puting buah dadanya dan bulu kemaluan tante terlihat agak jelas. Melihat pemandangan itu, batang kemaluan saya menjadi naik. Agar tidak terlihat oleh tante, saya mencoba merapatkan tubuh bagian bawah saya ke tepi ranjang. “Lho Son.., apa yang kamu tunggu..? Ayo cepet ambil obat gosok di meja itu. Lalu gosok perut tante, awas jangan keras-keras ya..!” katanya. “Ya tante..” kata saya sambil mengambil obat gosok di meja yang ditunjuknya. Setelah saya mengambil obat gosok yang ada di meja, “Yang digosok bagian mana tante..?” tanyaku. “Ya perut tante dong, masak memek tante.. khan nanti.. memek tante jadi sakit kepanasan.” katanya tanpa merasa risih. “Akh.. tante bisa aja deh.. benci aku.. uhh..!” kata saya. “Ayo dong cepet, tante udah nggak tahan sakitnya nich..!” katanya sambil meringis. Lalu saya gosok bagian perutnya yang putih mulus dan berbulu itu. Saya menggosok dengan lemah-lembut seperti ketika saya sedang menggosok tubuh cewek saya. “Ya gitu dong, huu.. enak juga gosokanmu Son. Belajar dimana kamu..?” katanya sambil mendesis. “Nggak kok tante, biasa aja.” saya jawab dengan pura-pura. “Udahlah jangan bohong kamu.. Pasti kamu sering gosokin tubuh cewek kamu ya khan..?” tanyanya mendesak saya. “Kan Sony belum pernah gosokin cewek Sony, tante..!” kata saya pura-pura lagi. “Sekalian ya Son, pijitin kaki tante, bisa khan..?” katanya manja. Saya hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya yang membuat naik lagi batang kemaluan saya. Kakinya begitu dingin, mulus dan merangsang saya. Lalu, “Sudah tante, capek nich..!” kata saya. “Lhoo.., yang di atas belum khan..?” katanya. “Ah.., tante becanda ah.., Sony jadi malu..,” kata saya. “Ayo cepet dong, kamu nggak bakalan capek lagi. Coba deh pijit disini, di paha tante ini. Ayo dong, kamu nggak usah malu-malu, Sony khan keponakan tante sendiri, ayo cepet gih..!” katanya manja sambil menarik tangan saya dengan tangan saya dapat melihat gundukan bukit kemaluanya yang menerawang dari balik kain tipis CD-nya itu. Wajah saya langsung berubah merah menyala dengan pemandangan yang indah ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang saya rasakan, dia menyuruh mendekat masuk ke tengah-tengah selangkangannya dan mengambil kedua tangan saya, meletakkan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit kemaluannya. “Iya di situ Son..,” katanya sambil mencoba melebarkan kakinya lebih lebar lagi. Saya disuruh memijat lebih ke dalam lagi. Pikiran saya mulai terganggu, karena bagaimanapun meremas-remas zone eksklusif’ yang sedang terbuka menganga ini mau tidak mau membuat batang kejantanan saya menjadi naik lagi. Lalu, “Son, kamu udah punya cewek..?” katanya. “Ya tante..,” kata saya berterus terang. “Ngomong-ngomong Sony udah pernah ngeseks sama cewek kamu, belum..?” “Apa itu ngeseks tante..?” kata saya pura-pura tidak mengerti. “Maksudnya tidur sama cewek..” katanya. “Ngmm.. belum pernah tante..” jawab saya berbohong. “Ah masak sih, coba tante lihat dan pegang punyamu itu..?” katanya sambil menarik tubuh saya agar lebih dekat lagi, lalu dengan tangan kanannya dia meraba gundukan di celana saya. “Tante pengen tau kalo anumu bangunnya cepet berarti betul belum pernah..” katanya sambil meraba-raba batang kemaluan saya lagi. Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujuk saya. Mungkin karena saya masih berdarah muda, biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tetapi kalau dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batang kemaluan saya naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih mudah lagi buat dia. “Wihh, besar sekali gundukanmu Son.. boleh lihat dalamnya punyamu..? Ayo bantu tante untuk membuka celanamu..!” katanya tanpa menunggu persetujuan dari saya, dia sudah langsung bekerja membuka celana saya dan membebaskan burung kaku saya. Memang, waktu batang kejantanan saya terbuka bebas, matanya setengah heran setengah kagum melihat ukurannya. Terutama kepalanya yang menyerupai helm tentara “NAZI”. “Bukan main kontolmu Sony.. besar dan keras banget punyamu..” katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu nafsunya. “Tapi masak sih Son, benda seindah begini belum pernah dipake ke memeknya cewek. Kalo gitu sini tante boleh nggak ngerasain sedikit lagi biar bisa tante tempelin di sini.” lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentar saya, dia dengan sebelah tangan bekerja cepat melepaskan hutan kemaluannya yang menggoda itu, lalu dia menyuruh saya untuk naik ke ranjang dan menyuruh saya untuk menempelkan kepala kemalua saya di mulut lubang senggamanya. Di situ Saya disuruh menggosok-gosokkan ujung kemaluan saya di celah liang senggamanya. Lalu dengan menggosok-gosokkan sendiri ujung kepala batang kejantanan saya di mulut lubang senggamanya yang sudah terbuka lebar itu, menambah semakin tegang dalam nafsu diri saya. “Ahh.. aduh.., Son.. nikmatnya..,” katanya menjerit geli. “Udah Son, tante nggak tahan. Sekarang giliran tante bikin nikmat kamu.., ok Sayang..?” katanya menyuruh saya berdiri. Lalu dia dengan satu tangannya langsung memegang batang kemaluan saya dan mulai menjilati seputar batangnya, sambil sesekali mengulum kepalanya. Beberapa saat kemudian, dia menarik saya lagi, tubuh saya berlutut di atas ranjangnya, dan kembali liang senggamanya memperlihatkan celah kenikmatan yang siap untuk saya masuki. Dalam keadaan seperti itu, saya betul-betul sudah lupa bahwa dia adalah tante saya sendiri. Lalu, ujung batang kejantanan saya mulai saya tusukkan di lubang kenikmatannya yang segera saya ikuti dengan gerakan maju-mundur, putar kanan-kiri untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri ikut membantu saya dengan jari-jari tangan kanannya. Dia memperlebar bibir kemaluannya agar semakin lebih terbuka untuk lebih mempermudah masuknya batang kemaluan saya. Terus saya genjot batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya yang indah itu. Dan akhirnya, “Hghh.., oo.. Sonn.. yeess.., oohh..!” dengan erangannya, dia membuka orgasmenya yang juga disusul oleh saya hanya berselang beberapa detik kemudian. “Gimana Son rasanya barusan..?” katanya menguji saya sambil tangannya mengusap, menyeka-nyeka keringat di dada saya. “Aduh tante enak sekali, belum pernah Sony ngerasain yang seperti ini. Tapi tante sendiri, gimana rasanya..?” kata saya balik bertanya. “Tante baru sekarang lho ngerasain digituin cowok dengan kelembutan, tapi juga tidak meninggalkan kejantanannya yang perkasa, seperti punyamu ini, Si Buta Dari Gua Memek’, tante jadi melayang ke langit yang ke-7. Ohh.. endangg..?” selesai, saya diajak tante ke kamar mandi. Dan waktu itu saya bantu tante membersihkan kemaluannya. Sambil menyiram kemaluan tante, saya mendekap dia dari belakang, dan tante yang sedang berdiri menjadi kegelian karena batang kejantanan saya menyentuh bukit pantatnya. Seketika batang kejantanan saya naik lagi karena yang saya lihat sekarang lebih terlihat montoknya. Dan seketika itu, tangan lembut tante memegang batang kemaluan saya. Saya gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa buat cowok perjaka seperti saya ini. Buah dada tante menjulang, menantang dan tegar, kelihatan pori-porinya meremang karena udara sangat dingin di kamar mandi, apalagi ini sudah tengah malam. Dan bukit kemaluannya agak merekah merah terbuka bekas perbuatan yang tidak tahu harus berbuat apa selain meraba buah dadanya lagi yang kali ini dari depan. Tante menarik saya dan mencium bibir saya, saya menurut saja. Tubuh kami saling merapat. Tangannya terus mengurut-urut batang kejantanan saya. Dan saya meraba pantatnya yang bulat dan sintal kencang. Buah kejantanan saya pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian, tante mulai menaikkan kakinya yang sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi kemaluan saya ke liang senggamanya. Ngilu dan agak panas terasa di batang kejantanan mulai bergoyang maju mundur dan pantat saya juga ditekannya dengan tangan kanannya agar saya bisa mengikuti irama. Saya ikut saja menggoyangkan sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya. Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi paha tante mulai pegal rupanya, dan dicabutnya batang kemaluan saya. Kemudian dia berbalik dan menungging sambil berpegangan dengan tangan kanannya ke bibir bak mandi. Saya gosokkan batang kejantanan saya ke bibir kemaluannya. Benar-benar terasa panas bibir kemaluannya saya mendesak maju dan, “Bless..” kepala NAZI’ milik saya masuk bergesek-gesek dengan dinding lubang senggamanya. Tante juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari ular. Aduh luar biasa sekali, saya merasa keenakan dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Pantat saya maju mundur, rudal panjang saya menggaruk-garuk lubang kenikmatannya. Dari posisi ini, saya bisa melihat dengan jelas batang kejantanan saya basah kuyup dan bibir kemaluan tante tertarik keluar masuk. Tangan saya menjangkau ke depan, meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar, nafas tante mendengus desah. “Ohh.. yess..!” Akhirnya saya meledak-ledak lagi dan tante rupanya sudah lebih dulu mengalami orgasme. Setelah itu saya mandikan tante saya tersayang. Mulai detik itu, saya punya tugas tambahan baru yaitu menyetubuhi tanteku yang manis. by – Cerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.
cerita ngentot di rumah sakit