cerita dewasa budak seks
CeritaSex ini berjudul " Cerita Sex Menantu Jadi Budak Seks " Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2020. Ceritasexindo - Dina mematut diri di depan cermin. Ini adalah hari yang paling di nantikannya, hari pernikahannya.
CeritaDewasa Inem Budak Seks Pada awalnya, Siti masih berusaha untuk memberontak, tetapi ketika dia menutup pinggangnya dengan pinggangku di antara pahanya, meraih tangannya dengan tanganku, dan akhirnya mengundurkan diri dan merilekskan pemberontakannya .. Aku gila dan mulutku menyerbu payudaranya secara bergantian
CeritaSeks Aku Menjadi Budak Seks Penjaga Sekolah Posted in Cerita Pesta Seks Cerita seks kini aku mau menceritakan sebuah pengalaman pribadiku dengan kalian semunya pecinta cerita seks bugil. Kali ini saya mau menceritakan pada waktu dulu yang pernah aku alami dengan seorang yang begitu dekat dengan aku walaupun dia hanya seorang penjaga sekolah
CeritaSeks Sedarah | mamaku jadi budak pemuasku seks | Sudah lama aku menyimpan hubunganku dengan kakak tiriku. Mbak Santi sangat menikmati setiap permainan seks yang kami lakukan. Kami melakukannya tanpa sepengetahuan ibuku. Tujuanku sebenarnya adalah untuk menghukum ibu yang sudah berbuat tidak adil terhadap mbak Santi. Dan kesempatan itupun tiba.
CeritaDewasa - Melayani Nafsu Liar Om Ferdi. Wisata Dewasa 83 - Namaku Alya seorang wanita yang selama ini sering berhubungan dengan pria yang hanya menginginkan tubuhku. Sebenarnya aku muak jika terus menerus menjadi budak nafsu dari laki-laki yang dekat denganku tapi aku tidak bisa membedakan mana laki-laki yang tulus mencintaiku atau laki-laki
mở bài bằng lí luận văn học. Latar belakang Dede dan Mamat tinggal di rumah Gita selama 3 hari, dan selama 3 hari itu Mamat dan Dede selalu minum susu Gita dan menyetubuhi Gita kapanpun mereka mau. Tapi Dede dan Mamat harus kembali ke rumah mereka masing-masing karena takut istri mereka marah. Sekarang Gita ingin sekali merasakan bagaimana rasanya bekerja. Lalu dia mencari pekerjaan kesana kemari…. Kisah Gadis Muda Budak Sex 1 Sudah 1 minggu Gita mencari pekerjaan kesana kemari tapi dia belum mendapatkan pekerjaan, lalu Gita minta tolong Dr. Fahmi agar menanyakan pada teman-teman Dr. Fahmi, apakah ada kerjaan untuknya. Keesokan hari setelah Gita mendatangi Dr. Fahmi, Dr. Fahmi menelponnya kalau temannya ada yang mencari karyawati untuk kantornya, Gita minta diperkenalkan dengan orang itu. Dr. Fahmi membuat perjanjian dengan orang itu, orang itu setuju untuk bertemu di restoran pada pukul 8 malam, tapi Dr. Fahmi bilang bahwa mereka tidak bisa ikut, jadi Dr. Fahmi memberikan ciri-ciri temannya itu kepada Gita. Ciri-cirinya yaitu temannya bernama Denis, umurnya 50an, gendut, rambutnya botak, kulitnya putih, dan dia akan memakai hem biru. Gita bersiap-siap untuk menemui orang itu dengan memakai gaun malam nakalnya karena gaun malamnya itu mempunyai belahan rok sampai ke pinggang, dan belahan dada pada atasannya berbentuk u yang rendah sehingga belahan dadanya terlihat seakan-akan mau menyembul keluar dari gaunnya. Karena memakai gaun itu Gita terlihat sangat cantik dan anggun sekaligus terlihat sexy. Setelah sampai di restoran yang jadi tempat bertemu, Gita langsung masuk kedalam restoran, setelah di dalam restoran, Gita melihat seluruh sudut ruangan, dan akhirnya menemukan orang dengan ciri-ciri yang diberikan oleh Dr. Fahmi di pojok restoran itu. Lalu dia berjalan menuju ke meja orang itu. Semua orang melihat ke arah Gita dengan pandangan kagum karena Gita menjadi sangat cantik dengan gaun malamnya. Gita hanya tersenyum pada orang-orang yang menatapnya dengan kagum. Setelah sampai di meja Denis, Gita membungkukkan badannya untuk bertanya “maaf, apakah Anda Bapak Denis?”, Denis sempat terbengong karena ketika Gita membungkukkan badannya, dada Gita terlihat jelas karena Gita tidak memakai bra, tapi Denis menyadarkan dirinya lalu berkata “oh ya, kamu Gita ya, mari silakan duduk”, lalu Gita duduk di depannya, dan memesan makanan, lalu setelah makanan datang, mereka berdua makan. Denis berkata “saya gak nyangka kalau yang namanya Gita itu cantik sekali”, “ah, bapak bisa aja, saya jadi malu” balas Gita, lalu mereka berdua makan kembali, setelah selesai makan, mereka berdua ngobrol lagi. Denis menyuruh Gita untuk mulai bekerja di kantornya. Lalu Denis mengantar Gita pulang. Keesokan harinya, Gita datang ke kantor Denis, ternyata kantornya besar, hari itu Gita memakai rok mini dan kemeja yang 2 kancingnya terbuka. Dalam perjalanan ke ruangan Denis, para karyawan cowok bengong melihat cewek secantik Gita memakai baju yang sexy, bahkan ada yang menggoda Gita dan mengajak kenalan, Gita memberikan senyuman pada yang menggodanya dan memberikan nomor hpnya pada cowok yang meminta nomor hpnya, setelah sampai di ruangan Denis. Ternyata Gita langsung diangkat jadi sekretaris oleh pak Denis, Gita sudah tau kalau Denis mata keranjang, dia diberi tau oleh Dr. Fahmi. Tapi Gita tidak perduli, dan sejak hari itu Gita bekerja sebagai sekretaris Denis. Tentu saja para karyawati pada sinis dengan Gita, tapi karena Gita selalu sabar dan selalu baik pada semuanya, sehingga baru 2 minggu dia bekerja, semuanya baik karyawan maupun karyawati menjadi temannya. Sudah hampir 3 minggu Gita bekerja, dan selama 3 minggu itu tubuh Gita diraba-raba oleh Denis, Gita tidak melawan, karena Gita memang senang diraba-raba, lalu suatu hari Denis berkata “Gita, mau gak kamu tinggal di rumah saya?”, “kok saya tinggal dirumah bapak? Emang istri bapak kemana?” balas Gita, Denis menjawab “istri saya udah meninggal jadinya saya kesepian di rumah, paling-paling sama anak saya aja, mau ya tinggal di rumah saya?”, Gita teringat kalau Denis menganut aliran bdsm dalam hal sex, “akhirnya gw bisa jadi budak sek” pikir Gita dalam hati, karena dari dulu Gita sangat ingin jadi budak seks cewe yang aneh……. Lalu Gita bertanya “saya sih mau aja pak, tapi saya mau nanya satu hal, emang bapak suka sama BDSM ya?”, “eee…. emangnya kamu gak suka bdsm ya?” balas Denis, lalu Gita menjawab “gak kok, saya malah suka kalau saya jadi budak seks bapak, sekaligus balas budi gitu”, “oh, beneran? bagus kalau gitu, sebab saya belum punya budak seks sesempurna kamu” balas Denis. Lalu Denis membawa pulang Gita ke rumahnya, setelah sampai di rumah Denis, Gita langsung disuruh masuk ke kamarnya oleh Denis, didalam kamarnya Denis menyuruh Gita untuk telanjang. Setelah Gita telanjang, Denis langsung menggotong badan Gita ke ranjangnya, dan langsung menggenjot vagina Gita dengan cepat dan kuat, Gita mendesah “mmm…..aaaa…….hhhhh”, 25 menit kemudian Gita orgasme disusul oleh semburan sperma Denis ke dalam vagina Gita. Lalu Denis berkata “gila, vagina kamu luar biasa, enak banget, kalau gitu mulai sekarang kamu resmi menjadi budak seksku, kamu harus menuruti setiap perintahku dan anakku, mengerti?”, Gita menjawab “baik tuan”, “dan mulai sekarang kamu saya pecat jadi karyawati saya karena kamu sekarang budak saya” sambung Denis, Gita menjawab lagi “iya tuan”. Lalu Denis memakaikan dildo berkepala 2 di vagina Gita, dan memakaikan dildo di anus Gita, lalu Denis mengambil sebuah remote dan ketika Denis menekan tombol pada remote itu, kedua dildo yang ada di vagina dan anus Gita itu bergetar di dalam, Gita mendesah karena sensasi yang ditimbulkan, lalu Denis berkata “kamu gak boleh make apapun kecuali 2 dildo ini, dan remotenya saya dan anak saya pegang jadi kamu gak bisa bikin dildo itu berhenti!”, “iya tuan” jawab Gita, “sekarang buka mulut kamu” sambung Denis, Gita membuka mulutnya lalu Denis memasukkan penis ke mulut Gita, kemudian Gita merasakan cairan yang sudah tidak asing lagi, ternyata Denis kencing di dalam mulut Gita, Gita langsung meminum air seni Denis dan meminta untuk kencing di mulutnya lagi, Denis berkata “wah, wah, ternyata kamu gak hanya cantik dan sexy, tapi kamu juga budak yang baik”, Gita berkata “bukan hanya itu tuan muda, saya juga bisa keluarin susu”, “ah, yang bener?” balas Denis, lalu Denis langsung menghisap puting Gita, begitu susunya keluar, Denis langsung menghisap susu Gita seperti orang yang sangat kehausan, sudah 10 menit Denis menghisap susu Gita, tapi susu Gita tidak habis-habis. Lalu Denis berkata “waduh, susu kamu gak abis-abis ya? kamu emang cewek sempurna udah cantik, sexy, baik, vagina dan anus kamu sempit banget, bisa ngeluarin susu, udah gitu kamu mau diapain aja lagi”, Gita hanya tersenyum, lalu Denis berkata “kalau gitu, mulai sekarang kamu jadi tempat buang peju, wc berjalan, dan sapi perah bagi semua orang yang ada di rumah ini dan juga bagi tamu yang datang ke rumah ini, apa kamu ngerti budak?”, “saya akan mematuhi semua perintah yang diberikan” jawab Gita. Denis memakaikan kalung ****** pada leher Gita dan Gita harus berjalan dengan tangan dan kakinya seperti ******, lalu Denis membawa Gita ke ruang tengah, lalu mereka berdua menonton film porno, setelah film porno itu selesai mereka tonton, Denis mengeluarkan dildo dari vagina Gita, lalu Denis menghujamkan penisnya ke dalam vagina Gita berkali-kali, 15 menit kemudian Denis menyemburkan spermanya di dalam vagina Gita. Kemudian Denis mencabut penisnya, dan memasukkan dildo ke vagina Gita lagi, lalu Denis memborgol tangan Gita di belakang sehingga dada Gita yang putih mulus, dan kencang itu semakin membusung ke depan, Denis menjadi bernafsu lagi ketika melihat dada Gita yang membusung ke depan, lalu Denis menghisap dan menjilati puting Gita sehingga susu keluar dari puting Gita, Denis menelan semua susu Gita, lalu setelah Denis puas meminum susu Gita, Denis berkata “kamu hanya akan mandi kalau saya atau anak saya memandikanmu, dan kamu sama sekali tidak boleh berdiri, kamu harus terus merangkak seperti ******!!!”, “ya, tuanku” jawab Gita. Lalu Denis membawa Gita ke kamar mandi dan memandikannya dengan sabun yang dibawa oleh Gita sehingga seluruh tubuh Gita wangi kembali. Lalu Denis menyuruh Gita makan dengan mangkuk makan ******, Gita tak menyangka kalau dia benar-benar menyukai jika dirinya dijadikan budak seks oleh laki-laki. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tetapi anaknya belum pulang, lalu Denis menelpon anaknya ternyata anaknya sedang berada di rumah temannya, Denis ingin menjemput anaknya, Denis ingin memperkenalkan Gita pada anaknya, lalu Denis menyuruh Gita masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang dan menyuruh Gita untuk memasukkan dildo pada vaginanya, lalu Denis menyetel dildonya sampai kekuatan maksimum sehingga goyangan dildo di dalam vagina Gita sangatlah kuat dan cepat yang membuat Gita merasa sangat keenakan. Selama perjalanan Gita sudah mengalami beberapa kali orgasme dan dia terus mendesah, setelah sampai, Denis mencabut dildo dari vagina Gita, lalu Denis berkata “nah sekarang, vagina kamu udah siap untuk dinikmati oleh anakku” setelah melihat vagina Gita yang sudah oleh cairan yang dikeluarkan dari vaginanya sendiri. Tak lama kemudian, anaknya membuka pintu mobil dan berkata “halo, kakak budaknya papa ya? ternyata budak papa yang sekarang sempurna banget”, lalu dia memperkenalkan dirinya pada Gita. Anak Denis itu bernama Rony, Rony yang berumur 14 tahun mempunyai badan yang gendut, kulitnya putih, dan wajahnya yang gendut membuatnya wajahnya seperti babi. Rony langsung menjilati vagina Gita yang sudah basah, setelah Rony sudah membersihkan vagina Gita, lalu Rony berkata “vagina kakak rasanya manis banget”, “itu hanya rasa cairan aku, coba kamu masukkin ****** kamu ke vagina aku, pasti lebih enak” balas Gita, lalu Gita membuka celana Rony dan melihat penis Rony yang sudah menegang, lalu Gita membimbing penis Rony ke vaginanya, kemudian ketika Rony sudah merasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina Gita, Rony langsung menghujamkan penisnya ke dalam vagina Gita, dan menggenjot vagina Gita, Rony terus menggenjot vagina Gita dengan cepat dan kuat selama 12 menit, lalu Rony tiba-tiba mempercepat sodokannya dan akhirnya Rony menyemburkan spermanya di dalam vagina Gita, kemudian Rony berkata “gile, vagina kakak sempit banget”, “nah, enak kan vagina aku, kalau gitu, kan kamu aus abis ******* sama aku , sekarang kamu minum susu aku biar gak aus” balas Gita sambil menyodorkan dadanya ke muka Rony, Rony langsung menghisap susu yang keluar dari puting Gita, lalu Rony berkata “susu kakak manis banget rasanya….”, Gita hanya membalas perkataan dengan desahannya. Selama perjalanan, Rony terus menghisap susu Gita, tapi tiba-tiba Rony ingin buang air kencing karena dia terus-terusan minum susu Gita, lalu Rony berkata pada ayahnya “pah, berhenti dulu sebentar, Rony pengen kencing nih”, “gak usah, kan ada Gita, kamu kencing di mulut Gita aja” balas Denis, lalu Rony berkata lagi “ah yang bener pah? Emang kak Gita mau nelen air kencing aku?”, “aku malah seneng kalau aku bisa ngerasain air kencing kamu” balas Gita, lalu Gita langsung berjongkok di bawah Rony dan memasukkan penisnya ke mulutnya, tidak lama kemudian, Gita merasakan semburan air seni Rony yang hangat di dalamnya, dan Gita langsung meminum air seni Rony tanpa tersisa, malah Gita menyedot-nyedot penis Rony agar dia bisa meminum air seninya, lalu Gita duduk di pangkuan Rony dan menyodorkan dadanya ke muka Rony lagi, Rony berkata “kakak emang cewek impian setiap cowok karena kakak selain cantik dan sexy, tapi kakak juga mau melakukan semua untuk memuaskan cowok” lalu Rony menghisap susu Gita lagi. Setelah sampai di rumah, Gita langsung merangkak ke kamar Denis, lalu Denis dan Rony pergi ke dapur, dan membawa obat pembuat kuat, lalu mereka membawanya ke kamar Denis. Obat itu berfungsi untuk membuat penis tegang selama 6 jam dan membuat penis selalu mengeluarkan sperma tanpa henti. Setelah di depan, Denis dan Rony membuka baju mereka sendiri, lalu menyuruh Gita untuk tiduran di ranjang Denis, lalu Denis dan Rony meminum obat yang mereka bawa, 5 menit kemudian penis mereka langsung menegang, lalu mereka menggarap tubuh Gita terus menerus, dan karena sperma mereka tidak pernah habis, badan Gita menjadi penuh oleh sperma mereka, tapi Gita berada di lantai jadi kasur Denis tidak kotor, selama 6 jam vagina, anus, dan mulut Gita selalu dimasuki bergantian oleh penis mereka, setelah 6 jam, Denis dan Rony menyemburkan semburan sperma terakhir mereka pada wajah Gita, karena sperma mereka tak habis-habis, vagina dan anus Gita sudah dibanjiri oleh sperma mereka, dan tubuh Gita sudah berselimuti sperma mereka dan Gita berada di kolam sperma mereka lalu Denis dan Rony mengencingi dari wajah sampai ke kaki Gita, mereka berdua meninggalkan tubuh Gita dalam kolam sperma mereka yang sudah bercampur air seni mereka. Gita tidur kelelahan, dan Gita tidak sabar untuk menjalani hari kedua sebagai budak seks.
Namaku Indra. Sudah hampir sebulan bulan ini aku menjadi budak seks ibu Anna, Ibu guru biologi di sekolahku. Dengan bermodalkan foto-foto diriku baca “My Teacher”, dia membuatku menuruti semua perintahnya. Setiap harinya kecuali hari rabu dimana ibu Anna mengajar praktikum biologi, aku diharuskan datang ke rumahnya, tidak boleh lewat dari jam satu siang. Jam pulang sekolah adalah jam 1230, namun karena jarak rumah ibu Anna yang tidak terlalu jauh 10 menit perjalanan dengan kendaraan umum maka itu aku masih sempat untuk makan siang dahulu di kantin. Walaupun tak urung seorang teman dekatku mulai mencurigai kegiatanku. Karena memang tidak biasanya aku selalu bergegas pergi setelah pulang sekolah. Biasanya aku menghabiskan waktu di sekolahan dengan teman-temanku untuk sekedar ngobrol sambil makan roti bakar atau juga bermain basket sampai sore. Dengan sebuah kebohongan yang diikuti kebohongan lainnya aku untuk sementara dapat meloloskan diri dari kecurigaannya. Di rumah ibu Anna sudah banyak pekerjaan yang menantiku. Sesudah mencuci piring-piring kotor, kemudian aku mencuci pakaian-pakaiannya dengan mesin cuci, sesudah itu baru aku terakhir menyapu dan mengepel lantai. Pada awalnya pekerjaan itu menghabiskan waktu selama satu jam, kini setelah terbiasa, aku dapat mengerjakannya dalam waktu 30 menit. Ibu Anna sendiri biasanya datang pada jam sekitar jam 0130-0200 siang. Ibu Anna pernah memberikan larangan masuk ke kamarnya jika dia belum datang, namun suatu hari aku pernah memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya untuk mencari foto-foto diriku yang kuperkirakan disembunyikannya di suatu tempat di kamarnya. Dengan cepat aku memeriksa dengan seksama kamar itu mencari dimana kira-kira foto-foto itu disembunyikan. Akhirnya aku menemukan satu laci lemarinya yang terkunci. Sesudah mencari beberapa saat, akhirnya aku temukan kuncinya di bawah tumpukan buku. Namun ketika kubuka laci itu yang kutemukan adalah kumpulan VCD porno yang semuanya kira-kira berjumlah 30 buah dan juga beberapa majalah porno keluaran luar negri. Mau tidak mau aku terkagum-kagum dengan koleksinya. Temanku Agus yang dikenal sebagai “raja bokep” di sekolahku saja tidak mempunyai koleksi sebanyak ini. Setelah kuperhatikan semua VCD dan juga buku-buku pornonya bertema perbudakan kaum pria oleh wanita. Di cover-cover VCD terlihat gambar pria yang disiksa dengan sadis. Beberapa pernah kualami sendiri, namun banyak yang memperlihatkan penyiksaan yang lebih menyakitkan dari pada yang kualami selama ini. Di salah satu cover VCD yang tampaknya keluaran Jepang aku melihat seorang pria yang di gantung terbalik kemudian disekelilingnya ada 5 wanita yang mencambukinya. Dapat kulihat expressi kesakitannya dan juga bekas-bekas pukulan yang sebelumnya mendarat di tubuhnya. Dalam hatiku berharap ibu Anna tidak tergoda untuk memperlakukan diriku seperti demikian. Dan entah kenapa ada keinginan dalam diriku untuk melihat-lihat yang lain, namun segera saja kuurungkan niatku ketika aku melihat sudah hampir jam setengah dua. Dengan segera aku mengunci laci itu dan meletakkan kuncinya pada tempat sebelumnya. Yah memang hari itu aku sedang beruntung, karena jika terlambat satu menit saja ibu Anna bisa memergokiku yang sedang menggeledah kamarnya. Sesudah datang biasanya ibu Anna langsung masuk ke kamarnya, dan tanpa diperintah lagi aku mengikutinya masuk. Disana sudah menunggu tugas “kebersihan” lainnya. Ibu Anna dengan santai berbaring di ranjangnya sedangkan aku dengan perlahan melepaskan sepatu hak tingginya lalu mejilati kedua telapak kakinya dengan lidahku sampai bersih. Maksudku benar-benar bersih, ibu Anna tidak mau ada bagian yang terlewat sedikitpun, termasuk disela-sela jarinya. Setelah itu, dia akan memberiku isyarat untuk melepaskan rok yang dikenakannya, sedangkan untuk membuka celana dalam yang dikenakannya aku tidak diperbolehkan menggunakan tanganku, melainkan hanya menggunakan mulutku. Pada awalnya aku kesulitan dengan tugas satu itu, baru sesudah kulakukan berulang kali aku mulai bisa melakukannya dengan mudah. Sesudah itu vaginanya yang lembab akibat keringat setelah bekerja mengajar seharian, kukecup dengan lembut berulang kali, sesuai dengan yang di ajarkannya padaku. Setelah beberapa kali mendapat petunjuknya, kini bisa dibilang ibu Anna sudah cukup puas dengan keahlianku, sehingga dia hanya berdiam diri saja memperhatikanku mengerjakan pekerjaan rutinku, atau biasanya dia dengan santai menonton film porno yang sebelumnya disetelnya. Sedangkan aku masih terus mencium dan menjilati vaginanya sampai ibu Anna menyuruhku berhenti. Pernah suatu kali aku melakukannya selama hampir satu jam. Akibatnya lidahku menjadi sakit dan kelu. Sedangkan rahangku hampir copot rasanya. Suatu kali, tanpa terduga ibu Anna memperbolehkanku untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Tentu saja aku kegirangan mendapat kesempatan ini. Selama aku mengerjakan pekerjaanku mengoral vaginanya tentu saja aku merasa terangsang, hanya saja biasanya setelah ibu Anna puas dengan pekerjaanku dia kemudian menggunakan vibrator penis buatan untuk memuaskan nafsunya yang sudah memuncak. Sedangkan diriku hanya dapat dengan iri melihat vibrator itu melaksanakan tugasnya. Sesudah selesai, barulah ibu Anna menyuruhku pulang. Baru di rumah aku menyalurkan nafsuku dengan mansturbasi. Karena itu kesempatan yang kali ini kudapat tidak akan kusia-siakan begitu saja. Sedangkan ibu Anna sudah siap dengan posisi menungging. Dengan hati-hati aku mencoba untuk memasukkan penisku yang tegang ke dalam vaginannya. Secara perlahan aku melihat penisku masuk ke dalam lubang vaginannya, yang sebelumnya sudah kujilati sampai basah sekali. “Kontol kamu kecil” kata ibu Anna dengan nada mengejek. Panas juga hatiku mendengar perkataannya. Memang ketika sedang berada di rumah, ibu Anna seperti orang yang berbeda dengan ibu Anna yang mengajar biologi di sekolah yang biasa berkata-kata dengan sopan dan santun. Disini dia adalah wanita berumur 30 tahun dengan dengan birahi yang tidak kunjung terpuaskan. Sesudah seluruh batang penisku terbenam dalam liang vaginanya barulah aku mencoba menggerakannya perlahan. Yang terjadi selanjutnya adalah ketika baru 3 kali aku memompa penisku di dalam vaginanya aku sudah tidak dapat menahannya lagi. “Keluarin!” bentak ibu Anna dengan tiba-tiba setelah dia menyadari aku sudah hampir orgasme. Bersamaan dengan keluarnya penisku, aku mengalami orgasme dahsyat. Spermaku menyembur mengenai tepat di lubang anusnya yang kemudian turun ke masuk ke lubang vaginanya dan menetes-netes ke sprei. Sedangkan aku dengan terengah-engah kenikmatan mengocok-ngocok batang penisku sehingga makin banyak menumpahkan sperma ke lubang anusnya. Melihat keadaanku, secara spontan ibu Anna tertawa terbahak-bahak. “Baru kali ini saya ketemu cowok yang kontolnya nggak ada gunanya kayak punya kamu itu” katanya mengejekku. Tentu saja ketika itu harga diriku sebagai lelaki terusik mendengar ejekannya. Dengan menggenggam batang penisku yang masih tegang aku mencoba memasukannya kembali ke lubang vaginanya. Zlebb.. Dengan mudah batang penisku masuk ke dalam liang vaginanya yang masih basah. “Apa-apaan kamu! Keluarin kontol kamu itu” tiba-tiba ibu Anna membentakku dengan keras. Dengan tergesa-gesa aku menarik batang penisku yang baru saja terbenam dalam liang vaginanya. Dan tanpa bisa kutahan kembali aku mengalami ejakulasi. Dengan tubuh gemetar menahan nikmat, aku mengocok penisku dengan cepat sehingga banyak sperma yang tumpah dan jatuh di telapak kakinya. Sementara ibu Anna menatapku dengan pandangan jijik, seakan-akan aku ini adalah gundukan sampah yang menyerupai manusia. “Heh kontol! Kamu harus membersihkan ini semua” bentaknya. “Maaf bu” jawabku pelan dengan menundukan kepala karena malu. Aku segera beranjak turun dari ranjang untuk mengambil tissue. “Pakai mulut” kata ibu Anna dengan dingin. Tentu saja aku mau protes dengan perintahnya itu. Yang pertama, itu adalah spermaku dan tentunya aku tidak mau menjilati spermaku sendiri dan yang kedua adalah setelah dua kali ejakulasi tadi aku kini sudah tidak mempunyai nafsu lagi. Tapi ketika kulihat tatapan marah di matanya segera saja hatiku menjadi ciut. Dengan perasaan menyesal aku memandang ke genangan sperma di lubang anus ibu Anna. Belum pernah aku menjilati lubang anus ibu Anna sebelumnya, kini mau tidak mau aku harus melakukannya. “Cepat!” bentak ibu Anna, “Dan jangan berhenti sebelum disuruh” sambungnya lagi. Dengan harga diri yang hancur terinjak-injak aku mulai menjilati daerah sekitar lubang anusnya dengan perlahan. “Heh kontol! Bersihin yang benar,” bentaknya sambil melotot padaku. Kupejamkan mataku dan setelah mengumpulkan kekuatanku aku mulai menjilati sperma yang tergenang. Dengan segera aku mencium bau khas sperma dan juga rasa asin dari spermaku yang tadi baru kutumpahkan di lubang anusnya. “Lebih cepet!” kembali ibu Anna memberikan perintah. Hampir menangis rasanya aku mendapat penghinaan seperti ini. Mau tak mau aku mempercepat gerakan lidahku. Kutempelkan lidahku di lubang anusnya, kemudian kuseret lidahku di permukaan lubang anusnya sehingga sperma di lubang anusnya sudah terangkat semua oleh lidahku, ini kulakukan agar aku tidak berlama-lama dengan pekerjaan yang menyiksaku ini. Namun kerena ibu Anna belum mengatakan apapun maka aku tidak berani menghentikan pekerjaanku. Mau tidak mau aku terus menerus menjilati lubang anusnya, sehingga lubang anusnya yang tadinya basah karena spermaku kini malah menjadi tergenang oleh air liurku. Pada awalnya aku menyangka akan mencium bau tidak sedap dari lubang anusnya itu, namun setelah beberapa saat aku menyadari bahwa aku tidak mencium dan merasakan apa-apa disana. Selang beberapa lama setelah aku melakukannya aku mulai merasa menikmatinya. Sementara aku masih dengan bersemangat menjilati lubang anusnya, ibu Anna mulai merintih-rintih keenakan. “Ternyata lidah kamu lebih berguna dari pada kontol kecil kamu itu” katanya padaku dengan seenaknya. Setelah beberapa saat kemudian, ibu Anna memerintahkanku untuk menciumi lubang anusnya. Sesudah beberapa kali kulakukan barulah dia menyuruhku berhenti. Kemudian menyusul vaginanya yang kubersihkan’ dan terakhir telapak kakinya. Barulah sesudah itu aku diperbolehkan pulang. Selang beberapa hari kemudian.. Hari itu hari sabtu. Dengan gelisah aku berkali-kali melihat ke jam dinding, sudah jam 12 lewat 40 menit tapi Pak Rudi Kepala Sekolah masih dengan semangatnya menerangkan tentang rencana study lapangan selama tiga hari yang akan diadakan di luar kota bulan depan. Yang membuatku gelisah adalah entah kenapa hari itu tanpa sengaja aku meninggalkan kunci rumah ibu Anna yang dipercayakannya padaku. Rumahku bisa dibilang dekat dengan rumah ibu Anna, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk pulang ke rumahku dan kemudian langsung ke rumah ibu Anna. Yang membuatku khawatir adalah beberapa hari terakhir ini ibu Anna pulang lebih awal. Biasanya hampir jam 2 siang ibu Anna baru datang, namun kini jam satu lewat beberapa menit saja ia sudah datang. Bahkan pernah suatu ketika ibu Anna sudah menunggu di depan rumahnya pada saat aku datang, namun karena memang belum lewat jam 1 siang maka ibu Anna tidak menarik panjang hal itu. Sementara itu belum ada tanda-tanda Pak Rudi akan selesai bicara sehingga membuatku semakin gerah saja. Selang beberapa menit kemudian aku sudah tidak tahan. “Pak sudah siang nih,” ujarku memberanikan diri. Untung saja teman-teman kelasku yang lain ikut-ikutan memprotes sehingga dengan terpaksa Pak Rudi menyudahi pembicaraannya lalu membubarkan kelas. Langsung saja aku berlari secepatnya untuk segera pulang ke rumah mengambil kunci baru kemudian ke rumah ibu Anna. Dan benar saja kekhawatiranku, meskipun dengan sekuat tenaga aku berusaha, aku baru bisa sampai pada jam 1 lewat 10 menit. Dan ibu Anna sudah menyambut di depan pintu rumahnya dengan pandangan yang mau membunuhku ketika melihatku datang. “Kamu tahu apa kesalahan kamu?” kata ibu Anna kepadaku ketika kami sudah berada di dalam rumahnya. “Tahu bu” jawabku. “Bagus, berarti kamu juga tahu apa hukuman kamu?” lanjutnya lagi. Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaanya. Bisa-bisanya aku tidak ingat dengan ucapanya waktu itu. Aku mencoba berpikir mengingat-ingat apa yang waktu itu pernah ibu Anna katakan padaku tentang hukuman apa yang diberikan jika aku datang telat. Semakin lama aku berpikir semakin aku tidak bisa ingat apa-apa, apalagi aku mejadi semakin gugup melihat gerak-gerik ibu Anna yang tampaknya akan marah besar. “Tahu tidak!?” bentak ibu Anna di depan wajahku. “Maaf bu” jawabku pasrah. “Dasar otak kontol” makinya padaku semaunya. Entah mengapa setelah mendengar makiannya yang pedas, aku langsung teringat dengan perkataanya waktu itu. Ketika itu ibu Anna memberikan surat ancamannya yang disertai dengan foto-foto diriku, siangnya ibu Anna menemuiku dan memberikan kunci rumahnya padaku disertai dengan perintah-perintah dan peringatannya jika aku sampai telat aku akan dihukum seperti pada waktu aku pertama kali datang kerumahnya baca “My Teacher”. Namun kini sesudah aku mengetahuinya, aku malah tidak berani mengatakannya, karena aku tahu ibu Anna sekarang ini sedang marah besar, dan menurut pendapatku pada saat ini ibu Anna lebih suka aku diam tidak menyela makian-makiannya pada diriku. “Bagaimana sekarang?” tanyanya padaku setelah puas menyemburkan cacian padaku selama hampir semenit lamanya. “Ampun Bu saya pantas dihukum” jawabku terpaksa. “Sekarang kamu pulang dan minta ijin sama orang tua kamu untuk menginap di rumah teman kamu malam ini” katanya padaku setelah terdiam sesaat. Walaupun aku tahu apa yang akan terjadi padaku, namun tetap saja aku tidak berani protes, bahkan untuk menatap matanya saja aku tidak berani. “Baik bu” jawabku lirih. “Kamu harus kembali kesini dalam sejam” katanya padaku, “Awas kamu bisa dihukum lebih parah kalau lalai lagi” sambungnya. Setelah itu, dengan tidak membuang waktu aku segera beranjak untuk pergi pulang. Sesampainya dirumah aku segera berganti pakaian dan tidak lupa membawa satu setel pakaian yang kumasukan ke dalam tas yang biasanya kugunakan untuk bermain bola. Untung saja ibuku tidak terlalu susah memberikan ijin padaku untuk pergi menginap hari itu. Dengan segera aku bergegas untuk langsung pergi. Walaupun sebenarnya aku tahu pada waktu itu aku masih sempat untuk makan siang dahulu sebelum kembali ke rumah ibu Anna, Namun kali itu aku tidak berani ambil resiko untuk ayal-ayalan. Dalam waktu setengah jam, aku sudah kembali ke rumah ibu Anna. Disana aku melihat ibu Anna sudah menungguku. “Apa itu?” tanya ibu Anna sambil melihat ke tas yang kubawa. “Baju bu” jawabku jujur. “Kamu tidak perlu baju, taruh disana” katanya dengan dingin sambil menunjuk ke sofa. Dengan segera aku melaksanakan perintahnya. Agak kecut juga hatiku mendengar perkataannya, aku yakin tidak lama lagi ibu Anna akan menyuruhku membuka pakaian yang kini kukenakan. “Mulai sekarang kamu dilarang berbicara apapun juga, kecuali atas seijin saya, mengerti?” katanya padaku dengan dingin. Aku mengangguk mengiyakan. “Bagus, sekarang ikut ibu” perintahnya lagi padaku. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Ibu Anna belum mengganti pakaiannya, masih sama seperti yang biasa dia kenakan jika mengajar. Setelan jas dan rok formal berwarna hitam serta sepatu hak tinggi, sedangkan aku kini mengenakan kaos santai dan celana 3/4. Di tangannya, ibu Anna membawa sebuah benda yang tidak terlalu kuperhatikan, namun sepertinya aku dapat memastikan bahwa itu akan dipergunakan padaku. Aku mengikuti langkahnya menuju ke bagian belakang rumah. Benar saja perkiraanku, ibu Anna membawaku ke ruang tempat menjemur pakaiannya. “Buka semua pakaian kamu!” katanya padaku setelah kami berada disana. Dengan cepat aku meloloskan semua pakaianku. Meskipun di sana adalah ruang yang terbuka pada bagian atasnya, namun tidak memungkinkan bagi orang di luar untuk dapat melihat kegiatan kami didalam, dikarenakan tembok disekeliling yang tingginya bersambung dengan tingat dua bangunan itu. Aku tidak mengerti kenapa sampai sekarang aku masih saja tidak terbiasa berada dalam keadaan bugil dihadapan ibu Anna, meskipun hampir setiap hari aku mengalaminya selama sebulan belakangan ini. Dan entah kenapa setiap aku berada dalam keadaan seperti itu, penisku langsung mulai menengang ketika ibu Anna menatapku dengan perasaan jijik, tidak terkecuali saat ini. “Saya lihat kamu sudah tidak sabar” katanya padaku sambil tangannya mengocok pelan penisku yang sudah tegang. “Benar begitu hah?” tanyanya padaku sambil masih terus mengocok penisku. “I.. Iya bu” jawabku. “Diam!!” bentaknya sambil tangannya yang tadi digunakannya untuk mengocok penisku menampar pipi kiriku dengan keras. Tamparannya lebih menyakiti harga diriku di banding kulitku. “Kamu akan dihukum oleh karena itu” katanya ibu Anna kemudian. Selanjutnya ibu Anna memasangkan sejenis kalung yang terbuat dari kulit collar yang tersambung dengan rantai, di leherku, kemudian ujung rantainya di kaitkan ke tiang besi yang terdapat di tengah-tengah ruangan itu. Panjang rantainya sendiri sedikit kurang dari 2 meter. Setelah ibu Anna selesai memasangnya, ibu Anna kemudian mengambil sebuah benda yang berwarna hitam yang tadi dibawanya. Benda itu teryata sebuah cambuk yang panjang talinya sekitar 1,5 meter. “Ctarr”. Tanpa diduga-duga ibu Anna melecutkan cambuk itu. Secara refleks aku melompat kaget, namun sesudahnya aku sadar bahwa ibu Anna hanya memukul udara. “Lari!” perintah ibu Anna. Dengan segera aku mulai berlari. Ruang itu luasnya hanya 4×4 meter, sehingga tidak memberikan banyak ruang bagiku untuk berlari, di tambah dengan ikatan di leherku maka aku hanya berlari berputar-putar di sekitar tiang itu. Ctarr.. kali ini benar-benar sebuah cambukan mendarat tepat di pantat kananku. “Auu!” jeritku sambil melompat kesakitan. “Jangan bicara!” bentaknya padaku sambil mendaratkan sebuah pukulan lagi di punggungku. Kugigit bibirku untuk menahan sakitnya. “Lebih cepat!” sambungnya memberi perintah. Mendengar perintahnya aku langsung berlari secepat-cepatnya mengitari tiang itu. Aku sudah terbiasa dengan olah raga sepakbola, karena itu bisa dibilang staminaku sedikit diatas orang-orang yang lain. Setelah sepuluh menit barulah aku mulai merasa kehabisan tenaga. Sebenarnya bisa dibilang keadaanku pada saat itu benar-benar konyol, dibawah terik matahari, aku berlari sprint berputar-putar disekitar tiang dengan keadaan bugil. Sedangkan ibu Anna tidak segan-segan mendaratkan cambuknya di tubuhku jika aku mulai memperlambat gerakanku. Sudah beberapa cambukan yang mendarat di tubuhku, diantaranya tiga di punggung, dua di pantatku dan sekali mengenai tanganku. Setiap pukulannya yang mendarat di tubuhku memberiku semangat untuk kembali mempercepat lariku. Dan boleh percaya boleh tidak pukulan cambuk yang mendarat di tubuhku memberiku tenaga lebih dari yang diberikan minuman energi merek apapun juga. Dengan peluh yang sudah mengucur dari seluruh tubuhku aku masih terus berlari hingga akhirnya aku hampir mencapai batas ketahanan tubuhku. “Stop” kata ibu Anna tiba-tiba. Mendengar perkataanya langsung saja aku berhenti dan langsung jatuh berlutut dengan nafas teputus-putus. Aku sangat yakin jika diteruskan beberapa putaran lagi aku pasti akan pingsan. Karena pada saat itu aku sudah merasakan intensitas cahaya dilingkungan itu bertambah besar, suatu gejala ketika tubuh sudah mencapai batas ketahanan. Selang beberapa saat aku mulai dapat mengatur nafasku. Baru setelah itu aku mulai dapat merasakan perih sesungguhnya akibat cambukkan yang tadi mengenaiku. Dengan perlahan aku mencoba untuk meraba bagian-bagian tubuhku yang perih. Garis-garis merah bekas pukulan terlihat jelas di paha dan tanganku. Sedangkan wajah ibu Anna menunjukkan ekspresi kepuasan melihat penderitaanku. Setelah membiarkanku untuk istirahat sejenak, kemudian ibu Anna memulai permainan lainnya. Setelah melepaskan rantai dari tiang besi itu, ibu Anna kemudian menyentaknya, memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Dengan patuh akupun kemudian merangkak mengikuti langkahnya. Ibu Anna sudah pernah memberi perintah jika aku mengenakan collar maka aku tidak diperbolehkan berjalan berdiri, melainkan merangkak seperti anjing. Ibu Anna ternyata akan membawaku ke lantai dua. Aku tidak pernah mengetahui ada apa di sana, karena ibu Anna tidak pernah membiarkan pintu yang terdapat di ujung tangga tak terkunci. Dengan tangan kiri memegang rantai yang terhubung dengan collar di leherku, ibu Anna membuka pintu itu dengan tangan kanannya. Aku sebelumnya sempat menduga bahwa lantai dua itu dipergunakan sebagai gudang, namun dugaanku meleset sedikit. Ruangan itu besarnya sekitar 5X10 meter, seluruhnya tertutup karpet tebal berwarna biru dan di ruangan itu terdapat beberapa cermin persegi yang berukuran besar sedangkan temboknya bercat hitam. Kesan pertamaku setelah memasuki ruangan ini adalah panas dan pengap, entah apa penyebabnya. Bisa dibilang tidak terdapat apa-apa diruangan itu, hanya beberapa alat yang tidak kuketahui kegunaannya yang terletak di salah satu sudut ruangan itu. Sementara aku masih memperhatikan ruangan itu, secara tiba-tiba ibu Anna duduk di punggungku, seperti layaknya menunggang kuda. Merasakan ada beban di punggungku, secara tidak sadar aku menengok kebelakang, dan kulihat ibu Anna hanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam berwarna hitam. Aku sudah cukup sering melihat ibu Anna dalam keadaan bugil, sehingga aku merasa biasa saja melihatnya dalam keadaan demikian. “Plak!” Tahu-tahu ibu Anna memukul keras pantatku dengan menggunakan telapak tangannya. “Jalan!” katanya dingin. Dengan terpaksa akupun menuruti perintahnya. Dengan tubuh ibu Anna di atas pundakku, aku mulai dengan perlahan merangkak. Baru beberapa langkah saja aku sudah merasa sakit-sakit di lutut, pinggul dan punggungku, untung saja lantainya di lapisi karpet, jika tidak pastinya lututku sudah lecet-lecet. Bisa dibilang saat itu keadaanku sudah tidak mempunyai tenaga setelah sebelumnya di siksanya, namun ibu Anna tidak mau tahu dengan keadaanku. Sudah beberapa kali pantatku kena pukulannya yang kali ini tampaknya menggunakan sepatu hak tingginya yang entah kapan dia melepasnya. Sebenarnya pada saat itu aku lebih memilih ibu Anna memukuli pantatku dari pada terus merangkak, tapi tentu saja aku takut sewaktu-waktu amarahnya bisa meledak jika aku tidak menurutinya. Sesudah dua kali memutari ruangan itu aku sudah benar-benar tidak sanggup. Secara tiba-tiba tubuhku ambruk tak dapat menahan beban di punggungku. Sedangkan ibu Anna dengan cekatan segera berdiri sesudah sebelumnya ikut terjatuh bersamaku. Dengan marah ibu Anna menyuruhku untuk bangun sambil kakinya menendang pahaku, sedangkan tubuhku terus saja tergolek seperti mayat. Jangankan untuk kembali bangun, untuk menggerakkan tanganku saja rasanya sulit, dan bernafas saja sepertinya sudah menggunakan semua tenagaku yang tersisa. Sedang ibu Anna yang masih penasaran, kemudian mulai menggunakan cambuknya untuk memukuliku. Tubuhku yang terkena pukulannya berkelojotan seperti cacing, namun tetap saja aku tidak mampu untuk berdiri. Setelah meneruskan beberapa kali, ibu Anna kemudian menyerah juga, ia kemudian meniggalkanku sendirian di ruang itu. Setelah ibu Anna pergi dari sana langsung saja aku tertidur atau pingsan, aku tidak tahu. Selang beberapa waktu kemudian aku terbangun. Keadaanku sekarang tidak terlalu berbeda dengan waktu sebelum tertidur tadi, aku masih telungkup di karpet, hanya saja kali ini tanganku dan kakiku terikat dengan kuat. Siapa lagi kalau bukan ibu Anna yang melakukannya. Secara perlahan perih-perih di tubuhku mulai terasa kembali. Keringat masih terus keluar dengan deras dari tubuhku akibat suhu ruangan yang panas, sedangkan mulut dan tenggorokanku terasa kering sekali. Belum pernah aku merasa sehaus itu. Selang setengah jam kemudian barulah aku mendengar suara seseorang yang menaiki tangga, lalu kemudian membuka pintu yang terkunci. Ibu Anna melangkah mendekatiku dengan santai. Pada saat itu ia sudah tidak mengenakan pakaian sama sekali. Dengan jelas aku melihat tubuhnya yang juga di banjiri keringat seperti diriku sekarang ini. “Bagaimana keadaan kamu?” tanyanya padaku setelah dia berada disampingku. “Saya.. Haus.. Bu” kataku padanya terbata-bata sambil memandang lemah ibu Anna disebelahku. Dia tidak menjawabnya, melainkan dengan santai dia meletakkan kaki kanannya di atas kepalaku. Melihat responnya aku tidak berani mengulangi permintaanku lagi. “Seberapa haus?” tanyanya tiba-tiba padaku. “Sangat haus bu” kataku memelas. “Apa yang kamu mau?” tanyanya lagi padaku. “Minum.. S.. Saya mau minum” jawabku lagi. “Mau minum apa?” kembali ibu Anna memberikan pertanyaan yang menjengkelkan. “Apa saja.. Terserah” jawabku dengan lemas, karena aku merasa pada saat ibu Anna tidak akan mengabulkan permintaanku. “Apa saja boleh?” tanyanya lagi padaku. “Ya Bu apa aja” jawabku dengan cepat seakan mendapat harapan baru. “Baik kamu yang minta” kata ibu Anna kemudian. Setelah ibu Anna berkata demikian, ia lalu membalik tubuhku, lalu berdiri tepat di atas wajahku. Dapat kulihat pemandangan yang pada saat biasa kuanggap sebagai salah satu pemandangan terindah di dunia ini, tapi tidak sekarang, yang kupikirkan saat ini hanyalah air. Secara perlahan ibu Anna berjongkok dan memposisikan vaginanya tepat di atas mulutku. Dalam sedetik kemudian aku sudah tahu apa yang mau di lakukannya. Dengan tangan kirinya, ibu Anna menekan pipiku sehingga membuat mulutku membuka paksa. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya ibu Anna mulai menyemburkan air kencingnya yang berwarna kuning kental itu tepat ke mulutku yang terbuka lebar. Walaupun sebelumnya aku sudah pernah mendapat perlakuan serupa kembali baca “my teacher, namun pada saat itu kuanggap hal itu adalah hal yang tidak menyenangkan bagiku. Secara wajar aku mencoba menggerakkan kepalaku menolak hal itu, namun tidak bisa karena di tahan oleh tangan kiri ibu Anna. Mungkin pada keadaan biasa aku masih bisa mencoba untuk meronta, tapi tidak sekarang pada saat hampir semua tenagaku habis tersedot karena perlakuannya padaku tadi. Setelah air kencing mulai menggenangi mulutku, aku dapat merasakan rasa asin di lidahku dan bau pesing yang menusuk di hidungku. Sampai pada saat itu aku masih berusaha untuk tidak menelannya, namun mungkin karena aku sudah sangat kehausan, tanpa sadar aku menelan juga air kencing yang menggenangi mulutku. Tiba-tiba saja aku merasakan bahwa rasanya tidak seburuk yang kuperkirakan, asin dan sedikit pahit, cukup enak buatku yang sudah sangat kehausan. Dengan cepat aku kembali meneguk cairan itu, kemudian diikuti tergukan-tegukan lainnya, rasa jijik sudah tidak kuhiraukan lagi, malah kemudian dengan rakus aku terus menelan air kencing yang masih terus menerus di tumpahkan dari vagina ibu Anna. Secara sekilas aku dapat melihat wajah ibu Anna yang tersenyum melihat kelakuanku itu. Air kencing yang tadinya menggenangi mulutku sekarang sudah kering kutelan, sedangkan ibu Anna masih terus mengeluarkan “minumannya”, seakan tidak ada habisnya. Tangan kirinya sudah tidak di gunakan untuk menekan pipiku, pada saat itu aku sudah membuka mulutku lebar-lebar dengan senang hati menerima pemberiannya. Kini kedua tangannya membuka kedua bibir vaginannya dengan lebar untuk memudahkan jalan semburan air kencingnya. Selang beberapa detik kemudian semburannya mulai melemah dan akhirnya benar-benar berhenti. “Bersihin” kata ibu Anna padaku sambil tangannya masih membuka lebar kedua belah bibir vaginanya. Dengan patuh aku segera melakukan perintahnya, sambil sedikit mengangkat kepalaku, kujilati bagian dalam vagina serta klitorisnya dengan bersemangat, seolah-olah tenagaku kembali setelah meminum air kencingnya. “Ok stop” kata ibu Anna selang beberapa saat kemudian, dan dengan segera akupun menghentikan pekerjaanku. “Enak ya?” tanya ibu Anna kemudian padaku sambil tetap berjongkok di atas wajahku. “Iya bu.. Kalau boleh saya mau minta lagi” jawabku tanpa malu-malu, karena di samping masih merasa haus, ternyata aku juga mulai menikmatinya. “Kalau begitu kamu harus memohon” katanya lagi padaku. “Saya mohon bu.. Saya sangat suka air kencing ibu” sahutku dengan cepat, seakan-akan kata-kata itu meluncur begitu saja dari kepalaku. “Bagus, karena kamu yang minta, mulai sekarang dirumah ini, cuma itu minuman kamu” katanya. Dan aku benar-benar sudah gila karena justru merasa senang mendengar perkataanya itu. Setelah berkata demikian, ibu Anna kemudian meludah tepat ke mulutku yang terbuka. Dengan senang hati aku kemudian menelannya. “Sekarang kamu istirahat, permainan baru akan dimulai nanti malam” katanya padaku sambil berlalu meninggalkanku setelah sebelumnya membuka ikatan pada tangan dan kakiku. Agak terkejut juga aku mendengar perkataannya, apa yang sudah kualami ini hanya sekedar pemanasan saja? Pikirku dalam hati. Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang dikunci dari luar. Aku tidak tahu jam berapa sekarang ini, namun mendengar perkataannya aku merasa saat ini sekitar jam 4 sampai jam 5 sore. Dengan perut kembung aku kemudian kembali tertidur. Aku terbangun setelah ada seseorang yang menendang testisku dengan perlahan. “Mau tidur sampai kapan hah!” bentaknya garang. Meskipun agak mendongkol dengan caranya membangunkanku, mau tidak mau aku membuka mataku dan beranjak berdiri. Belum pernah kulihat ibu Anna menggunakan pakaian seperti itu sebelumnya. Ia mengenakan BH berwarna hitam yang tampaknya terbuat dari kulit serupa dengan celana dalamnya yang sangat mini. Di tangannya ia menggenggam cambuk yang tadi siang sudah dipergunakannya, sedang rambutnya diikat kencang kebelakang menambah “kegarangannya”. Yang paling menonjol adalah pada bagian depan celana dalamnya terdapat penis buatan yang sepertinya terbuat dari bahan plastik. Meskipun agak geli aku melihat hal itu, namun aku hanya terdiam saja menunduk, menunggu perkataannya. Dengan memberi isyarat, ibu Anna menyuruhku mengikutinya. Ia membawaku ke salah satu sudut ruangan dimana terdapat benda yang terbuat dari kayu berbentuk huruf “X” yang pada saat itu tidak kuketahui apa gunanya. Dengan tidak mengucapkan sepatah kata, ibu Anna mengikatkan kedua tangan dan kakiku ke tali yang terdapat dimasing-masing ujung benda itu sehingga tubuhku juga membentuk huruf “X”, terikat di benda itu. Setelah itu, tanpa ba bi Bu lagi ibu Anna mendaratkan sebuah pukulan dari cambuknya yang mengenai punggungku. Aku menjerit keras dengan spontan begitu merasakan perih pada punggungku. “Silahkan kamu teriak, ruang ini kedap suara” kata ibu Anna sambil tak henti-hentinya mendaratkan cambuknya di tubuhku. Aku tidak berani menoleh, karena salah-salah wajahku yang terkena cambukannya, maka dari itu sebisanya saja aku meronta-ronta, namun karena kedua tangan dan kakiku terikat kuat sepertinya usahaku hanya sia-sia belaka, malahan mungkin itu membuatnya semakin gusar saja. Sesudah itu aku kemudian memutuskan untuk mencoba cara lain. “Auu sakit bu! ampunn.. Jangan siksa saya lagi.. Aaahh” jeritku memohon padanya disela-sela erangan kesakitan terkena pukulannya. Namun seakan tidak mendengar, ibu Anna masih tetap saja melakukan kegiatannya. Baru setelah kira-kira 5 atau 6 kali lagi cambuk itu mengoyak kulitku baru dia menghentikannya. “Itu hukuman atas kesalahan kamu tadi, seharusnya kamu cuma menerima 10 pukulan, tapi karena kamu tadi bicara jadi di tambah 5 pukulan” kata ibu Anna dengan sedikit terengah-engah akibat pekerjaannya. Sedangkan diriku sudah hampir pingsan menahan sakit. Rasanya seluruh darah di tubuhku berkumpul di kepala dan telingaku tak henti-hentinya berdengung. “Mulai sekarang jika kamu membantah perintah, kamu langsung dapat 20 pukulan mengerti?” lanjutnya lagi yang diikuti anggukan lemah kepalaku untuk mengiyakan. “Kamu harus mengerti kalau kamu itu adalah budak saya, dan kamu tidak perlu membantah perlakuan saya pada kamu” ibu Anna berkata sambil membuka ikatan pada kaki dan tanganku. Dengan isyarat tangan, ibu Anna memerintahkanku untuk mengikutinya. Dengan berjalan perlahan, aku mengikuti langkahnya di belakang. Setelah menuruni tangga, ibu Anna membawaku ke meja makan., disana sudah tersedia sepiring nasi lengkap dengan sayurnya. Aku yang memang sudah sangat lapar menjadi tambah lapar saja melihat makanan di depanku. “Waktu kamu 5 menit” kata ibu Anna lalu begitu saja meninggalkanku. Aku tidak membuang kesempatan itu, dengan segera aku mulai melahap makanan itu, yang terasa enak sekali karena sudah sedemikian laparnya diriku. Tak sampai 5 menit makanan itu sudah ludas kumakan, dalam hatiku aku menyesal dengan perkataanku sebelumnya, kini ibu Anna benar-benar membuktikan perkataanya, aku sama sekali tidak diberikan air minum. Tak lama kemudian ibu Anna datang. Ibu Anna kemudian membawaku masuk ke dalam kamar tidurnya. Secara sekilas aku sempat melirik ke jam dinding yang terdapat di ruangan itu, yang ternyata baru menunjukan pukul 8 malam, padahal sebelumnya kupikir saat ini sudah hampir tengah malam. Dengan setengah menyeret, ibu Anna kemudian membawaku ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam ruangan itu. Kemudian aku perintahkan untuk duduk di kloset. Setelah itu, ibu Anna langsung menyalakan shower dan menyiram tubuhku. Hampir saja aku menjerit jika tidak sempat kutahan. Tubuhku menggeliat menahan perih ketika air mulai mengenai kulitku yang lecet-lecet. Kemudian dengan tidak mengatakan apa-apa, ibu Anna memberikan sebatang sabun mandi padaku. Jika saja aku tidak takut pada hukuman, tentunya pada saat itu aku enggan untuk menggunakan sabun mandi, karena tentunya akan perih jika mengenai bekas cambukannya di tubuhku. Dengan menggigit bibir menahan sakit, aku dengan cepat menyabuni tubuhku, terutama bagian dada yang dada yang kulihat tidak terdapat bekas pukulan disana. Secara tiba-tiba, ibu Anna kemudian merampas sabun itu dari tanganku, kemudian dengan kedua tangannya, ia menyabuni bagian rambut kemaluanku. Aku terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba itu, dengan mata melotot aku melihat bagaimana dengan lembut ibu Anna “mengeramasi” rambut kemaluanku, hingga tanpa dapat kutahan penisku mulai bereaksi terhadap rangsangan tersebut. Sampai seluruhnya tertutup busa barulah ibu Anna menghentikan pekerjaannya, kemudian dia membuka sebuah lemari kaca kecil yang tertempel di tembok kamar mandi itu. Tangannya kemudian mencari-cari sesuatu dalam lemari itu, dan tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menemukan benda yang dicarinya. Benda itu ternyata adalah pisau cukur. Begitu melihatnya aku sudah bisa menebak apa yang akan ibu Anna perbuat padaku nantinya. Dan benar saja, dalam beberapa detik kemudian, tangan-tangan mungilnya dengan cekatan mencukur rambut kemaluanku yang pada saat itu sudah tumbuh lebat. Penisku yang tadinya sudah setengah tegang, kini langsung menciut setelah merasakan tajamnya pisau cukur itu, sedang jantungku berdebar-debar menyaksikan penggundulan hutan itu. Tak memerlukan waktu lebih dari 2 menit buat ibu Anna untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah di basuh dengan air untuk membersihkan sisa-sisa sabun, aku dapat melihat penisku yang sekarang tampak seperti penis milik seorang bocah, bersih tanpa rambut selembarpun. Dengan lembut ibu Anna kemudian meraba-raba kulit yang sebelumnya masih di tumbuhi rambut itu, wajahnya menunjukan ekspresi kepuasan atas hasil kerjanya. Dan entah bagaimana mengungkapkannya, selama sebulan ini, aku sering berada dalam keadaan bugil di depan ibu Anna. Kini entah bagaimana, aku merasa keadaanku lebih telanjang dari sebelumnya. Ini adalah hal yang harus kalian alami sendiri barulah tahu bagaimana rasanya. Ibu Anna tidak lantas berhenti sampai disana, berikutnya adalah giliran kedua ketiakku yang dicukurnya hingga bersih. Kini boleh dibilang selain wajahku, di tubuhku tidak terdapat rambut lain. Setelah itu barulah ibu Anna menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuhku. Tubuhku yang tadinya lengket karena keringat yang mengering, kini kembali menjadi segar setelah mandi. Setelah itu ibu Anna memerintahkanku untuk berdiam dalam posisi merangkak di lantai kamar mandi, agak sedikit kesulitan aku melakukannya karena kedua tanganku yang terikat. Kemudian aku merasa ada sesuatu yang ditempelkan di lubang anusku, ketika aku menoleh untuk menegok, aku melihat ibu Anna memegang selang air yang ujungnya ditempelkan tepat di lubang anusku. Aku agak panik dengan apa yang akan dilakukannya, tanpa terasa pinggulku bergerak untuk menghindari selang itu. “Diam! Kalau nggak mau 20 kali cambukan, jangan bergerak sedikitpun”bentaknya melihat gelagatku. Bagaikan tersihir, tubuhku langsung diam mematung. Setelah itu barulah ibu Anna memutar keran air yang terhubung ke selang itu. Detik berikutnya aku langsung merasakan air dingin menerobos lubang anusku. Aku tidak merasakan sakit, hanya saja perasaan tidak nyaman serta perasaan takut dengan hal yang baru pertama kalinya kualami ini, pada saat itu aku tidak tahu bahwa hal itu enema adalah hal biasa dalam permainan seks bdsm. Perutku yang sebelumnya sudah menggembung karena kekenyangan, kini mendapat tekanan tambahan akibat air didalam usus besarku. Tanpa dapat kutahan tubuhku gemetar menahan perasaan kembung seakan perutku akan meledak, juga dingin yang terasa didalam perutku. “Tahan! Kalau sampai tumpah sedikit saja, mulut kamu yang bertanggung jawab”ancamnya padaku setelah melihat tubuhku yang gemetaran. Untung saja tak lama sesudah berkata demikian, ibu Anna segera mematikan kerannya. “Saya beri kamu lima menit untuk urusan kamu” kata ibu Anna tiba-tiba, dan langsung saja ia meninggalkanku sendirian di dalam kamar mandi itu. Tanpa membuang waktu aku berdiri, membuka penutup kloset dan langsung duduk. Membutuhkan waktu cukup lama untuk mengeluarkan seluruh isi usus besarku itu. Semenit setelah aku selesai melakukannya barulah ibu Anna kembali ke dalam kamar mandi itu. Begitu masuk, ia langsung menghampiriku yang masih terduduk diam. Tangannya mengocok perlahan penisku yang sudah kembali ke bentuk asalnya, dan wow aku merasa begitu sensitif karena sentuhan perlahan saja sudah memberikan reasksi pada penisku. Setelah sudah benar-benar ereksi, ibu Anna dengan tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. “Apa kamu kira penis kamu itu ada gunanya?” kata ibu Anna padaku dengan sinis. Aku hanya terdiam saja mendengar perkataannya. Seperti biasa, ibu Anna tidak akan memberikanku kepuasan pikirku. “Sekarang kamu oral penis ini” kata ibu Anna sambil menunjuk ke penis buatan yang tertempel di celana dalamnya itu. Dengan terkejut aku menatap wajahnya, seperti ingin memastikan apa yang barusan kudengar. “Terserah kamu mau melakukannya apa tidak, asal kamu tahu saja, kalau penis ini masuk ke anus kamu dengan keadaan kering seperti ini, anus kamu tidak sobek saja sudah bagus” kata ibu Anna membalas tatapan mataku. Mendengar hal itu seperti orang linglung, aku menatap matanya dengan mulut menganga, tidak percaya dengan hal yang barusan kudengar. Dengan hati menclos aku kemudian melihat ke arah “penis” ibu Anna itu. Penis itu benar-benar mirip sekali dengan penis asli, lengkap dengan topi baja serta urat-urat yang menonjol di sekelilingnya sedangkan ukurannya jauh melebihi penisku yang pada saat itu masih ereksi. Ukurannya sama saja dengan penis yang terdapat dalam film-film porno keluaran vivid itu. Yang menjadi masalah adalah aku yakin kalau diriku ini bukan gay dan hal ini menurutku menjijikan. Aku menelan ludah ketakutan membayangkan bagaimana jadinya jika monster penis itu benar-benar masuk ke anusku. Sementara itu ibu Anna sepertinya sudah tidak sabar ingin melakukannya, dia memberikan perintah agar aku berbalik. Mendengar perkataannya, dengan terburu-buru aku segera memasukan penis itu ke dalam mulutku. Ini toh penis buatan pikirku pada saat itu. Dengan cepat aku mengulum penis itu sehingga hampir saja aku tersedak. Pada saat itu aku tidak melihat wajah ibu Anna, tapi dapat kupastikan wajahnya pasti tersenyum sinis melihat aku melakukannya. Tidak ada hal yang membuatku meragukan ucapan ibu Anna untuk memasukan penis itu ke dalam anusku, karena itu sebisanya aku membasahi seluruh permukaan penis itu dengan ludah agar dapat berfungsi sebagai pelumas saat nanti memasuki lubang anusku. Selang semenit kemudian aku merasakan ada sesuatu yang salah dari tubuhku, entah bagaimana aku mulai menikmati pekerjaanku itu. Untung saja penisku memang sebelumnya sudah ereksi, karena jika tidak, ibu Anna pasti melihat penis kecil yang menegang ketika pemiliknya sedang mengoral penis buatan yang ukurannya hampir 2 kali lipatnya. “Sudah” kata ibu Anna dengan perlahan. Aku pura-pura tidak mendengarkan perkataannya yang memang pelan sekali itu, disamping aku merasa masih belum cukup aman jika penis itu masuk ke lubang anusku, aku juga tanpa sadar menikmati perbuatanku. “Cukup” katanya sekali lagi, kali ini aku mendengar dengan jelas perkataannya. Aku segera menghentikan pekerjaanku. Dengan segera aku diperintahkan untuk berbalik. Kini aku membelakangi ibu Anna, tubuhku membentuk sudut 90 derajat dengan kedua tangan menumpu pada plastik penutup kloset. Aku memejamkan mataku menanti dengan was-was. Sedetik kemudian aku merasakan sakit sekali ketika kepala penis ibu Anna mencoba memasuki lubang anusku, dengan reflek lubang anusku menutup sehingga kepala penis yang tadinya sudah masuk setengah keluar lagi, aku menggigit bibirku menahan perih yang ditinggalkannya. “Kamu harus tenang kalau tidak mau terluka” kata ibu Anna kepadaku. Enak baginya bicara demikian karena ia tidak merasakannya. Namun kucoba turuti sarannya, aku mengambil nafas panjang untuk menenangkan jantungku yang berdegub kencang. Kembali aku merasakan perih ketika ada benda tumpul yang ingin menerobos lubang anusku. Segera aku mendapat perasaan seperti ingin buang air besar. Kali ini kedua tangan ibu Anna membantu merenggangkan kedua belah pantatku sehingga lubang anusku terbuka lebih lebar. Setelah itu dengan cepat kepala penisnya masuk. Aku menjerit tertahan dan tanpa sengaja lubang anusku kembali berkontraksi, namun kali ini penis itu tidak keluar dari lubang anusku karena tangan ibu Anna menahannya, malahan akulah yang merasakan sakit di dinding anusku karena hal itu. Setelah itu dengan cepat penis itu menerobos masuk makin dalam. Tubuhku gemetar menahan perih yang seakan menjalar ke seluruh tubuhku. Dengan sebisanya aku menahan untuk tidak menjerit, sedangkan air mata sudah mengambang di kedua mataku. Kini kedua telapak tangan ibu Anna digunakan untuk memukul-mukul pantatku dengan setengah kekuatannya sambil tak henti-hentinya dia tertawa sinis melihat penderitaanku. Pukulan di pantatku memang bisa dibilang tidak ada artinya di banding sakit karena penis itu, namun aku takut jika nantinya bisa-bisa penis itu kembali keluar dari lubang anusku karena terganggu oleh pukulan-pukulan itu, dan benar saja sesaat kemudian tanpa dapat kutahan, dinding anusku kembali berkontraksi, aku sudah bersiap-siap menahan perih akibat itu. Tapi ternyata dugaanku salah, penis itu masih tenang-tenang saja di dalam, nampaknya sudah hampir semua bagian penis itu yang masuk didalam, agak lega juga hatiku setelah merasa demikian. Ketika aku menengok untuk memastikannya barulah aku terkejut setengah mati setelah mendapati bahwa baru sekitar setengah bagian penis itu saja yang sudah memasuki lubang anusku. Dapat kulihat senyum puas ibu Anna melihat wajah menderitaku. Dalam sekejab aku merasakan sudah tidak mempunyai harga diri lagi setelah ibu Anna memperlakukanku demikian, namun dalam hati aku memohon agar ibu Anna tidak mempunyai pikiran untuk memasukan seluruh bagian penis itu. Aku kemudian melihat tangan ibu Anna mengambil sebuah botol baby oil dan menuangkan isinya ke penisnya serta ke daerah sekitar lubang anusku. Pada saat itu aku sangat jengkel sekali, ingin rasanya aku berteriak “kenapa nggak dari tadi aja!” namun kubatalkan karena takut nanti malah berakibat fatal pada diriku. Sesaat kemudian aku merasakan ibu Anna mulai kembali mendorong penisnya yang kini sudah dilumuri baby oil. Aku dapat merasakan bantuan minyak itu dalam mengurasi sakit akibat gesekan, meskipun masih terasa sedikit sakit, namun kini sudah jauh berkurang. Kini yang kurasakan adalah betapa penis itu memenuhi ruang di rectum bagian terluar dari usus besar ku. Sedang tadi ketika penis itu masuk baru setengah saja aku sudah merasa begitu “penuh”, apalagi sekarang ketika sudah hampir seluruhnya masuk. Seakan-akan ada sesuatu yang ingin keluar dari kerongkonganku, walaupun aku tahu itu hanya perasaanku saja. Tak lama kemudian aku dapat merasakan paha ibu Anna yang menyentuh pahaku, tanda sudah masuknya seluruh bagian penis itu. Pada saat itu mulutku menganga lebar sedang nafasku teregah-engah seperti orang yang mau melahirkan, bahkan tubuhku sempat gemetar tak terkendali. Setelah aku mengatur nafas sejenak barulah aku mulai kembali tenang. Sesaat kemudian, ibu Anna mulai menggerakkan maju-mundur penis itu dengan perlahan. Rasa malu dan takut bercampur aduk di hatiku pada saat itu, malu karena aku serasa diperkosa oleh ibu Anna dan takut jika penis besar itu akan melukaiku dengan parah. Dengan perlahan namun pasti, ibu Anna mulai menaikan temponya, sesekali dia berhenti untuk kembali melumuri penis itu dengan baby oil sampai penis itu benar-benar bisa sliding dengan mudah. Dan kembali aku dikhianati oleh tubuhku sendiri. Meski dengan susah payah aku mencoba menahannya, namun tetap saja aku tidak berhasil, penisku dengan perlahan mulai ereksi, apalagi kemudian ibu Anna kembali mempercepat pompaannya yang memang terasa nikmat sekali buatku. Tanpa dapat kulawan, penisku kembali full ereksi, bahkan jika tidak kutahan-tahan, ingin sekali rasanya aku mengocok penisku. Kini ibu Anna merubah gayanya, ia menarik penisnya dengan perlahan sampai hampir keluar, kemudian memasukannya kembali dengan cepat sampai setengahnya dan demikian seterusnya. Sensasi yang kurasakan sungguh dahsyat, seandainya aku mengocok penisku pastilah aku sudah ejakulasi. Aku sendiri menjadi heran dan dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku ini memang seorang gay? Tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas dalam benakku. Aku kemudian berpura-pura untuk kesakitan setiap kali ibu Anna menyodok penisnya, hal ini kulakukan karena aku sungguh malu jika ibu Anna mengetahui aku justru menikmati perbuatannya padaku. Entah karena aktingku yang buruk atau memang ibu Anna yang tidak mudah ditipu. “Jangan pura-pura kamu” kata ibu Anna padaku. Setelah itu dengan tiba-tiba ia menyodok penisnya sampai pahanya beradu dengan pahaku sehingga menimbukan bunyi “plok”. “Aaahh” jeritku lirih. Itu jelas-jelas jeritan kenikmatan yang tanpa sadar kukeluarkan. “Dasar nggak tahu malu” kata ibu Anna lagi padaku. Jika saja pada saat itu aku menoleh kebelakang, ibu Anna akan melihat wajahku yang merah padam karena malu. Sesudah itu, kembali ibu Anna mempercepat temponya, dan kembali tanpa tertahan lagi aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini belum pernah kurasakan. Kini setelah ibu Anna mengetahui rahasiaku, aku merasa tidak ada gunanya lagi untuk berpura-pura, aku mulai dengan perlahan ikut menggerakkan pantatku mengimbangi gerakannya, serta mulutku tak henti-hentinya mengeluarkan rintihan kenikmatan. Sesekali ibu Anna menghentikan gerakannya, pada saat itulah tanpa rasa malu, aku justru menggerakan pantatku memompa penis itu. Ibu Anna tertawa terbahak-bahak setiap kali aku melakukannya, apalagi setelah ibu Anna memegang penisku, ia mendapatinya sudah benar-benar tegang. “Dasar banci!, kamu malah horny waktu dientot” katanya dengan pedas. Katanya sambil tangannya menepuk pantatku. “Benar-benar menjijikan” sambungnya mengejekku. Sambil tak henti-hentinya dia mengeluarkan kata-kata hinaan yang menyakitkan. Pada saat itu aku merasa terhina sekaligus terangsang mendengar caciannya. Beberapa menit kemudian, ibu Anna menarik penisnya hingga hampir keluar dari lubang anusku. Tanpa sadar aku memundurkan pantatku agar penisnya tidak keluar, kemudian dengan gerakan perlahan, ibu Anna berjalan mundur. Aku tahu ini dimaksudkan agar aku mengikutinya. Aku hampir saja terjerembab ke depan setelah kedua tanganku yang terikat, tidak lagi mempunyai tempat tumpuan, namun dengan sigap ibu Anna memegang kedua pinggulku agar aku tidak terjatuh. Dapat kurasakan kedua tangannya yang halus menahan berat tubuhku, dalam hati aku heran juga bagaimana caranya wanita yang dari luar tampak anggun ini bisa mempunyai tenaga yang lumayan kuat. Kemudian dengan perlahan aku mencoba meletakkan tanganku di lantai, karena tubuhku boleh dibilang lentur, berkat sering bermain sepakbola, dengan mudah aku dapat melakukannya. Dan dengan keadaan demikianlah kami secara perlahan berjalan keluar dari kamar mandi itu. Sesampainya di tepi ranjang, ibu Anna membantuku untuk berbaring telentang di tengah-tengah ranjang itu, sedangkan dia kini berada diatas tubuhku, kami melakukannya tanpa membuat penis itu keluar dari tempatnya. Kedua tangannya menggenggam kedua pergelangan kakiku kemudian merentangkan keduanya, setelah itu dengan perlahan kedua kakiku didorongnya hingga lututku hampir menyentuh dadaku yang mengakibatkan bagian pinggang kebawah terangkat ke atas. Sesudah itu, ibu Anna kembali memompa penisnya dengan perlahan dalam lubang anusku. Setelah beberapa saat lamanya, ibu Anna mempercepat pompaannya. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat itu, namun jelas itu adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. “Mana suaranya?” tanya ibu Anna sambil mempercepat pompaannya. Dengan suara perlahan aku merintih-rintih kenikmatan. “Yang kenceng! perek” bentak ibu Anna gusar, sambil dengan tiba-tiba dia menghujamkan penisnya dalam-dalam. “Aaahh” jeritku tak dapat menahan sensasi yang kualami. Ibu Anna terus memompa dengan kencang, sampai-sampai terdengar bunyi beradunya paha ibu Anna dengan pantatku. Aku terus-terusan menjerit histeris seperti layaknya pelacur setelah menerima kenikmatan yang bertubi-tubi. Inilah kali pertamanya dalam hidupku, aku mengalami kenikmatan yang begitu intens. Meskipun baru pertama kalinya aku melakukan seks seperti itu, namun aku dapat mengatakan dengan pasti jika ibu Anna benar-benar ahli dalam hal itu. Terkadang ibu Anna memperlambat, kemudian mempercepat pompaannya dengan tiba-tiba. Sesaat kemudian ibu Anna berhenti secara tiba-tiba sehingga membuatku menjerit-jerit frustasi akibat ulahnya. “Kamu harus memohon” katanya sambil menahan tawa melihat tingkahku yang seperti pelacur murahan. “Please bu” kataku dengan terengah-engah. “Please apa?” katanya lagi padaku. “Please bu.. Saya mohon ibu melakukannya” kataku dengan lemah. “Melakukan apa?” tanyanya lagi seakan masih tidak puas mendengar ucapanku. Aku terdiam sejenak untuk berpikir kata apa yang akan kugunakan untuk menjawabnya. “Senggama” jawabku setelah berpikir. “Dasar kontol, lu kira sekarang ini lagi belajar bahasa indonesia hah!, bilang ngentot” kata ibu Anna dengan gusar mendengar jawabanku yang memang konyol itu. “Saya mohon ibu Anna ngentotin saya” kataku tanpa malu-malu lagi setelah tersiksa dengan kenikmatan yang kini tertunda. “Ngentotin apa kamu?” kembali dengan menjengkelkan, ibu Anna bertanya padaku. “Lubang anus saya” jawabku cepat. “Untuk selanjutnya bilang vagina, ngerti?” kata ibu Anna setelah mendengar ucapanku. Aku segera mengiyakan perkataannya. “Sekarang bilang yang lengkap” katanya padaku sambil tangannya merenggangkan kakiku lebih lebar lagi, dan menarik penisnya sehingga tinggal ujungnya saja yang masih tertanam dalam “memekku”. “Saya mohon ibu mau ngengtotin vagina saya” kataku padanya cepat karena khawatir ibu Anna akan berubah pikiran. “Yang keras” sahut ibu Anna mendengar perkataanku. “Saya mohon ibu mau ngentotin vagina saya” jawabku setengah berteriak karena frutasi. Aku sudah tidak peduli jikalau ada orang yang mendengar perkataanku itu, sekarang ini sudah tidak ada logika dalam kepalaku, yang ada hanyalah nafsu birahi. Sedetik kemudian, dengan cepat ibu Anna menghujamkan penisnya sampai pangkalnya. “Aaahh” jeritku panjang merasakan nikmat dan perih yang menjadi satu. Setelah diam dalam posisi demikian sejenak, kemudian barulah dia mulai menggerakan pinggulnya memompa penisnya didalam memekku. Dengan konstan, ibu Anna mempercepat pompaannya sampai sesaat kemudian dia sudah mencapai kecepatan maksimal. Derit ranjang serta derai keringat yang jatuh ke tubuhku seakan menjadi bukti liarnya permainan kami. Belum pernah penisku sedimikian tegangnya dalam hidupku sebelumnya, sampai-sampai terasa nyeri akibat banyaknya darah yang terkumpul disana. Setelah sekitar semenit ibu Anna memompaku dengan kecepatan luar biasa, dengan tiba-tiba dia kembali menghujamkan penisnya dalam-dalam, dan tahu-tahu saja aku merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhku. “Aaahh” jeritku dengan kencang ketika penisku sudah tidak tahan lagi untuk melepaskan sperma yang sudah lama terkumpul di testisku. Dengan kencang, spermaku menyembur keluar mengenai perutku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengalami ejakulasi meskipun aku sama sekali tidak menyentuh penisku. Setelah itu gelombang demi gelombang kenikmatan menjalar diseluruh bagian tubuhku, sehingga tanpa dapat kutahan tubuhku gemetar karena menahan nikmat. Mataku kupejamkan untuk lebih menikmati moment itu, moment terindah dalam hidupku saat itu. Ini adalah orgame yang terhebat dalam hidupku. “Menjijikan” kata ibu Anna sambil menarik keluar penisnya dan melepaskan kedua pergelangan kakiku yang dipegangannya. Selang beberapa saat kemudian barulah aku mulai dapat menguasai diriku. Aku merasa kosong sekali setelah penis itu meninggalkan tempatnya, seakan perutku tadi dibelit ikat pinggang yang kencang, dan sekarang sudah dilepaskan. Ketika kubuka mataku, kulihat ibu Anna sudah berada di sebelahku. Tangannya memegang sendok plastik, dan dengan benda itu, ibu Anna menyendoki seluruh sperma di perutku. “Bangun” kata ibu Anna padaku. Dengan malas aku mencoba untuk menegakkan tubuhku. Hampir seluruh bagian tubuhku terasa lemah, padahal bisa dibilang sedari tadi ibu Anna lah yang bekerja. Sesaat kemudian aku sudah duduk tegak di ranjang, kulihat ibu Anna menuangkan sperma yang tadi di tampungnya di sendok ke penisnya dengan merata. “Jilat sampai bersih” kata ibu Anna kemudian. Ini adalah hal yang paling tidak kusukai, karena tentu saja sesudah ejakulasi, aku sudah tidak bergairah lagi untuk melakukannya, tapi nampaknya ibu Anna tidak mau tahu, dengan mata melotot ia memandangku yang terlihat sangsi. Penis itu terlihat bersih, aku sendiri heran bagai mana mungkin bisa terjadi, mungkin karena enema yang tadi ibu Anna berikan. “Mau tidak?” tanyanya dengan geram. Aku kemudian mengangguk lemah mengiyakan. Dengan perlahan aku mulai menjilati ujung penis itu. Ada tercium sedikit bau kotoran memang, namun ternyata tidak seburuk yang kuduga. Secara perlahan aku mulai memasukan penis itu ke dalam mulutku. Bau khas sperma bercampur dengan bau kotoran dan baby oil tercium oleh hidungku, namun aku masih meneruskan pekerjaanku yang memang masih jauh dari bersih itu. Dengan perlahan kujilati spermaku sendiri yang kini berada di penis itu. Membutuhkan waktu sekitar dua menit bagiku untuk menyelesaikan pekerjaanku itu. Sesudah selesai melakukannya barulah aku merasa mual ingin muntah, namun sebisanya aku menahan perasaan itu. Setelah penisnya selesai dibersihkan, ibu Anna segera beranjak pergi meninggalkanku sendirian di ruang itu. Aku merasa cukup lega setelah selesai melakukannya, karena aku mengira sekarang ini permainan ibu Anna sudah berakhir, sedangkan aku tadi melihat ibu Anna juga sudah bermandikan keringat dan pastilah dia kelelahan setelah melakukannya. Baru saja sedetik sesudah aku berpikir demikian, aku harus kembali menelan pil kekecewaan. Ibu Anna sudah kembali dengan membawa potongan-potongan pakaian berwarna merah muda serta sebuah benda yang tidak kukenal. “Pakai ini” kata ibu Anna padaku sambil menyodorkan pakaian dalam genggaman tangannya. Aku menyambutnya dengan kedua tanganku yang masih terikat. Disana kulihat sebuah celana dalam wanita super mini, dibagian depan hanyalah sebuah segitiga kecil, sedangkan bagian belakang hanyalah berupa sebuah tali. Selain itu ada juga bikini serta sebuah stocking lengkap dengan supporternya. Kesemuanya satu warna, pink. Dengan tak banyak bicara, ibu Anna membuka ikatan pada tanganku. Setelah itu aku sudah tidak punya alasan untuk mengabaikan perintahnya. Dengan bantuan ibu Anna, aku mengenakan semua itu. Memang dalam beberapa jam terakhir ini, ini adalah pertama kalinya aku mengenakan sesuatu di tubuhku, tapi tetap saja aku merasa lebih baik bugil dari pada memakai pakaian seperti ini, karena kini aku benar-benar menyerupai pelacur dengan pakaian yang kukenakan. Setelah itu, ibu Anna memerintahkanku untuk kembali berbaring di ranjang. Setelah aku melakukannya, ibu Anna membawa benda yang tadi di bawanya ke hadapanku. Benda itu bentuknya seperti kapsul dengan ukuran kurang lebih 25 centi dengan diameter 5 centi, berwarna hitam pekat serta terdapat semacam sabuk kulit ditengah benda itu, namun setelah kuperhatikan lebih lanjut, sabuk itu tidak terdapat tepat ditengah benda itu, melainkan agak ke ujung, sehingga terdapat 2 bagian, bagian yang panjang sekitar 17 atau 18 centi sedangkan bagian yang pendek sekitar 7 atau 8 centi yang dipisahkan sabuk itu. Ibu Anna menyodorkan bagian yang panjang, kemudian menyuruhku menjilatinya, sudah kuperkirakan sebelumnya. Baru saja aku mulai menjilati benda itu, yang memang bentuknya agak mirip dengan penis itu, ibu Anna sudah tidak sabar, dengan kasar dia memasukan hampir seluruh bagian benda itu ke dalam mulutku sehingga hampir saja aku tersedak. Selang sebentar saja, ibu Anna sudah mencabut benda itu, dan tampak air liurku sudah membasahi permukaan benda itu. Sesudah itu kembali dia memasukan benda itu ke dalam mulutku, kali ini bagian yang pendek, karena memang pendek, sekitar 7 atau 8 centi, benda itu tidak membuatku kesulitan, hanya saja karena diameternya yang cukup besar membuat rahangku sedikit sakit yang terbuka agak lebar. Sesudah itu, dengan mengangkat kepalaku, ibu Anna mengaitkan sabuknya dengan kencang sekali dibelakang kepalaku. Sesudah benda itu terpasangpun aku masih belum mengetahui dengan jelas apa kegunaannya. Rasanya mustahil jika benda itu hanya berguna untuk menyumbat mulutku kataku dalam hati, walaupun memang efektif karena aku kini tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutku. “Kamu tahu apa gunanya benda ini?” tanya ibu Anna padaku. Dengan terpaksa aku menggeleng karena aku memang tidak mengetahui apa kegunaan benda ini, atau lebih tepat cara menggunakannya. “Benda ini jauh lebih bisa memuaskan dari pada kontol kamu yang tidak ada gunanya itu” katanya sambil melepaskan celana dalam beserta penisnya itu. Dengan hanya mengenakan BH saja, ibu Anna berdiri tepat di atas wajahku, kemudian dengan gerakan perlahan, ibu Anna berjongkok dan memposisikan bagian panjang benda tersebut ke dalam liang vaginannya. Perlahan ujung benda itu mulai memasuki liang vaginanya. Dengan bantuan air liur serta cairan vaginanya yang membanjir, nampaknya selain diriku yang mendapat orgasme ketika dientot dengan penis buatan itu, sang pemilik, dalam hal ini ibu Anna, tampaknya juga mendapatkannya. Dengan mudah saja benda itu kini terbenam seluruhnya dalam vagina ibu Anna. Memang di bandingkan dengan penisku, benda itu masih jauh lebih besar, maka itu aku agak terkejut juga melihatnya dengan begitu mudah “ditelan” liang vagina ibu Anna. Sesudah itu, ibu Anna mulai menggerakan pinggulnya naik-turun. Selang beberapa saat kemudian, dia mempercepat gerakannya, lalu sesaat kemudian kembali memperlambatnya. Seiring dengan gerakan tubuhnya, kepalaku juga ikut melompat-lompat, untunglah saat itu aku berbaring di ranjang, jika dilantai tentunya akan menambah daftar penderitaanku. Entah sudah berapa kali aku hampir tersedak akibat benda di dalam mulutku itu, selain itu rahangku juga hampir copot rasanya akibat sesekali menahan berat tubuhnya. Satu-satunya hiburanku adalah aroma vagina ibu Anna yang memang sangat kusukai, dan buah dada sempurnanya yang melompat-lompat di dalam BH nya. Hampir selama 5 menit, ibu Anna bertahan dalam posisi demikian, baru sesudah itu dia kemudian memutar tubuhnya, sehingga kini yang kulihat adalah bagian punggungnya. Pemandangan buah dada melompatnya kini sudah digantikan dengan lubang anusnya yang hanya berjarak beberapa mili dari hidungku, bahkan sesekali mengenainya akibat guncangan 8,0 skala richter yang dibuat ibu Anna. Memang boleh dikatakan lubang anusnya tidak berbau entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi kalian bayangkan saja sendiri bagaimana rasanya berada dalam posisi demikian! Sesaat kemudian, dengan diawali dengan jeritan kenikmatan tanda orgasme, ibu Anna membenamkan vaginanya dalam-dalam ke benda tersebut. Jika bisa tentunya aku juga sudah ikut menjerit karena pada saat itu ibu Anna seakan-akan hanya menumpukan berat badannya di mulutku. Tulang pipi, tulang rahang serta gigiku terasa ngilu sekali akibat mendapat tekanan yang demikian besar, sedang hidungku juga tidak luput dari lubang anusnya. Untung kejadian itu hanya berlangsung sesaat saja. Sesudah itu ibu Anna mendemonstrasikan kelenturan pinggulnya dengan bergerak meliuk dan berputar dengan erotis. Dapat kurasakan cairan orgasmenya yang mengalir turun mengenai pipi dan daguku. “Ambil nafas” kata ibu Anna dengan pelan sehingga hampir saja aku tidak mendengarnya. Aku tidak mengerti mengapa ibu Anna memerintahkan hal seperti itu, namun saja kini aku sudah terbiasa untuk langsung melakukan perintahnya tanpa berpikir dahulu. Baru setengah jalan aku menghirup udara, tahu-tahu ibu Anna kembali membenamkan tubuhnya. Tentu saja hal itu membuatku terkejut karena lubang anus ibu Anna secara tiba-tiba menutup hidungku. Dengan cepat beban berat kembali menekan wajahku, bahkan kali ini terasa lebih berat dari pada sebelumnya. Beberapa detik kemudian barulah aku tahu apa penyebabnya setelah merasakan kedua kakinya sedang memainkan penisku yang tanpa kusadari sudah kembali tegang. Ternyata kali ini ibu Anna benar-benar menduduki wajahku. Tanpa kedua kaki yang tadi sedikit banyak ikut membantu menyangga, kini seluruh berat tubuhnya diterima wajahku. Setelah itu untuk melengkapi penderitaanku, ibu Anna menggoyang-goyangkan pinggulnya yang mengakibatkan vagina, pantat dan lubang anusnya bergesekan keras dengan wajahku. Semenjak tadi aku sudah berusaha sekuat tenaga menggunakan kedua tanganku untuk mengangkat tubuh ibu Anna yang menekan wajahku, namun tetap saja tubuh ibu Anna tidak bergerak walau sesenti. Dalam beberapa detik kemudian aku sudah merasa pandanganku berkunang-kunang karena otakku kekurangan suplai oksigen. Tanganku masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh ibu Anna, sementara kedua kakiku menendang kesana kemari dengan frustasi. Jika dalam beberapa detik lagi aku masih belum bisa bernafas pastilah aku bisa celaka, atau setidaknya jatuh pingsan. Akhirnya dengan seluruh tenaga yang masih tersisa, kudorong tubuh ibu Anna ke samping, dan ternyata usahaku berhasil, tubuhnya terjatuh kesamping sehingga memberikan jalan buatku untuk bernafas. Dengan tergesa-gesa aku langsung menghirup udara sehingga tanpa dapat kutahan, aku tersedak, namun karena ada benda didalam mulutku, aku tidak bisa terbatuk-batuk, hal itu membuatku sangat tersiksa sekali. Untung saja dengan sigap, ibu Anna kemudian membuka ikatan sabuk di belakang kepalaku dan mencopot benda itu dari mulutku. Barulah kemudian aku terbatuk-batuk tanpa henti. Dengan tak mengucap sepatah katapun, ibu Anna meninggalkanku yang masih berusaha memulihkan jalan pernafasanku. Sesaat kemudian barulah nafasku mulai teratur dan pikiranku kembali terang. Aku kemudian melihat sekeliling, ternyata ibu Anna sedang mengganti pakaian. Ia melepaskan BH yang tadi dipakainya, dan selanjutnya ia mengenakan gaun tidur berwarna putih transparan sehingga memperlihatkan puting susu serta vaginanya dengan samar-samar. Dengan masih tidak mengucap apa-apa, ibu Anna kemudian mengikat kedua tanganku dibelakang dengan tali. Barulah setelah itu ibu Anna mematikan lampu. Karena memang ranjang itu berukuran double, sehingga masih menyisakan banyak ruang setelah ibu Anna kemudian berbaring di sebelahku. Sesaat kemudian tampaknya ibu Anna sudah tidur terlelap. Sedangkan aku masih mengalami sedikit kesulitan karena ikatan pada tanganku yang membuatku benar-benar tidak nyaman, terlebih lagi BH yang masih kukenakan, yang kini entah kenapa terasa kencang sekali sehingga membuatku agak sedikit sulit bernafas, namun tak lama kemudian karena memang sudah benar-benar lelah, aku tertidur juga. Ketika terbangun aku menyadari ibu Anna sudah tidak ada di tempatnya. Aku melihat jam dinding yang menunjukan sudah hampir jam 8 pagi. Yang pertama kali kurasakan ketika bangun adalah sekujur tubuhku yang pegal-pegal serta kehausan yang sebenarnya sudah semenjak kemarin, hanya saja aku tidak berani untuk mengatakan.
Bagian I Pendahuluan Audrey Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Wen dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Wen menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Wen hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Audrey tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah. Setiap Audrey melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Audrey ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam rok majikan perempuannya, namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa. Di rumahku aku dan Audrey mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Audrey, terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Audrey. Audrey di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, hal itu sesuai dengan instruksi Wen. Ada rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Audrey mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Audrey menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Audrey menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Wen. Wen akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri… ******************************* Bagian II Pelecehan di Rumah Mr. Wen Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Wen menelepon Audrey tadi malam, Wen tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Wen memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Wen pada istriku tadi malam, namun Wen tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Audrey siang ini. Wen memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Audrey. Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Wen meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Wen akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Wen kembali ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Audrey. “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Audrey tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Wen. “Tom, tenang saja, Audrey tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Wen terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku. “Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Wen kemudian lalu menutup Hp itu. Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Wen masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Wen di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Wen kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Wen, aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Wen masih berada di drive way rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Wen?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Wen di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Audrey. Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Wen. Kemudian Wen mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wen memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Wen. Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20 tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Wen memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Wen adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Wen berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Wen yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Wen dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak. “Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Audrey itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Wen tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku. Peter “Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Wen kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan. “Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Wen kepada istriku” pikirku kalut dalam hati. Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Audrey tidak berada di kamar itu. Rupanya Audrey sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Wen tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Audrey di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Wen. Setelah beberapa menit, Audrey keluar dari kamar mandi. Audrey hanya menggunakan handuk melilit di tubuhnya. Audrey terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar. Mukanya terlihat malu. “Audrey segera siap-siap sesuai perintahku” kata Wen kepada Audrey memecah keheningan kamar. Audrey hanya menggangguk menurut. Melihat anggukan Audrey, Wen kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Audrey sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Wen menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Wen dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Audrey turun dari lantai atas. Audrey sudah mengenakan make-up dengan rambut tertata rapi, namun Audrey tidak mengenakan pakaian apapun juga. Audrey turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Audrey terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang. Sesampainya di ruang TV, Audrey langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Wen dan Peter. Terlihat Audrey sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu. “Nah, Audrey, setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Wen tiba-tiba kepada Audrey. Audrey yang ditanya hanya mengangguk pelan. “Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Wen kepada Audrey. “Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Wen kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Wen yang menunggu diluar. Mendengar apa yang dikatakan Wen, Audrey dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar. “Maaf Pak Wen, kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Wen. “Ya terserah kamu Tom, tapi jangan salahkan saya kalau dvd rekaman persetubuhan Audrey tersiar luas di internet atau bahkan sampai ke tangan orang tua Audrey” jawab Wen kalem. Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Audrey untuk menanyakan pendapatnya. Audrey hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya. “Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Wen kepadaku dan Audrey sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa. Melihat Wen dan Peter bangkit dari sofa, Audrey segera berlutut dan meraih paha Wen. “Ampuun Pak Wen, saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Audrey mengiba kepada Wen. Sudin “Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Wen kepada Audrey. “Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Wen tegas. “1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Wen dimulai. Pada hitungan ke delapan, Audrey bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Audrey menuju interkom yang berada di dinding ruang TV. “Pak Sudin….Pak Amir…” suara Audrey bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku. “Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari seberang interkom. “Tolong Pak Sudin dan Pak Amir ke ruang TV” lanjut Audrey masih dengan suara bergetar menahan tangis. “Baik bu” jawab Sudin kemudian. Mendengar itu, Wen segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah. “Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Wen kepada anaknya. Audrey telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV. “Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV. Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Audrey. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Amir “Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Wen tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu. Mendengar kata-kata Wen, Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Wen, namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Audrey seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Audrey. “Audrey, hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Wen dengan keras kepada Audrey. “Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Audrey terbata-bata sambil menahan tangisnya. “Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah memperbolehkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Wen terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV. “Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Wen kemudian kepada Kisno supirnya. “Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Audrey. Kemudian Kisno menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. “Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey. Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Audrey. Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Audrey. Melihat Audrey hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Audrey. Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey. Kisno “Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Audrey. Audrey yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa. “Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Audrey sambil melepaskan jambakannya pada rambut Audrey. Audrey meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Audrey pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Audrey dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Audrey dan mengobok-obok mulut Audrey sampai-sampai Audrey kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Audrey beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Audrey dengan mesra. Sudin sedikit menarik Audrey dari Kisno dan Amir, sehingga Audrey dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Audrey, Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Audrey dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Audrey. Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Audrey, Sudin menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Audrey. Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Audrey itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Audrey dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Audrey dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Audrey. “Eegghhh…” terdengar erangan kecil Audrey ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya. “Suka?” tanya Sudin kepada Audrey sambil melepaskan ciumannya pada Audrey. Audrey tidak menjawab, dia hanya diam saja. Melihat Audrey hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Audrey dengan sedikit keras. “Egghh….” terdengar erangan Audrey sedikit mengeras. “Suka?” tanya Sudin lagi kepada Audrey dengan sedikit tegas. Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Audrey mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin. “Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Audrey dari Sudin. “Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Audrey kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin. “Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Wen dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Audrey. Kini Audrey yang telanjang bulat dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Audrey mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Audrey kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Audrey melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Audrey, namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Audrey menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya. “Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Audrey. “Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Wen khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa. Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Audrey ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Audrey dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey. Audrey dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Audrey dengan cepat sampai Audrey tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Audrey dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Audrey ke arah penis Amir. Audrey mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Audrey. Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Audrey dan mengarahkan ke penisnya. Audrey seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Audrey dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Audrey juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Audrey yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus. 2 laki-laki itu yang sedang dilayani Audrey adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Audrey. Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Audrey kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Audrey langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Audrey kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Wen yang sedari tadi asyik merekam adegan Audrey dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Audrey untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Audrey juga diperintahkan Wen, untuk melakukan deep throat pada ketiga penis itu, hal mana dipenuhi oleh Audrey dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Audrey menuruti semua instruksi Wen meskipun terlihat beberapa kali Audrey merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Audrey terpaksa menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Audrey, muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai sedikit membasahi tubuh Audrey. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Audrey sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Audrey yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Audrey mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya. “Good…good….telan semua ya….” perintah Wen seakan-akan tahu apa yang akan terjadi. Audrey tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan semuanya oleh Audrey, hal mana terlihat dari tenggorokan Audrey yang bergerak-gerak menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Audrey berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Audrey. Terakhir adalah giliran Kisno. Audrey menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Audrey mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Audrey berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Audrey dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga perlu waktu yang cukup lama bagi Audrey untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey. Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Audrey, Kisno kembali menjambak rambut Audrey dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Audrey terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey dengan kasar. “Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Audrey. Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Audrey ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Audrey yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel keci itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Audrey di vaginanya. Audrey didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Audrey sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Wen memberi isyarat kepada Audrey untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Wen menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Audrey. Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Audrey di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa. “Nah, sekarang baru asyik. Kamu bisa melihat secara live persetubuhanmu sendiri” kata Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab apa-apa. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Audrey dengan sedikit ragu menurutinya. Audrey membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Wen memerintahkan Audrey untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Audrey pada awalnya tidak mau menuruti perintah Wen, namun setelah diancam oleh Wen bahwa rekaman persetubuhannya akan tersebar di internet, Audreypun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Audrey, Wen memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Audrey dan mulai menjilati paha dalam Audrey dan terus ke vagina Audrey. Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Audrey, terlihat tubuh Audrey sedikit menegang menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Audrey meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Audrey tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya. “Audrey, ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Wen sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Audrey yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus. Audrey menuruti apa yang dikatakan oleh Wen. Audrey mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Audrey, Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Audrey. Audrey dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Wen. Wen kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Audrey yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Audrey sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Audrey, nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Audrey terangsang hebat. Tubuh Audrey makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Audrey menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Audrey sudah membuat Audrey mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Audrey tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Audrey mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya. “Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Audrey tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya. Mendengar itu Wen tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Audrey yang cantik. Audrey yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya. Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Audrey akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Audrey, gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Audrey dengan keras. “Aoouuuccch……..!!!” teriak Audrey keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu. Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Audrey, namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Audrey kembali, dan bagi Audrey setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Audreypun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Audrey ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, sehingga Audrey hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Audrey penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Wen segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Audrey, sehingga dengan kedua tangan yang dipegang Peter itu, Audrey tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Audrey diperlakukan demikian oleh Kisno. Audrey nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya. “Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Audrey pelan kepada Kisno berulang-ulang. Mendengar itu Wen kembali tertawa lebar dan berkata “Audrey, kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!” “Kamu kalau mau orgasme harus minta ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut wen kepada Audrey. Audrey yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Wen, bolehkah saya orgasme?” Pertanyaan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Wen, biarkan saya yang membuatnya orgasme”. Mendengar itu Wen tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Audrey bisa melayani kalian berdua sekaligus” “Audrey, kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Wen setengah memerintah kepada Audrey. Mendengar itu, Audrey dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Audrey kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan. “Pak Amir…sini..” desah Audrey setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya. Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Audrey. Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Audrey yang mungil dan mulus itu. “Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Audrey ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey. Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Audrey ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Audrey berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Audrey sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Audrey untuk memberikan kesempatan pada Audrey membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Audrey dengan keras, cepat dan kasar. Audrey yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Audrey dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Audrey yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, badan Audrey melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet. Tidak seperti Audrey, Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Audrey, masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Audrey malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Audrey yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Wen dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Audrey hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Audrey hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Audrey dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Audrey hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Audrey hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Audrey dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Audrey. Audrey secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Audrey hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Audrey makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Audrey hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Audrey sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih. Telah beberapa belas menit berlalu ketika tiba-tiba Wen berkata “Oooh, kita ada yang lupa nih, si pelacur tadi orgasme tanpa minta ijin terlebih dahulu, berarti dia harus dihukum”. “Kisno, mana jepitan favorit saya, kamu bawa?” lanjut Wen kepada Kisno. Kisno yang ditanya langsung merogoh tas kamera dan mengeluarkan dua buah jepitan besi yang berbentuk seperti jepitan jemuran. Kedua jepitan itu dihubungkan dengan sebuah rantai besi. “Pakaikan ke Audrey” perintah Wen kepada Kisno. Wajah Audrey nampak ketakutan melihat jepitan besi itu. Kedua tangannya langsung digunakannya untuk menutupi kedua payudaranya. Rupanya Audrey dapat langsung menebak apa kegunaan jepit besi itu. Peter yang melihat Audrey menutupi kedua payudaranya dengan kedua tangannya langsung mendekati Audrey. Diraihnya kedua tangan Audrey dan dengan paksa ditariknya kedua tangan Audrey itu ke atas dan diletakan di atas karpet sejajar dengan kepala Audrey. Dengan posisi kedua lengan dipegangi oleh Peter dan kedua kaki yang dipegangi oleh Amir. Audrey menjadi tidak berdaya dan kedua payudaranya terekpos bebas. Kemudian Kisno menghampiri Audrey, dan dengan cekatan masing-masing jepitan itu digunakannya untuk menjepit masing-masing puting payudara Audrey. Audrey tidak dapat berkata apa-apa karena begitu cepatnya kejadian itu. Hanya terdengar jeritan keras Audrey dan diikuti dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya ketika masing-masing jepitan sudah terpasang dengan sempurna menjepit puting payudaranya. Setelah kedua jepitan sudah terpasang sempurna pada tempatnya, Kisno menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan itu kepada Amir. Amir dengan wajah mesum melepaskan pegangannya pada kedua kaki Audrey dan menerima rantai besi itu dari Kisno. Kemudian Amir tanpa basa basi lagi langsung menarik rantai besi itu ke arahnya sehingga kedua payudara Audrey tertarik ke atas dan ke arah Amir sampai-sampai membuat tubuh Audrey terpaksa mengikuti tarikan Amir pada rantai besi itu sehingga posisi Audrey setengah duduk namun Audrey tidak dapat duduk dengan sempurna karena dalam vaginanya masih tertancap penis Amir yang besar. “Ngangkang yang lebar dan angkat kakinya atau saya tarik sampai putingnya putus!” sahut Amir tiba-tiba kepada Audrey yang cukup membuatku kaget karena baru pertama kalinya aku mendengar supirku ini berani membentak istriku. Dengan kedua jepit diputingnya dan rantai yang ditangan Amir, Audrey hanya bisa menurut. Diangkatnya dan dibukanya lebar-lebar kedua kakinya sehingga kini Audrey dalam posisi setengah duduk dengan hanya sedikit pantat yang menumpu tubuhnya dan kedua tapak tangannya yang bertumpu pada karpet agar tubuhnya tidak jatuh ke belakang. Amir kembali mempercepat genjotannya pada vagina Audrey. Kedua tangan Amir memegang rantai jepit itu dan menarik-nariknya sehingga nampak seperti seperti seseorang yang sedang memegang tali kendali kuda. Sesekali tangan kirinya menampar-nampar paha luar Audrey sehingga Amir seperti seorang joki. Tapi bukan joki yang menunggang kuda tapi joki yang sedang menyetubuhi seorang wanita yang sangat cantik. Payudara Audrey nampak tertarik dengan kencang kedepan, badannya bergoyang hebat karena genjotan ganas Amir pada vaginanya. Audrey nampak kerepotan untuk menjaga keseimbangannya, namun karena jepitan pada kedua payudaranya itu nampak Audrey tetap berusaha tetap pada posisinya. Setelah beberapa menit diperlakukan kasar begitu oleh Amir, nampak perubahan pada diri Audrey. Rupanya diperlakukan kasar oleh supirnya membuat sensasi sendiri pada diri Audrey. Vaginanya nampak mulai banjir dengan cairan kewanitaannya. Bunyi vagina basah yang dimasuki penis mulai terdengar keras setiap kali Amir dengan kasar memasukkan penisnya dalam vagina Audrey. Mata Audrey menjadi berbinar, matanya memandang bergantian kearah Amir, kearah kedua payudaranya dan kearah vaginanya yang sedang digenjot dengan ganas oleh penis Amir yang besar dan hitam itu. Ketika Amir menyodorkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya kearah muka Audrey, Audrey langsung menyambutnya dengan mulutnya dan mulai mengulum-ngulum kedua jari Amir itu dengan tatapan yang seksi kearah Amir. Desahan-desahan kenikmatan mulai keluar dari mulut Audrey, rupanya dia sudah benar-benar tunduk pada supirku itu. Audrey menuruti apa saja perintah Amir. Ketika Amir menyuruhnya menjulurkan lidah, Audrey langsung menurutinya. Tangan kiri Amir langsung meraih lidah Audrey itu dan menarik-nariknya, Audrey bukan kesakitan tapi malah membiarkan Amir dan tersenyum dengan mulut yang terbuka. Setiap adegan-adegan itu direkam dengan baik oleh Wen dan nampak dengan jelas dilayar TV. Terlihat Wen sangat puas dengan hasil karyanya. Audrey nampak sekali menikmati persetubuhannya dengan Amir. Audrey nampak sekali berusaha menyenangkan dan melayani Amir dengan sebaik-baiknya, rasa sakit pada puting payudaranya sudah berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Setiap genjotan kasar Amir pada vaginanya selalu diiringi dengan jeritan seksi kenikmatan yang tiada tara dari mulut Audrey. Sudin yang dari tadi hanya menjadi penonton kelihatannya sudah tidak bisa menahan diri untuk ikut menyetubuhi majikan perempuannya. Sudin mendekati Audrey, diambilnya rantai yang menghubungkan kedua jepitan dari tangan Amir dan direbahkannya Audrey telentang di atas karpet. Kemudian Sudin berlutut menghadap kearah Amir dan mengangkangi wajah Audrey sehingga sekarang wajah Audrey berada di bawah selangkangannya. Setelah itu Sudin menarik rantai itu ke atas, sehingga mau tidak mau Audrey harus mengangkat dada dan wajahnya sehingga wajahnya menempel di biji kemaluan dan lubang pantat Sudin. Dengan sekali hentakan pada rantai itu oleh Sudin, kelihatannya Audrey sudah dilanda birahi yang sangat hebat mengerti apa maunya Sudin. Audrey mulai menjilati dan mengulum biji kemaluan Sudin dari bawah. Audrey juga tanpa malu-malu lagi menjilati lubang pantat pembantu prianya itu. Muka Sudin tampak sumringah ketika merasakan jilatan dan kuluman Audrey di selangkangannya, sedangkan Amir sekarang meraih kedua pergelangan kaki Audrey dan mengangkatnya serta membuka lebar-lebar kedua kaki Audrey sambil terus menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Desahan-desahan Audrey semakin menggila, rasa malunya disetubuhi oleh supir dan pembantu prianya telah hilang sama sekali. Rintihan-rintihan nikmat membahana di ruangan itu. Bel kecil di vagina Audrey menambah ramainya suara yang terdengar. Kurang lebih 10 menit kemudian terdengar suara dari bawah selangkangan Sudin. “Tuan….tuuu…an….boleh sa…saya orgasme?” desah Audrey cukup keras. “Hahaha….boleh…boleh….” tawa Sudin dan Amir hampir bersamaan. Beberapa detik setelah itu terlihat tubuh Audrey mengejang hebat, terdengar lenguhan hebat keluar dari mulutnya menggambarkan seakan-akan Audrey melepas suatu kenikmatan yang luar biasa yang telah tertahan lama di tubuhnya. Wen dengan cekatan merekam semua adegan itu, mukanya terlihat puas melihat Audrey sekarang benar-benar tunduk dan menerima semua yang dilakukan terhadap dirinya. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, akhirnya tubuh Audrey melemas. Wajahnya terlihat lelah namun senyum kepuasan terlihat di bibirnya. “Sekarang gentian saya yang dilayani dong” kata Amir kepada Audrey tiba-tiba sambil mencabut penisnya dari vagina Audrey serta merebahkan diri disamping Audrey. Audrey terlihat berusaha keluar dari bawah selangkangan Sudin, dan Sudinpun mengerti dan membolehkannya. Dengan senyum Audrey kemudian menaiki tubuh Amir sehingga sekarang Audrey dan Amir dalam posisi woman on top. Segera setelah menaiki tubuh Amir, Audrey membimbing penis Amir dengan tangannya ke dalam vaginanya, kemudian ditekannya vaginanya ke bawah sehingga penis Amir amblas seluruhnya ke dalam vagina Audrey. Kemudian Audrey menggerakan pinggulnya naik turun serta memutar, membuat Amir merasakan penisnya diservice oleh vagina Audrey. Tidak itu saja yang dilakukan Audrey, Audrey juga menciumi dan menjilati dada dan leher Amir yang membuat Amir sedikit melenguh kenikmatan. “Kok Amir saja, saya juga mau” sahut Sudin tiba-tiba dengan nada yang sudah tidak sabar. Audrey hanya tersenyum kearah Sudin dan merebahkan tubuhnya di dada Amir. Kemudian dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi kedua tangan Audrey membuka kedua pantatnya sendiri sehingga lubang anus Audrey terlihat jelas dan menantang untuk dimasuki. Sudin si pria tua itu mengerti apa maksud Audrey. Sudin segera berjongkok dan mengarahkan penisnya ke lubang anus Audrey. Sedikit demi sedikit terlihat penis Sudin memasuki lubang anus Audrey. Lubang anus Audrey masih cukup seret karena hanya keringat dan cairan kewanitaan Audrey yang membasahi anus tersebut. Terlihat wajah Audrey di dada Amir menahan sakit. Mata Audrey terpejam menahan sakit dan Audrey menggigit bibir bawahnya sendiri ketika senti demi senti penis Sudin yang besar mulai menerobos masuk ke dalam lubang anus Audrey. Namun tidak ada keluhan atau jeritan sakit keluar dari mulut Audrey. Audrey dengan tabah menerima penis Sudin di anusnya. Setelah penis Sudin masuk seluruhnya ke dalam lubang anus Audrey, baik Audrey, Amir dan Sudin berdiam diri beberapa menit dalam keadaan penis Amir seluruhnya masuk dalam vagina Audrey dan seluruh penis Sudin seluruhnya masuk dalam lubang anus Audrey. Beberapa menit berlalu ketika terlihat Audrey mulai dapat membiasakan diri dengan dua penis besar masing-masing di vagina dan anusnya. Kemudian Audrey mengangkat tubuhnya sedikit dan bertumpu dengan kedua tangannya di karpet dan secara bersamaan mulai memutar-mutar pantatnya sendiri. Amir dan Sudin mengerti bahwa majikan perempuannya itu sudah siap melakukan persetubuhan dan keduanya segera menggenjot penis mereka masing-masing dari pelan-pelan makin lama makin cepat. Amir dari bawah dengan buasnya menggenjotkan penisnya ke vagina Audrey, sedangkan Sudin dengan tidak kalah ganasnya menggenjot penisnya ke anus Audrey dari belakang. Menerima serangan dari dua arah pada kedua lubangnya, wajah Audrey menampakkan kepuasan, senyumnya kembali terlihat dan desahan-desahan nikmat mulai keluar dari mulutnya. Amir kemudian dari bawah menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan di payudara Audrey ke mulut Audrey, dan Audreypun langsung menyambutnya dengan menggigit rantai tersebut. Kemudian Audrey sedikit merebahkan tubuhnya ke depan sehingga kedua payudaranya persis di atas wajah Amir yang langsung disambut Amir dengan genggaman kedua tangan Amir di kedua payudara tersebut dan disertai jilatan dan kuluman mulut Amir di payudara Audrey. Sudin yang sedang menggasak anus Audrey dengan penisnya tidak mau kalah, ditariknya rambut Audrey ke belakang sehingga kepala Audrey terdongak ke atas yang menyebabkan kedua payudara Audrey ikut tertarik. Lenguhan kecil terdengar dari mulut Audrey ketika kedua payudaranya tertarik kencang, namun wajah Audrey tetap terlihat kenikmatan. Mendengar itu, Sudin makin menarik-narik rambut Audrey, setiap tarikannya selalu disertai lenguhan nikmat Audrey sehingga membuat Sudin semakin berani menarik-narik rambut Audrey dengan kasar. Setelah 20 menit terlihat Amir mulai akan mencapai orgasmenya. Audrey menyadari hal itu dan semakin menggerak-gerakan pinggulnya dengan liar sehingga dalam waktu tidak beberapa lama kemudian Amir mencapai orgasmenya dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey. Melihat Amir telah orgasme, Sudin kemudian mencabut penisnya dari anus Audrey dan menarik tubuh Audrey ke belakang dan segera men-doggy style Audrey dengan kasar. Audrey terlihat puas dengan perlakuan pembantu pria dan supirnya. Mulut Audrey yang sekarang tepat diselangkangan Amir tidak tinggal diam, dikulum dan dijilatinya penis Amir sehingga semua sperma dan cairan kewanitaan yang menempel di penis Amir dijilat dan ditelannya sampai bersih. Kedua tangan Audrey mengocok-ngocok penis Amir seakan-akan tidak rela kalau penis Amir sudah melayu. Kegiatan Audrey pada penis Amir baru terhenti ketika tiba-tiba Sudin meraih kedua pundak Audrey dan menariknya ke belakang sehingga sekarang posisi Audrey dan Sudin dalam keadaan berlutut tegak dengan penis Sudin menggasak vagina Audrey dari belakang. Sudin terus menggasak vagina Audrey dengan penisnya, gerakan-gerakannya sungguh liar, kedua tangan Sudin meraih kedua payudara Audrey dari belakang. Diremas-remasnya kedua payudara Audrey dengan ganas. Audreypun tidak mau kalah, diputar-putarnya pinggulnya dengan disertai tekanan-tekanan ke belakang kearah penis Sudin. Selain menggenjot vagina Audrey dari belakang dan meremas-remas payudara Audrey dengan ganasnya, Sudin juga menciumi dan menjilati leher Audrey yang jenjang itu dan juga mengulum-ngulum kuping Audrey. Sambil terus menjilati leher dan kuping Audrey, Sudin kemudian mengarahkan tangan kanannya ke klitoris Audrey dan mulai menggosok-gosok klitoris Audrey dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Diperlakukan demikian, Audrey menggelinjang-gelinjang kenikmatan, kedua tangan Audrey meraih pantat Sudin dan menarik-nariknya ke depan sehingga penis Sudin semakin keras menghujam vaginannya. Kemudian Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang ke bahu kanan Sudin dan mulai menciumi bibir Sudin yang langsung disambut Sudin dengan ganas. Audrey dan Sudin berciuman dan saling memainkan lidahnya masing-masing. Terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dan dengan mata sayu Audrey memandangi mata Sudin sambil terus berciuman dengan Sudin. “Aaah…ahhh…nikmat pak Sudin….aam..pun….nikmat sekali…” terdengar desahan-desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Benar-benar pemandangan yang hebat, seorang wanita cantik berkulit putih bersetubuh dengan seorang pria tua setengah baya berkulit hitam legam. Keringat mengucur deras dikeduanya sehingga nampak kedua tubuh mereka mengkilap karena keringat itu dan semuanya terekam dengan baik di kamera video Wen. Setelah sekian puluh menit, kembali Audrey berkata “Tuuaan bolehkah saya orgasme lagi….” “Tunggu, saya juga hampir orgasme, kita orgasme sama-sama ya” jawab Sudin kepada budak seksnya yang dahulu adalah majikan perempuannya. Audrey tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dan terlihat berusaha sekuat tenaga menahan orgasmenya dengan susah payah. Setelah beberapa belas menit kemudian terlihat Sudin akan mencapai orgasmenya, Audrey menyadari hal itu dan raut mukanya terlihat lega. Beberapa detik kemudian kedua manusia berlainan jenis itu mencapai orgasme secara bersama-sama. Kembali tubuh Audrey mengejang hebat, diremas-remasnya rambut kepala Sudin, diciuminya bibir Sudin dan secara bersamaan, Sudin juga memuntahkan sperma di dalam vagina Audrey. Beberapa menit Audrey dan Sudin berada di puncak orgasme, kemudian kedua tubuh mereka rebah bersamaan di atas karpet kelelahan. ************************************ Bagian III Pengalaman Baru Bersama Kisno Wen rupanya belum puas dengan Audrey. Segera ditariknya rantai penjepit payudara Audrey sehingga terpaksa membuat Audrey bangkit. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk duduk di sofa kecil dengan kedua kaki mengangkang bertumpu pada kedua lengan sofa. Kemudian wen memerintahkan Kisno untuk mengikat masing-masing pergelangan kaki Audrey pada kaki-kaki sofa, demikian juga kedua pergelangan tangan Audrey diikat pada kaki-kaki sofa yang lainnya, sehingga kini posisi Audrey menjadi tidak berdaya dengan posisi duduk mengangkang di sofa dan masing-masing kakinya terikat di kaki-kaki depan sofa serta masing-masing tangan terikat di kaki-kaki belakang sofa. Audrey yang masih kelelahan tidak banyak melawan, kelihatannya Audrey sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan dialaminya. “Nah, Audrey, sekarang pelajaran baru buat kamu” kata Wen tiba-tiba sambil menyerahkan kamera video kepada Kisno. “Kisno, kamu rekam ya yang bagus” lanjut Wen kepada Kisno. Kisno yang mendengar perintah majikannya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mulai merekam Audrey dalam keadaan tidak berdaya itu. Wen kemudian berlutut dihadapan selangkangan Audrey, tangan kanannya kemudaian menggosok-gosok vagina Audrey, dan kemudian jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya mulai memasuki vagina Audrey. Audrey sedikit menggelinjang ketika 2 jari tangan Wen masuk ke dalam vaginanya. Desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Setelah beberapa menit memainkan vagina Audrey dengan 2 jarinya, Wen kemudian meraih rantai penjepit payudara Audrey dengan tangan kirinya serta mulai menarik-nariknya pelan-pelan namun panjang sehingga kedua payudara Audrey benar-benar tertarik ke depan. Suara rintihan terdengar lagi dari mulut Audrey ketika rantai tersebut ditarik-tarik oleh Wen. Beberapa menit berlalu ketika Wen mulai menggunakan ibu jari tangan kanannya untuk memainkan klitoris Audrey, dan secara pelan-pelan memasukkan jari manis tangan kanannya ke dalam vagina Audrey sehingga kini 3 jari Wen masuk ke dalam vagina Audrey. Setelah 3 jari Wen masuk ke vagina Audrey, Wen mulai memompa ketiga jarinya keluar masuk vagina Audrey dengan cepat. Wen secara lihai memainkan vagina Audrey dengan ketiga jarinya ditambah ibu jarinya di klitoris Audrey yang membuat Audrey menggelinjang hebat dan merintih-rintih kenikmatan dengan keras. Terdengar bunyi keciplak kecipluk ketika vagina Audrey yang sudah basah dengan sperma Amir dan Sudin serta ditambah cairan kewanitaannya sendiri dikerjai habis-habisan oleh jari-jari tangan Wen. Setelah beberapa menit, Wen mulai memasukkan jari kelingkingnya ke dalam vagina Audrey, sehingga sekarang 4 jari tangan Wen memompa vagina Audrey. Terlihat raut wajah Audrey menampakkan sedikit kekuatiran, tapi ikatan pada kedua kaki dan kedua tangannya membuat Audrey tidak dapat berbuat banyak serta ditambah lagi kelihaian jari-jari tangan Wen di vaginanya membuat Audrey hanyut dalam birahinya meskipun terdapat sedikit kekuatiran karena vaginanya tidak pernah dimasuki 4 jari tangan sebelumnya. Cukup lama Wen memainkan vagina Audrey dengan keempat jari tangannya sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah kenikmatan. Kemudian Wen memperlambat genjotan keempat jarinya pada vagina Audrey dan kemudian mulai mencoba memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam vagina Audrey. “Jaaa…ngggaan..Pak Wen..ugggghhhh…” terdengar suara kuatir Audrey ketika ibu jari tangan Wen mulai memasuki vaginanya. “Ini namanya fisting, kamu harus terbiasa dengan ini, kamu sebagai budak seks harus bisa menerima dan menikmati apa saja perlakuan tuanmu” Wen menjawab kekuatiran Audrey dengan tegas. “Sekarang perhatikan ini! Kamu akan takjub dengan dengan apa yang vaginamu bisa terima” lanjut Wen sambil terus memasukkan ibu jarinya ke dalam vagina Audrey. Setelah kelima jari tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak berhenti sampai situ saja, namun telapak tangan kanannya terus mendesak masuk ke dalam vagina Audrey sedangkan tangan kirinya makin menarik rantai penjepit payudara Audrey makin ke depan. “Ooogghhh…..uuugghh…..aaaggghhhhh….” jerit Audrey keras ketika telapak tangan kanan sampai pergelangan tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey. “Gigit ini supaya tidak terlalu sakit” kata Wen kemudian sambil menyerahkan rantai penjepit payudara itu ke dalam mulut Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey. Wen tidak langsung memompa lengannya pada vagina Audrey. Didiamkannya telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Audrey sambil menggigit rantai itu terlihat meringis-ringis sambil berusaha membenarkan posisinya badannya. Mata Audrey terlihat menatap takjub kearah vaginanya sendiri. Sekali lagi benar-benar pemandangan yang diluar dugaanku, istriku yang cantik jelita duduk mengangkang terikat di atas sofa tidak berdaya dengan telapak tangan Wen tertancap kuat didalam vaginanya. Setelah beberapa waktu, Wen mulai menggerakkan telapak tangannya keluar masuk vagina Audrey secara perlahan-lahan yang disertai rintihan-rintihan Audrey setiap kali telapak tangan Wen memasuki vagina Audrey. “Uuughhh…..ooogggh……aahhh….” desah Audrey cukup keras sambil menggelinjang-gelinjang serta meringis-ringis antara menahan sakit dan nikmat. Beberapa menit kemudian Wen mulai mempercepat gerakan tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen juga mengkombinasikan gerakan tangannya dengan gerakan memutar-mutar telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Gerakan-gerakan tangan Wen tersebut makin membuat Audrey menggelinjang-gelinjang. Audrey mulai menggerakan pinggulnya maju mundur serta memutar mengikuti irama permainan tangan Wen pada vaginanya. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Audrey semakin keras, dan sekarang nampaknya tinggal desahan-sesahan kenikmatan. Wajah Audrey terdongak ke atas sambil sesekali menunduk menatap kearah vaginanya, sedangkan dada Audrey membusung ke depan dan meliuk-liuk tidak karuan. Kedua payudaranya tertarik keras setiap kali Audrey mendongakkan kepalanya ke atas karena rantai yang digigitnya menjadi menarik kedua payudaranya. “Ooohh…..ohhhh…Pak Wen….Oohhh..ooohhh” terdengar desahan-desahan Audrey telah berubah menjadi lolongan-lolongan panjang kenikmatan. Beberapa menit kemudian, Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan birahinya. Mata Audrey berubah menjadi benar-benar sayu dan sesekali Audrey memejamkan matanya. Liukan-liukan pinggul dan badannya memelan seakan-akan sedang bergerak dalam slow motion. Mulut Audrey terbuka sedikit, rantai dimulutnya sudah terlepas dari gigitannya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan serta memutar dengan pelan, lolongan-lolongannya mejadi semakin panjang dan lambat-lambat. Melihat perubahan pada diri Audrey, Wen tersenyum sinis dan memerintahkan Amir untuk melepaskan seluruh ikatan pada kaki-kaki dan tangan-tangan Audrey. Begitu seluruh ikatan terlepas, Audrey yang kini bebas bergerak, mulai mengeliat-geliat seperti orang yang baru bangun tidur. Kedua tangan Audrey kadang menggeliat ke atas sambil meremas-remas pelan rambutnya sendiri, kadang mengusap-usap perutnya sendiri dan naik ke atas untuk mengelus-ngelus kedua payudaranya sendiri. Audrey semakin membuka lebar kedua kakinya untuk memberikan akses lebih luas bagi tangan Wen, sedangkan bibir Audrey mulai menciumi dan menjilati serta mengigit-gigit kecil lengan atasnya sendiri persis di atas ketiaknya, dan kadangkala digigitnya sendiri bibir bawahnya. Beberapa belas menit kemudian terlihat Audrey sudah siap orgasme. Dengan kedua tangannya Audrey meraih tangan kanan Wen yang sedang mengobok-ngobok vaginanya sehingga Wen tidak dapat lagi memompa tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen mengerti apa yang diinginkan Audrey. Wen menghentikan kegiatannya dan membiarkan telapak tangan kanannya terbenam seluruhnya di vagina Audrey. Sedangkan Audrey dengan kedua tangannya yang masih memegang tangan kanan Wen mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan memutar, sehingga kini Audrey yang bergerak sendiri untuk memuaskan nafsu birahinya dan mengarahkan tangan Wen agar mengenai titik-titik kenikmatan dalam vaginanya. Tidak lama setelah itu, badan Audrey mengejang hebat. Kedua tangannya menarik kuat-kuat tangan kanan Wen agar semakin dalam tertancap vaginanya. “Tuuuuaaaan…. bbolehhh..saya orgasme….pleaaaassseeee…..” teriak Audrey keras dengan terbata-bata memohon kepada Wen. Wen yang ditanya hanya mengangguk pelan, dan tak lama kemudian terdengar suara Audrey berteriak keras dengan badan yang mengejang hebat, “Oogggghhh…terimaaa…kassiiihhhh….tuaaaan…eennaakk!!” Setelah badan Audrey melemas, Wen pun mengeluarkan tangan kanannya dari vagina Audrey. Audrey langsung rubuh ke sofa ketika tangan Wen seluruhnya tercabut dari vaginanya. Nafas Audrey terengah-engah kelelahan, kedua kakinya dirapatkannya kembali, keringat membasahi sekujur tubuhnya. “Kisno, tuh sekarang ambil bagianmu” kata Wen memecah keheningan ruangan sambil meminta kamera videonya kembali dari Kisno. Mendengar itu terlihat Kisno kegirangan. Dikembalikannya kamera video yang sedang digenggamnya kepada majikannya. Dengan sedikit melonjak-lonjak kegirangan Kisno mendekati Audrey. Audrey yang masih kelelahan terlihat sedikit ketakutan melihat tingkah laku Kisno. Sesampainya di dekat Audrey, tanpa bicara apapun lagi, Kisno langsung menjambak rambut Audrey dengan keras dan menarik Audrey sehingga Audrey terjerembab ke karpet. “Aooowwww…..!!!” terdengar terikan Audrey keras ketika tubuhnya terjerembab ke karpet karena tarikan Kisno pada rambutnya. “Diam kamu pelacur! Sekarang kamu milikku! Nurut aja! Ayo bangun posisi merangkak seperti anjing!” bentak Kisno kepada Audrey sambil menendang-nendang pelan pantat Audrey. Dengan gerakan menjambak rambut Audrey ke atas, Kisno berhasil membuat Audrey menuruti kemauannya, kini Audrey dalam posisi merangkak seperti anjing dengan Kisno menjambak rambutnya kuat-kuat. Kemudian Kisno dengan tetap menjambak rambut Audrey berjalan mengelilingi ruangan sehingga Audrey harus merangkak-rangkak mengikutinya. Kisno sambil mengelilingi ruangan mengatakan kepada semua yang ada di ruangan itu bahwa dia akan membuat Audrey benar-benar bertekuk lutut padanya dan membuat Audrey benar-benar kecanduan akan penisnya. Kemudian Kisno menghentikan langkahnya ketika sampai ditempat aku duduk. Diarahkannya Audrey berlutut dihadapan selangkanganku. “Nah, sebelum kamu merasakan penisku, sebagai perbandingan kamu nikmati dulu penis suamimu, nanti setelah itu kamu akan mengerti apa itu kenikmatan. Buka celana suamimu sekarang” kata Kisno memerintahkan Audrey. Dengan sekali tarikan pada rambut Audrey, Kisno berhasil membuat Audrey menurut. Audrey mulai membuka dan menurunkan celana dan celana dalamku. Aku yang sudah sangat terangsang karena melihat persetubuhan istriku dengan Amir, Sudin dan tangan Wen hanya berdiam diri saja, malah pada saat itu aku berpikir ini adalah kesempatan karena sudah lama aku tidak bersetubuh dengan istriku mengingat Wen sebelumnya hanya membolehkan Audrey untuk mengoral service penisku saja. Ketika celana dan celana dalamku sudah terlepas, terlihat penisku sudah sangat menegang. Terlihat wajah Audrey sedikit kecewa mengetahui bahwa aku terangsang melihat dirinya dikerjai oleh laki-laki lain. “Wah, si suami rupanya sudah sangat terangsang nih karena melihat istrinya kita kerjain” kata Kisno kepada semua yang ada di ruangan itu sambil tertawa. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk menaiki diriku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya, sehingga kini Audrey duduk di atasku dengan penisku tertancap di vaginanya. Seperti mengerti apa yang diinginkan Kisno, Audrey mulai menggerakkan tubuh dan pinggulnya naik turun memompa penisku. Mula-mula gerakan tersebut dilakukan Audrey dengan perlahan namun lama-lama makin cepat. Vagina Audrey yang basah masih terasa rapat di penisku. Hal ini membuat aku sedikit terkejut karena vagina itu sebelumnya baru dimasuki tangan Wen yang besar. Ternyata vagina Audrey tidak melonggar atau rusak karena tangan Wen, vagina Audrey tetap seperti sediakala, namun ada yang beda pada diri Audrey, yaitu dalam melakukan persetubuhannya denganku ini, Audrey tidak mengeluarkan desahan apapun, Audrey melakukannya hanya seperti robot, nampak sekali Audrey tidak menikmatinya. Sedangkan aku yang sudah lama tidak merasakan vagina wanita sangat menikmati persetubuhan tersebut. Tidak memerlukan waktu terlalu lama bagiku untuk mengalami orgasme. Aku muntahkan seluruh spermaku di dalam vagina Audrey. “Tuan, Tommy sudah klimaks” kata Audrey tiba-tiba sambil menoleh ke Kisno setelah aku selesai memuntahkan seluruh spermaku di dalam vaginanya. “Cepat amat…ya sudah sekarang duduk mengangkang disitu” kata Kisno amemerintahkan istriku sambil menujuk sofa panjang. Audrey menuruti kemauan Kisno. Audrey duduk di sofa panjang dengan kaki mengangkang lebar. Terlihat lelehan spermaku ada yang keluar dari selangkangannya yang dicukur bersih itu. Kemudian Kisno memposisikan dirinya di hadapan Audrey, diarahkannya penisnya yang berbentuk aneh dan dipenuhi tindikan itu kearah vagina Audrey. Audrey nampak ketakutan ketika penis Kisno yang mempunyai tonjolan-tonjolan bulat yang dapat bergerak-gerak dengan tindikan beberapa cincin emas yang sebagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa mendekati vaginanya. “Jangan takut, kamu akan segera tahu enaknya ini penis ini. Ini penis spesial, cuma ada satu di Indonesia. Untuk jadi seperti ini harus dibuat di Cina hehehehehe” tawa Kisno melihat raut muka Audrey yang memperlihatkan kekuatiran. Secara pelan-pelan, Kisno mulai memasukan penisnya ke dalam vagina Audrey yang langsung disambut dengan teriakan histeris dari Audrey. “Aaaah…….ugggghhhhhh….jangan tuan….apa ini….” jerit histeris Audrey sambil berusaha melepaskan diri dari Kisno. Sebelum Audrey bisa berbuat banyak, Kisno dengan cekatan memegang kedua tangan Audrey dan memposisikan Audrey kembali ke posisi semula. “Jangan banyak bergerak, kamu mau saya sakiti atau mau menerima kenikmatan luar biasa! Pilih! Ini baru kepala penisku yang masuk!” bentak Kisno kepada Audrey sambil memegang kedua tangan Audrey sejajar dengan kepala Audrey. Audrey hanya mengangguk lemah tanda persetujuannya. Air mata terlihat berlinang dikedua matanya. Kemudian Kisno melanjutkan memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey secara perlahan sekali, senti demi senti masuk pelan-pelan ke dalam vagina Audrey, seakan-akan Kisno memang sengaja agar dinding vagina Audrey merasakan gesekan penis bertindik cincin emas yang dibaluti oleh bulu-bulu seperti sabuk kelapa itu. “Ooooggghhh…….” desah Audrey panjang sekali ketika Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga sebagian kecil batang penis Kisno mulai masuk ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey melotot tajam memandangi vaginanya mulai dimasuki penis Kisno. Mulut Audrey terbuka lebar dan pinggulnya bergerak sedikit mengatur posisinya agar lebih nyaman dalam menerima penis Kisno. “UUggghhhhhh….” teriakan kecil tapi panjang keluar dari mulut Audrey ketika Kisno menekan lagi pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno makin masuk ke dalam vagina Audrey. Badan Audrey bergetar hebat. Audrey membuka kakinya lebar-lebar, matanya masih melotot tajam memandangi vaginanya sendiri. “Ooogggghhh……” teriakan Audrey semakin panjang ketika untuk ketiga kalinya Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang, matanya tertutup rapat namun mulutnya makin terbuka lebar. Beberapa saat Kisno menghentikan gerakannya, kemudian terdengar lagi teriakan panjang “Ooogghhh…” keluar dari mulut Audrey ketika Kisno kembali menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Kepala Audrey yang masih terdongak itu terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan. Kedua tangan Audrey yang telah dilepas dari genggaman Kisno terlihat masing-masing memegang bahu Kisno. Badan Audrey semakin bergetar hebat, kakinya yang mengangkang terlihat menendang-nendang kecil ke udara. Sekali lagi Kisno menghentikan gerakannya untuk beberapa saat sebelum untuk kelima kalinya menekan pantatnya kedepan yang membuat batang penisnya semakin dalam lagi masuk ke dalam vagina Audrey. Teriakan Audrey terdengar semakin keras dan liar ketika batang penis Kisno makin dalam masuk ke dalam vaginanya. Badan Audrey yang bergetar hebat sekarang bergoyang-goyang tidak karuan. Kedua kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara sedangkan masing-masing tangannya memukul-mukul bahu Kisno. “Aaaammmppppuuunnnn…..tuaaaannnn…..saya tidak tahan….” Kata Audrey dengan badan yang menggeliat-geliat hebat sambil memandang Kisno. Kisno kembali menghentikan gerakannya, namun kontras dengan Kisno, justru badan Audrey semakin keras menggeliat-geliat, kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara dan kedua tangannya kini menjambak-jambak rambut Kisno. Kemudian Kisno dengan keras menekan pantatnya ke depan sehingga seluruh penisnya amblas ke dalam vagina Audrey yang disertai lolongan sangat panjang dari mulut Audrey. Menerima seluruh penis Kisno di dalam vaginanya membuat badan Audrey menegang dan menggeliat-geliat, kedua kakinya mengangkang lurus ke atas dan bibir Audrey menggigit keras tangan kirinya sendiri yang dikepal sedangkan tangan kanannya tetap menjambak keras rambut Kisno. “Hehehe…. enak ya?” tanya Kisno kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, matanya nanar melihat ke wajah Kisno. Lalu tiba-tiba Kisno memutar-mutar pinggulnya sehingga seluruh penis Kisno menggesek-gesek dinding dalam vagina Audrey. Masing-masing tangan Audrey meremas keras pegangan sofa, kepalanya kembali terdongak ke belakang, badannya makin menegang hebat, dadanya membusung ke depan sehingga punggung Audrey sampai melengkung ke depan ketika Audrey merasakan penis Kisno bergesekan dengan dinding dalam vaginanya. Beberapa detik kemudian terdengar lolongan panjang Audrey tanda Audrey mencapai orgasmenya. Vagina Audrey memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak dan berulang-ulang sampai-sampai sofa yang didudukinya menjadi sangat basah. Tidak mempedulikan Audrey yang sedang orgasme, Kisno mulai memompa penisnya secara perlahan keluar masuk vagina Audrey. Diperlakukan demikian Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti cacing kepanasan. Kemudian Kisno mulai mempercepat genjotan penisnya pada vagina Audrey. Badan Audrey makin bergerak tidak karuan, kedua tangannya memukul-mukul lengan sofa. Nafas Audrey tersengal-sengal, rintihan-rintihan nikmatnya makin menjadi-jadi. Terdengar suara kecipak kecipuk yang sangat keras ketika penis Kisno keluar masuk vagina Audrey yang sudah sangat becek. “Terus….teruuussss….jangaaannn…berhenti……lebih keras…lebih keras…..lebih dalam…lebih dalam….” jeritan Audrey terdengar keras mengiba-ngiba kepada Kisno. “Jagoanku….jagoanku….hajar terus…vaginaku ini….ini milikmu semua….” Audrey merintih-rintih nikmat sambil masing-masing tangannya memegang pipi Kisno dengan keras dan matanya memandang liar ke mata Kisno. Hanya perlu kurang lebih lima menit untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali. Vagina Audrey kembali memuncratkan cairan kewanitaannya, badan Audrey menegang hebat, mata Audrey tertutup rapat dan lolongan yang panjang membuat semua orang tahu ketika Audrey sedang orgasme. Setelah orgasme, Audrey kembali menggeliat-geliat hebat, matanya kembali terbuka, tangannya menekan-nekan pantat Kisno agar penis Kisno makin dalam masuk ke vaginanya, dan selalu kurang lebih lima menit kemudian, badan Audrey menegang kembali, lolongan panjang terdengar dari mulutnya, badannya seperti kaku ketika Audrey mengalami orgasmenya kembali dan cairan kewanitaan kembali memuncrat hebat dari vaginanya. Kejadian tersebut kembali terjadi berulang-ulang sampai kurang lebih 40 menit. Badan Audrey dan Kisno sudah mandi keringat, namun keduanya nampak menikmati sekali permainan seks mereka, terutama Audrey terlihat sekali sudah tidak dapat mengontrol dirinya, lenguhan-lenguhannya semakin keras. Audrey mulai meracau dan mengeluarkan kata-kata cabul untuk menyemangati Kisno. Sangat berbeda dari Audrey yang pertama kali kukenal dan kunikahi. Audery sekarang telah berubah menjadi wanita yang gila seks, semakin kasar perlakuan Kisno terlihat semakin Audrey menikmatinya. Kemudian secara tiba-tiba, Kisno mencabut penisnya yang besar dari vagina Audrey. Langsung saja terdengar keluhan keras dari mulut Audrey. “Jangan….dilepaaasss…..ooouuccchh……” terdengar teriakan Audrey ketika Kisno menjambak rambutnya dengan kasar dan menariknya serta memposisikannya berdiri menungging dengan kedua tangan berpangku pinggir meja di ruangan TV itu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Kisno dengan kasar lalu memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari belakang. Terdengar jeritan dari mulut Audrey ketika penis Kisno yang berbentuk aneh itu kembali mengoyak vaginanya. Kisno kemudian langsung memompa dengan kasar vagina Audrey dengan gaya doggy style. Tangan kiri Kisno melingkar ke depan kearah klitoris Audrey dan tangan kiri Kisno mulai memainkan, mencubit-cubit dan memilin-milin klitoris Audrey. Diperlakukan demikian langsung badan Audrey bereaksi. Badan Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti orang kegelian. Terlihat cairan kewanitaan Audrey meleleh dari vaginanya makin membasahi kedua paha dalamnya. Mulut Audrey terbuka lebar, kepalanya bergoyang-goyang tidak beraturan, sedangkan kedua tangannya berusaha dengan susah payah tetap bertumpu pada pinggir meja. Suara lolongan dan rintihan nikmat Audrey membahana di ruangan itu bersahut-sahutan dengan bunyi keciplak kecipluk dari vaginanya yang basah dan bunyi bel kecil yang tersangkut di bibir atas vaginanya. Mata Audrey merem melek dan mendelik-delik karena kenikmatan yang tidak ada taranya, dan setiap kurang lebih lima menit Audrey kembali mencapai orgasmenya yang selalu ditandai dengan badannya yang mengejang hebat dan vaginanya yang memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak. Kurang lebih 30 menit Adrey didoggy style oleh Kisno, keringat Audrey sudah mengucur deras. Cairan kewanitaannya sudah benar-benar membasahi kedua paha dalamnya. Karpet di antara kedua kaki Audrey sudah basah karena cairan kewanitaan Audrey yang mengucur deras ke bawah. Meja kaca tempat kedua tangan Audrey bertumpu sudah juga basah dengan lelehan keringat Audrey dan cairan kewanitaan Audrey yang memuncrat cukup jauh. Kemudian Wen dengan kamera ditangan kanannya menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menarik rambut Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. Kamera lalu menclose-up wajah Audrey yang sedang meringis-ringis kenikmatan itu. “Enak? Jawab ke kamera ini bagaimana rasanya” tanya Wen tegas kepada Audrey. “Eeen..naaakkk…sekkaaali tuuuaaan” jawab Audrey sambil menggeliat-liat liar karena sodokan-sodokan penis Kisno dari belakang, “Penis tuan Kisno seperti hidup dan mengigit-gigit bagian dalam vagina saya…uuugghhh…aagghhh…..” lanjut Audrey sambil memandang kamera dan merintih-rintih kenikmatan. “OOoooogggghhh………!!!” kemudian terdengar lolongan panjang Audrey yang disertai dengan vagina yang kembali memuncratkan cairan kewanitaannya tanda Audrey kembali mengalami orgasme yang panjang. “Cepat sekali kamu orgasme ya. Mulai sekarang kamu harus juga menuruti apa kemauan Kisno, Amir dan Sudin. Kamu harus menyerahkan seluruh tubuhmu pada mereka, mau? Siap?” lanjut Wen sambil menjambak-jambak rambut Audrey ke belakang. Setelah sedikit reda dari orgasmenya, Audrey menjawab dengan terbata-bata “Mau…tuuuaan…maaauu…, saya siap melayani dan menuruti apa maunya tuan Kisno, Amir dan Sudin” “Sayaa….sepenuhnya milik mereka…eegghhh…aaaggghhh….ugghhhhh….” lanjut Audrey sambil menggelinjang-gelinjang dan merem melek kenikmatan. Lalu Wen melepaskan jambakannya pada rambut Audrey dan mundur beberapa langkah untuk memberikan keleluasaan bagi Audrey untuk kembali konsentrasi ke persetubuhannya dengan Kisno. Melihat Wen telah membiarkan Audrey, Amir dan Sudin maju ke depan dan berdiri masing-masing disamping kiri dan kanan wajah Audrey. Kemudian Amir dan Sudin memerintahkan Audrey untuk mengocok masing-masing penis mereka dengan masing-masing tangan Audrey. Audrey segera menuruti meskipun hal tersebut membuat dirinya susah untuk berdiri karena kedua tangannya yang tadinya digunakannya untuk menumpu badannya sekarang harus dipergunakan untuk mengocok-ngocok penis Sudin dan Amir. Melihat Audrey yang kesulitan berdiri sambil menungging, Kisno malah menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat pinggul Audrey dan makin memompa dengan keras penisnya pada vagina Audrey yang membuat Audrey makin kesulitan berdiri menungging. Ditambah lagi sekarang Amir dan Sudin dengan tangannya masing-masing mulai meraba-raba dan mempermainkan klitoris dan kedua payudara Audrey sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan yang membuatnya tambah sulit mempertahankan posisi berdirinya. Audrey yang sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sudah benar-benar pasrah. Kenikmatan yang diberikan Kisno pada dirinya telah benar-benar menghilangkan harga dirinya sebagai wanita terhormat. Menyadari Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan seksual, Amir dan Sudin tidak tahan untuk mengetahui seberapa menurutnya Audrey pada mereka. “Hayo…menggonggong seperti anjing betina yang sedang dientot” perintah Amir kasar tiba-tiba kepada Audrey. “Gu…guk…guuk…oghhh…..aghhh..guuuk….” Audrey langsung menuruti perintah Amir yang disambut oleh tawa lebar dari Amir, Sudin dan Kisno. “Hayo keluarkan lidahmu seperti anjing kehausan” perintah Sudin kemudian yang langsung dituruti oleh Audrey yang cantik sambil menggelinjang-gelinjang kenikmatan sehingga sekarang Audrey dalam posisi berdiri menungging didoggy style Kisno dengan masing-masing tangan sibuk mengocok penis Amir dan penis Sudin serta mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar serta nafas terengah-engah seperti anjing kehausan. “Hahahahaha…” terdengar tawa semua yang ada di ruangan TV itu melihat Audrey menuruti semua perintah Amir dan Sudin. Hanya aku yang tidak ikut tertawa. Aku sekarang melihat istriku yang cantik benar-benar dipermalukan oleh supir dan pembantunya sendiri tapi istriku menikmatinya. Audrey sudah benar-benar takluk pada keperkasaan Kisno sehingga mau dipermalukan oleh Sudin dan Amir. “OOOggggghhhh…..” terdengar lolongan panjang dari mulut Audrey setiap kali Audrey mencapai orgasmenya. Tubuhnya selalu mengejang hebat dan vaginanya selalu memuncratkan cairan kewanitaan setiap kali Audrey mencapi orgasme namun Audrey tidak melemas setelah mengalami orgasme. Vaginanya langsung siap meneruskan persetubuhannya dengan Kisno. Setelah berpuluh-puluh menit dan setelah Audrey mengalami orgasme yang sudah tidak terhitung lagi, Amir dan Sudin mencapai orgasmenya. Dimuntahkannya sperma mereka masing-masing ke wajah Audrey, dan mereka memerintahkan Audrey membersihkan sisa-sisa sperma dari penis mereka dengan menggunakan lidah dan mulut Audrey yang langsung dituruti Audrey tanpa ragu-ragu. Sudin dan Amir juga memerintahkan Audrey untuk membersihkan muka Audrey dari sperma dengan tangan Audrey, kemudian mereka meminta Audrey untuk menjilati tangannya sendiri dan menelan seluruh sperma yang ada ditangannya. Tidak seperti Amir dan Sudin, rupanya Kisno benar-benar seorang pria yang tangguh dalam hal seks. Belum ada tanda-tanda Kisno akan orgasme. Amir dan Sudin yang sudah lemas berejakulasi kemudian hanya menonton persetubuhan Kisno dan Audrey. Demikian juga yang lainnya hanya menonton Audrey dikerjai habis-habisan oleh Kisno. Audrey dan Kisno melanjutkan pertarungan seks yang tidak seimbang itu. Audrey setiap kurang lebih 5 menit menyerah kalah dan mengalami orgasme yang dahsyat sedangkan Kisno dengan perkasanya tetap memompa vagina Audrey dengan cepat dan kasar. Audrey dan Kisno bersetubuh dengan berbagai macam gaya, baik itu dalam posisi Kisno di atas menindih tubuh Audrey maupun gaya woman on top serta gaya lainnya yang aneh-aneh dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Audrey dan Kisno juga bersetubuh di berbagai tempat di lantai bawah rumah kami, baik itu di atas karpet, di atas sofa, ditangga maupun di atas meja makan. Kami semua yang menonton mengikuti kemana saja persetubuhan Audrey dan Kisno dilakukan. Setelah beberapa jam, akhirnya terlihat Kisno akan mengalami orgasmenya. Diperintahkannya Audrey berlutut sambil kedua tangannya memegang mangkuk dan menengadahkannya kearah penis Kisno. Dengan sedikit kocokan pada penisnya, Kisno memuntahkan banyak sekali sperma ke mangkuk itu. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk meletakkan mangkuk itu di lantai dan memerintahkan Audrey mulai meminum dan menjilat abis sperma yang berada di mangkuk itu sehingga sekarang posisi Audrey seperti anjing yang sedang minum di mangkuknya. Audrey menuruti segala perintah Kisno tanpa melakukan protes apapun. Nampaknya sudah benar-benar habis harga diri istriku ini. Audrey sudah benar-benar menjadi budak seks sejati. Hal itu makin terlihat ketika sedang menjilati mangkuk berisi sperma Kisno dengan posisi menungging seperti anjing yang sedang minum, Amir memasukkan gagang sapu ke vagina Audrey dari belakang dan memerintahkan Audrey untuk menggerakkan pinggul dan badannya sehingga vagina Audrey mengocok-ngocok gagang sapu, dan hal tersebut dipatuhi oleh Audrey tanpa protes sehingga Audrey dengan rela menyetubuhi dirinya sendiri dengan gagang sapu yang dipegang Amir. “Oke, Tommy….saya dan Peter pulang dulu. Kisno kamu disini dulu saja, kelihatannya Audrey sangat menyukaimu. Biar Peter yang menyetir mobil pulang ke rumah. kata Wen tiba-tiba kepadaku dan Kisno. Kisno hanya mengangguk riang, sedangkan aku mengantarkan Wen dan Peter ke mobilnya. Ketika aku kembali ke dalam rumah, ternyata Kisno, Amir dan Sudin sudah mulai lagi menyetubuhi Audrey secara bersamaan. Posisi Sudin berbaring di atas karpet ditindih Audrey sedangkan Kisno menindih Audrey dari belakang. Penis Sudin tertancap keras di vagina Audrey dan penis Kisno sedang membobol lubang anus Audrey, sedangkan Amir sibuk memompa penisnya dalam mulut Audrey sehingga kini seluruh lubang Audrey dipenuhi penis-penis yang besar-besar. Jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan nikmat terdengar lagi membahana di rumahku. Aku hanya melihat sebentar persetubuhan mereka dan naik ke atas ke kamar tidur utama untuk beristirahat. Aku melihat istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Kisno, Amir dan Sudin sehingga aku membiarkan istriku menikmatinya tanpa gangguan dariku. Di dalam kamar, meskipun pintu kamarku tertutup rapat, masih jelas terdengar jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan mereka. Terdengar jelas lolongan istriku tanda dia orgasme yang disertai suara tawa dari Kisno, Amir dan Sudin. Aku merebahkan diriku di kasur sambil membayangkan apa yang kira-kira sedang dilakukan Kisno, Amir dan Sudin terhadap istriku di ruang bawah sampai akhirnya aku terlelap dalam tidur. ******************************** Bagian IV Penutup Keesokan harinya, ternyata aku bangun cukup siang. Sudah jelas aku terlambat datang ke kantor. Buru-buru aku mandi dan berpakaian dan setelah siap aku turun ke ruang bawah. Ketika melewati ruang TV aku melihat dari belakang Kisno, Amir dan Sudin duduk di sofa sambil merokok dan menonton TV. Aku tidak melihat istriku, oleh karenanya aku bergegas menghampiri mereka di ruang TV. Ternyata setelah dekat dengan tempat Kisno, Amir dan Sudin duduk, aku melihat istriku sedang duduk bersimpuh setengah berbaring di atas karpet sambil menjilati jari-jari kaki Kisno, Amir dan Sudin. Di vagina istriku tertancap sebuah mentimun besar dan di lubang anusnya tertancap sebuah pisang ambon yang belum dikupas. Melihat aku datang dan sudah siap dengan pakaian kantor, Kisno berkata “Pak, mau ke kantor ya, saya nebeng ya pak, tadi pak Wen menelepon dan memerintahkan saya segera ke kantor. Aku hanya mengangguk dan memerintahkan Amir untuk segera menyiapkan mobil dan mengantarku ke kantor. Pada mulanya Amir terlihat tidak mau menuruti perintahku, tapi dengan satu pelototan tajam dari mataku, Amir segera mengerti dan menuruti perintahku. Sudin yang melihat Amir pontang-panting mengenakan bajunya dan lari ke garasi mobil hanya tertawa kecil sambil dengan kaki kirinya mengarahkan kepala istriku untuk menjilati jari-jari kaki kanannya. Melihat tingkah Sudin aku hanya diam saja mengacuhkan karena aku melihat Audrey juga tidak protes dan menerima perlakuan pembantu priaku itu. Setelah mobil selesai dipanaskan oleh Amir, aku dan Kisno masuk ke dalam mobil menuju kantor dengan disupiri oleh Amir. Sepintas aku lihat ketika keluar rumah, Sudin dengan memegang rantai yang menyambungkan kedua jepitan pada kedua payudara Audrey sedang menarik Audrey ke atas menuju kamar tidur utama di lantai atas. By Dian Prameshwari **************** Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini
Aku tinggal di sebuah ladang getah yang terpencil.. Di taman tersebut ada seorang budak perempuan yang berusia 12 tahun. Namanya aisyah. Walaupun dia berusia 12 tahun, tubuh badannya suatu hari, aku mendapat idea. Aku ingin menikmati tubuh aisyah sebelum dia dewasa. Rancangan ini akan kujalankan sewaktu dia pulang dari sekolah. Ini kerana jalan yang dia lalui untuk pulang perlu menempuh sebuah ladang getah yang agak berjauhan dari rumah tengahhari iut, aku sudah menunggu didalam ladang tersebut. Ketika dia sedang berjalan, aku telah mengajaknya dating kerumahku. Pada mulanya dia enggan tapi setelah kupujuk bahawa aku ingin memberikannya buah rambutan untuk dibawa pulang, akhirnya dia sampai kerumah, aku mengajaknya masuk kedalam bilik. Didalam bilik, aku mula meraba tubuhnya. Pada mulanya dia melawan namu aku terus bertindak ganas. Aku menolaknya ke atas tilam. Kemudian aku terus menindih badannya lalu mencium mulutnya. Aku menekan rahangnya supaya dia membuka mulut dan aku terus menghisap lidahnya. Air liurnya meleleh semasa aku menghisap menanggis namun aku tidak mempedulikannya. Aku mengarahkannya membuka semua pakaian sekolahnya kecuali tudung. Aku geram melihat tubuh kecilnya. Badannya putuh bersih. Buah dadanya membengkak kecil. Tetek muda tu lembut benar dengan puting kecil yang memerah bila di gentel dan aku meramas-ramas tetek kecil milik Aisyah hingga dia tersenggut-senggut menandakan berahinya mula memuncak. Mataku terpaku pada pantat kecilnya. Pantatnya memang kecil kecil tapi tembam tanpa ada seuratpun bulu yang tumbuh di situ cuma baru ada bulu ari yang baru nak menghitam di sudut sebelah atas pun membuka pakaianku. Batangku yang keras menegang ku pamerkan dihadapan Aisyah. Aku menghampiri Aisyah sambil memujuknya. “Sayang janganlah menanggis, abang sayangkan aisyah. Abang perlukan aisyah”. “Aisyah takut..nak balik bang..jangan buat aisyah macam ni bang..” Aisyah terus memeluknya sambil membelai-belai rambutnya. “abang perlukan aisyah..abang sayang sangat pada aisyah..puaskan abang hari ni ye sayang..” aku terus memujuknya sambil meramas lembut buah mengucup lembut bibirnya dan mencium lehernya. Dia mula memberikan kerjasama setelah ciuman demi ciuman diberikan. Akhirnya dia mula membuka mulut nya untuk di isap lidahnya. Aku terus menyedut lidah dan air terkena gomol begitu budak ni naik lemas dan menutup matanya cuma nampak dadanya sahaja yang turunaik dengan kencang, aku mengalihkan fokus pengulitan kepada cipapnya pula. Aisyah telah terkangkang luas menampakkan sejelas-jelasnya pantat budak perempuan berumur 12 tahun yang bertaup rapat tanpa relah alornya seperti pantat wanita dewasa. Aku terpaksa membuka kelopak labia majoranya untuk membolehkan alor pantatnya terbuka, fuh memang sah anak dara sunti dengan kulipis daranya penuh menutupi lubang cipap yang begitu merah. Batang mencanak tegangnya bila melihat cipap dara sunti yang menonjol bagaikan apam beras lepas dikukus. Batang mencanak tegangnya bila melihat pantat dara sunti yang menonjol bagaikan apam beras lepas dikukus. Aku terus mencium dan menjilat pantat kecilnya. Pantatnya berbau hancing namun ianya menambahkan rasa ghairahku. “Aisyah kencing tak basuh ye” tanyaku. Aisyah menganguk malu. “abang....” Aisyah mula mendesih bila lidahku bermain-main di mula mengeluarkan cecair nikmat yang pertama. Habis bahagian pantatnya aku kerjakan. Mengerang erang Aisyah dibuatnya. Aku terus menjilat-jilat lubang pantatnya. Mengemut gemut pantat Aisyah bila ku hisap kelentik dan bibir pantatnya. Air nikmatnya mengalir deras bersama keluhan ghairah yang membakar menambahkan rasa ghairahnya, aku mengambil jarum suntikan dan dimasukkan sejumlah dos cecair perangsang nafsu. “Apa tu bang?”“ini untuk memberikan sayang rasa seronok”. “Sayang jangan takut ye. Tak sakit” suntikkan ubat perangsang tersebut pada lengannya. Aku membiarkanya berehat buat sementara waktu. Setelah lima minit berlalu, Aisyah mula mengadu badannya terasa panas. Aisyah mengeliat kepanasan diatas tilamku. Badannya mula mengeluarkan peluh dengan banyak. Aku mengambil sebotol air lalu menyuruhnya minum.“Sayang minum air lebih ye. Nanti sayang rasa lagi seronok”Aisyah terus mengeliat kepanasan. Badannya terus berpeluh dengan banyak. Dalam masa yang sama, pantatnya mula mengeluarkan cecair yang agak itu berwarna putih kekuningan dan agak bertambah terangsang melihat keadaannya. Aku segera mencium mulut dan menghisap lidahnya. Aku sedut air liurnya namun banyak air liurnya meleleh ke pipinya. Nafas Aisyah semakin bertambah kuat. Aku terus mencium dan menjilat seluruh peluhnya aku jilat. Aku jilat semula pantat kecilnya. Lendir yang keluar dari pantatnya semakin banyak. Bertambah kuat bau lendir yang keluar dari pantatnya. Bukan sahaja berbau malah melekit. Badan aisyah mula mengigil. Aku mengangkat kakinya dan letakkan diatas bahuku. Aku tolak lututnya rapat ke badan. Dengan ini, pantatnya akan menonjol. Aku teruskan serangan pada pantatnya. Aisyah terus mengerang. Badannya semakin mengigil. Akhirnya Aisyah mencapai klimaks yang pertama dirasa. Menyembur keluar lendir dari pantatnya. Habis mukaku diselaputi lendir tak dapat menahan ghairah lalu mula mengacukan batang kerasku ke arah lubang pantatnya. Perlahan-lahan aku meletakkan kepala batang ke alor pantatnya yang dah cukup berair lalu menekan masuk, alor berkenaan relah sedikit memberi laluan kepala batang memasukkinya, aku terus menekan sehingga tersekat di kulipis daranya. So far so good dan diapun berkerjasama dengan baik. Aku berbisik lagi lepas ni akan rasa lain jadi ia kena menahan, ia angguk tapi aku tak pasti ia tahu apa yang aku maksudkan. Aku membaringkan dirinya, menolak pehanya ke arah dada, membawa tangannya memeluk badanku, aku menarik keluar batang koteku dan menarik nafas dalam-dalam, meletakkan semula kepala kote ke alor cipapnya dan menolak masuk sehingga ke benteng daranya, ia memandangku menanti apakah tindakan aku selanjutnya, secepat itu juga aku menujah keras ke bawah rittt…rittt…rittt berderit rasanya bila kepala koteku menerobos masuk dan memecahkan kulipis daranya. Aisyah terkejut serentak menjerit aduhhh….sakittt….sakitt bang, cukup jangan buat lagi sambil meronta untuk melepaskan diri dari kesakitan yang dirasainya, aku memeluk kemas badan dan pehanya agar ia dapat ku kawal sambil mengusap-ngusap dahinyaBila rontaannya reda aku henjut dan henjut berulang kali sehingga santak ke serviknya dan walaupun ia meronta tak ada gunanya sebab batangku dah terpacak dalam cipap kecilnya yang dah terpokah ku kerjakan. Aku berhenti menghenjut lalu membiarkan rongga pantatnya mengemut-ngemut batangku, walaupun tak dapat masuk habis tapi aku cukup puas bila merasakan batang seperti disedut-sedut. Darah dara meleleh turun bercampur lendir membasahi punggung Aku lihat air matanya merembas keluar membasahi pipinya yang comel tu, aku menyeka air matanya lantas mencium pipinya sambil mengusap-ngusap manja rambut dan dahinya. Lama juga aku membiarkan koteku terbenam dalam cipapnya dan bila aku merasakan esakan tangisnya dan rongga pantatnya dah dapat menerima kehadiran batang, aku menarik keluar perlahan-lahan hingga ke hujung lalu ke benamkan semula jauh-jauh ke dalam pantatnya. ku ulangi berkali-kali dan setiap kali ianya terjadi ku lihat badannya terangkat menahan asakan batangku yang menyelinap masuk ke pantatnya. Setelah itu aku memainkan pantatnya seperti biasa menojah keluar masuk perlahan-lahan dan semakin laju, ia dah menutupkan matanya semula tapi mulutnya terbuka mengambil nafas, ia mengerang-ngerang semula dan ku dengar halus suaranya “aduh….sedap bang…sedap….sedap sungguh bang….sedappp..”Aku semakin laju menhentak pantatnya hingga berdecap decap bunyinya. Lendir bercampur darah terus mengalir keluar. Aku membiarkan kakinya mengapit punggungku bila terasa klimaksnya sampai ia menolak naik punggungnya untuk merapatkan cipapnya menerima sedalam yang boleh batang koteku lalu klimaks, aku membiarkan seketika sampai ia reda sebelum meneruskan permainan keluar menekan batang kerasku dalam dalam lalu aku menghisap buah dadanya. Setelah disuntik ubat perangsang, saiz buah dadanya juga semakin membesar. Puting susunya juga menonjol keras kemerah merahan. Aku terus menghisap dan mengentel puting susunya. Aku terus menhenjut laju laju pantatnya. Aisyah sudah mencapai klimaks sebanyak 4 kali. Dia sudah semakin lemah, lembik badannya kurasakan. Aisyah sudah tidak lagi memelukku. Dia kini terkapar diatas tilam. Aku semakin laju dan bersemangat menghenjut pantatnya. Aisyah hanya mampu terlentang sambil mulutnya ternganga. Air liurnya meleleh membasahi pipi dan tilam. Inilah yang aku tak pasti sedalam mana batang aku masuk sebab aku dah tak dapat merasa kemutan pantatnya lagi. Setelah 10 minit aku mengasak pantatnya, akhirnya Aisyah tak dapat l;agi menahan. Dia mula menjerit. Darah semakin banyak keluar dari pantatnya. Aku pasti pantatnya kini sudah hancur. Aisyah mula menjerit sambil meronta kesakitan. 10 minit kemudian Aisyah kembali senyap. Hanya esakan tangisannya saja yang meneruskan asakan dan membenamkan sedalam yang dapat ditembusi oleh batangku lalu memancutkan air maniku ke lubang pantatnya sebanyak yang mampu dipancutkan. Banyak juga air mani yang keluar sebab dah lebih seminggu airku tak keluar. Aku menjerit kesedapan semasa air maniku memancut kedalam rongga membiarkan batangku terendam didalam pantatnya aku menarik keluar batangku, ku lihat air mani berserta lendirnya turut meleleh keluar dari alor pantatnya jatuh ke alor duburnya sebelum jatuh ke cadar tilamku. Ku lihat pantatnya kini sudah hancur. Lubang pantatnya kini terngaga luas. Darah mengalir keluar bersama lendir dan air maniku. Aisyah sudah pengsan ketika aku memancutkan air maniku. Aku jilat lubang mani dan lendir dari pantatnya mengalir turun membasahi lubang duburnya. Aku kembali terangsang melihat lubang duburnya mengemut gemut. Aku menterbalikkan tubuhnya. Kini tubuhnya tertiarap di atas tilam. Aku meletakkan sebiji bantal dibawah pantatnya dan mengangkangkan kakinya seluas yang terus menjilat lubang duburnya. Terasa sedikit masin. Aku terus mengerjakan punggungnya. Habis punggungnya ku kerjakan. Setiap inci punggungnya aku jilat. Lubang duburnya kecil. Ku cuba memasukkan jari namun tidak dapat dimasukkan kerana begitu kecilnya lubang dubur aku mengerjakan punggungnya, Aisyah kembali sedar.“abang...abang buat apa tu..sakitlah bang...” Aisyah mengeluh“sabarlah sayang..abang nak punggung sayang ye”Aku meminta Aisyah menonggeng. Aku menjadi semakin geram melihat punggungnya yang bulat. Sungguh indah alunan lurah dubur Aisyah dan aku betul-betul tak sangka, sekarang lubuk nikmat sudah ada di segera menghalakan batangku tepat pada lubang duburnya. “Sayang tahan sedikit ye.”Aku segera menujah lubang duburnya. Pada mulanya batangku langsung tak boleh masuk. Namun aku terus menekan dan akhirnya berjaya menembusi lubang duburnya.“sakitnya bang arhhh taknak banag..sakit!!!!!” Aisyah terus menjerit tidak memperdulikan jeritannya terus menekan masuk batangku sehingga dapat rasakan lubang duburnya kini sudah koyak akibat diliwat. Memang nikmat meliwat dubur budak kecil. Aku membiarkan batangku terendam dulu sebelum mula mengayun. “Ahhh ahhh sedap bang sedap arhh ahhha hhhhh” Aisyah terus mengomel sendirian sebaik aku mula mengasak duburnya.“rasa nak terberak bang”“itulah sedapnya sayang”Aku terus menhayun laju sehingga terbenam semua batangku didalam duburnya. Tiba tiba aku dapat merasakan sesuatu didalam duburnya. Terasa seolah sesuatu bergolak. Aku terus mencabut batangku dari duburnya. Sebaik saja batang ku keluar, menyembur najisnya keluar. Habis batang dan tilam aku dibasahi najis Aisyah. Aisyah terus mengerang..Najis cair berwarna kekuningan mengalir keluar dari lubang duburnya yang terngaga luas. Aku tidak merasa jijik sebalik bertambah ghairah. Aku terus menjilat najis yang mengalir keluar. Najisnya agak berbau namun ianya bukan penghalang kepadaku. Habis najisnya ku jilat.“bang..aisyah rasa nak terberak lagi”“sayang beraklah ye. Keluarkan semua yang ada”Dengan sekali teran, menyembur lagi najisnya keluar. Kali ini bukan setakat cair, malah berketul ketul kehitaman najisnya. Ku makan setiap ketul najisnya itu. Ku ambil najisnya yang cair lalu kusapukan pada seluruh tubuh serta wajah dipastikan tiada lagi najis yang akan keluar, aku memasukkan kembali batangku kedalam duburnya. Kali ini ia masuk dengan mudah kerana lubang duburnya sudah licin. Aku terus menhenjut laju punggungnya. Batangku kini bergelumang dengan najis didalam rongga duburnya."Urgh..sedap bang”"Bang, nak laju lagi abang"Aku hampir mencapai klimaks setelah setengah jam berlalu. Akhirnya aku memancutkan lagi benihku pada Aisyah. Rongga duburnya kini dipenuhi dengan air maniku. Air maniku bercampur dengan najis didalam saja aku menarik keluar batang, keluarlah najis kehitaman bercampur dengan air mani mengalir keatas tilam. Aku terbaring penat. Aisyah juga tertidur kepenatan setelah dia memuntahkan najis yang banyak akibat diliwat. Aku kini benar benar puas setelah mendapat tubuh kecil yang kuidamkan selama ini.
Cerita Sex Terbaru – setelah sebelumnya ada kisah Bercinta Dengan Wanita Lain di Depan Istri, kini ada Kisahku Diperalat Adik Suamiku Jadi Budak Nafsu. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot. Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini. Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir. Karena kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun. Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami. Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme. Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu. Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suamiku. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah begituan’. Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik. Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me’makan’ bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut. Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya. Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui. Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan. Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain. Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu. Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri. Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya. Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain. Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar. Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya. Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut. Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi. Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya. Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum. Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya. Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy. Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat. Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut. Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat. Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya. Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya. Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu. Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi. Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih. Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya. Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya. Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta. Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah. Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas alat’nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah. Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu. Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran. Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak. Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu. Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang menurut saya pribadimenyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya. Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri. Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya. Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya. Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur. Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak hidup’ begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya. Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih. Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis. Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya. Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks. Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa. Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia. Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas. Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi. Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya. Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang “No way”. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi ’seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya. Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali. Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok. Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua saya dan Niko sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy. Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera. Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy. Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini. Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Bari. Kami ngobrol panjang lebar. Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Bari sebagai teman. Bari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya. Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi. Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari. Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi. Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa. Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya. Kini kami melakukannya dalam missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak. Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya. Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri. Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya. Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya. Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin’mesin’ saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy. Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur. Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini. Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat. Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya. Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah… Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi Bari menahan saya. Tangannya mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis saja. Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus. Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Bari memeluk kami bertiga. Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun. Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada dog style position’. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya. Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan. Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya. Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya. Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri. Sejak saat itu, Bari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy. Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa threesome’ adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan ’someone special’. Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya. Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap. Itu adalah candle light dinner’ saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya. Kisahku Diperalat Adik Suamiku Jadi Budak Nafsu by – Cerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.
cerita dewasa budak seks